
Minuman yang di suguhkan oleh Zahrana habis tanpa sisa di seruput oleh Aslan Abdurrahman Syatir, begitu pun dengan camilannya Aslan begitu menikmatinya membuat Buya Harun dan Bunda Fatimah juga Zahrana terperangah dibuatnya.
Zahrana yang sejak tadi terdiam pun perlahan membuka suaranya.
"Mestinya minum itu jangan terburu-buru, Kak. Minumlah air dalam satu tegukan sembari mengambil tiga kali bernafas. Sebab, Nabi Muhammad Sholaullahu 'alaihi wassalam melarang kita meminum air dalam satu teguk dengan satu kali bernafas."
" Sebagaimana bunyi haditsnya, jangan minum air hanya dalam satu nafas, tetapi minum dalam dua atau tiga nafas." (HR Bukhori).
"Kemudian, studi ilmiah pun menunjukkan bahwa ada banyak efek berbahaya saat minum air dalam satu tegukan. Dampaknya dapat menyebabkan kita tersedak, melemahkan otot, saraf dan adanya gangguan pada hati dan perut kita, Kak."
Aslan terdiam, begitu pun dengan Bunda Fatimah dan Buya Harun. Mereka tidak mengira jika kata-kata itupun akan keluar dari lisan Zahrana tanpa jeda.
Menyadari semua mata tertuju ke arahnya, Zahrana pun kembali meneruskan kalimatnya.
"Ma-af, jika Zahra salah dalam penyampaian. Maaf, jika ucapan Zahra kurang berkenan." Zahrana pun menundukkan pandangannya.
Aslan pun menarik nafasnya dalam-dalam. Ia pun segera merespon ucapan Zahrana.
"Iya, tidak apa-apa An. Terimakasih sudah mengingatkan kakak!" ada rasa rindu yang mendalam pada diri Aslan terhadap sosok Zahrana yang dulu pernah mengisi hari-harinya.
"Ana, sungguh aku semakin kagum terhadap mu! Aku berharap masih ada kesempatan untuk ku, memperbaiki kembali keindahan rasa kita yang dulu. Aku akan memperjuangkan mu, Ana!" bisikan hati Aslan Abdurrahman Syatir.
Seketika suasana hening.
"Nak Aslan, maafkan ucapan anak Buya. Zahra memang sedang dalam proses mencari jati dirinya. Ia kini memang seperti ini adanya, jika memang tidak sesuai dalam pandangannya. Maka, ia akan langsung mengutarakan pendapatnya.
Aslan pun mengangguk-angguk mengerti apa yang dikatakan oleh Buya Harun.
"Tidak apa-apa Buya, justru Aslan senang ada yang mengingatkan."
Aslan tersenyum.
Sementara Zahrana dan Bunda Fatimah hanya mendengarkan penuturan Aslan dan Buya Harun.
"Oh, iya. Aslan hendak pamit dulu Buya, Ibu sudah meminta Aslan untuk segera pulang. Sebab, toko sedang ramai pengunjung.
__ADS_1
"Iya, silahkan Nak Aslan. Terimakasih sudah membantu Zahrana untuk membawa barang-barangnya."
"Iya, Buya. Sama-sama."
Aslan pun segera pamit pulang. Ia pun tak lupa menyalami Buya Harun dan Bunda Fatimah.
Aslan menatap sekilas Zahrana, namun Zahrana menundukkan pandangannya. Ia tidak tertarik untuk bersitatap dengan Aslan.
Aslan pun tak lupa mengucapkan salam kepada Zahrana dan keluarga.
Zahrana menjawab salam itu, dan ia pun membiarkan Aslan berlalu pergi. Sungguh, Zahrana tidak tertarik untuk melirik Aslan meskipun ketampanannya di atas rata-rata. Cukup sudah ia menoreh masa lalu kelam dengan pria tersebut. Ia benar-benar tidak ingin semua itu terulang kembali.
Zahrana menghempaskan diri diatas spring bed-nya. Ia pun membuka hijab yang di kenakannya. Ia berbaring sembari menatap langit-langit kamarnya.
"Ya Allah ... jangan biarkan hamba terjatuh dalam lobang yang sama lagi, sungguh aku tak ingin masalalu itu terulang kembali!" cicit Zahrana.
Dan Zahrana pun akhirnya terlelap setelah menempuh perjalanan jauh dari kediaman kakaknya di kota S.
Kehadiran Aslan benar-benar membuat Zahrana merasa lelah hati, pikiran dan jiwanya. Ia lebih baik memilih untuk terlelap sekedar untuk menenangkan jiwanya.
"Kau darimana saja, Nak! Apa kau menemui wanita murahan itu lagi!" cecar Ibu Ratna Anjani.
"Maksud Ibu apa? Zahrana adalah wanita yang baik-baik Ibu, apa salah Zahrana hingga Ibu begitu membencinya?"
"Salahnya karena ia telah berani-beraninya mendekati mu Aslan. Ibu tidak merestui kau dengannya, Ibu telah mempunyai pilihan lain yang lebih baik dan lebih sepadan untuk mu."
"Tidak Ibu, Aslan mencintai Zahrana dan sampai kapan pun hanya ada Zahrana di hatiku Ibu." Aslan mulai merasa tertekan oleh sebab penuturan Ibunya yang menganggap buruk Zahrana dan tidak merestui hubungan mereka.
"Aslan! kamu sudah berani menentang Ibu yang telah melahirkan mu demi mempertahankan gadis hina itu," cecar Ibu Ratna semakin berapi-api.
"Aslan mencintai Zahrana Ibu, dari sejak dulu hingga sekarang perasaan itu tidak pernah berubah Ibu. Aslan tidak bisa hidup tanpa Zahrana Ibu, Zahrana adalah satu-satunya gadis yang bertahta di hati Aslan tiada yang lainnya Ibu."
"Ibu tidak peduli, lupakan gadis itu Aslan! atau kau akan merasakan akibatnya. Ibu pastikan gadis itu tidak akan pernah bahagia jika ia terus mendekatimu."
"Bukan Zahrana yang mendekati Aslan, tapi Aslan yang terus mengejar Zahrana Ibu." Aslan setengah memelas. Sementara Ibu Ratna Anjani tidak peduli itu.
__ADS_1
"Lupakan gadis itu Aslan! turuti apa mau Ibu, apa kau ingin Ibu serangan jantung mendadak oleh cinta buta mu itu!" Ibu Ratna Anjani semakin menyudutkan Aslan.
Percekcokan antara Aslan dan Ibunya pun terdengar di telinga Nandini Sukma Dewi yang sedang asyik mempersiapkan diri untuk menghadiri acara party kekasihnya Arjuna. Ba'da Ashar nanti mereka akan segera berangkat beramai-ramai bersama teman-temannya ke kafe XX. Sebab, disanalah perayaan Ulang tahun Arjuna yang ke 19 tahun.
Hampir 6 tahun sudah hubungan Arjuna dan Nandini terjalin, mereka berdua sepakat menjaga hati, kepercayaan dan kesetiaan. Sampai nantinya mereka telah pun siap berdiri di pelaminan.
"Kak Aslan, Ibu. Ada apa? kenapa kakak dan Ibu sampai bertengkar hebat seperti ini? siapa gadis yang Ibu maksud?"
"Siapa lagi kalau bukan Zahrana anaknya Buya Harun. Ia telah mencuri hati kakak mu, Ibu tidak merestui itu sampai kapan pun."
"Zahrana? bukankah Zahrana berada di kota S, dan sampai detik ini belum kembali, Bu?" tanya Nandini penasaran.
"Gadis murahan itu sudah pulang, Nak. Secantik apapun wajahnya. Mau dia menghiasi dirinya dengan hijab pun Ibu tidak pernah tertarik padanya."
"Gadis itu memberikan pengaruh buruk untuk kakak mu, juga dirimu Nandini. Jauhi Zahrana!" titah Ibu Ratna Anjani.
"Ibu, tidak boleh berkata begitu Bu. Zahrana adalah wanita baik-baik, Nandini tahu betul itu Bu."
Ibu Ratna Anjani terdiam. Sebenarnya, yang membuat Ibu Ratna Anjani tidak menyukai Zahrana adalah sebab hasutan gadis berambut pirang dan kedua genk Stars-nya tempo dulu, seolah-olah Zahrana adalah wanita yang tidak baik dan tidak punya harga diri.
Siapa lagi kalau bukan Priska Prahara dan dua orang temannya Adelia Kencana Puteri dan Lembayung Senja kala. Kabar angin tentang Zahrana semakin membuat Bunda Fatimah semakin membenci Zahrana.
Ibu Ratna Anjani pun berlalu pergi dari hadapan Nandini dan Aslan. Sungguh, Ibu Ratna tidak ingin melanjutkan perdebatannya dengan kedua anaknya itu. Ia lebih memilih bungkam sebab khawatir keceplosan jika sedang tersulut emosi.
"Kak, sabar ya? jika jodoh tak kan kemana kak, pasti kakak dan Zahrana akan bersatu kembali walaupun gelombang uji coba menghadang."
"Walaupun kini Ibu tidak merestui hubungan kakak dengan Zahrana. Kakak harus tetap sabar, kuat dan semangat! pantang menyerah!"
"Iya,Dek. Terimakasih," ucap Aslan dengan nada pilunya. Dadanya sesak mengenang percintaannya yang tak direstui oleh Ibunya yang ia harapkan akan mendukungnya.
Namun kenyataannya jauh api daripada panggang.๐ฅ๐ฅ
๐ท๐ท๐ท
Pencerahan ๐Kemarahan diawali dengan kegilaan dan akan berakhir dengan penyesalan.โ โ Ali bin Abi Thalib
__ADS_1