Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
58 . Jagung Bakar


__ADS_3

Cinta Kiara Khoirani, refleks menarik pergelangan Zahrana. Ia ingin tahu, alasan yang mendasar, kenapa Zahrana bergandengan mesra dengan Aslan kakak Nandini.Sedangkan, Zahrana sudah menjalani hubungan dengan Rivandra Dinata Admaja, kakak kelas mereka.


Aslan nampak kebingungan melihat interaksi Cinta terhadap Zahrana kekasihnya.


"Ana ... ada apa?" tanya Aslan bingung. Aslan bergantian melirik wajah Cinta yang nampak serius, juga Zahrana yang tampak resah seperti ada hal yang mengganjal dalam hati dan pikirannya.


Namun, Cinta tidak peduli. Ia menarik pergelangan tangan Zahrana menjauh dari Aslan Abdurrahman Syatir. Ia ingin mengintrogasi sahabatnya Zahrana.


"Kak, Ana tinggal dulu sebentar. Ada hal yang harus Ana bicarakan dengan Cinta dan juga Kirana."


Zahrana, diikuti oleh Cinta dan Kirana melenggang pergi menjauhi Pondok kebun, tempat Aslan berpijak. Mereka hendak bicara empat mata.Tidak ingin Aslan sampai mengetahui apa yang akan mereka bicarakan.


Sementara, Nandini tidak ikut. Dia lebih memilih menemani Kakaknya mempersiapkan alat untuk bakar-bakar jagung atau pun merebusnya.


Aslan mencari ranting pohon dan membuat dua tungku khusus, yang satu untuk merebus jagung, yang satunya lagi tempat bakar-bakar.


Nandini bertugas untuk mengupas jagung. Ia sengaja ingin membantu Kakaknya, tujuannya adalah untuk mengalihkan Kakaknya agar jangan sampai bertanya yang tidak-tidak tentang Zahrana dan dua orang temannya Cinta dan Kirana, yang kini sedang ada hal mendesak yang tidak bisa di ganggu gugat.


"Dik, sudah selesai kah mengupas jagungnya? sini,biar kakak saja yang merebusnya."


Nandini pun memberikan Panci yang tadi dibawa oleh Cinta dan Kirana dari rumah pada Aslan kakaknya. Panci yang sempat digunakan oleh kedua sahabatnya untuk mengagetkan Nandini barusan, ketika Nandini sedang melamun.


Aslan pun berjalan menuju pematangan sawah. Ia hendak mengambil air di danau dekat sawah. Ia ingin segera merebus jagung tersebut. Ia tidak ingin kekasih hatinya Zahrana, juga Nandini adiknya dan dua orang teman mereka Cinta dan Kirana sampai kelaparan.


Hari pun sudah semakin siang, waktu sudah menunjukkan pukul 11.15 Wib. Aslan dengan terampil merebus jagung, juga membuat bara api untuk bakar-bakar sebagian jagung yang telah di kupas oleh Nandini adiknya.


"Kak, telaten sekali dirimu. Merangkap dua pekerjaan sekaligus, pertama rebus jagung. Sekarang, lanjut bakar-bakar jagung," pungkas Nandini.


Aslan nampak tersenyum manis, terlihat dari binar wajahnya yang rupawan. Ia tampak bersemangat sekali melakukan rutinitasnya.


"Untuk Zahrana, apapun akan kakak lakukan,Dek." Aslan nampak serius dengan ucapannya.


"Ceeilee ... yang sedang di landa asmara, sesuatu yang pahit pun di bilang manis, yang salah pun di bilang benar. Ternyata benar, rasa cinta itu dapat membutakan hati dan jiwa," celutuk Nandini.


Aslan nampak terperangah, mendengar ucapan adiknya."Ya Allah ... Dek, ucapan mu itu lho, seperti orang yang pernah jatuh cinta saja."


"Deg ... " jantung Nandini terasa berdegup, ia sebisa mungkin menguasai dirinya. Khawatir jika kakaknya tahu, jika ia pun sudah punya pacar.


"Kenapa kau nampak kelihatan gugup, Dek? Jangan bilang jika kamu sedang jatuh hati dengan kakak kelas mu, yang kemarin membonceng mu. Siapa namanya? kakak lupa," ujar Aslan. Ia sengaja kepo terhadap urusan pribadi adiknya.


"Apa sich, Kak tanya-tanya yang aneh-aneh, namanya Arjuna Restu Pamungkas," ujar Nandini tersipu malu.

__ADS_1


"Nah ... ketahuan. Adik kakak ini ternyata sudah mulai jatuh hati," goda Aslan. Membuat wajah Nandini bersemu merah.


Dua adik kakak tersebut, terus berkelakar disela-sela rutinitas merebus dan bakar-bakar jagung yang mereka geluti.


***


Sementara, di bawah pohon pisang.


Cinta, nampak mengintrogasi Zahrana, di ikuti pula oleh Kirana Larasati sebagai saksinya.


" Ra, coba jelaskan pada kami. Apa maksud semua ini? apa hubungan mu dengan kak Aslan? kenapa kalian terlihat sangat mesra sekali? lalu, bagaimana dengan kak Rivandra Dinata Admaja?" tanya Cinta Kiara Khoirani tanpa jeda.


Zahrana menghembuskan nafas kasar, ia berusaha menguasai ritme jantung hatinya.


Sementara, Kirana dengan gaya kocaknya spontan meraih buah pisang yang nampak sudah matang dan menguning. Ia pun melahap beberapa buah pisang yang telah matang, ia tidak ingin terlalu serius menanggapi cercaan yang di lontarkan oleh Cinta terhadap Zahrana. Sebab, sejatinya Kirana Larasati sudah mengetahui cinta segitiga antara Zahrana dengan Aslan Abdurrahman Syatir dan Rivandra Dinata Admaja kakak kelas mereka. Tempo hari, ia pun telah menguping dengan jelas percakapan antara Zahrana dan Nandini di UKS. Jadi, tidak ada hal yang mesti Kirana dengar lagi.


"Cin ... aku minta maaf sama kamu dan teman-teman kita lainnya. Aku telah merahasiakan semua ini dari kalian Cin. Maaf ... aku terpaksa melakukan ini semua. Kau tahu, sejak awal kak Rivandra sudah mengungkapkan rasanya terhadap ku, ketika di Mushola tempo hari. Disusul, kak Aslan pun mengungkapkan perasaannya terhadap ku lewat lisan juga bahasa tulisan. Begitu juga dengan kak Rivandra. Mereka sama-sama menunggu jawaban dari ku."


"Aku bingung dengan perasaan ku sendiri, Cin. Aku mencintai kak Aslan Abdurrahman Syatir, namun aku pun menyukai kak Rivandra Dinata Admaja. Lalu, apa bedanya antara rasa cinta dan rasa suka Cin?" ungkap Zahrana, dengan wajahnya yang mulai memerah dan bulir air matanya pun perlahan jatuh berderai. Ia tak sanggup lagi menahan sesak di dadanya.


"Apa yang harus kulakukan, Din? Ego kah aku, jika aku mencintai keduanya? Aku tahu, aku salah Cin. Namun, untuk saat ini ... aku benar-benar belum bisa memilih antara dua pilihan. Aku ingin mengetahui lebih jauh lagi, siapa sebenarnya cinta ku? kak Aslan atau kak Rivandra?" ujar Zahrana penuh keyakinan.


"Princess ... sudah jangan menangis lagi. Aku minta maaf, karena telah berpikir yang buruk tentang mu. Semoga nantinya, ada titik terang untuk mu,kak Aslan juga kak Rivandra." Cinta pun merangkul erat Zahrana.Mereka saling menguatkan satu sama lain.


Sementara Kirana, masih asyik melahap satu demi satu buah pisang yang masih bergelayut di pohonnya.


"Ya Allah ... Kir. Kita lagi serius menyelesaikan masalah Princess Zahra. Loe malah asyik memanjat dan menikmati buah pisang, seperti Mongkey saja," celutuk Cinta.


Zahrana yang resah dan gelisah akibat perasaan yang menderanya, kini malah tertawa lepas. Melihat tingkah Kirana Larasati, yang nampak lucu dan kocak menurutnya.


"Hoammm ... aku mengantuk sekali, mungkin karena terlalu kekenyangan makan buah pisang. Sudah selesai, kan masalahnya. Berarti sekarang kita kembali ke Pondok. Kasian kak Aslan dan Nandini menunggu lama," ucap Kirana.


Pikir Cinta dan Zahrana, ada apa gerangan yang menimpa Kirana. Ia pun tidak ikut protes, walaupun sebenarnya ia kecewa dengan apa yang di perbuat Zahrana. Namun ia sendiri lebih memilih diam, dari pada berujar-ujar yang bukan-bukan.


***


Sementara, di Pondok kebun.


Aslan dan Nandini hampir selesai dengan rutinitasnya. Aroma jagung rebus pun tertangkap harum oleh indera penciuman disekitar pondok kebun. Masih tinggal jagung bakar yang masih belum matang.


"Astagfirullah ... kemana gerangan Zahrana dan teman-temannya?"Kenapa belum tampak juga batang hidungnya," ucap Aslan yang kelihatan mulai jengah menunggu kehadiran kekasihnya yang dari sejak tadi belum hadir di sisinya.

__ADS_1


Selang berapa menit kemudian, Zahrana, Cinta dan Kirana pun kembali ke Pondok di mana tempat Aslan dan sahabatnya Nandini berpijak.


"Ana ... kamu dari mana? Kenapa lama sekali baru kembali?" tanya Aslan dengan nada serius.


Aslan meraih pergelangan tangan Zahrana dan membawanya untuk segera menikmati jagung rebus dan jagung bakar. Yang memang special ia persembahkan untuk Zahrana kekasihnya.


"Maa syaa Allah ... cepat sekali bakar-bakarnya, Kak. Baru ditinggal sebentar sudah siap saji semua, " puji Zahrana.


"Special untuk mu honey ... " ujar Aslan seraya menyuapi butir demi butir jagung ke mulut Zahrana.


Aslan tidak menyadari akan keadaan sekitarnya. Ia hanya fokus dengan gadis kecilnya.


Nandini, Cinta dan Kirana ... nampak berbisik satu sama lain.


"satu ... dua ... tiga ... " Nandini memberi aba-aba.


"Ciyeeee ... yang sedang falling in love?" goda Nandini, Cinta dan Kirana kepada Aslan dan Zahrana sahabatnya.


Dalam hitungan menit, wajah Zahrana berubah memutih. Sebab, di taburi oleh Nandini,Cinta dan Kirana dengan dengan tepung sagu.


"Taraaaa ... Barakallah fi umrik, Princesss ..." ucap Nandini , Cinta dan Kirana bersamaan. Lalu mereka pun merangkul Zahrana bergantian. Alhasil wajah dan pakaian Zahrana pun memutih akibat lumuran tepung sagu.


Hari ini, tepat tanggal 1 Mei 2000. Menjadi saksi kebersamaan Zahrana dan kekasih hatinya Aslan Abdurrahman Syatir bahwa mereka pernah merajut tali kasih yang bernama 'ASMARA' di usianya yang baru genap 13 tahun.


Anda jangan heran, di tahun 90 an anak-anak dan para remaja ketika tepat di hari kelahirannya. Sering kali disirami oleh teman-temannya menggunakan tepung sagu, sebagai ciri khas jika usianya telah bertambah.


Di saksikan oleh Nandini, Cinta dan Kirana teman-temannya. Aslan Abdurrahman Syatir begitu perhatian dan penuh kasih terhadap Zahrana kekasihnya.


Bukan hanya sekedar menikmati jagung rebus dan jagung bakar, namun dua sejoli tersebut ikut terbakar dalam api asmara yang tak terelakkan di usia Zahrana yang masih sangat belia dengan lawan mainnya yang 7 tahun lebih dewasa darinya.


"Kak, jagung bakarnya enak. Ana suka sekali, apalagi yang bikin kakak," puji Zahrana seraya terus mengunyah jagung bakar sampai detik terakhir tanpa sisa.


Aslan pun tersenyum hangat,ia bahagia melihat binar kebahagiaan di wajah kekasihnya.


Aslan mengambil sapu tangannya, perlahan ia pun membersihkan tepung sagu yang memutih, yang menempel di wajah dan baju Zahrana. Akibat disiram oleh teman-teman Zahrana.


"Ana ... hari ini adalah hari istimewa untuk mu. Kakak akan mengukir kenangan terindah bersama mu." Aslan kemudian kembali menyuapi kekasihnya dengan jagung bakar yang masih tersisa satu buah. Sedangkan jagung bakar yang lain sudah di lahap habis oleh Nandini, Cinta dan Kirana.


"Ceeilee ... so sweet sekali! yang sedang kasmaran jagung bakar pun terasa seperti makanan di hotel bintang lima," celutuk Nandini. Hingga membuat mereka semua tertawa renyah mendengar ucapan Nandini yang di tujukan untuk Zahrana dan Aslan Abdurrahman Syatir kakaknya.


Sepotong jagung bakar pun, sejatinya akan terasa nikmat jika dinikmati bersama Sang Pujaan hati."Betul apa betul?" 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2