Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
232 . Perselingkuhan Berujung Perceraian.


__ADS_3

Di saat orang-orang sedang sibuk menangisi dan mengantarkan jenazah Aslan Abdurrahman Syatir di pusaranya, Arjuna Restu Pamungkas justru tengah menikmati indahnya kenikmatan surgawi, bergelut dalam satu selimut bersama wanita yang tidak halal untuk disentuhnya.


Untuk yang kesekian kalinya, Arjuna mencicipi setiap inci tubuh Adelia Kencana Putri yang sudah 3 bulan ini menjadi selingkuhannya.


Di sebuah hotel yang megah keduanya terus saling bercumbu rayu menuntaskan segala hasrat terlarangnya, tak terpikirkan oleh Arjuna betapa istrinya kini sedang berduka dan sedang mengandung anaknya. Ia seolah-olah terbuai dalam kenikmatan yang semu, kenikmatan yang dapat menyesatkannya dan menghancurkan biduk rumah tangganya.


"Sayang, terima kasih untuk semuanya! kau benar-benar membuat ku mabuk kepayang." Arjuna mengecup lembut kening Adelia, keduanya nampak menikmati adegan panasnya yang baru saja mereka lakukan.


"Sama-sama, sayang. Setelah ini aku ingin kita mengulanginya lagi," ucap Adelia dengan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Arjuna.


Keduanya tidak menyadari jika sudah ada yang menguntit jejak perselingkuhan mereka sejak tiga bulan terakhir ini.


Dan hari ini akan menjadi hari yang paling mengejutkan dalam kehidupan rumah tangganya bersama Nandini Sukma Dewi.


"Duarrr!" bunyi pintu kamar hotel di dobrak oleh Nandini Sukma Dewi, membuat Arjuna dan Adelia merasa terkejut dengan kedatangan sosok wanita yang sedang berbadan dua tersebut.


"Honey, kau!" Arjuna terlihat kelabakan, ia tidak bisa harus berucap apa-apa lagi ketika melihat kehadiran istrinya yang memergoki perbuatan mesumnya bersama Adelia.


"Nandini Sukma Dewi!" Adelia menarik selimut yang Ia kenakan bersama Arjuna sampai menutupi seluruh tubuhnya. Ia merasa malu sebab tubuh polosnya terekspos sempurna di hadapan Nandini istrinya Arjuna.


"Prok ... prok ... prok," Nandini bertepuk tangan melihat adegan yang sangat menyakitkan untuknya.


"Kalian pintar, kalian hebat! inikah bisnis travel yang kau urus selama berapa bulan terakhir ini? menjijikkan sekali! pantasan saja berkali-kali di telfon diluar jangkauan, ternyata ini yang kau kerjakan di luar rumah. Asyik menunggangi kuda liar." Nandini membuang ludahnya. Ia benar-benar ilfeel melihat kedua makhluk yang ada di hadapannya kini.


Selama 3 bulan pernikahannya Nandini tidak pernah menampakkan sisi emosionalnya, ia juga tidak pernah lagi menggunakan ilmu bela dirinya. Namun, hari ini dirinya menatap nyalang pada kedua anak manusia yang ada di hadapannya. Hatinya benar-benar bagai tersusuk ribuan belati tajam ketika melihat suaminya bergelut dalam satu selimut bersama wanita lain tanpa sehelai benangpun kecuali hanya selimut yang menutupi tubuh keduanya.

__ADS_1


Arjuna hendak turun dari tempat tidur yang kini ia tempati bersama Adelia, namun ia malu jika harus berlari ke arah Nandini tanpa sehelai benangpun.


"Mulai detik ini, kau bukan suami ku lagi! Aku tidak sudi memiliki suami yang tak bermoral, kita bercerai!" Nandini melemparkan cincin perkawinannya dengan tubuh yang bergetar. Ia berusaha untuk meredam emosi yang terpendam di hatinya. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan kedua anak manusia yang tak bermoral tersebut. Nandini berusaha agar jangan sampai ia menangis di hadapan kedua penghianat tersebut.


"Nandini, tunggu! Aku masih membutuhkan mu, aku mencintaimu Nandini. Aku tidak ingin kita bercerai!" pekik Arjuna dengan memakai pakaiannya dengan sembarang. Ia tidak peduli dengan penampilannya yang kini terkesan acak-acakan.


"Sayang, tunggu! Jangan pergi!" Adelia dalam keadaan tubuhnya yang berlilitkan selimut segera menarik tangan Arjuna. Ia tidak rela jika Arjuna tetap bertahan dengan istrinya Nandini Sukma Dewi.


"Lepaskan! aku ingin mengejar istriku!" tegas Arjuna dengan menghempaskan tangan Adelia.


"Kau tidak bisa pergi begitu saja Juna, kau juga harus bertanggung jawab atas perbuatan mu. Bagaimana jika aku mengandung anak mu? Kau harus menikahi ku!" pungkas Adelia.


"Dengarkan aku Adelia, kau hanya wanita simpanan ku. Aku tidak mungkin untuk menikahimu, sampai kapan pun istri ku hanya Nandini tidak ada yang lain!" tegas Arjuna dengan meninggalkan Adelia begitu saja.


Adelia merasa teriris mendengar ucapan Arjuna, "Awas saja kau Arjuna Restu Pamungkas, kau akan bertekuk lutut di kaki ku! tak kubiarkan kau bahagia barang sedikitpun." Adelia pun merasakan kecewa yang teramat dalam oleh sebab perlakuan buruk Arjuna padanya.


***


"Kembali ke tempat mu, atau kupatahkan tangan dan kaki mu! Jangan pernah berharap kau bisa menyentuh Nandini, aku tidak akan membiarkannya terus bersedih dan di permainkan oleh mu."


Arjuna menatap sinis ke arah Zainal, "Oh aku mengerti berati dirimu yang sengaja memata-matai ku dan mengadukan segala yang kau lihat pada Nandini istri ku. Kau licik?" Arjuna hendak memberikan pukulan pada wajah Zainal. Namun, dengan cepat Zainal menghindar sehingga yang menjadi sasaran Arjuna adalah tembok Hotel tempat di mana kini ia berpijak.


"Aku tidak akan membiarkan mu semena-mena terhadap Nandini," ancam Zainal dengan tatapan tajam. Ia pun meninggalkan Arjuna yang masih terpaku di tempatnya.


Zainal segera menyusul Nandini yang kini telah masuk ke dalam mobil miliknya.

__ADS_1


"Tidakkkk! aku tidak ingin perselingkuhan ku berujung penceraian!" pekik Arjuna dengan tertunduk lesu di lantai hotel tempat dimana saat ini ia berada. Ia benar-benar menggerutuki kebodohannya.


"Nandini, aku masih mencintaimu! jangan tinggalkan aku!" Arjuna menangis pilu. Ia benar-benar tidak ingin berpisah dengan istrinya tersebut.


***


Di dalam mobil milik Zainal.


Barra Adi Sanjaya dengan pelannya menyetir mobil yang kini di kendarainya. Ia tidak ingin menganggu cengkrama antara tuan mudanya bersama wanita yang di cintainya Nandini Sukma Dewi.


"Din, kau tidak apa-apa? maafkan aku baru hari ini aku bisa memberitahu mu tentang bejatnya suami mu. Kau pasti tersakiti atas semua keadaan ini."


Nandini menumpahkan air matanya yang dari sejak tadi ia bendung. Ia terisak dalam tangisnya sembari mengelus perutnya yang sudah terlihat buncit dengan usia kandungan kurang lebih 5 bulan.


"Kau jangan terlalu banyak pikiran. Aku akan selalu ada untuk mu, luahkanlah segala kepenatan mu. Apa pun keadaan mu, aku akan tetap menunggu mu sampai kapanpun!" tegas Zainal dengan memandangi raut wajah Nandini yang sedang tidak baik-baik saja.


"Terimakasih atas semua bantuan dan perhatian mu untuk ku, beri aku waktu untuk menyelesaikan masalahku bersama Arjuna. Aku telah memutuskan untuk bercerai dengannya!" pungkas Nandini dengan menatap lurus ke depan.


Bukannya Nandini menjaga jarak dengan Zainal, namun ia tidak ingin kentara memiliki rasa yang sama dengan Zainal, mengingat dirinya belum resmi bercerai dan masih berstatus istri Arjuna Restu Pamungkas. Ia tidak ingin terjadi fitnah di antara mereka.


"Aku akan mengantarmu pulang, sebagaimana tadi kami menjemput mu kemari. Kami bertanggung jawab untuk keselamatan mu!" ucap Zainal dengan rasa gugupnya oleh sebab dirinya duduk berdekatan dengan wanita yang sangat dicintainya.


Sedangkan Nandini berusaha untuk menjaga hatinya, ia tidak ingin sampai melakukan hal-hal yang menimbulkan fitnah antara dirinya dan juga Zainal kedepannya.


💛💛💛

__ADS_1


Untaian mutiara hikmah 👉"Masalah adalah sebuah anugerah, dimana kita bisa mendapatkan hikmah dan memberikan inspirasi untuk bertindak. Perjuangan adalah sesuatu yang dibutuhkan dalam hidup, jika tuhan membiarkan hidup tanpa hambatan dan perjuangan, itu mungkin akan melumpuhkan kita, karena kita akan senantiasa sombong dengan segala kemudahan, hingga akhirnya jatuh dan kalah. Musibah yang membuatmu kembali kepada Allah lebih baik dari nikmat yang membuatmu lupa kepada Allah. Sesulit apapun masalah yang kita hadapi saat ini, ia bukan sesuatu yang harus dihindari, tetapi harus diselesaikan.”


__ADS_2