
Setelah kepulangan Yusuf dari kediaman Zahrana dan keluarga,tinggal lah Aslan Abdurrahman Syatir yang hendak pamit undur diri, sebab ada rasa tidak enak hati terlalu berlama - lama, mengingat Yusuf Amri Nufail Syairazy pun sudah lebih awal beranjak dari kediaman Buya Harun, orang tua nya Zahrana.
Aslan harus menelan pil pahit dalam hati nya, lantaran Buya Harun sangat kentara sekali menyukai sosok laki - laki Sholeh seperti Yusuf, sangat berbanding terbalik dengan Aslan, meskipun dia berasal dari keluarga berada namun Aslan kalah satu langkah dengan Yusuf, Aslan hanya berasal dari keluarga yang masih sangat awam tentang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan syari'at Islam, masih sangat jauh tertinggal di bandingkan Yusuf yang memang sangat religius dan fanatik dalam memahami dan menjalankan syari'at berdasarkan tuntutan Islam yang sebenarnya.
" Buya,Aslan pun hendak undur diri, terimakasih karena sudah di perkenankan untuk bertandang di sini!"
"Kenapa buru - buru sekali nak Aslan, baik nya kita bercengkrama dulu, rumah nak Aslan pun dekat dari sini", ujar Buya Harun dengan nada kaget nya sebab tidak seperti biasanya sikap Aslan terlihat dingin dan tergesa-gesa.
"Iya Buya, Aslan hendak menemani Nandini di rumah, khawatir Ayah dan Ibu Aslan belum pulang dari rumah teman nya, kasian Nandini jaga Toko sendirian",kilah Aslan sembari menyembunyikan rasa kecewanya.
"Iya nak Aslan, lain kali mampir lagi kemari!... jangan sungkan, mohon maaf jika ada ucapan Buya yang kurang berkenan, di tengah - tengah cengkrama kita tadi", ucap Buya Harun berasa tidak enak hati sebab ia merasa terlalu fokus bercengkrama dengan Yusuf hingga lupa akan kehadiran Aslan.
"Tidak apa-apa Buya,Aslan senang bisa mendapatkan ilmu baru dari perbincangan Buya dan Yusuf."
Bunda Fatimah, Raihan terlebih Zahrana hanya terdiam, mereka merasa seolah - olah lidah nya keluh dan kehabisan kata - kata untuk berucap.
Raihan pun merasa tidak enak hati, karena sempat berteriak kegirangan, menyanjung Yusuf berlebihan di depan Aslan, ketika Yusuf hendak beranjak pergi dengan mengendarai motor gede Honda NSR 150R nampak lah Yusuf sangat amazing seperti 'Ustadz Gaul' di Pesantren Rock n Roll.
Sedangkan Raihan sangat tahu sekali jika Aslan sangat bucin pada kakak nya Zahrana, tentu lah Aslan merasa sangat tersisih jika Buya Harun dan keluarga terlalu menyanjung Yusuf, seolah - olah memberikan lampu hijau kepada Yusuf Amri Nufail Syairazy.
"Kak Aslan, nanti mampir lagi kemari ya!... maaf jika ada ucapan Raihan yang tidak berkenan di hati kakak".
"Raihan hanya anak kecil kak, seringkali kali keceplosan", ujar Raihan penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa Raihan, tidak ada yang salah, tidak ada yang perlu dimaafkan, seorang yang fakir ilmu seperti kakak memang harus banyak belajar", tutur Aslan dengan nada sendu nya berusaha meredam sesak di dada nya lantaran hati benar - benar merasa tersisih.
Sedangkan Bunda Fatimah acuh tak acuh, seolah tidak mau ambil pusing dengan keadaan, yang terpenting bagi nya Zahrana anak nya bisa kembali pulih seperti biasanya.
Bunda Fatimah sama sekali tidak memihak pada Yusuf atau pun Aslan, sebab bagi Bunda Fatimah puteri nya Zahrana tidak boleh berdekatan dengan laki - laki mana pun baik orang awam maupun orang alim sekalipun, mengingat usia Zahrana yang masih belia, Bunda Fatimah ingin Zahrana fokus dengan sekolah nya, belajar dan terus belajar sampai akhirnya Zahrana bisa sukses dan meraih masa depan yang lebih cerah, sampai nanti nya Zahrana halal mendapatkan tambatan hatinya, di usia nya yang memang sudah sangat pantas untuk merasakan itu semua.
***
Aslan pun beranjak pergi,tak lupa menyalami Bunda Fatimah, juga Buya Harun.
Aslan pun setengah berjongkok, sebab Raihan tiba - tiba merangkul nya erat."Kak Aslan,kakak adalah orang baik,kakak hebat dan kuat",ujar Raihan memberikan semangat pada Aslan.
Aslan mengusap lembut puncak kepala Raihan,"kamu juga anak cerdas, anak pandai, anak hebat, anak pintar."Ucap Aslan tak kalah semangat nya.
Buya Harun dan Bunda Fatimah, mengembangkan senyum nya, melihat interaksi puteranya Raihan pada Aslan, betapa Raihan yang masih kecil sangat menghormati dan menghargai orang yang lebih tua dari nya.
Zahrana diam terpaku dalam kebimbangan, hati nya seolah gamang, ingin rasanya ia meraih Aslan dan masuk ke dalam dekapan nya, seperti saat pertama kali nya mereka mencurahkan rasa dan isi hati di saat mereka berada didalam Toko milik Aslan, yang memang menjadi saksi bisu gelora rasa mereka berdua untuk pertama kalinya mereka rasakan dalam cerita asmara nya, walaupun kini semua seakan terasa gantung, terpisah jarak oleh keadaan.Berdekatan namun terasa berjauhan, dekat dari pandangan mata namun tak bisa di sentuh wujudnya.
"Ana, kakak pamit dulu!... jaga diri mu baik - baik, semoga lekas pulih!...lain kali lebih berhati-hati lagi!..."tutur Aslan dengan sorot mata penuh kasih pada Zahrana.
"Iya kak, terimakasih atas semua perhatian nya untuk Ana, terimakasih sudah menjenguk Ana."
"Kakak hati - hati di jalan!"tutur Zahrana dengan wajah sendu nya.
"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi", jawab Zahrana dan keluarga serempak.
Aslan pun melenggang pergi hingga sampai tidak terlihat lagi oleh Zahrana dan keluarga.
"Ayah Bunda...Zahra hendak ke kamar dulu, namun Zahra belum kuat untuk melangkah kan kaki sendiri."
Buya Harun dan Bunda Fatimah pun memapah Zahrana menuju kamar nya, sedangkan Raihan melakukan hal yang sama hendak melangkahkan kaki ke peraduan nya, agar bisa bangun Subuh di awal waktu dan bisa menyiapkan diri untuk berangkat sekolah besok pagi dalam keadaan fit.
Zahrana merebahkan diri nya, di pembaringan nya di bantu oleh Buya Harun dan Bunda Fatimah.
"Ayah Bunda, terimakasih telah membantu Ana,Ana hendak istirahat dulu."Tutur Zahrana pada Ayah dan Bunda nya berusaha menahan rasa sembilu di hati nya, mengingat percintaan nya dengan Aslan yang terpisah oleh jarak dan keadaan tanpa restu orang tuanya.
"Iya nak,kamu istirahat yang cukup ya nak!... jangan terlalu banyak pikiran,besok Zahrana izin dulu, nanti jika sudah pulih baru berangkat sekolah lagi", tutur Bunda Fatimah sembari mengecup pucuk kepala Putri nya.
__ADS_1
Sedang Buya Harun menatap Puterinya penuh kasih, ikut membelai puncak kepala Puterinya, kemudian menyelimuti Zahrana yang mulai terlelap tidur setelah meritualkan Ayat-ayat dan do'a sebelum tidur.
Buya Harun dan Bunda Fatimah pun beranjak keluar dari kamar Puteri nya, setelah benar-benar melihat Puteri nya terlelap.
Zahrana pun terbuai dalam peraduan nya, tenggelam membawa kisah pilu nya bersama Aslan Abdurrahman Syatir, hingga Zahrana terlupakan satu hal jika ada sepucuk surat cinta yang di titipkan Aslan untuk nya, lewat sahabat nya Nandini yang ia selipkan dalam buku Diary nya, yang sampai detik ini belum sempat ia baca.
***
Aslan pun tiba di rumahnya dengan wajah kusutnya, terasa enggan bicara pada penghuni rumah.
Ayah Anjasmara dan Ibu Ratna Anjani, sudah pulang dari rumah teman nya sejak pukul 20.00 Wib.Mereka nampak duduk santai di ruang keluarga sembari menonton sinetron Ada Apa Dengan Cinta, di mana film itu sangat di gandrungi oleh muda - mudi pada zaman itu.
"Assalamu'alaikum... Ayah, Ibu sudah pulang?"sapa Aslan singkat dan padat, seraya mencium punggung tangan Ayah dan Ibu nya.
Sebenarnya karakter Aslan memang sangat irit bicara, kecuali berhadapan dengan Zahrana tambatan hatinya ia baru akan berbicara panjang kali lebar tiada batas nya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi... iya nak, kami sudah pulang sejak satu jam yang lalu", ujar Ayah Anjasmara.
"kamu tidak makan malam dulu nak?"tanya Ibu Ratna Anjani, sebab ia melihat gelagat Putra nya nampak tidak bersemangat sekali, wajah Aslan pun terlihat sangat kusut, seperti 'Hidup Segan Mati Tak Mau '.
"Tidak Bu,Aslan masih kenyang,Aslan hendak ke Toko dulu",ujar Aslan dengan langkah gontai nya.
"Apa bergabung dulu dengan Ayah dan Ibu disini nak? sinetron nya lagi seru lho?kenapa wajah mu terlihat kusut sekali? Apa kamu sedang sakit nak?"tanya Ibu Ratna Anjani bertubi-tubi,sembari meletakkan tangannya di kening Aslan anak nya.
"Aslan nggak apa-apa kok Bu, Aslan sedang ingin sendiri."Kilah Aslan,ia memang sedang tidak bersemangat menonton sinetron bertema remaja.
Ayah Anjasmara hanya menggeleng - gelengkan kepalanya, sembari mengernyitkan dahinya dan berujar,"biasa lah Bu anak muda zaman sekarang mood nya masih labil sering berubah - ubah."
"Jadi, maksud Ayah Putera kita Aslan sedang kasmaran gitu? atau patah hati? teriris sembilu gitu?"ujar Ibu Ratna Anjani dengan serentetan pertanyaan nya?"
"Sudah Bu,Aslan kan sudah dewasa, dia sudah bisa memilah mana yang baik dan buruk untuk kehidupan asmaranya, kita orang tua nya hanya bisa memberikan dukungan dari balik layar saja, tidak baik terlalu ikut campur dalam urusan percintaan anak - anak, apalagi sampai mengekangnya."
"Tidak bisa di biarkan begitu saja Yah,Aslan itu anak kita juga,ibu tidak mau Aslan sampai salah dalam pergaulan nya, lagian dia kan tidak pernah membawa teman wanita kerumah, mana mungkin ia sampai hilang mood seperti itu hanya gara - gara Asmara?"tutur Ibu Ratna Anjani berapi-api.
Melihat Ayah Anjasmara dan Ibu Ratna Anjani sedang berdebat, Nandini pun menghentikan langkah kaki nya ke arah dapur, dan berbalik arah menuju ke ruang keluarga mereka, hendak menemui Ayah dan Ibunya.
"Ayah...Ibu... seperti anak ABG saja, pakai acara marah - marahan seperti sinetron Cinta dan Rangga ' Ada Apa Dengan Cinta?"tutur Nandini dengan gaya metalnya, sembari menunjuk kan jari telunjuk nya pada acara televisi yang sedang di tonton oleh Ayah Anjasmara dan Ibu Ratna Anjani.
"hemmmm....lega... sekali, berarti Nandini tidak perlu buat kan Jus buah naga lagi, Ayah dan Ibu ternyata sudah siap siaga,tahu saja jika Nandini sedang kehausan", ujar Nandini seraya menyeruput habis jus buah naga di meja ruang keluarga mereka.
Ayah Anjasmara dan Ibu Ratna Anjani terkekeh geli, melihat tingkah Nandini yang tidak ada habisnya berkelakar, sangat manja dan menggemaskan.
Mereka pun lupa dengan perdebatan nya mengenai Aslan anak nya, Nandini berhasil mengalihkan pembicaraan orang tua nya mengenai hubungan asmara kakak nya, sebab Nandini takut ketahuan jika wanita yang telah membuat kakak nya bucin parah adalah Zahrana teman nya, anak dari Buya Harun dan Bunda Fatimah yang masih sangat belia, masih seumuran Nandini.
Gadis kecil yang sangat mempesona, itu lah Zahrana wanita yang sangat dipuja - puja oleh kakaknya, yang membuat Aslan dan Zahrana harus back street, lantaran perbedaan usia mereka yang sangat signifikan.
***
Aslan duduk sendiri di balkon Toko nya, bersandar pada kursi santai yang bisa di gunakan untuk duduk atau pun berbaring dengan di temani sebuah dawai gitar,ia pun bersenandung, mencurahkan segala isi hati nya yang sedang gundah gulana,bagai teriris sembilu bisa, luka yang terlihat namun tak berdarah.
"Buih Jadi Permadani "
Dinginnya angin malam ini
Menyapa tubuhku
Namun, tidak dapat dinginkan panasnya
Hatiku ini
Terasa terhempasnya kelakianku ini
Dengan sikapmu
__ADS_1
Apakah kar′na aku insan kekurangan?
Mudahnya kau mainkan
Ho, mungkinkah diri ini Dapat merubah buih yang memutih Menjadi permadani?
Seperti pinta yang kau ucap dalam janji cinta
Juga mustahil bagiku Menggapai bintang di langit Siapalah diriku?
Hanya insan biasa
Semua itu, sungguh aku tiada mampu
Salah aku juga, kar'na jatuh cinta Insan sepertimu,seanggun bidadari
Seharusnya aku, cerminkan diriku
Sebelum tirai hati aku buka untuk mencintaimu
Dinginnya angin malam ini Menyapa tubuhku
Namun, tidak dapat dinginkan panasnya Hatiku ini
Terasa terhempasnya kewanitaanku ini Dengan sikapmu
Apakah kar′na aku insan kekurangan?
Mudahnya kau mainkan
Ho, mungkinkah diri ini
Dapat merubah buih yang memutih Menjadi permadani?
Seperti pinta yang kau ucap dalam janji cinta
Juga mustahil bagiku
Menggapai bintang di langit
Siapalah diriku?
Hanya insan biasa
Semua itu, sungguh aku tiada mampu
Salah aku juga, kar'na jatuh cinta
Insan sepertimu, seanggun bidadari
Seharusnya aku, cerminkan diriku
Sebelum tirai hati aku buka untuk mencintaimu
Ha-ah-ah-ah, ah-ah
Ha-ah-ah, ha-ah
Oh-oh-oh-ho, ho-oh, ho-oh-oh-oh
Syair lagu by Exist dari Negeri Jiran yang di senandung kan oleh Aslan Abdurrahman Syatir yang sempat tenar di tahun 90 an, mewakili perasaan Aslan yang sedang di rundung keresahan karena cinta nya yang telah bersarang di hati pada sosok Bidadari kecil yang sangat indah dan mempesona seperti Zahrana.
Tanpa di sadari air mata Aslan pun berlinang di kedua pelupuk matanya, untuk pertama kalinya dalam hidup nya, air mata cinta untuk pujaan hatinya Zahrana...yach.. hanya Zahrana yang saat ini bersemayam di hati nya tiada yang lain hanya Zahrana seorang ratu hati dalam hidupnya setelah rasa cinta nya kepada Ibu nya.
__ADS_1