Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
47 . Pacaran Sehat


__ADS_3

Usai menuliskan balasan surat cinta untuk kakak kelasnya Rivandra Dinata Admaja, Zahrana segera melatih otot kakinya, menelusuri dinding tembok rumahnya menuju teras rumahnya.


Zahrana pun duduk santai di teras rumahnya dengan kedua kaki dijulurkan pada kursi rotan diteras rumahnya.Ia tidak menyadari jika sosok pemuda yang mengenakan baju koko berwarna putih lengkap dengan sarung celananya, juga peci yang senada, nampak kelihatan sangat Agamis sekali, memandang kearah Zahrana dengan tatapan penuh kasih, nampak semburat kerinduan yang teramat mendalam dari binar mata pemuda tersebut terhadap pujaan hatinya Zahrana.


Pemuda tersebut adalah sosok Aslan Abdurrahman Syatir,ia baru pulang dari Mesjid,usai melaksanakan ibadah sholat Jum'at.


Ingin sekali, Aslan menghampiri Zahrana, namun ia masih belum siap untuk berhadapan lagi dengan orang tua Zahrana, terlebih Bunda Fatimah yang tidak menyukai jika Aslan terlalu dekat dengan Zahrana anaknya.


Perlahan netra Zahrana pun tertuju pada sosok yang memandangnya.


"Kak Aslan..."bisik hati Zahrana.


Zahrana dan Aslan pun sama-sama saling memandangi dari kejauhan, betapa Zahrana pun memendam kerinduan pada sosok Aslan Abdurrahman Syatir.Ingin rasanya Zahrana bangkit dari kursinya untuk segera berlari menyambut Aslan dan masuk kedalam dekapannya guna melepaskan segala kerinduannya yang begitu sangat menyiksanya.Namun apa daya untuk saat ini, mereka belum bisa untuk menyatukan segala rasa, sebab terhalang oleh Restu orang tua, mengingat Zahrana yang masih belia, belum pantas untuk sosok Aslan Abdurrahman Syatir.


Namun cinta dapat membutakan mata hati dan jiwa,ia tak pernah mengenal waktu dan tempat ketika harus berlabuh.Jika tidak bisa menguasai hati dan perasaan maka ia akan tersesat dalam lingkaran cinta yang menyesakkan dada, jika rasa itupun tidak berbalas ataupun terhalang jurang pemisah maka ia harus rela terluka dan kecewa oleh rasa yang terlanjur bersarang dihatinya.


"Ana...aku rindu padamu, betapa berat hari-hari ku tanpa kehadiranmu.Bersua dengan mu sangat ku damba,ku harap kau dapat segera pulih Ana,agar kita segera memadu kasih layaknya sepasang kekasih,ku ingin dirimu seutuhnya untuk ku Ana."Gumam Aslan terus memandangi Zahrana dari seberang jalan.


Zahrana pun sama terus memandangi Aslan dari kursi rotannya, Zahrana bak Ratu yang terpahat dari ukiran yang indah, Bidadari kecil yang cantik jelita,duduk bersandar di kursi rotannya, membuat Aslan terpesona karenanya.


Mereka pun saling melemparkan senyuman dari kejauhan, sampai akhirnya Aslan tak tampak lagi di pelupuk matanya.


Jantung Zahrana pun terasa berdegup kencang, rasa rindunya terhadap Aslan Abdurrahman Syatir kini tercurah sudah, walaupun hanya bertemu lewat isyarat mata.

__ADS_1


"Ya Allah... maafkan atas segala rasaku terhadap kak Aslan yang tak bisa untuk ku tepis, juga rasaku terhadap kak Rivandra yang tak bisa untuk ku bohongi, jika diriku benar-benar mengagumi mereka berdua dan mencintai dua hati, yang untuk saat ini tak bisa untuk ku tinggali."Cicit Zahrana dengan nada pilunya,mengenang percintaannya kini berbalut cinta tiga segi.


***


Hari-hari Zahrana yang dulu terisi dengan segala kepolosan,kini sosok Bidadari Kecil yang dulu anggun, cantik dan mempesona, begitu kuat menjaga marwahnya kini ia pun tergoda dan terjerat dalam lingkaran cinta segitiga yang tak berkesudahan.


Jika dahulu Zahrana mati-matian menjaga marwahnya agar tidak terjerat cinta buta dan lebih memilih untuk menjadi sosok gadis kecil yang terus dan terus menuntut ilmu guna meraih kesuksesan di masa depan yang lebih cerah dan lebih baik dari kedua kakaknya Raffa Nauzan Al Fareed dan Sabrina Zelmira Al Aqra yang dulu mengakhiri masa lajangnya di usia mereka yang masih sangat muda, sekarang giliran Zahrana yang tergoda dan terjerat cinta dari seorang pemuda yang bernama Aslan Abdurrahman Syatir yang terpaut 7th usia darinya yakni 19th,selain itu Zahrana pun terjerat cinta segitiga bersama kakak kelasnya Rivandra Dinata Admaja yang genap berusia 15 tahunan.


Zahrana yang dahulu, bukan lah seperti Zahrana yang sekarang,ia sekarang perlahan bertumbuh menjadi gadis remaja yang sedang berusaha untuk mencari jati dirinya yang sebenarnya, perlahan ia pun masuk dalam dunia percintaan anak remaja yang mendorongnya untuk menempuh jalan pacaran seperti teman-teman sekolah lainnya.


Diantara sahabat mereka hanya Hafidzah yang bertahan untuk tidak menempuh jalan yang bernama pacaran dan tidak tergoda dengan pria manapun, Hafidzah sangat istiqomah pada keyakinan yang ditempuhnya sebagaimana yang telah diajarkan oleh Ummi dan Abinya, jika pacaran itu memang tidak boleh dalam pandangan Islam, selain banyak mudharatnya juga membuka cela untuk syaitan menggoda setiap insan yang bernama manusia yang sedang dilanda asmara agar terjerat dalam lingkaran noda-noda dosa yang lebih dalam lagi, pacaran dapat menjerumuskan seseorang dalam bentuk perzinahan yang lebih dan lebih lagi sehingga tidak jarang ada sepasang kekasih yang belum halal, melakukan hubungan diluar nikah, semakin marak berkembang, sehingga banyak muda-mudi yang gugur sebelum berkembang.


Zahrana yang menjadi sosok panutan bagi sahabatnya,kini justru menempuh jalan pacaran, meskipun harus backtreet dari orang tuanya atau yang lainnya, namun dalam sudut pandang Islam tetap tidak ada yang namanya pacaran sehat, sangat disayang kala itu Zahrana belum memahami jika pacaran itu haram hukumnya dan wajib untuk ditinggalkan bagi yang mengaku dirinya seorang muslim.


Jika dengan Rivandra Dinata Admaja, Zahrana bertingkah seolah seperti anak remaja pada umumnya, mereka hanya berpacaran secara sehat, hanya belajar bersama, bertukar pikiran, ngobrol-ngobrol dan makan-makan di kantin,mojok di belakang sekolah, baca-baca buku di perpustakaan dan serentetan rutinitas lainnya yang berhubungan dengan pelajaran itulah rutinitas pacaran sehat yang digeluti Zahrana dan kakak kelasnya kini disekolahnya,ia menjelma menjadi gadis remaja yang baik-baik tidak terlalu berlebih-lebihan seperti kedekatannya dengan Aslan Abdurrahman Syatir yang kerap kali dibumbui dengan adegan dewasa yang tak semestinya Zahrana lakukan di tengah usianya yang masih sangat belia.


***


"Kak Rivandra,maaf aku terlambat datang,kakak pasti menunggu lama, tadi Zahra sedang melepas rindu dengan teman-teman di kelas, mereka sangat merindukan Zahra, sebab sudah satu minggu tidak bersua."Ujar Zahrana dengan nafas ngos-ngosan menuju perpustakaan guna menepati janji pada Rivandra Dinata Admaja untuk bertemu dan belajar bersama di perpustakaan sekolah.


"Maa syaa Allah,Zahra... terimakasih sudah menepati janji untuk bertemu disini!... Bagaimana keadaanmu? apa sudah benar-benar pulih?"Tanya Rivandra.


"Alhamdulillah...kak, sudah lebih baik,"ujar Zahrana dengan senyuman manisnya, membuat Rivandra pun semakin terpana padanya.

__ADS_1


"Kamu terlihat cantik dan manis seperti itu Ra,"puji Rivandra.


Wajah Zahrana pun tampak bersemu merah oleh pujian dan tatapan Rivandra yang tidak berkedip memandang kearahnya.


"Ya Allah...kak, Zahrana memang cantik dan manis dari sononya kak,"ujar Zahrana guna mengatasi kegugupannya, sebab ini hari pertama Zahrana dan kakak kelasnya berkencan walaupun dengan modus belajar di perpustakaan sekolah.


"Ra, terimakasih karena kau sudah menerima ku untuk menjadi teman istimewa mu,aku tidak menyangka jika akhirnya kita bisa berpacaran seperti sekarang ini, jujur aku seperti bermimpi melihat mu di hadapan ku saat ini.Kau seperti Bidadari yang turun dari kayangan, kemudian menjadi sosok Tuan Puteri yang cantik jelita dihadapan ku,aku sangat beruntung sekali bisa memilikimu Ra". Tutur Rivandra penuh nada keseriusan dan rasa yang mengharu biru sebab ia kini telah menjadi teman istimewa untuk Zahrana.


"Sama-sama kak, Zahrana pun bahagia karena telah menjadi sosok Bidadari kecil dan sosok wanita yang telah kakak pilih untuk menjadi kekasih untuk kakak,"ujar balik Zahrana seraya menatap nanar wajah Rivandra yang sangat tampan dan mempesona.


Sangat lama mereka saling beradu pandang, akhirnya mereka pun sama-sama tertunduk malu, ada rasa debar-debar dalam dada oleh getaran rasa yang berkecamuk dalam jiwa,dua hati kini pun telah menyatu dalam ikatan cinta yang bernama pacaran.


Sebenarnya,hati Zahrana terasa dag dig dug... sebab ini hari pertamanya berkencan dengan lawan jenisnya.


Rivandra sebenarnya ingin sekali menggenggam kedua jemari tangan Zahrana, yang kini telah menjadi kekasihnya, namun ia malu ia tidak ingin dibilang agresif,ia lebih memilih pacaran sehat, dapat berdekatan dan berduaan, serta belajar dengan Zahrana itu sudah cukup bagi seorang Rivandra Dinata Admaja.


"Kak, sekarang kita mulai belajar bersama yah?ada pelajaran yang kurang Zahra mengerti, ini rumus matematika yang sangat sulit untuk Zahra pecahkan kak, pelajaran pertama dari Bu Ningrum tadi,"ujar Zahrana dengan nada seriusnya namun tetap merasakan jantungnya berdegup kencang terasa ingin copot ketika Rivandra yang tadi duduk berhadapan dengannya,kini lebih memilih berada duduk disampingnya.


Rivandra pun dengan seriusnya, membimbing dan mengajari Zahrana rumus matematika yang belum bisa Zahrana pecahkan.Berkat bantuan Rivandra yang kini telah menjadi pacarnya, Zahrana semakin semangat untuk belajar lebih giat lagi, berpacaran dengan kakak kelasnya Rivandra Dinata Admaja sangat memicu Zahrana untuk terus mengukir prestasi yang lebih gemilang.Zahrana merasa beruntung telah memiliki Rivandra menjadi pacarnya.


Ditengah keseriusan Zahrana dan Rivandra belajar membahas soal-soal, tiba-tiba ada suara histeris memekak telinga, sehingga mengganggu konsentrasi belajar mereka berdua.


"Awww...sakittt...kamu menginjak kakiku!"Pekik suara dari belakang rak buku yang tak jauh dari Rivandra dan Zahrana yang sedang asyik berkencan, dengan bermoduskan membahas soal-soal matematika.

__ADS_1


Zahrana dan Rivandra pun menoleh ke asal suara tersebut, dan mereka terbelalak kaget, sebab sudah ada beberapa orang Siswa yang sedang mengintip kebersamaan mereka di perpustakaan sana.


__ADS_2