
Pramuja menutup telfonnya, ia merasa bahagia sebab hendak menjemput adik sepupunya itu. Entah kebahagiaan apa yang ia rasakan, namun ia nampak ceria dan bersemangat sekali.
"Zahra, kau memang adik sepupu ku. Akan tetapi aku tidak tahu kenapa hatiku berpihak pada mu?" bisikan hati Pramuja Wisnu Baskara yang mulai gila dan di rundung keresahan.
Pramuja Wisnu Baskara memang sosok laki-laki playboy. Namun, ia tetap rajin menjalankan kewajibannya sebagai pemuda muslim. Akan tetapi, sulit baginya untuk meninggalkan kebiasaan buruknya itu.
"OMG ... jangan sampai aku jatuh hati dengan adik sepupu ku sendiri, ini benar-benar gila," bathin Pramuja Wisnu Baskara.
Pramuja segera menyambar kunci mobilnya.
"Ayah, Ibu. Pramuja berangkat dulu!" ucap Pramuja seraya bersiul ria.
"Hendak kemana kamu, Nak? pamit dulu dengan Buya Harun dan Bunda Fatimah.
"Buya dan Bunda Fatimah baru saja datang, di tinggal nyelonong saja!" ucap Bu Asma Nadia, ibunya Pramuja.
"Buya, Bunda. Pramuja hendak menjemput Bidadari Syurga dulu!" ucap Pramuja seraya melambaikan tangannya.
Buya Harun dan Bunda Fatimah hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah keponakannya itu.
"Maaf, Kak Fatim. Pramuja setelah sekian lama merantau di Ibu kota tingkahnya jadi tidak sopan begitu, menempuh pendidikan sudah setinggi langit namun ia suka kabur-kaburan seperti itu. Inilah jika hanya punya anak semata wayang," sesal Bu Asma Nadia.
Bu Asma Nadia tidak bisa lagi untuk mempunyai keturunan, sebab kandungannya yang selalu lemah. Sudah tiga kali ia keguguran. Pramuja Wisnu Baskara adalah anak tunggal satu-satunya dari Bu Asma Nadia dan suaminya Nazrul Anwar. Bu Asma memutuskan untuk tidak memiliki keturunan lagi sebab ia sudah terlalu lelah mengandung dan menyebabkannya berkali-kali keguguran.
Bu Asma tertunduk lesu, memikirkan putera semata wayangnya itu yang semakin hari tingkahnya semakin menjadi-jadi. Sifat playboy yang melekat pada Puteranya Pramuja, membuat Bu Asma Nadia bersemangat menjodohkan Pramuja pada anak temannya yang tidak lama lagi akan menyelesaikan kuliahnya.
Namun, Pramuja tidak begitu menanggapi. Justru sikap Playboy Pramuja semakin menggila. Dan sekarang tanpa sepengetahuan Bu Asma Nadia dan suaminya, kini kegilaan Pramuja semakin bertambah. Pramuja telah pun jatuh hati pada saudari sepupunya sendiri Tsamirah Zahrana Az Zahra.
"Jangan terlalu dipikirkan, Dik Asma. Biasalah anak muda masih labil, Pramuja mungkin belum menemukan tambatan hatinya yang sebenarnya. Jika ia sudah bertemu dengan seseorang yang cocok untuknya, insyaAllah ia akan berpikir matang dan bisa memperbaiki dirinya menjadi lebih baik lagi!" ucap Bunda Fatimah menguatkan Bu Asma Nadia selaku adik kandungnya.
Sementara Buya Harun nampak asyik bercengkrama dengan Nazrul Anwar, Ayahnya Pramuja Wisnu Baskara. Setelah sekian waktu jarang bersua lantaran kesibukan masing-masing.
***
"Tit ... tit ... tit ... " bunyi klakson mobil Pramuja Wisnu Baskara yang berbunyi berkali-kali mengganggu gendang telinga yang mendengarnya.
"Ya Allah ... suara mobil siapa itu, Bi. Berisik sekali!" ucap Sabrina, yang ditujukan kepada suaminya Fardhan Arkan.
"Sebentar, Abi lihat dulu, Um." Fardhan Arkan ingin keluar rumah untuk membuka gerbang rumahnya yang masih tertutup rapat.
"Kak Sabri, Mas Fardhan. Maaf, sepertinya itu Mas Pramuja Wisnu Baskara. Ia hendak menjemput Zahrana."
"Ya Allah ... Mas Pramuja anaknya Tante Asma Nadia, kah? apa ia sudah pulang dari perantauannya?" tanya Sabrina.
"Sudah, Kak. Beberapa waktu yang lalu," ucap Zahrana hendak pamit pada kakaknya Sabrina dan iparnya Fardhan Arkan.
Akhirnya, Pramuja pun turun dari mobilnya. Ia memencet bel di pagar rumah tersebut. Hingga Zahrana, di ikuti pula oleh Sabrina dan Fardhan Arkan keluar dari dalam rumahnya.
__ADS_1
Pintu pagar pun dibuka oleh Zahrana.
"Assalamu'alaikum ... My sepupu, mari kita berangkat!" ucap Pramuja sambil menarik pergelangan tangan Zahrana.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... tunggu dulu, Mas! pamit dulu dengan kak Sabrina dan Mas Fardhan," ucap Zahrana.
"Oke, deh! My Bidadari," ucap Pramuja sembari menatap lekat nanar wajah Zahrana. Membuat Zahrana salah tingkah dengan tatapan Pramuja yang tidak biasa.
Namun, Zahrana tetap berbaik sangka pada kakak sepupunya itu. Ia sama sekali tidak mengetahui gelagat Pramuja yang diam-diam telah pun menaruh hati padanya.
Pramuja menghampiri Sabrina dan suaminya Fardhan Arkan, ia meminta izin untuk membawa Zahrana kerumahnya.
"Dasar anak nakal! apa kabar mu Pramuja?" Sabrina menjewer telinga Pramuja. Sebab, main nyelonong saja untuk membawa Zahrana tanpa izin mereka.
"Alhamdulillah ... Pramuja baik, Kak." Pramuja pun menyalami Sabrina dan Fardhan Arkan.
"Hati-hati, membawa Princesss kami! jangan kebut-kebutan, dan ingat Zahrana adik sepupu mu, mesti dijaga baik-baik. Jangan macam-macam!" ucap Sabrina.
Sebab, bagaimana pun Pramuja dan Zahrana sama-sama telah tumbuh dewasa. Bukan anak kecil lagi, yang bebas pegang-pegang dan bermain-main seperti waktu mereka masih kecil dulu.
Meskipun keduanya adalah saudara sepupu, tetap saja Sabrina khawatir mengingat godaan syaitan bisa saja menerpa keduanya. Sebab, pesona Zahrana yang sangat luar biasa, akan tidak mungkin siapa pun insan Tuhan yang bergelar laki-laki pasti akan terpana olehnya.
Bisikan syaitan itu bisa berasal dari arah manapun ketika dua orang insan yang bernama laki-laki dan wanita yang sedang berduaan tanpa orang ketiga yang menemaninya.
Apalagi, Pramuja Wisnu Baskara adalah sosok laki-laki dewasa yang juga sangat tampan dan mempesona. Dan tentunya menyandang gelar lelaki Playboy Cap Gayung ataupun Kelas Kakap atau apalah namanya, tetap saja Sabrina khawatir.
Bukan itu saja, Pramuja memberlakukan Zahrana seperti Ratu.
"My Bidadari, sini Mas pakaikan seat beltnya!" ucap Pramuja dengan sigap memasang seat belt Zahrana.
"Maaf, Kak. Zahra sudah besar, Bidadari kakak bukan anak kecil lagi!" ucap Zahrana menolak perlakuan Pramuja terhadapnya.
Dalam pikiran Zahrana, panggilan Bidadari tersebut hanyalah sebatas panggilan seorang kakak terhadap adiknya. Tidak lebih, namun tanpa disadari olehnya Pramuja memiliki rasa lebih padanya bukan hanya sekedar adik-kakak.
Kegilaan Pramuja semakin bertambah setelah melihat Zahrana di dekatnya.
"OMG ... perasaan apakah ini? kenapa aku harus jatuh hati pada adik sepupu ku sendiri, apa aku benar-benar sudah gila!" bathin Pramuja di sela-sela ia memasang seat belt Zahrana.
"Terimakasih kak," ucap Zahrana yang sama sekali tidak berpikir jika Pramuja menaruh hati terhadapnya.
"Sama-sama, Cantik!" ucap Pramuja yang mulai tidak bisa mengontrol perasaannya terhadap Zahrana. Ia memandang Zahrana dengan tatapan penuh arti.
Sementara, yang di tatap terlihat biasa saja. Sebab, Zahrana berpikir jika Pramuja adalah sepupunya. Tidak mungkin Pramuja menaruh hati padanya, apalagi sampai berbuat yang tidak-tidak terhadapnya.
"Kok bengong, Mas? buruan lajukan mobilnya! kenapa menatap Zahra begitu?" tanya Zahra membuyarkan lamunan Pramuja Wisnu Baskara.
"Emmm ... anu, ma-af." Pramuja gelagapan. Ia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
"Ya ampun, Mas. Kau nampak lucu sekali dengan ekspresi wajah seperti itu," ucap Zahrana terkekeh geli.
"OMG ... tawamu yang renyah semakin membuat hati ku semakin tersentuh rasa padamu Zahrana. Kenapa aku harus jatuh hati pada mu? Jika bukan memikirkan diri mu adalah sepupu ku, saat ini juga aku akan mengikat mu Zahrana!" bathin Pramuja.
Pramuja terus memikirkan Zahrana sepanjang jalan, hingga tanpa terasa mereka berdua telah sampai di kediamannya.
"Kenapa waktu begitu cepat sekali, padahal aku ingin lebih lama lagi bersama mu, Ra." Pramuja terus bermonolog di dalam hatinya.
Pramuja segera menepikan mobilnya, ia ingin segera memarkir mobilnya di garasi rumahnya. Namun, setelah hampir dekat dengan rumahnya Zahrana ketiduran.
Menyadari jika Zahrana ketiduran, Pramuja mengurungkan niatnya memasuki pekarangan rumahnya. Ia meneruskan laju mobilnya berbalik arah. Ia ingin menghabiskan waktu bersama dengan Zahrana, walaupun hanya keliling-keliling entah kemana tanpa arah etujuan.
Pramuja benar-benar terhipnotis oleh pesona Zahrana.
Setelah jauh dari kediamannya, Pramuja kembali menepikan mobilnya. Ia pun kembali memandang Zahrana dengan perasaan yang di penuhi oleh sejuta cinta.
"Zahrana, wajah mu yang terlelap pun begitu mempesona seperti ini. Apalagi saat kelopak mata mu terbuka, kau jauh lebih mempesona."
Pramuja terus memandangi wajah Zahrana yang sedang terlelap. Perlahan ia pun menyentuh pipi Zahrana dan mengusap bibir mungil Zahrana dengan ibu jarinya.
"Jika kau bukan adik sepupu ku, saat ini juga aku akan mencuri ciumanmu Zahrana!" bathin Pramuja yang berusaha melawan pergolakan hawa nafsunya terhadap Zahrana.
"Astagfirullah ... sepertinya aku sudah benar-benar gila," bathin Pramuja.
Hampir saja Pramuja ingin mencium bibir manis Zahrana, namun ia urungkan.
"Ini tidak boleh terjadi, jika lama-lama berduaan dengannya seperti ini. Aku khawatir aku akan lepas kendali."
Pramuja pun memutuskan untuk kembali ke rumahnya, setelah berputar-putarj membawa Zahrana yang masih terlelap.
Pramuja segera memasuki pekarangan rumahnya dan memarkirkan mobilnya di garasi.
"Zahra, bangun! kita sudah sampai sayang," ucap Pramuja dekat dengan daun telinga Zahrana.
Zahrana mengerjapkan Netranya yang masih menyipit.
"Kita dimana, Mas?"
"Hemmm ... kita sudah sampai di kediaman Mas, mari turun! " ucap Pramuja.
"Baiklah, Mas Pra. Maaf, Zahra ketiduran di mobil tadi."
Zahrana pun segera membuka seat beltnya dan segera turun dari mobil Pramuja Wisnu Baskara.
"Hampir saja aku gila di buatnya," bathin Pramuja.
🌷🌷🌷
__ADS_1
Pencerahan 👉 "Edelweis ini bukan hanya sekedar bunga. Tapi ia memiliki filosofi yang indah. Makna sebuah perjuangan, ketulusan dan ketegaran. Itulah yang membuatnya disebut bunga keabadian. Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sedu sedan. Tetapi cinta menghidupkan pengharapan, menguatkan hati dalam perjuangan menempuh onak dan duri penghidupan." ( Bisikan_H@ti )