
"Nah ... dapat kau ... Berani-beraninya kau menggoda kakak. Mulai nakal yach? kamu usil sekali. Menyerah nggak ... menyerah nggak!" celoteh Zahrana sambil menggelitik perut adiknya Raihan.
Raihan menggeliat geli diselingi tawa nya yang terpingkal-pingkal." Ampun kak ... ampun kak ... Raihan menyerah,kakak yang menang." Raihan pun mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah.
"Begitu dong! baru anak manis," guyon Zahrana pada adiknya sembari mencubit pipi Raihan dengan gemasnya.
Sementara dari seberang jalan, Aslan Abdurrahman Syatir masih terus melihat aksi kocak antara Zahrana dan Raihan."Kompak dan akrab sekali mereka, saling menyayangi dan satu sama lain. Beruntung sekali orang yang bisa menyentuh hati mu An," bathin Aslan.
Aslan memang lebih nyaman memanggil Zahrana dengan sebutan Ana, terasa lebih anggun dan dewasa untuknya, dengan begitu lebih terasa menyentuh hati, panggilan berbeda dari lainnya, versi Ana untuk Aslan, yang dalam pandangan Aslan, Zahrana sangat istimewa untuk dirinya.
"Kak Aslan ... ayo masuk ke rumah! Temani Nandini makan siang di dapur, sudah laper ni," ujar Nandini sambil mengelus perutnya yang sudah keroncongan.
"Kak, kok malah bengong lagi sich ... dari tadi Nandini dikacangin terus, fokusnya hanya melirik kearah Zahrana saja, orang sudah nggak kelihatan lagi batang hidungnya, masih terus di intipin," omel Nandini pada kakaknya dengan wajah ceriwisnya.
Nandini jika diluar rumah sangat menunjukkan gaya metalnya, namun ketika di rumah berhadapan dengan keluarganya, terutama dengan kakaknya, Nandini sangat manja dan selalu ingin di perhatikan perfect.
"Oh, iya Dek maaf. Ayo kakak temani makan," ajak Aslan pada Nandini adiknya, sembari membujuk Nandini agar tidak ngambek lagi.
Tak butuh waktu lama, Nandini pun tersenyum manis. Ia pun bergelayut manja di pergelangan tangan kakaknya.
"Nah,gitu dong, baru adik kakak yang manis," tutur Aslan sembari mengelus pucuk kepala Nandini.
Nandini dan kakaknya Aslan berjalan menelusuri dapur, kemudian langsung menuju ke meja makan. Disana sudah terhidangkan kepiting rebus kesukaan Nandini,ayam goreng, sambal cabe hijau,lalap timun,kol dan kemangi,buah apel dan jeruk sebagai pelengkap.
__ADS_1
"Wah ... Nandini sudah tidak sabar lagi kak, ingin segera menyantap kepiting rebusnya, ternyata Ibu sangat perhatian dan memahami apa yang Nandini sukai, Kak." Nandini tanpak tersenyum senang.
"Tentu saja nak, apa yang tidak buatmu, Nak. Kau satu-satunya puteri kesayangan Ibu dan Ayah, apa yang kamu inginkan tentu akan kami turuti," ujar Ibu Ratna Anjani. Ia tidak lupa melirik pada Aslan yang duduk diam terpaku, kemudian menghampiri Nandini lalu mengecup lembut pucuk kepala anaknya.
Nandini segera menyalami dan mengecup punggung Ibu nya,"Ibu mau kemana?kok dandanan nya sudah rapi sekali?" tanya Nandini pada Ibunya guna mengalihkan pembicaraan.
"Ibu mau kumpul arisan di rumah teman Ibu di Desa sebelah, nanti ditemani Ayah kalian," ujar Bu Ratna Anjani ibunya Nandini.
"Oh iya Bu, siyappp!" jawab Nandini sembari meneruskan makannya.
"Aslan jaga adikmu baik-baik, Nak! Jangan biarkan Nandini keluyuran kemana-mana. Toko kita tolong di perhatikan biasanya sore hari sangat ramai pengunjung. Kamu juga jangan kemana-mana sebelum Ayah dan Ibu pulang. Sepertinya kami akan kembali agak malam, sebab rumah yang kami kunjungi adalah rumah teman lama ibu, selain kumpul arisan ada banyak hal yang harus kami bincangkan," ujar Ibu Ratna Anjani pada anak sulungnya Aslan.
"Iya,Bu. Tutur Aslan patuh.Aslan memang tipekal pemuda yang sangat irit bicara, tidak banyak neko, namun penurut dan lemah lembut.
Pak Anjasmara Ayahnya Nandini sudah muncul dari balik kamar dengan penampilan yang tidak kalah rapinya dari Ibu Ratna Anjani.
"Ayah mau kemana? Pesona Ayah kali ini amat mengalahkan keanggunan Ibu, jangan bilang jika Ayah dan Ibu mau nostalgia, secara malam ini kan malam kamisan. Kak Aslan dan Nandini sampai di tinggal berdua saja," goda Nandini pada Ayah dan Ibunya dengan mulut yang masih mengunyah kepiting rebus kesukaannya.
"Dek, makanan itu sebaiknya dihabiskan dulu dengan benar, kemudian baru lanjut kan kelakarnya," tutur Aslan pada Nandini.
"Iya deh, kakak ku yang baik hati dan tidak sombong. Lama-lama kakak mirip sekali seperti teman Nandini, yakni Zahrana dan Hafidzah pasti akan selalu ada kultumnya. Sepertinya kalian semuanya cocok menjadi Da'i dan Da'iah masa depan, generasi penerus bangsa," cerocos Nandini yang mulai menampakkan gaya metalnya.
"Nandini, tidak baik menyela ucapan kakak mu, apa yang diucapkan kakakmu benar adanya," nasehat pak Anjasmara lembut pada Puterinya.
__ADS_1
"Iya yah, maaf. Nandini hanya bercanda kok, Yah. Habis wajah kak Aslan seperti kepiting rebus yang Nandini makan, jika di sebutkan nama Zahrana." Nandini keceplosan.
Aslan hanya mengedipkan mata ke arah Nandini agar menjaga bicaranya, sebab masih ada kedua orangtua mereka, Nandini mengatupkan mulutnya dengan tangannya, sembari menahan tawanya melihat reaksi kakaknya, yang sudah kelihatan gugupnya.
"Sudah ... sudah ... Ayah dan Ibu berangkat dulu, kalian hati - hati dirumah. Toko jangan lupa di jaga, habis makan nanti kalian langsung ke depan!" pesan Pak Anjasmara pada anak-anaknya.
Nandini dan Aslan menyalami kedua orangtuanya secara bergantian, kemudian Pak Anjasmara dan Ibu Ratna Anjani melangkah pergi dengan menggunakan mobil Sedan merk Mitsubishi Lancer yang cukup terkenal pada era 90 an.
"Hemmm ... Ayah dan Ibu sudah pergi masih tinggal kita berdua, mulai iseng ya kamu Dek, kenapa sampai membawa nama Zahrana di depan Ayah dan Ibu, kalau mereka tiba-tiba bertanya bagaimana? kakak harus jawab apa?" tutur Aslan pada Nandini dengan mimik wajah serius.
"Ha ... ha ... ha ... ketahuan! Kakak benar-benar terpesona dengan Zahrana teman ku. Ayo ngaku benar tidak kalau kakak suka dengan Zahrana?" tanya Nandini.
"Ternyata hobi kakak daun muda juga ya?" cerocos Nandini menggoda kakaknya sambil berlari mengelilingi meja makan. Karena kakaknya hendak mengejarnya.
Jadi lah aksi kejar-kejaran antara dua kakak beradik tersebut, sebab Nandini berlari secepat kilat kemudian menuju ruang tamu, Aslan dibuat ngos-ngosan oleh adiknya.
"Gadis kecil yang metal, akhirnya tertangkap juga dirimu, masih berani menggoda kakak mu," kelakar Aslan pada Nandini seraya menggelitik Nandini seperti adegan Zahrana yang di lihatnya berapa waktu yang lalu menggelitik Raihan adiknya.
Nandini tergelitik geli seketika mengurai tawanya,"kak sudah ... Nandini Janji tidak akan berulah lagi, piece yah!" tutur Nandini sambil mengacungkan dua jari tanda berdamai.
"Oke ... janji jangan di ulangi lagi,yach!" titah Aslan pada Adiknya sembari menautkan jari kelingking mereka.
"Assalamu'alaikum ... Assalamu'alaikum ... " suara salam dari arah Toko.
__ADS_1
"Kak ada yang belanja,ayo kita keluar!" ujar Nandini pada kakaknya Aslan, sembari menarik lengan kakaknya, kemudian mereka pun berjalan menuju arah Toko yang sejak tadi mereka tinggalkan.