Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
178 . Canggung, Terkejut dan Terpesona!


__ADS_3

Zaid mengerjapkan netranya, setelah mendengar suara merdu dari sosok bidadari yang bersebelahan dengan kamarnya melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan penuh penghayatan dan penjiwaan.


"Maa syaa Allah Tsamirah Zahrana Az Zahra, sungguh diri ku semakin terpesona oleh dirimu. Kesholihan yang ada dalam diri mu, semakin menambah keanggunan mu!" bisikan hati Muhammad Zaid Arkana dengan sejuta bunga-bunga cinta yang kini bersarang di hatinya terhadap sosok bidadari yang cantik nan mempesona tersebut yang kini pun telah bertahta di hatinya.


"Astaghfirullah ... Aku harus segera membersihkan diri ku dulu, sebelum menunaikan ibadah sholat shubuh! bukankah semalam aku sedang junub?" bathin Zaid dengan mengingat kembali hasrat yang tak lazim ia tuntaskan semalam.


Zaid pun bergegas menuju dapur, ia pun segera masuk ke dalam kamar mandi. Ia berniat mandi wajib dengan menghilangkan hadats besarnya agar ia bisa menjalankan ibadah sholat shubuh.


"Qodorullah ... Shubuh kali ini, aku tidak bisa berjama'ah di Mesjid!" bathin Zaid di sela-sela membersihkan tubuhnya.


Hanya dalam waktu 10 menit, Zaid pun selesai dengan ritual mandinya. Ia pun keluar dari kamar mandi dan segera keluar rumah menuju parkiran mobilnya, guna mengambilkan peralatan alat sholat juga jubah miliknya. Juga pakaian gantinya, satu hal kebiasaan Zaid selalu membawa perlengkapan sholat, juga baju ganti dan lain-lainnya ketika hendak melakukan perjalanan jauh.


"Alhamdulillah ... masih ada baju ganti yang bersih!" bathin Zaid dengan senyum sumringahnya. Ia nampak bersemangat untuk segera menunaikan ibadah sholatnya.


Zaid hendak masuk ke kamar tamu yang bersebelahan dengan kamar milik Zahrana. Namun, langkahnya terhenti ketika sosok Bidadari yang cantik nan mempesona keluar dari bilik kamar yang bersebelahan dengannya.


Zahrana hanya mengenakan sweater dan rok bunga yang sedang trend pada Zamannya. Rok bunga di tepi jalan ala Alisha Soebandono pada saat memerankan film khusus bunga di tepi jalan pada Zamannya.


Nampaklah Zahrana sangat anggun dengan jaket sweater merah dan rok bunga yang berpadu dengan hijab yang di kenakannya.


"Maa syaa Allah ... Tsamirah Zahrana Az Zahra, dirimu benar-benar cantik dan mempesona!" bathin Zaid dengan menatap gadis ayu yang kini berhadapan dengannya.


Zahrana masih mematung di tempatnya, pasalnya ia merasa canggung ketika mengingat kejadian di dapur bersama Zaid semalam, tak ayal membuat detak jantungnya pun terasa bertalu-talu tak karuan.


"Maa syaa Allah ... kak Zaid, dirimu terlihat sangat religius sekali dengan jubah putih yang kau kenakan. Dirimu benar-benar terlihat manis. Sikap dan gaya mu, benar -benar mengingatkan ku padanya sosok pemuda yang sangat ku rindukan!" bathin Zahrana, ia tiba-tiba merindukan sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy yang masih betah berada di Universitas Al Azhar Mesir hingga detik ini.


"Ya Allah apa yang diriku pikirkan? jangan sampai aku terpikat dengan kak Zaid, tidakkkk! kenapa semakin hari ia semakin membuat ku menjadi salah tingkah seperti ini? mengapa caranya selalu mengingatkan ku pada sosok kak Yusuf?" cecar Zahrana pada dirinya sendiri.


Zahrana segera berjalan menuju dapur, ia tidak ingin terlalu berlama-lama bersitatap dengan Muhammad Zaid Arkana.


"Maaf, Zahra pergi dulu! kakak silahkan lanjutkan ibadah shalatnya!" titah Zahrana dengan berlalu pergi dari hadapan MZ Arkana.


"Hemmm ... baiklah!" ucap Zaid terlihat canggung.


Zaid lebih banyak diam, ia malu mengingat apa yang terjadi semalam di mana ia menuntaskan hasratnya yang tidak lazim oleh sebab birahinya tiba-tiba memuncak tanpa ia bendung ketika berhadapan dengan Zahrana semalam.


"Ya Allah ... betapa malunya diriku jika Zahra tahu apa yang ku perbuat semalam, aku benar-benar tidak bisa menahan diri ku ketika berhadapan dengan mu Tsamirah Zahrana Az Zahra."


"Kau tertutup hijab pun, begitu menantikkan gairah ku, apalagi melihat keindahan diri mu terekspos sempurna seperti semalam tentu membuat ku lebih gila lagi!" bathin Zaid dengan pikirannya yang mulai traveling kemana-mana.


"Astaghfirullah ... godaan terberat bagi kaum Adam adalah seorang wanita, yang jika kita tidak bisa menguasai diri kita tentulah kita akan terperosok dalam biduk hawa nafsu yang membinasakan." Zaid terus bermonolog di dalam hatinya."

__ADS_1


"Benarlah pepatah mengatakan hancurnya sebuah negara, harta, tahta dan kedudukan di sebabkan oleh seorang wanita. Begitu pula dengan biduk keimanan akan runtuh di sebabkan oleh wanita, jika kita tidak sanggup meredam keinginan hawa nafsu kita."


"Sebaliknya, majunya sebuah negara, harta, kedudukan, pangkat dan yang semisalnya juga disebabkan oleh wanita yang bisa menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa. Menjaga marwahnya dan norma-norma agama dalam kebeningan iman dan Akhlaqul Karimah yang di ridhoi oleh Allah. Dan aku menemui kebeningan iman dan akhlak terpuji itu dalam diri mu Tsamirah Zahrana Az Zahra!" bathin Muhammad Zaid Arkana.


"Bagaimana pun caranya, aku harus bisa mendapatkan mu Tsamirah Zahrana Az Zahra! Aku benar-benar terpikat pada mu!" bathin Zaid dengan perasaan yang benar-benar menggila pada sosok Zahrana.


Zaid pun menggelar sajadahnya, dan segera menunaikan ibadah shalat shubuhnya yang sempat tertunda.


***


Di dapur.


Zahrana sedang fokus membuat nasi goreng spesial untuk dirinya sendiri, sebagai bekal berangkat kerja nasi. Tak lupa ia taburkan bawang goreng dan suwiran ayam di nasi gorengnya, "Alhamdulillah ... selesai, nasi goreng ala Zahrana!" pekik Zahrana kegirangan.


Sabrina yang baru selesai mandi dan melaksanakan ibadah shalat shubuh pun, bergegas menuju dapur. Setelah pergelutannya dengan suaminya semalam, membuatnya bangun agak terlambat.


Tubuh Sabrina terasa remuk oleh pergulatannya semalam, rasanya semua tubuhnya pegal-pegal semua. Namun, ia berusaha untuk terlihat fit di depan adiknya Zahrana.


"Maa syaa Allah ... nampaknya nasi gorengnya nikmat sekali! boleh kakak cicipi?" ucap Sabrina dengan mendaratkan bokongnya di kursi meja dapur.


"Oh, ya. Silahkan, Kak! Zahra membuat nasi gorengnya dalam porsi yang banyak."


Sabrina pun segera mencicipi nasi goreng buatan Zahrana, "Nasi gorengnya nikmat sekali, Dek. Resep dari mana nich? wah ... sepertinya sudah cocok nih jadi ibu rumah tangga!" goda Sabrina.


"Lama betul, Dek! keburu di gaet orang tu Akh Zaid," ucap Sabrina keceplosan.


"Maksudnya, Kak?" tanya Zahrana pura-pura polos.


"Polos sekali diri mu, Dek. Zaid itu jelas-jelas mengagumi mu, usianya pun sudah 25 tahun. Kakak rasa kalian berdua cocok deh!" ucap Sabrina dengan sengaja memancing Zahrana.


Sabrina sengaja kepo pada Zahrana. Ia ingin tahu perasaan adiknya tersebut terhadap sosok Muhammad Zaid Arkana.


Zahrana menghembuskan nafasnya pelan.


"Maaf, Kak. Akhir-akhir ini Zahra bingung mengenai perasaan Zahra sendiri, di satu sisi Zahra merindukan dan mendambakan sosok kak Yusuf, namun entah mengapa seringnya bertemu dengan kak Zaid membuat perasaan Zahra menjadi gamang Kak!" ucap Zahrana dengan tertunduk lesu.


"Hemmm ... sepertinya dirimu mulai simpati dengan Akh Zaid, Dek. Mengenai sosok Yusuf, serahkan semua pada Allah. Yakinlah jika jodoh tak kan kemana? jangan khawatir!" ucap Sabrina sambil menikmati nasi goreng buatan Zahrana.


Zahrana nampak berpikir keras, "Sudahlah kak, lupakan saja tentang kak Zaid. Zahra telah memilih untuk memantaskan diri agar bisa bersanding dengan kak Yusuf. Meskipun seribu tahun harus diriku menanti!" pungkas Zahrana.


Sabrina mendengar penuturan Zahrana dengan seksama, sambil menikmati nasi goreng spesial ala Zahrana yang sudah tandas satu piring di nikmati oleh Sabrina.

__ADS_1


"Alhamdulillah ... terima kasih nasi gorengnya, Dek! kakak salut akan kesetiaan mu pada sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy. Jodoh pilihan Buya Harun Al Aziz!" ucap Sabrina dengan memberikan support pada Zahrana adik kesayangannya.


"Sama-sama, Kak. Oh, ya kak Sabri mau masak apa? biar Zahra bantu. Mumpung masih pagi."


"Kakak sudah punya stok di kulkas, Dek. Ayamnya sudah di ungkep tinggal goreng! Untuk sayurannya kakak masak terong balado?" ucap Sabrina santai.


"Baiklah kak, Zahra kembali ke kamar dulu, menyiapkan segala perlengkapan untuk berangkat kerja nanti, Kak!" ucap Zahrana.


"Silahkan, Dek!" ucap Sabrina sembari berkutat di dapur, hendak menggoreng ayam dan menyiapkan bumbu halus untuk memasak menu Terong sambal balado.


***


Zahrana kembali ke kamarnya dengan penuh semangat, hari ini ia berangkat kerja langsung bersama Muhammad Zaid Arkana.


Waktu pun sudah menunjukkan pukul 06.15 wib, Zahrana keluar dari bilik kamarnya menuju ke arah taman depan rumah. Zahrana ingin menyirami bunga-bunga yang sedang bermekaran tersebut.


"Maa syaa Allah, sungguh indah ciptaan-Mu ya Rabb!" ucap Zahrana dengan merentangkan tangannya. Ia terus menghirup udara di pagi hari tersebut dengan ditemani aneka bunga-bunga yang bermekaran harum semerbak di indera penciumannya.


"Alhamdulillah ... sejuknya!" ucap Zahrana dengan memejamkan matanya terus menikmati sejuknya udara di pagi hari.


Aksi manis dan anggunnya Zahrana tersebut, tertangkap kamera handphone milik Muhammad Zaid Arkana yang juga sedang asyik menikmati keindahan alam di pagi hari, Zaid begitu terkesima dengan pesona Zahrana. Ia pun nekat mengambil foto Zahrana dengan berbagai macam gaya.


"Maa syaa Allah ... begitu sempurnanya engkau diciptakan Tsamirah Zahrana Az Zahra! sungguh, aku semakin mengagumi mu serta ingin memiliki dirimu, jadilah permaisuri ku dan bidadari dunia dan akhirat ku, aku sungguh terpesona pada dirimu!" bathin Zaid dengan memetik setangkai mawar merah yang kuntumnya harum semerbak wangi di indera penciumannya.


Zahrana perlahan membuka netranya, betapa canggung, terkejut sekaligus terpesona, itu lah yang di rasakan Zahrana saat melihat Muhammad Zaid Arkana tepat berdiri di hadapannya dengan memegang sekuntum bunga mawar merah yang hendak di persembahkan untuknya.


"Kak Zaid, kauuu?" pekik Zahrana dengan debaran jantung yang berdegup kencang ketika melihat sosok Muhammad Zaid Arkana semakin mendekat ke arahnya.


🌷🌷🌷


Untaian mutiara hikmah 👉"Hal-hal yang baik datang untuk mereka yang menunggu. Tapi hal yang lebih baik lagi datang kepada mereka yang bergerak untuk mendapatkannya. Jika hati telah diberikan sepenuh pasrah, maka yang tersisa hanya takdir di ujung kisah. Setiap perjuangan pasti ada tantangan. Jika tidak berani menghadapi tantangan, jangan berjuang. Namun hidup sendiri pun adalah perjuangan."


🌱


🌱


🌱


Sambil menunggu update selanjutnya, yuk mampir ke karya author bestie. Tentunya dengan kisah yang tak kalah menarik dan serunya.


Judul karyanya : Istri Siri Tuan Bryan

__ADS_1


Authornya : Asma Khan



__ADS_2