
Bel masuk kelas pun berbunyi, para Siswa-siswi berhamburan masuk menuju kelasnya masing-masing.Tak terkecuali Nandini Sukma Dewi dan teman-temannya yang sejak tadi masih asyik menikmati kebersamaan mereka,guna merayakan hari jadinya bersama kekasih hatinya Arjuna Restu Pamungkas yang kini telah menjadi teman istimewanya.
"Baby,nanti pulang sekolah bareng aku yach? belajar yang baik dikelas, dan jangan lupa jaga hatimu dari melihat sosok pemuda lain!...ingat,disini ada diriku yang sangat sayang padamu, jangan pernah palingkan hatimu pada pria manapun,disini kau telah sah menjadi wanitaku."Ujar Arjuna penuh penegasan pada kekasihnya Nandini Sukma Dewi.
Arjuna mulai posesif,ia khawatir Nandini berpaling hati pada Zainal Abidin.Sebab mereka berdua satu kelas, Arjuna sangat tahu sekali jika Zainal Abidin juga menaruh hati pada Nandini yang kini telah menjadi teman istimewanya alias pacar sesungguhnya.
"Iya, jangan khawatir aku tidak akan bermain hati kok, asal kamu juga bisa memegang janjimu dan tidak pernah bermain hati dibelakang ku."Ujar Nandini pada Arjuna Restu Pamungkas.
Arjuna pun kembali menuju kelasnya, setelah mengantarkan Nandini didepan kelasnya.
***
"Nandini,loe beneran jadian dengan Si Playboy alias Arjuna Restu Pamungkas?"Tanya Fadhilah setengah tak percaya, jika sahabatnya Nandini benar-benar jatuh cinta, secara Nandini anti dengan rayuan maut laki-laki.
Nandini hanya menggangguk pelan, menandakan jika semua itu benar adanya.
"Ya Allah... jadi benar kamu pacaran Din?"Tanya Hafidzah ikut menimpali.
Nandini tidak berani menatap nanar wajah sahabatnya Hafidzah, hilanglah sifat ceplas-ceplos Nandini,ia merasa pasti akan diceramahi lagi oleh Hafidzah.
"Iya Dzah, benar jika sahabat kita yang metal ini sudah pacaran,"jawab Cinta dan Kirana bersamaan.
Selanjutnya,Cinta dan Kirana pun membantu Nandini menjelaskan pada Hafidzah dan Fadhillah tentang awal mula Nandini jadian dengan Arjuna Restu Pamungkas, perihal baku hantam dengan Adelia Kencana Puteri pun mereka ceritakan.
Fadhilah terperangah mendengar cerita Cinta dan Kirana, sedangkan Hafidzah menghembuskan nafas kasar.Sebenarnya ia tidak suka jika sahabatnya sampai berpacaran, mengingat usia mereka pun masih belia.Selain itu, Hafidzah juga mendengar dari Ummi dan Abinya jika pacaran itu tidak diperbolehkan dalam syari'at Islam.
Namun, Hafidzah tidak punya hak untuk terlalu mengatur kehidupan pribadi sahabat-sahabatnya.Ia hanya bisa sebatas menasehati dan mengingatkan agar mereka bisa menjaga marwahnya.
"Din,aku harap kau bisa menjaga marwah mu, jangan sampai salah langkah.Aku Hafidzah sahabatmu,hanya bisa mendo'akan kebaikan untukmu,ku nasehati dirimu dengan hal-hal yang baik,jaga jarak antara dirimu dengan yang bukan mahrammu, jangan bergaul terlalu bebas dengan yang bukan mahrammu.Jika pacaran adalah pilihanmu,ku harap dirimu bisa pacaran secara sehat, dengan sama-sama belajar misalnya,membaca buku,membahas soal-soal,berlomba-lomba menuntut ilmu yang baik-baik dengan teman istimewamu, dan hal-hal yang bermanfaat lainnya.Yach...meski dalam syari'at tidak ada yang namanya pacaran sehat, sebab selain pacaran itu banyak mudharatnya, pacaran memang tidak diperbolehkan dalam syari'at, itu kata Ummi dan Abi ku."Tutur Hafidzah pada Nandini juga sahabatnya yang lainnya.
Nandini, Cinta dan Kirana hanya mengangguk pelan, mencerna setiap kultum yang Hafidzah sampaikan.
"Iya Dzah, terimakasih atas semua nasehatmu pada kami sahabatmu, maafkan kami yang belum bisa menjadi sahabat yang baik, maafkan kami yang tak hentinya selalu berbuat ulah."Tutur Nandini pada Hafidzah, mewakili semua teman-temannya, kemudian mereka berempat pun saling merangkul satu sama lain.
Begitulah persahabatan Zahrana dan teman-temannya,saling mengasihi dan menguatkan satu sama lain, jika ada yang terjatuh ataupun berbuat salah mereka selalu saling menasehati dan mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran.
__ADS_1
"Oh ya,aku sampai lupa, Zahrana tidak masuk hari ini.Ini surat izin Zahrana,ia berhalangan masuk lantaran sakit."Ujar Nandini seraya menceritakan perihal yang menyebabkan Zahrana cidera hingga kakinya terkilir.
"Subhanallah... semoga Zahrana cepat pulih ya Din, bersyukur waktu itu ada pemuda yang bernama Yusuf Amri Nufail Syairazy itu ya Din, sehingga Zahrana bisa terselamatkan,"tutur Hafidzah dengan nada penuh keprihatinan pada sahabatnya Zahrana.
"Iya Dzah, lebih bersyukur lagi Zahrana bisa berdekatan dengan sosok pemuda sholeh, kita semua termasuk Santriwati di Padepokan Buya Harun terpana semua lho Dzah dengan Si Yusuf itu, sudah tampan sholeh lagi,gue yakin jika loe disana loe juga bakal tertarik dengannya Dzah,"ujar Nandini seraya membayangkan wajah Yusuf Nufail Syairazy.
Hafidzah hanya tersenyum simpul mendengar kelakar Nandini.
"Ya Allah...Din,loe kan sudah punya Arjuna masih sempat memikirkan pria lain, jangan bilang loe mau jadi play girl,"cecar Fadhilah.
"Iya juga loe Din, sudah mulai ketularan Arjuna ni ikut-ikutan bermain hati."Timpal Cinta dan Kirana.
Di tengah keseruan Nandini dan teman-temannya berkelakar, nampaklah Zainal Abidin sedang bermuram durja, Zainal menutupi kedukaannya dengan berusaha fokus membaca buku,ia tidak ingin melihat ke arah Nandini Sukma Dewi, tidak ada lagi kelakar dari Zainal untuk Nandini.
Setelah melihat kenyataan yang terjadi di depan matanya sendiri Nandini lebih memilih Arjuna daripada dirinya, detik itu pula Zainal Abidin menjauh dari Nandini, baginya melihat Nandini tersenyum bahagia dengan pilihannya itu sudah cukup bagi Zainal Abidin, mencintai bukan berarti harus memiliki, terkadang cinta memang harus butuh pengorbanan, menahan rasa sakit demi melihat orang yang kita cintai bahagia dengan yang lain, walaupun sebenarnya hati kita terasa perih dengan kenyataan yang ada.
Nandini merasa sepi ketika teman debatnya yang setiap hari tiada habisnya mengganggunya,kini malah diam dan tak peduli padanya.
"Kenapa sesakit ini dan seperih ini ketika dirimu tak peduli padaku?Kenapa kau berubah Zainal? Maafkan aku yang telah membuat keretakan diantara kita,aku tidak tahu hendak melakukan apa, ini adalah pilihan yang sangat sulit untukku, bukan aku tak suka padamu, namun aku bimbang atas rasaku, maafkan aku Zainal karena aku memilih Arjuna untuk menjadi teman istimewa ku, namun aku tak rela melihat mu acuh terhadap ku."Bisik hati kecil Nandini, ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya lantaran perasaannya yang sangat sulit untuk ia artikan, ketika hati harus memilih maka ia harus siap dengan segala konsekwensinya.Sekarang ia harus kehilangan teman debatnya Zainal Abidin demi mempertahankan Arjuna Restu Pamungkas.
***
Sedangkan Cinta dan Kirana seperti biasanya menunggu Bis Sekolah seperti teman-teman lainnya yang searah dengan mereka.Sementara, Fadhilah dan Hafidzah seperti biasanya kembali kerumah dengan sepeda mini kesayangannya.
"Kir... tolong sampaikan suratku untuk Zahrana yach?"Pinta Rivandra pada Kirana Larasati di sela-sela menunggu Bis Sekolah.
"Siap kak!"Ujar Kirana Larasati.
"Terimakasih Kir atas semuanya,"ujar Rivandra Dinata Admaja.
"Sama-sama kak,"ujar balik Kirana.
Bis Sekolah pun tiba, Rivandra Dinata Admaja, Kirana Larasati, Cinta Kiara Khoirani dan Rangga Sahadewa, juga Siswa-siswi SMP NEGERI 3 XX yang searah dengan mereka pun berbondong-bondong masuk ke dalam Bis Sekolah.
Sepanjang perjalanan,Rivandra nampak asyik berkelakar dengan Kirana Larasati, sedangkan Cinta Kiara Khoirani nampak asyik bercerita dengan Rangga Sahadewa.Mereka berempat kompak duduk di kursi mobil paling belakang.
__ADS_1
Desa XX tempat tinggal Cinta dan Kirana pun telah sampai, mereka segera turun dari Bis, seraya melambaikan tangan pada Rivandra Dinata Admaja dan Rangga Sahadewa.
Nampaklah perasaan Cinta dan Kirana terasa berbahagia dan berbunga-bunga, entah apa yang terjadi dengan perasaan mereka hanya mereka dan Tuhan lah yang tahu.
Cinta Kiara Khoirani nampak tertarik dengan Rangga Sahadewa, sedangkan Kirana Larasati entah kenapa nampak nyaman berkelakar dengan Rivandra Dinata Admaja di Bis Sekolah, juga pas di kantin sekolah ia sebenarnya diam-diam mencuri pandang pada Rivandra Dinata Admaja dan berpura-pura menyapa Rivandra, sehingga berujung Rivandra memintanya untuk memberikan surat cinta dari Rivandra untuk Zahrana.
"Hemmmm... ketika hati harus memilih, antara rasa cinta dan persahabatan,maka aku lebih memilih persahabatan, karena persahabatan itu lebih penting daripada rasa cinta,aku lebih baik memilih memendam rasa demi terus melihat seorang yang kita kagumi tersenyum bahagia dengan pilihannya.Aku adalah termasuk jiwa-jiwa yang mengagumi seseorang dalam diam,aku menyukaimu kak Rivandra Dinata Admaja, namun dirimu mencintai sahabatku Tsamirah Zahrana Az Zahra.Betapa malangnya aku mencintai dan mengagumi sosok yang sama sekali tidak tahu bahkan tidak merasakan apa yang kurasakan."Bathin Kirana Larasati dengan nada pilunya.
Namun, Kirana Larasati mempercepat langkah kakinya untuk mengantarkan surat cinta Rivandra untuk Zahrana.Ia ingin segera sampai kerumah Zahrana guna menyampaikan amanah Rivandra Dinata Admaja.
"Cinta itu memang harus butuh pengorbanan, walaupun akhirnya tak bisa memiliki sosok yang kita puja-puja, melihat ia bahagia dengan pilihannya itu pun sudah cukup,"cicit Kirana Larasati.
"Hey...Kir, kenapa loe diam saja,dari tadi aku perhatikan kau tampak berpikir keras sekali,ada apa?"Tanya Cinta Kiara Khoirani pada Kirana Larasati sahabatnya.
"Aaku... aakuuu...ti-tidak apa-apa Cin,"jawab Kirana Larasati gelagapan.
Cinta Kiara Khoirani pun bingung melihat tingkah Kirana Larasati, namun ia tidak ingin ambil pusing," mungkin Kirana Larasati ada masalah atau sedang kecapean."Pikir Cinta Kiara Khoirani.
Mereka pun tiba di rumah Zahrana.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi..."
"Masuk!"Jawab Zahrana yang sedang santai berbaring di sofa ruang tamu.
"Maa syaa Allah... Kirana, Cinta, kalian pulang sekolah langsung bertandang kemari,"ucap Zahrana sebab kedua sahabatnya masih mengenakan seragam putih-biru.
"Oh ya, silahkan duduk!"Titah Zahrana pada Cinta dan Kirana.
"Tidak Ra, kami hanya sebentar,ada titipan surat untuk mu dari kak Rivandra Dinata Admaja."Tutur Kirana Larasati seraya menutupi perasaannya yang berkecamuk, ada rasa perih di ulu hati mengenang kisahnya ia tidak menyangka jika ia pun jatuh hati pada Rivandra Dinata Admaja sosok pria yang sangat mencintai sahabatnya Zahrana.
Darah Zahrana terasa mengalir deras, jantungnya pun seakan bertabuh lebih kencang mendengar jika Rivandra Dinata Admaja mengirimkan surat cinta untuknya.
"Oh Tuhan... jangan biarkan diriku jatuh hati kepada sosok kak Rivandra Dinata Admaja, ada hati yang harus ku jaga, bagaimana dengan kak Aslan Abdurrahman Syatir?Kak Rivandra,Kak Aslan, apa yang harus kulakukan? Ketika hati harus memilih... siapakah sebenarnya cintaku?"Bathin Tsamirah Zahrana Az Zahra,ia pun tertunduk lesu,resah gelisah seakan melanda jiwa mengenang percintaannya berbalut cinta segitiga antara harus memilih Aslan Abdurrahman Syatir atau Rivandra Dinata Admaja?
__ADS_1