
Aslan diam terpaku mendengar penuturan Zahrana gadis kecil yang masih tetap bertahta di hatinya hingga detik ini. Tak sedikit pun terpikir di benaknya untuk meninggalkan gadis kecilnya, apalagi sampai berpisah dengannya.
Meskipun Sang Pujaan hati telah mendua hati, rasa sayang dan cinta Aslan untuk Zahrana tidak pernah berubah. Benar ia kecewa dengan gadis kecilnya yang telah tega bermain hati di belakangnya. Namun ia tetap berusaha untuk mempertahankan hubungannya dan akan terus membimbing Zahrana bertumbuh menjadi gadis remaja hingga Bidadari kecilnya nanti bertumbuh menjadi wanita Dewasa.
Aslan langsung menghampiri Zahrana yang sedang berdiri tegak bersedekap dada memandang langit biru yang membentang luas diatas hamparan dan deburan ombak yang menggulung tiada habisnya di lautan pantai.
Aslan langsung mendekap erat Bidadari kecilnya dengan penuh cinta dan kasih dari arah belakang dengan posisi Zahrana membelakanginya.
Menyadari jika ia berada dalam dekapan hangat dada bidang kekasihnya Zahrana pun terhanyut oleh sentuhan hangat Sang Pangeran hatinya. Ia pun Lupa dengan masalah dan kesedihan yang menderanya.
Dekapan Aslan semakin erat, terasa deru nafasnya berhembus di daun telinga Zahrana. Membuat seluruh tubuh Zahrana terasa meremang.
Ada rasa yang menjalar dan bergerilya di aliran darah belianya. Berdekatan dengan Aslan benar-benar serupa magnet yang menempel pada kutub besi yang senada dengannya. Zahrana benar-benar menjadi sosok wanita yang bertumbuh dewasa sebelum waktunya.
Aslan perlahan menelusuri leher jenjang Zahrana, kemudian memberikan sentuhan lembut dipipi Zahrana, berlanjut ke kening dan perlahan beralih pada indera penciuman gadis kecil itu dan pada titik terakhir berhenti pada bibir mungil Zahrana yang tampak merah merekah.
Aslan benar-benar tidak kuasa lagi menahan hasr*tnya kepada sosok Bidadari kecil di hadapannya. Ia benar-benar ingin memberikan sentuhan manis di bibir kekasihnya. Tinggal satu inci lagi Aslan ingin segera mencicipi manisnya bibir ranum nan menggoda itu. Sementara, Zahrana nampak membiarkan apa yang ingin di lakukan oleh Pria dewasa yang kini masih berstatus kekasihnya.
Namun, belum sempat hasr*t itu tersalurkan. Terdengar lah pekikan keramaian yang memekak gendang telinganya. Dan untuk kesekian kalinya Aslan gagal memberikan sentuhan hangat pada gadis kecilnya.
"Kak Aslannn ... Zahranaaa ... hentikan! Kalian benar-benar berada di jurang yang teramat dalam! pekik Nandini Sukma Dewi, Kirana Larasati dan Fadhillah.
Sementara Rivandra, Arjuna Restu Pamungkas dan Virgantara hanya terdiam seribu bahasa, melihat adegan mesra antara Zahrana dan lawan mainnya Aslan Abdurrahman Syatir yang terpaut 7 tahun lebih dewasa darinya.
"Ya ampun ... Aku benar-benar tidak menyangka, jika Aslan sahabat ku benar-benar berhasr*t pada Bidadari kecil bermata jeli itu," cicit Virgantara.
"Gagal harapan ku untuk mendekati Zahrana, sebab sahabat ku sendiri juga adik ku Rivandra pun tergila-gila padanya. Untung saja aku belum sempat menggodanya, jika tidak aku harus berhadapan dengan sohib ku sendiri juga adik ku Rivandra." Virgantara terus bermonolog di dalam hati.
Mereka semua baru keluar dari persembunyian mereka di daunan rimbun yang tak jauh dari keberadaan Zahrana dan Aslan Abdurrahman Syatir.
Mereka juga mendengarkan semua perbincangan antara Zahrana dan Aslan dari awal hingga akhir dan berujung adegan mesra antara Aslan dan Zahrana.
__ADS_1
Ketika suasana mulai tak kondusif mereka spontan keluar dari balik pohon dedaunan rimbun di tepi pantai.
Apalagi Rivandra Dinata Admaja, dadanya pun terasa sesak dan bergemuruh. Wajahnya pun berubah merah padam seolah-olah ingin menerkam mangsanya.
Rivandra benar-benar kecewa melihat Bidadari kecilnya kini berada dalam dekapan rivalnya. Ada rasa bergerimis melanda hatinya. Ingin sekali ia tumpahkan air matanya melihat kenyataan yang terjadi di hadapannya. Namun, ia urungkan air matanya untuk tumpah, sebab ia tidak ingin terlihat cengeng dihadapan Zahrana.
"Zahra, teganya kau menoreh luka di hatiku sedalam ini. Betapa perihnya hatiku melihat mu kini berdekap mesra dengannya. Sungguh ... Kau telah melukai hatiku sehancur-hancurnya. Sungguh ... Aku tak percaya jika dirimu melakukan hal sekeji ini. Kau benar-benar telah menghancurkan mimpi dan harapan ku Zahra," bisik hati Rivandra.
Tangan Rivandra pun tiba-tiba mengepal. Ia benar-benar tidak sanggup menahan amarah dalam hatinya.
Rivandra pun refleks memberikan bogem mentah di bibir Aslan Abdurrahman Syatir, hingga tampaklah memar di sudut bibir Aslan.
Bugh
Bugh
Bugh ... Rivandra memberikan bogem mentah di wajah Aslan Abdurrahman Syatir dengan penuh luapan emosi yang mendera hatinya.
Tanpa sempat Aslan menghindar dari keterkejutannya atas kehadiran Nandini adiknya bersama teman-temannya, juga kehadiran teman kampusnya Virgantara Dinata Admaja. Membuat Aslan terperangah, begitu juga Zahrana. Mereka berdua merasa sangat malu sekali ketika hampir tertangkap basah melakukan adegan mesra yang hampir merenggut kesucian hati Zahrana. Yang memang masih sangat polos sekali, baru bersama Aslan lah ia tidak mampu untuk mengendalikan diri dan akal sehatnya.
Aslan hendak membalas pukulan Rivandra Dinata Admaja, namun tangannya di cekal oleh adiknya Nandini Sukma Dewi yang memang memiliki Ilmu Bela diri tingkat tinggi. Tenaga Arjuna Restu Pamungkas kekasihnya pun tidak ada bandingannya di bandingkan kekuatan Nandini ketika ia mulai menunjukkan jurus tapak sucinya.
"Kak Aslan, sabar kak!" pinta Nandini sembari mengunci pergerakan Kakaknya.
Aslan berusaha mengontrol emosinya, sebab ia pikir berhadapan dengan bocah ingusan yang baru berusia 15 tahun seperti Rivandra. Dia tidak ingin mengotori tangannya dengan membalas perlakuan Rivandra terhadapnya, yang menurutnya Rivandra bukanlah tandingannya.
Namun, Rivandra semakin berang ia ingin kembali memberikan bogem mentah di wajah Aslan, namun pergerakannya di hadang oleh Zahrana yang baru menyadari jika Rivandra sedang tersulut emosi.
"Pukul saja aku kak! kak Aslan tidak bersalah, di sini aku lah yang salah. Aku yang telah memasukkan kalian dalam benang-benang cinta segitiga. Aku tak layak untuk kalian cintai dan kalian kasihi. Aku gadis kecil yang kotor dan hina. Aku penuh dengan lumpur dan noda-noda dosa."
"Berhentilah untuk mencintai ku! berhentilah untuk mengagumi ku! jangan pernah lagi berharap apa-apa dari sosok gadis kecil seperti ku, sungguh aku bukanlah rembulan yang bersinar, apalagi Bidadari syurga yang baik nan indah seperti yang kalian bayangkan."
__ADS_1
"Aku hanyalah Lentera yang redup yang tak mampu memberikan penerangan dalam kegelapan. Pergilah kalian dari kehidupan ku! Aku sangat menyesal telah jatuh hati pada kalian, aku menyesal kenapa aku harus terjerat lumpur dosa yang tak berkesudahan yang kini benar-benar menghukum diriku. Jika waktu bisa di putar kembali aku tidak ingin ada kalian masuk ke dalam hidupku," ucap Zahrana dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Rivandra menghentikan pergerakannya untuk menyerang Aslan. Ia ingin segera menghampiri Zahrana untuk menenangkannya. Ia tidak tega melukai hati gadis kecilnya, walaupun sebesar apapun kesalahan yang telah di perbuat oleh Zahrana terhadapnya.
"Jangan sentuh aku kak! Aku tak pantas untuk mu," ujar Zahrana ketika Rivandra hendak menenangkannya.
Zahrana pun perlahan menjauh dari hadapan Rivandra juga Aslan Abdurrahman Syatir.
Rivandra ingin mengejar Zahrana, namun pergerakannya di tahan oleh Virgantara Kakaknya.
"Dek ... stop! kakak lihat pergerakan mu semakin menjadi-jadi. Jangan seperti ini, sungguh kau bukanlah Rivandra yang kakak kenal santun dan lembut."
"Jangan hanya karena cinta kau lemah, perjalanan hidup mu masih panjang. Jika Papa dan Mama mengetahui kelakuan mu seperti ini, tentu mereka akan merasa sangat sedih dan merasa gagal mendidik mu menjadi anak yang Sholeh."
"Sejak kapan kau mulai berutal seperti ini? Sampai main pukul-pukul anak orang pula. Aslan itu teman kampus kakak,Dek. Jadi tolong hargai dia yang lebih Tua dari mu," ujar Virgantara.
Rivandra pun mulai melunak. Iya pun tunduk patuh menuruti ajakan Kakaknya. Mereka pun berjalan menuju pondok di pesisir pantai. Di ikuti pula oleh Arjuna Restu Pamungkas saudara sepupunya yang hendak menenangkan emosi Rivandra Dinata Admaja.
Sedangkan Zahrana dia bergabung bersama Kirana Larasati dan Fadhillah sahabatnya di pondok kecil yang lainnya.
Sementara Aslan Abdurrahman Syatir di bopong oleh Nandini Sukma Dewi, untuk segera di bersihkan luka memar di wajahnya.
Pondok yang di tempati Aslan tak jauh dari tempat Zahrana yang kini duduk bersandar merenungi nasibnya, gerimis pun kini melanda hatinya. Zahrana pun menangis sejadi-jadinya dalam rangkulan Fadhilah dan Kirana Larasati sahabatnya.
"Sabar, ya Ra. Semuanya telah terjadi, tidak perlu dirimu sesali. Jadikan semua ini pelajaran untuk mu kedepannya, agar mawas diri kedepannya!" nasehat Fadhilah penuh kelembutan.
Sedangkan Kirana Larasati hanya terdiam dan merangkul erat sahabatnya Zahrana. Ia tidak tahu harus berkata apa, sebab semuanya murni kesalahan sahabatnya, karena telah berani untuk bermain hati.
Rivandra Dinata Admaja, Aslan dan Zahrana, mereka kini pun menenangkan diri diPondok yang berbeda. Mereka masing-masing introspeksi diri sendiri, mengingat kembali apa yang sebenarnya telah terjadi dalam cerita kehidupan mereka hari ini.
Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, namun mereka semua kini sama-sama terpuruk dalam luka dan nestapa. Tak pelak gerimis pun melanda hati ketiganya. Bagaimana akhir dari cerita segitiga ini nantinya? hanya waktu lah bisa menjawab segala keresahan yang ada.
__ADS_1