Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
220. Rencana Buruk


__ADS_3

"Baiklah, Tuan. Segera kami laksanakan perintah Tuan, dengan syarat pembayarannya lebih tinggi, mengingat pekerjaan ini sangat berat. Ia bukan orang sembarangan untuk di lenyapkan. Keluarganya adalah orang yang terpandang di masyarakat. Mereka adalah keturunan keluarga yang baik-baik," ucap seseorang yang berbicara dengan Aslan di seberang telfon.


Aslan diam sejenak memikirkan rencana buruknya untuk melenyapkan Yusuf. Di satu sisi ia juga sebenarnya tidak ingin untuk melakukan kekerasan pada Yusuf, namun akal sehatnya sedang tidak berfungsi dengan baik.


Karena rasa cinta butanya terhadap Zahrana, hingga kini berujung terbesit rasa dendam dihatinya karena berkali-kali gagal merebut hati Zahrana untuk kembali padanya.


"Baiklah, yang penting kalian bereskan semuanya!" ucap Aslan dengan menghembuskan nafasnya pelan.


Seseorang disebrang telfon tersebut pun segera menyusun rencana untuk melenyapkan Yusuf dengan caranya sendiri bersama beberapa orang suruhannya.


"Maafkan hamba ya Rabb, harus melakukan hal yang buruk ini!" bathin Aslan yang masih memiliki setetes kebeningan iman dihatinya. Namun, ia tetap melakukan rencana buruknya untuk memisahkan Yusuf dan Zahrana.


Aslan pun kembali memasuki area resepsi pernikahan Dini adiknya. Ia tiada henti-hentinya menatap sinis ke arah Yusuf yang nampak bahagia bercengkrama dengan Raihan dan juga Zahrana. Ia meremas jemari tangannya sendiri oleh sebab rasa tidak sukanya melihat kebersamaan Yusuf dengan wanita yang sangat dicintainya dari sejak dulu hingga sekarang.


"Kurang ajar, ia benar-benar membuat ku geram melihat kebersamaanya dengan Zahrana. Ia benar-benar ingin bermain-main dengan ku, sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan kalian tertawa bahagia di atas penderitaan ku," bathin Aslan dengan penuh emosi. Sehingga ia tidak sengaja menghempaskan piring rotan yang telah dikumpulkannya, bekas makan para tamu undangan yang telah menghadiri pernikahan Dini adiknya.


Sebagian orang yang berada di dekatnya, nampak terkejut dengan aksi nekad Aslan yang tiba-tiba menghempaskan piring rotan yang sedang dipegang olehnya.


"Astaghfirullah! pekik Rufaidah setengah berteriak ketika tumpukan piring rotan yang dihempaskan oleh Aslan hampir mengenai dirinya. Jika ia tidak segera menghindar, besar kemungkinan akan mengenai gaun pestanya yang sedang duduk manis menikmati jamuan dan mendengarkan senandung lagu yang dinyanyikan oleh musisi diatas panggung.


"Ma-af," ucap Aslan ketika mendengar pekikan Dokter Rufaidah.


Tatapan mata Aslan tidak sengaja bertemu dengan manik mata Rufaidah, "Kau, bukankah kau dokter Rufaidah Al Aslamiyah, dokter spesialis kandungan yang menangani adik ku Nandini di rumah sakit Medika tempo hari?" ucap Aslan dengan pandangan mata yang tak berkedip memandang ke arah Rufaidah.


"Cantik!" satu kata yang Aslan gumamkan di dalam hatinya. Namun, baginya meskipun diluar sana banyak wanita yang cantik dan sempurna. Namun, hanya Zahrana yang dapat menyentuh hati pikiran dan jiwanya.


"Benar, saya Dokter Rufaidah. Hati-hati Mas Aslan, jangan banyak melamun!" sarkas Rufaidah dengan tersenyum kepada Aslan.


"Oh iya, selamat menikmati jamuannya!" ucap Aslan dengan memungut kembali piring-piring rotan yang jatuh berserakan di lantai.


"Biar aku bantu, Kak!" tawar Zainal dengan membungkukkan badannya. Ia yang sejak tadi memperhatikan interaksi kakaknya dengan Aslan Abdurrahman Syatir kakak Nandini Sukma Dewi pun menawarkan diri untuk membantu Aslan.


"Kau, bukankah kau teman sekolah Nandini adikku di masa putih-biru dahulu!" tanya Aslan pada Zainal sembari memungut piring-piring yang berserakan oleh karena ulahnya sendiri.


"Benar, saya Zainal."


Aslan nampak berpikir sejenak, "Terimakasih sudah menghadiri pesta adik ku Nandini, terima kasih sudah membantu ku memungut piring-piring ini!"

__ADS_1


Zainal mengangguk.


Aslan sama sekali tidak mengetahui jika Rufaidah dan Zainal adalah adik kakak, ia pun segera melanjutkan rutinitasnya dengan perasaan yang berkecamuk di dadanya. Ia kembali memikirkan rencana buruknya untuk menghancurkan hubungan Yusuf dan Zahrana.


Sementara Ibu Ratna Anjani nampak memperhatikan dari pelaminan atas tingkah polah putra sulungnya.


"Sudah kuduga, anak itu benar-benar masih mengharapkan gadis yang bersembunyi dibalik jilbab itu. Ini tidak bisa dibiarkan!" bathin Ibu Ratna Anjani menatap nyalang pada Zahrana yang nampak anggun dengan hijab syar'i yang dikenakannya.


"Sebenarnya ia memang sangat cantik dan mungkin saja sholiha, tapi aku tetap saja tidak menyukainya. Ia adalah anak dari Fatimah Khoirun Nisa, ia yang dulu telah merebut Buya Harun Al Aziz dari ku ketika masa muda dulu. Wajahnya benar-benar mengingatkan ku pada Fatimah ketika muda dulu. Aku tidak sudi berbesan dengannya!" bathin ibu Ratna Anjani.


Ibu Ratna Anjani dan Bunda Fatimah dahulu adalah teman akrab, kemana-mana selalu bersama. Sudah seperti saudara, makan tidur pun sering bersama. Namun, keduanya sama-sama mengagumi pemuda yang sama.


Ibu Ratna Anjani yang telah kepincut dengan sosok Buya Harun pun berusaha mendapatkan hati Buya Harun ketika masa mudanya, namun sayangnya Buya Harun mencintai sosok Bunda Fatimah dan segera meminangnya.


Sejak saat itu lah persahabatan Ibu Ratna Anjani dan Bunda Fatimah menjadi renggang. Hingga akhirnya ia memilih menikah dengan Ayah Anjasmara untuk melampiaskan kekesalannya. Hingga lahirlah Aslan Abdurrahman Syatir dan Nandini Sukma Dewi.


Sedangkan pernikahan Bunda Fatimah dan Buya Harun melahirkan empat orang anak, salah satunya Zahrana yang kini sangat digandrungi oleh Aslan anaknya.


Ketermanguan ibu Ratna pun terhenti, ketika tamu undangan datang silih berganti.


"Sampai kapanpun ibu tidak akan membiarkan diri mu bersama dengan anaknya si Fatimah itu!" bathin ibu Ratna Anjani, dengan emosi yang terpendam di hatinya.


Pesta Nandini dan Arjuna pun berlangsung dengan begitu meriahnya. Tamu undangan datang silih berganti menghadiri pesta mereka yang di gelar dengan mengundang lebih dari dua ribu undangan.


Di tengah meriahnya undangan hadirlah rombongan Fadhillah beserta keluarganya. Juga Hafidzah yang dulu pernah menjadi sahabat Nandini pada Zaman putih-biru dahulu, Hafidzah kini nampak mengenakan hijab syar'i yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangannya.


Hafidzah nampak terlihat cantik dan mempesona, tidak kalah dengan kecantikan alami Zahrana.


Nandini nampak menyambut baik kehadiran teman lamanya itu, "Maa sya Allah Hafidzah, apa kabar?" ucap Nandini dengan merangkul erat sahabatnya itu.


"Alhamdulillah, aku baik Din." Hafidzah nampak memeluk erat Nandini.


"Gantian dong, aku belum dipeluk!" seloroh Fadhilah yang nampak tak sabaran menunggu giliran.


Nandini dan Hafidzah tertawa bersamaan.


"Hemm, aku punya ide, bagaimana jika kamu turun dari pelaminan gabung dengan kita disana, nanti kita berkumpul dengan teman-teman sekolah kita dahulu, sekalian reunian." Fadhilah memberikan usulan.

__ADS_1


"Baiklah, aku izin dengan suami ku dulu!" ucap Nandini dengan gaya metalnya. Meskipun masih mengenakan gaun pengantin, Nandini begitu bersemangat untuk berkumpul bersama teman-temannya.


Hafidzah dan Fadhillah pun menunggu Nandini untuk turun dari pelaminan. Sementara orang tua mereka membiarkan anak-anaknya untuk sekedar temu kangen.


"Hubby, aku turun dulu ya? gabung dengan teman-teman," ucap Nandini berpamitan dengan Arjuna suaminya.


"Oh, ya silahkan honey!" ucap Arjuna dengan manik mata tertuju pada kehadiran tiga wanita cantik yang nampak seksi dari kejauhan.


"Adelia Kencana Puteri?" bathin Arjuna dengan dada yang berdebar-debar. Ia seolah membayangkan kisah cintanya semalam bersama sosok wanita yang mengenakan gaun hitam selutut tersebut.


Adelia bersama dengan dua orang temannya, Priska Prahara dan Lembayung Senja tanpa cantik dengan gaun seksi yang mereka kenakan hingga menampakkan lekuk tubuh yang bisa memancing hasrat kaum Adam berhidung belang untuk meliriknya.


Arjuna nampak terpukau dengan pesona Adelia, ia membiarkan istrinya Nandini berkumpul dengan teman-temannya. Sementara ia sendiri nampak menikmati lekuk tubuh wanita yang telah menjadi selingkuhannya itu.


Adelia bersama Priska dan Lembayung berlenggak-lenggok memasuki area pelaminan di mana kini Arjuna berdiri.


Dengan tidak tahu malunya ia memeluk dan mencium pipi kiri dan kanan Arjuna. "Sayang, aku merindukan mu!" ucap Adelia dengan berbisik kecil di telinga Arjuna, hingga membuat tubuh Arjuna meremang.


Arjuna berusaha menguasai ritme jantungnya, agar tidak terjerat oleh pesona Adelia. Mengingat sekarang dirinya masih berdiri di atas pelaminan, bersama orang tuanya juga ada istrinya di sana, di tengah kerumunan tamu yang berdatangan.


Arjuna melepaskan pelukan Adelia, dan beralih menyalami Priska dan Lembayung Senja, keduanya pun mengucapkan selamat atas pernikahan Arjuna dan Nandini.


Mereka pun segera turun dari pelaminan Arjuna, karena tidak hati-hati turun dari tangga pelaminan sepatu high heels milik Adelia membuatnya tergelincir hingga hampir menyebabkannya terjatuh, jika tidak segera ditangkap oleh seseorang. Adelia pun jatuh dalam dekapan seseorang tersebut.


"Awww!" pekik Adelia ketika mendapati tubuhnya hampir jatuh tersungkur. Ia pun memejamkan matanya, seolah-olah ia kini benar-benar telah tumbang dan jatuh tersungkur ke tanah.


"Amboiii, betapa cantiknya!" ucap seseorang yang bernama Mang Selamet yang selama ini menjadi tukang kebun keluarga Aslan pun tampak mendapatkan rembulan jatuh dalam pelukannya.


Gigi Mang Selamet yang sudah ompong dua biji membuat Adelia memekik histeris. Bukan pangeran tampan atau pun Arjuna Restu Pamungkas yang menolongnya. Akan tetapi justru pangeran Sapi Ompong beranak dua yang menyelamatkannya.πŸ˜…πŸ˜…


"Tidakkkk!" pekik Adelia. Matanya yang terpejam pun membola sempurna ketika mendapati Mang Selamet yang telah berusia 45 tahun yang menyelamatkannya. Bukan pangeran tampan seperti di film-film layar kaca.πŸ˜‚πŸ˜‚


Semua orang yang melihat adegan tersebut seketika tertawa renyah, memenuhi ruangan pesta tersebut.


"Syukurin!" umpat Nandini di dalam hati, siapa suruh kecentil*n dengan suamiku. Nandini nampak berang sebab Adelia yang pernah menjadi mantan pacar suaminya berani-beraninya merangkul Arjuna di hadapan khalayak ramai.


🌺🌺🌺

__ADS_1


Untaian mutiara hikmah πŸ‘‰"Saat kamu memulai perjalanan balas dendam, mulailah dengan menggali dua kuburan: satu untuk musuhmu, dan satu untuk dirimu sendiri. Balas dendam hanya dapat ditemukan di jalan menuju kehancuran diri. Pembalasan adalah monster nafsu makan, haus darah selamanya dan tidak pernah kenyang. Balas dendam terbaik adalah terus hidup dan membuktikan diri. Kita mengambil pelajaran kita terluka; kita ingin balas dendam. Kemudian kita menyadari bahwa sebenarnya kebahagiaan dan memaafkan orang adalah balas dendam yang terbaik."



__ADS_2