
"Ayo kita pergi Humaira!" ucap Aslan sembari memanggil Zahrana dengan panggilan kesayangan seperti panggilan khusus Nabi besar Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam kepada istrinya Siti Aisyah.
"Apakah namanya Humaira?" bathin Muhammad Zaid Arkana yang menatap nanar punggung Zahrana yang hendak beranjak pergi dari hadapannya mengikuti langkah Aslan Abdurrahman Syatir.
"Tunggu! Aku seperti mengenal mu," pekik Pramuja Wisnu Baskara hendak menghentikan langkah Zahrana.
Zahrana menoleh.
Pramuja Wisnu Baskara menghampiri Zahrana. Ia menatap lekat-lekat nanar wajah Zahrana.
"Hemmm ... Kau Tsamirah Zahrana Az Zahra, kan? Anaknya Buya Harun dan Bunda Fatimah," ucap Pramuja dengan senyuman manisnya.
Zahrana mengernyitkan dahinya. Sebab, ia benar-benar tidak mengenal siapa pemuda tersebut.
"Ternyata, setelah dewasa kau terlihat lebih manis, anggun dan imut sekali. Kenapa malam-malam masih keluyuran kemana-mana? sama laki-laki lagi, memangnya Buya sama Bunda tahu jika dirimu berduaan dengan laki-laki seperti ini, bukan mahramnya juga." Pramuja terus menyerang Zahrana dengan ucapan beruntun tanpa titik koma.
"Kamu siapa? sok kenal, sok dekat, sok akrab dengan Humaira ku!" ucap Aslan menekan ucapannya seolah-olah Zahrana benar-benar adalah Humairanya.
"Anda yang siapa? pakai mengaku-ngaku gadis kecil ku sebagai Humaira mu, asal kau tahu Tsamirah Zahrana Az Zahra adalah sepupu ku, Ibunya dan Ibu ku adalah saudara sekandung. Tapi aku memang sudah lama tak bersua dengannya, sebab semenjak 7 tahun terakhir aku merantau dan juga menempuh studi ku di luar Ibu Kota Jakarta," ucap Pramuja membanggakan diri dihadapan Aslan Abdurrahman Syatir.
"Hemmm ... tunggu dulu! berarti orang yang sedang menjabat sebagai Hansip di hadapan ku ini adalah Mas Pramuja Wisnu Baskara?" Zahrana menebak.
"Maa syaa Allah ... jadi, ini beneran Mas Pramuja?" tanya Zahrana antusias.
Pramuja merentangkan kedua tangannya ingin memeluk Zahrana, namun Zahrana menolaknya.
"Aku bukan anak kecil lagi, Mas. Zahra sudah besar," ucap Zahrana tersipu malu.
Pramuja menurunkan tangannya, "Ya sudah ... kalau begitu mana nomor handphone mu, biar Mas save. Lain kali jangan keluyuran kemana-mana, anak gadis tidak baik keluyuran malam-malam," ucap Pramuja. Sekilas ia menatap wajah ayu sepupunya itu.
Ada rasa debar-debar di dalam dadanya ketika manik mata keduanya pun saling beradu pandang.
"Ya Allah ... Aku tidak mungkin jatuh hati pada saudara sepupu ku sendiri," gumam Pramuja.
"Kau, kini benar-benar telah berubah menjadi wanita muslimah yang anggun dan mempesona. Sungguh, aku terpikat pada mu Zahrana!" bisikan hati Pramuja Wisnu Baskara.
"Kau dulu masih kecil, suka ku gendong dan ku peluk, kini pun kau telah dewasa. Sungguh, kau benar-benar membuat semua pemuda yang melihat mu akan terpana dan terhipnotis oleh pesona mu." Pramuja terus memuja Zahrana di dalam hatinya.
"Ini gila, ini tidak boleh terjadi!" bathin Pramuja.
__ADS_1
"Mas Pra, kok bengong. Zahra pulang dulu, hari sudah menunjukkan pukul 22.00 wib. Khawatir Ayah dan Bunda bertanya-tanya nantinya," ucap Zahrana.
"Baiklah, hey siapa nama mu anak muda? tolong jaga adik sepupu ku! jangan pernah menyebutnya dengan Humaira lagi, sebelum dia halal untuk mu. Jika ada sesuatu yang terjadi padanya, kau akan berhadapan dengan ku!" ancam Pramuja.
"Kau bertanya nama ku? baiklah aku Aslan Abdurrahman Syatir," ucap Aslan. Aslan dan Pramuja pun saling bersalaman.
Sementara, Muhammad Zaid Arkana hanya menjadi pendengar setia, ia sejak tadi menyaksikan interaksi antara Pramuja rekannya dengan Zahrana yang katanya sepupunya, juga Aslan Abdurrahman Syatir yang ternyata bukan teman istimewa Zahrana. Katakanlah mereka hanya teman biasa.
"Jadi, gadis kecil ini adalah adik sepupu mu, Pra?" tanya Muhammad Zaid Arkana yang masih tidak percaya dengan apa yang
"Ia, benar sekali pak Arkan." Pramuja merasa bangga memiliki adik sepupu secantik Zahrana. Jika tidak memikirkan Zahrana adalah sepupunya, mungkin Pramuja juga akan mendekati Zahrana dengan caranya.
Namun, keterikatan saudara di antara mereka membuat Pramuja mengubur perasaan dihatinya.
Tidak dapat dipungkiri saat melihat Zahrana barusan, hanya dalam hitungan waktu sekejap Pramuja pun terpikat oleh pesona Zahrana. Tak terkecuali Muhammad Zaid Arkana, ia pun jatuh hati pada Zahrana sejak pandangan pertama. Rasa itu tiba-tiba menyelinap dan bertumbuh dihatinya.
"Ya Allah ... dapatkah diriku memiliki dirinya untuk bisa menjadi Bidadari dunia dan akhirat ku," bathin Muhammad Zaid Arkana. Sebab, kini ia telah berusia 25 tahun. Sepanjang umur usianya, Zaid pun tidak pernah mendekati seorang wanita, apalagi sampai menempuh jalan pacaran itu sama sekali tidak ada dalam kamus hidupnya.
Namun, melihat Zahrana yang terpampang nyata dihadapannya membuat hati Muhammad Zaid Arkana terasa bergetar hebat, ia pun ikut terpesona oleh kecantikan Zahrana. "Mungkinkah aku terpikat pada mu, wahai Bidadari bermata jeli? inikah rasanya hati tersentuh rasa?" bisikan hati Muhammad Zaid Arkana.
"Maaf, Pak Hansip. Zahra pamit dulu," ucap Zahrana melirik sekilas pada wajah imut Muhammad Zaid Arkana, yang membuat perasaannya berubah menjadi tidak beraturan. Sebab, tatapan pemuda tersebut begitu penuh arti padanya.
Meskipun, Pramuja adalah saudara sepupunya. Tetap saja Zahrana tidak nyaman jika dikelilingi oleh ketiga pemuda yang sejak tadi seolah-olah nampak betah untuk terus menatapnya tanpa berkedip.
"Assalamu'alaikum ... Zahra pulang dulu!" Zahrana melenggang pergi masuk kedalam mobil, tanpa menoleh lagi ke arah Arkana dan Pramuja.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... " ucap Muhammad Zaid Arkana dan Pramuja Wisnu Baskara. Mereka berdua menatap nanar punggung Zahrana dan Aslan yang kini telah masuk kedalam mobil.
Aslan melajukan kijang besinya membelah jalan raya untuk segera pulang menuju kediaman mereka.
Zahrana pun melambaikan tangannya ke arah Pramuja dan Muhammad Zaid Arkana. Sampai akhirnya mereka pun telah menjauh dari pandangan kedua pemuda yang bertugas sebagai Hansip tersebut.
Zahrana dan Aslan saling diam, tidak ada yang berani membuka pembicaraan setelah pun keributan terjadi di antara keduanya.
Di tengah laju kendaraan mereka, Zahrana pun terlelap sebab tiba-tiba rasa kantuk pun menyerangnya.
Pemandangan indah tersebut membuat hasr*t Aslan semakin bergelora pada Zahrana.
"Kau sungguh terlihat menggemaskan sekali dengan terlelap seperti itu, An. Aku semakin terpikat pada mu Zahrana." Aslan bermonolog di dalam hatinya.
__ADS_1
Selang berapa menit kemudian, mereka sudah sampai di kediaman Zahrana.
Namun, Zahrana masih asyik dalam tidur lelapnya. Ia tidak menyadari jika mereka telah sampai di kediamannya.
Aslan tidak tega untuk membangun sang bidadari yang sedang tertidur pulas.
"Apa aku harus membangunkannya, atau membiarkannya tetap tertidur pulas. Apa aku harus menggendongnya ala bridal style?" Aslan bertanya-tanya didalam hatinya.
"Jika aku gendong nanti ia marah, alasannya bukan mahram dan lain sebagainya. Sungguh, kau sangat menggemaskan sekali, Zahrana!" cicit Aslan.
Aslan pun berinisiatif untuk membangun Zahrana.
Aslan mengusap surai wajah Zahrana. Ia benar-benar terhipnotis dengan kecantikan alami Zahrana. Perlahan ia menyentuh wajah putih nan mulus itu, Aslan benar-benar tidak sanggup lagi menahan hasr*tnya jika berduaan dan berhadapan dengan Zahrana seperti ini.
Perlahan Aslan menarik dagu Zahrana, ia ingin memberikan kecupan pada bibir mungil Zahrana yang tampak ranum dan menggoda. Namun, ia merasa seperti seorang pencundang jika sampai mencuri ciuman Zahrana dalam keadaan terlelap. Aslan urung melakukan itu semua, ia pun melepaskan bunga yang sedang mekar tersebut . Ia tidak ingin menodai kesucian Zahrana yang kini pun telah menutupi tubuhnya dengan hijabnya.
Zahrana pun spontan terbangun. Ia membuka netranya secara perlahan. Zahrana baru menyadari jika ia berada di dalam mobil Aslan.
"Kak Aslan, apakah kita sudah sampai?" tanya Zahrana kelimpungan.
"Sudah ... Humaira. Sejak 5 menit yang lalu," ucap Aslan dengan lidah yang seolah menjadi candu menyebut Zahrana dengan panggilan Humaira.
"Ma-af, Kak. Zahra ketiduran, terimakasih untuk tumpangannya." Zahrana pun turun dari mobil Aslan tanpa menoleh lagi ke arah Aslan. Ia sama sekali tidak mengetahui jika Aslan sempat menyentuh wajahnya dan ingin mengecup bibirnya. Namun, tidak jadi karena khawatir Zahrana akan marah padanya jika Aslan nekad untuk melakukan aksinya.
Aslan pun tetap memperhatikan Zahrana dari balik pintu mobilnya. Sampai Zahrana benar-benar tak terlihat dan masuk kedalam rumahnya. Barulah Aslan melajukan kijang besinya menuju kediamannya.
***
"Hemmm ... jadi, Tsamirah Zahrana Az Zahra itu ternyata adik sepupu mu, ya?" tanya Muhammad Zaid Arkana pada Pramuja. Arkana tidak percaya jika gadis cantik dan mempesona itu saudara sepupu Pramuja Wisnu Baskara.
"Kau lihat sendiri, memang itu kenyataan Pak Arkan! apa kau tertarik dengan saudara sepupu ku? kasian juga jiwa jomblo mu meronta, selama kurun waktu usia mu yang ke 25 tahun, sampai detik ini kulihat kau tidak pernah menggandeng wanita manapun." Pramuja memojokkan Arkana.
"Aku memang tidak ingin pacaran, selain mudharatnya yang besar pacaran juga tidak di perbolehkan dalam syari'at Islam. " Muhammad Zaid Arkana memberikan kultum pada sahabatnya itu.
"Aku acungi jempol atas ketaatan mu pada Allah, pak MZ Arkana. Tidak seperti ku yang kerap kali gonta-ganti pacar," ucap Pramuja Wisnu Baskara. Pramuja memang sangat terkenal dengan julukan playboy- nya hingga detik ini.
Kedua petugas Hansip itu pun saling bersenda gurau satu sama lainya menyampaikan pendapat mereka masing-masing. Kemudian mereka pun melanjutkan ronda malam mereka yang sempat terhenti oleh sebab mengintrogasi Zahrana dan Aslan.
🌷🌷🌷
__ADS_1
...Pencerahan 👉 "Ketika tiba saatnya bagi jiwa untuk bertemu, tidak ada apa pun di bumi yang dapat mencegah mereka untuk bertemu, di mana pun masing-masing berada. Ketika dua hati ditakdirkan untuk satu sama lain, tidak ada jarak yang terlalu jauh, tidak ada waktu yang terlalu panjang, dan tidak ada cinta lain yang dapat memisahkan mereka."...