Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
192 . Romantis Seperti Rasulullah


__ADS_3

Dasar teman toxic, bisa-bisanya ia sengaja bersikap romantis, sengaja ngeprank sahabat sendiri. Apa ia tidak mengetahui mata polosku dan jiwa jomblo ku meronta?" gerutu Zaid dalam hatinya.


"Hemmm ... akhirnya akh Zaid terpancing emosi juga, makanya cepat cari jodoh dan menikah!" bathin Fardhan dengan senyum devilnya. Ia merasa ingin tertawa melihat raut wajah Zaid yang tampak kecut.


"Sudah, Bi. Kasihan Zaid, jangan di prank lagi! gimana rasanya jika Abi berada di posisi Zaid dan Zahrana, pasti Abi baperan juga, kan?" Sabrina mendelik ke arah suaminya yang nampak acuh tak acuh itu.


"Iya, Mi. Maaf!" ucap Fardhan sambil meraih botol air mineral dihadapannya.


"Ini, Ummi minum dulu! nanti Abi minum dibekas minum Ummi," ucap Fardhan yang selalu menunjukkan sisi romantisnya. Membuat Sabrina merona, ia seolah menjadi sosok ratu yang begitu sangat disanjung oleh suaminya.


Sabrina pun segera meneguk air mineral yang telah dipersembahkan oleh Fardhan suaminya. Lagi-lagi Sabrina merasakan menjadi sosok bidadari yang sangat berharga dimata suaminya.


"Terimakasih, Bi." Sabrina menatap lekat wajah tampan suaminya.


"Ummi sangat beruntung bisa menjadi makmum untuk Abi. Abi adalah sosok imam yang sangat baik untuk Ummi," bathin Sabrina penuh haru.


Menyadari jika manik mata isterinya mulai terlihat berkaca-kaca, Fardhan pun tersenyum memandang manik mata isterinya. Ia pun meletakkan tangannya di pipi mulus isterinya.


"Abi, sangat mencintai Ummi!" ucap Fardhan setengah berbisik, ia khawatir dua anak muda yang berjarak dua meter darinya itu mendengar untaian nada cintanya kepada istrinya.


Fardhan pun kembali melakukan aksi romantisnya, ia pun meminum bekas air mineral tepat dimana bekas bibir istrinya yang tadi meminum air tersebut. Membuat Sabrina semakin tersanjung dan melang-lang buana oleh sikap romantis suaminya.


"Maa syaa Allah ... Mas Fardhan!" pekik Sabrina dengan menutup mulutnya, oleh rasa kagumnya terhadap suaminya yang selalu menunjukkan sisi romantisnya.


Zaid menoleh ke arah sumber suara, tak terkecuali Zahrana yang sedang menikmati nasi Padangnya pun menghentikan menyuapkan nasi kedalam mulutnya.


"Maa syaa Allah ... beruntung sekali Kak Sabrina mendapatkan sosok imam yang Sholih seperti Mas Fardhan. Sikapnya romantis sekali, seromantis Rasulullah!" bathin Zahrana.


Zahrana pun berpikir sejenak, "Zahra ingat betul akan salah satu bingkisan yang diberikan oleh kak Yusuf sebelum ia berangkat ke Kairo-Mesir tempo hari, dimana dalam buku yang berjudul 'Pernikahan Yang Di Dambakan Menurut Al Qur'an dan As Sunnah', dijelaskan bahwa Rasulullah pernah minum di bekas gelas istrinya Siti Aisyah, persis sekali dengan apa yang di lakukan oleh Mas Fardhan pada kak Sabrina!" bathin Zahrana lagi.


"Maa syaa Allah ... Mas Fardhan benar-benar romantis seperti Rasulullah. Ya, meskipun tidak ada yang bisa menandingi akhlak Rasulullah terhadap istri-istrinya, tetap saja sedikit banyaknya Mas Fardhan telah meniru salah satu akhlak Nabi, yakni berusaha bersikap romantis pada kak Sabrina istrinya!" Zahrana terus bermonolog dalam hatinya.


Zahrana pun kembali merenungi sebuah artikel yang pernah ia baca, ROMANTIS memang sangat dibutuhkan dalam pernikahan. Sebab keromantisan mampu menciptakan pernikahan bahagia dan tahan lama. Semua pasangan pasti ingin selalu romantis bersama pasangannya.


Dari sisi science baru-baru ditemukan bahawa fakta romantisme dan kebahagiaan pernikahan saling berkaitan. Romantis bersama pasangan juga telah ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan istrinya dan sikap romantis yang dilakukan Rasulullah terbukti secara ilmiah ampuh menciptakan pernikahan bahagia.


Studi baru dari Michigan of University menemukan pasangan yang punya kebiasaan minum bersama dalam satu gelas, hubungan mereka cenderung memuaskan. Penelitian tersebut dipublikasi secara online di Journal Gerontologi B Psychological Science.


Dalam penelitian tersebut ada 2767 pasangan yang diteliti antara rentan waktu tahun 2006 dan 2012. Semua pasangan diwawancarai tentang bagaimana kebiasaan minum mereka dan seberapa sering mereka minum bersama pasangan dalam satu gelas.


"Hasilnya, pasangan yang tidak minum dalam satu gelas retan menjalani hubungan yang penuh dengan aspek negatif dalam pernikahan. Entah itu merasa pasangan terlalu menuntut, kritis, atau mereka menganggap pasangan tidak dapat dipercaya bahkan menjengkelkan," tulis Kira Birditt si peneliti seperti dirilis Realsimple.


Sementara itu, pasangan yang minum satu gelas bersama cenderung tidak memiliki keluhan tentang pernikahan.

__ADS_1


Sebaiknya pasangan yang ingin lebih puas menjalani hubungan, ubahlah gaya minum dengan harapan hubungan bisa diperbaiki dan lebih baik.


Dari penelitian tersebut, minum dalam satu gelas bersama istri dicontohkan Rasulullah SAW bersama Aisyah RA. Rasulullah SAW benar. Ia suka memakan dan meminum berdua dari piring dan gelas istri-istrinya tanpa merasa risih atau jijik.


Dari ‘Aisyah RA, ia berkata: “Saya dahulu biasa makan his (sejenis bubur) bersama Nabi SAW .“ (HR. Bukhori dalam Adabul Mufrod)


“Aku biasa minum dari gelas yang sama ketika haidh, lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengambil gelas tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat aku meletakkan mulut, lalu beliau minum.” (HR Muslim.)


Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah minum di gelas yang digunakan ‘Aisyah. Beliau juga pernah makan daging yang pernah digigit ‘Aisyah. (HR Muslim : 300)


Hadits-hadits tersebut mengungkap betapa Rasulullah selalu bersikap lembut dan romantis kepada istri-istrinya. Hal itu membuktikan apa yang dicontohkan Nabi Muhammad adalah baik, meski tampak sepele.


Zahrana terus merenungi ilmu-ilmu yang pernah ia baca, setidaknya semua itu bisa menjadi pegangan untuknya dimasa depan nanti.


"Semoga saja, aku dan seseorang yang akan menjadi imam ku nanti, dapat menerapkan itu semua. Dan aku berharap yang menjadi imamku adalah pemuda yang bernama Yusuf Amri Nufail Syairazy!" bathin Zahrana dengan menyandarkan tangan kanannya didagunya.


Zahrana tidak menyadari jika dari sejak tadi, Muhammad Zaid Arkana terus memperhatikan keberadaannya, yang dari sejak tadi terus tenggelam dalam lamunannya.


Menyadari tatapan Zaid yang penuh arti pada Zahrana adik iparnya, Fardhan Arkan pun kembali tersenyum devil.


"Ehemmm ... mbok, jangan dipandangi terus bunga mawarnya. Lebih baik dipetik dahulu, jangan sampai bermekaran di tempat lain!" pungkas Fardhan dengan menepuk pundak MZ Arkana.


Zaid pun tersadar dari keterpanaannya pada sosok Tsamirah Zahrana Az Zahra.


"I-iya, ma-af." Zaid gelagapan, ia pun mengacak kasar rambutnya.


Sabrina pun menghampiri Zahrana adiknya, membuat Zahrana pun tersadar dari lamunannya.


"Dek, sedang memikirkan apa? kakak perhatikan dari sejak tadi kamu melamun? jangan banyak pikiran, nanti sakitnya kambuh lagi!" ucap Sabrina dengan memeluk dan mengelus pucuk kepala Zahrana yang sedang dalam keadaan setengah bersandar di brankarnya yang memang sudah di stel seperti tempat duduk bersandar yang paling aman untuk pasien.


"Zahra tidak memikirkan apa-apa kok, Kak. Alhamdulillah Zahra sudah sehat, cuma lama-lama melihat kebersamaan Kak Sabri dan Mas Fardhan membuat mata polos Zahra ternodai."


"Oops ... maaf, Zahra keceplosan!" ucap Zahra nyengir kuda.


"Subhanallah ... jadi itu yang membuat adik kakak ini termenung?" tanya Sabrina dengan tersenyum menggoda pada Zahrana.


Zahrana nampak tertunduk malu, pasalnya semua pandangan tertuju kepadanya.


"Hemm ... agar mata polosnya tidak ternodai, bolehlah kiranya merubah statusnya menjadi halal!" ucap Sabrina setengah berbisik, membuat Zahrana semakin merona dan tertunduk malu, pasalnya pasangan yang di maksud oleh kakaknya adalah sosok Muhammad Zaid Arkana.


"Kak Sabri, sudah ... Zahra malu."


Zahrana menyembunyikan wajahnya dalam dekapan kakaknya.

__ADS_1


"Iya deh, nggak apa-apa kalau belum siap, kakak do'akan semoga Zahra berjodoh dengan Akh Zaid! sebab, kakak lihat dia selalu ada untukmu, Dek."


Sabrina berbisik kecil di telinga Zahrana, membuat Zahrana terdiam. Ia pun menyadari apa yang diucapkan oleh kakaknya itu benar adanya. Namun, hati kecilnya tetap menolak untuk menikah dengan Zaid, yang ada dalam hati dan pikirannya hanyalah sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy walaupun jauh di pelupuk matanya, namun sangat dekat dihatinya.


Zahrana menggelengkan kepalanya, ia belum siap untuk menikah. Apalagi, pemuda yang disebutkan oleh kakaknya bukan seseorang yang ia harapkan untuk menjadi imamnya.


"Maaf kak, Zahra belum siap untuk menikah." Zahrana tertunduk lesu.


"Ya sudah, tidak mengapa. Kakak hanya menyarankan saja, Dek."


Zahrana pun mengangguk mengerti.


"Oh, iya. Ba'da Isya nanti kakak sama Mas Fardhan sudah hendak pulang, kasihan Shaka sama Yumna, mereka tadi kakak tinggalkan sama Pramuja di rumah. Nanti yang jaga kamu adalah Pramuja, jika kamu masih rawat inap besok, insyaAllah kakak besuk lagi kemari."


"Baiklah, Kak!" Zahrana pun tertegun sejenak.


"Tenang, Pramuja kan saudara sepupu mu, ia memang Playboy. Tapi, ia bisa menjagamu, ia tidak mungkin macam-macam terhadap mu!" ucap Sabrina dengan tersenyum simpul melihat kekhawatiran diwajah Zahrana.


"Iya, Kak. Terimakasih, sudah berkenan membesuk Zahra."


Zahra pun memeluk erat tubuh Sabrina kakaknya.


"Sama-sama, Dek. Sudah menjadi kewajiban kakak untuk menjaga dan memperhatikan mu!" ucap Sabrina dengan memeluk dan mencium kening Zahrana.


Zahrana nampak betah dalam pelukan kakaknya, ia sangat bersyukur bisa memiliki keluarga yang sangat hangat dan begitu memperhatikan dirinya. Click


***


Sabrina dan Fardhan sudah pulang membesuk Zahrana di Rumah Sakit Medika ba'da Isya tadi, tinggal-lah Zahrana dan Zaid nampak terpaku, tidak ada yang berani membuka suaranya. Seketika suasana pun nampak hening.


Lima menit sudah berlalu, keduanya pun nampak bungkam. Zahrana membaca buku yang berkaitan dengan realigi. Sedangkan Zaid, nampak memainkan ponselnya, namun pikiran dan perasaannya tetap tertuju pada Zahrana.


"Zahra, hari sudah malam, sholat Isya sudah selesai, sebaiknya kau istirahat dulu! jangan bergadang, baca bukunya lanjut besok lagi, yah?" ucap Zaid memberanikan dirinya. Ia pun meraih buku yang dibaca Zahrana.


"Sebentar, Kak! Zahra belum mau tidur, Zahra belum ngantuk."


Zahrana pun, hendak merebut kembali buku miliknya yang telah diambil oleh Zaid, namun bukan buku yang ia dapatkan. Melainkan tangan Zaid yang ia genggam.


Jantung hati Zahrana terasa berdesir hebat. Begitu pula dengan Zaid, sentuhan lembut dari Zahrana membuat aliran darahnya terasa memompa lebih cepat dari biasanya.


Seketika keduanyapun saling beradu pandang, "Tsamirah Zahrana Az Zahra, sungguh sempurna dirimu diciptakan!" bathin Zaid dengan memandangi wajah cantik nan ayu dihadapannya tersebut.


"Ma-af kak!" ucap Zahrana dengan menundukkan pandangannya.

__ADS_1


🌷🌷🌷


Untaian mutiara hikmah 👉 "Pernikahan yang sukses bukanlah saat kamu bisa menjalani hidup dengan damai bersama istrimu, melainkan saat kamu tidak dapat menjalani hidup dengan damai tanpanya. Saat seorang pria mengatakan: saya terima, dalam sebuah akad pernikahan, maka itu berarti ia mengatakan: bahwa saya menerima tanggung jawab untuk melayani, mencintai dan melindunginya. Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istrinya. Seorang suami yang baik akan menyeka air mata istrinya, tapi suami yang hebat akan mendengarkan dengan baik cerita istrinya yang membuatnya menangis. Tertawa, bermain dan bercandalah dengan istrimu. Karena itu adalah Sunnah. Wanita itu ibarat bunga, mereka harus diperlakukan dengan lembut, baik hati, dan dengan penuh kasih sayang."


__ADS_2