
Nandini sukses melewati proses hukuman yang diberikan oleh Bu Roshani Manurung selaku guru BK. Ia tampak kelihatan bugar, dengan keringat yang mengucur deras dari dahinya.
Dalam pandangan Nandini pusp-up adalah hal yang biasa ia lakukan dari sejak awal berlatih Ilmu Bela Diri. Hingga saat ini pun Nandini kerapkali melakukannya. Jadi baginya pusp-up bukanlah suatu yang berat.
Guru BK dan juga Bu Zulis selaku wali kelas Nandini dan teman-temannya, nampak takjub melihat Nandini Sukma Dewi masih tampak kelihatan bugar. Tidak tampak kelelahan di wajahnya. Ia menyelesaikan hukuman pusp-up 100 kali dalam waktu yang sangat singkat.
"Benar-benar di luar ekspektasi, anak ini benar-benar tangguh!" pikir Ibu Roshani Manurung selaku guru BK yang terkenal dengan kegalakan-nya.
"Maa syaa Allah ... luar biasa," ucap Bu Zulis di penuhi rasa kagum terhadap Nandini Sukma Dewi.
Bu Zulis tidak menyangka jika muridnya Nandini Sukma Dewi yang kerap kali membuat kekacauan dan keributan ternyata memiliki benteng pertahanan yang cukup tangguh di usianya yang masih sangat belia.
"Woowwww ... amazing!" pekik teman-teman Nandini. Mereka tidak menyangka jika Nandini bisa menyelesaikan hukuman Bu Roshani Manurung.
Zahrana dan teman-temannya mengira Nandini akan menyerah dan kewalahan dengan hukuman pusp-up 100 kali yang diberikan oleh Bu Roshani terhadap Nandini Sukma Dewi. Namun, Nandini dengan mudah melewati proses hukuman itu.
"Kalau aku di posisi kamu Din, mungkin aku sudah pingsan. Pusp-up 5 kali saja ngos-ngosan apalagi pusp-up 100 kali. Sungguh aku benar-benar tidak mampu," cicit Zahrana didalam hati.
Zainal Abidin diam-diam mencuri pandang pada Nandini Sukma Dewi yang masih berdiri kokoh setelah selesai melakukan push-up.
"Din, dirimu nampak keren sekali dengan gaya metal mu. Kau benar-benar menjalankan hukuman dari Bu Roshani Manurung dengan sangat sempurna," cicit Zainal Abidin di dalam hatinya.
"Aku kagum dengan mu, Din. Akan tetapi sayang kau lebih memilih rival ku Arjuna dari pada ku," bisik hati Zainal Abidin.
Arjuna ingin sekali menarik Nandini dalam dekapannya. Ia ingin sekali membersihkan keringat yang bercucuran di dahi kekasihnya.
Namun, Arjuna urungkan niatnya sampai mereka semua benar-benar keluar dari ruang BK.
"Nandini Sukma Dewi, kamu telah menyelesaikan hukumanmu hari ini. Kau bebas untuk bernafas lega sekarang!" ucap guru BK.
"Namun, untuk satu Minggu kedepan kau dan Priska Prahara harus tetap melanjutkan hukuman kalian untuk membersihkan seluruh Toilet khusus pelajar dan Toilet yang ada di ruang guru!" titah guru BK.
"Satu lagi kalian juga harus menyapu halaman sekolah seluruhnya selama satu Minggu kedepan," ujar guru BK selanjutnya.
__ADS_1
"Sekarang kalian semua, silahkan keluar dari ruangan ini!" titah Bu Roshani Manurung disertai dengan wajah datar nya.
Semua murid-murid pun segera beranjak meninggalkan ruangan BK.
"Honey ... tunggu!" pekik Arjuna Restu Pamungkas.
Nandini menoleh.
"Hubby aku capek," ujar Nandini Sukma Dewi.
Nandini bergelayut manja di lengan Arjuna Restu Pamungkas. Sehingga membuat teman-temannya baper melihat kemesraan antara mereka berdua.
"Kita singgah di kantin Mang Dul dulu Honey. Kau nampak haus sekali kelihatannya, lain kali jauhi hal-hal yang ekstrim seperti ini. Aku tidak mau melihat kau mendapatkan masalah lagi hingga berujung dirimu mendapat sangsi seperti ini," ujar Arjuna seraya membersihkan keringat yang mengucur deras didahi Nandini kekasihnya.
"OMG ... manis sekali," ucap teman-teman Nandini.
"Sangat romantis," cicit Fadhilah.
Kirana Larasati, seperti biasanya tetap no coment.
***
Satu Minggu pun sudah berlalu Nandini dan Priska Prahara pun telah menyelesaikan hukuman masing-masing. Bergelut dengan rutinitas membersihkan Toilet dan menyapu seluruh halaman sekolah seperti yang di titahkan oleh guru BK.
Nandini menyelesaikan semua tugas itu di bantu oleh teman-temannya yang selalu setia menemaninya. Juga didampingi teman istimewanya Arjuna Restu Pamungkas.
Priska Prahara sendiri di berikan keringanan hukuman dalam satu Minggu ia hanya menyelesaikan hukumannya dua hari. Sedangkan lima harinya ia diwakili oleh teman-temannya Adelia Kencana Puteri dan Lembayung Senja juga teman lainnya. Sebab, setelah baku hantam tempo hari, Priska Prahara menjalani perawatan medis di Dokter khusus perawatan kecantikan. Sehingga wajah Priska Prahara Kembali mulus seperti biasanya.
Priska Prahara lima hari izin tidak masuk sekolah, untuk mengatasi wajahnya yang babak belur di hajar oleh Nandini Sukma Dewi. Atas permintaan orangtua Priska, anaknya tidak di izinkan masuk sekolah sebab Puteri semata wayang mereka sedang mengalami kesakitan akibat baku hantam tersebut.
Syukurnya orangtua Priska Prahara tidak menuntut Nandini Sukma Dewi atas kesalahan Nandini yang main hakim sendiri, dengan menghajar anak mereka sampai babak belur. Sebab orangtua Priska sudah tahu jika semua kekacauan yang terjadi di sebabkan oleh kesalahan anaknya yang sejak awal pertandingan basket sengaja menciderai Zahrana. Sehingga teman-teman Zahrana yakni Nandini Sukma Dewi membalas semua perbuatan Priska Prahara dengan menghajarnya habis-habisan.
"Din, Alhamdulillah ... akhirnya kita bisa bernafas lega. Hukuman mu telah berakhir, terimakasih kau selalu ada untuk ku, Din. Terimakasih karena kau selalu membela ku. Kau memang sahabat yang baik, selalu ada dalam suka dan duka." Zahrana mengucapkan rasa terima kasih kepada sahabatnya Nandini.
__ADS_1
Mereka saling berpelukan erat, disusul pula oleh Fadhilah, Cinta dan Kirana Larasati. Mereka berlima pun saling merangkul, meskipun kini tidak ada lagi Hafidzah di antara mereka. Namun mereka tetap saling menguatkan satu sama lain, persahabatan mereka tetap terjalin erat dan tak lekang oleh waktu dan keadaan.
Nandini terharu dengan perlakuan teman-temannya terhadapnya.
"Ya Allah ... terimakasih teman-teman atas semua perhatian dan ketulusan kalian, aku merasa sangat senang dan bahagia sekali. Aku beruntung memiliki teman-teman seperti kalian yang selalu ada untuk ku dalam susah dan senang ku, saling melengkapi satu sama lain," ucap Nandini penuh rasa haru.
"Honey ... kok aku tidak ikut dipeluk! sebentar lagi kita akan segera perpisahan sekolah lho, tentunya kita akan jarang berjumpa. Aku akan segera melanjutkan ke jenjang SMA," tutur Arjuna yang baru hadir di antara Nandini dan teman-temannya.
"Hubby!" ucap Nandini penuh manja.
Nandini segera menghamburkan diri kedalam dekapan Arjuna kekasihnya.
"Hubby, tentunya aku akan sangat merindukanmu," ujar Nandini seraya membenamkan wajahnya di dada bidang kekasihnya Arjuna Restu Pamungkas.
Arjuna membelai lembut puncak kepala Nandini kekasihnya. Mereka berdua melepaskan segala kerinduan yang ada.
"Ciyeeee ... yang sudah punya kekasih hati, kita semua dianggap hanya angin lalu," ucap teman-teman Nandini penuh kekompakan.
Arjuna dan Nandini tersenyum bahagia, mereka pun melerai pelukannya dan saling bergandengan tangan bergabung dengan Zahrana dan teman-temannya yang lainnya.
Rangga Sahadewa yang dari sejak tadi hanya diam dan terlihat malu-malu akhirnya pun menghampiri kekasih hatinya Cinta Kiara Khoirani. Mereka pun saling bergandengan tangan tak mau kalah dengan Arjuna Restu Pamungkas dan Nandini Sukma Dewi.
Sedangkan Rivandra Dinata Admaja hanya mengembangkan senyuman. Ia menatap sekilas wajah Bidadari kecilnya Tsamirah Zahrana Az Zahra yang dulu pernah mengisi relung hatinya. Tidak ada dendam diantara mereka berdua.
Zahrana dan Rivandra sepakat untuk menjadi seorang sahabat. Tidak ada lagi hubungan spesial di antara mereka, sebab kini hati Zahrana hanya terpatri untuk Aslan Abdurrahman Syatir. Kakak dari Nandini Sukma Dewi.
Sedangkan Zainal Abidin, dari kejauhan menatap penuh arti pada Nandini Sukma Dewi dan Arjuna Restu Pamungkas yang nampak bergandeng mesra seolah tak ingin terpisahkan.
Zainal hanya mampu menahan rasa di hati, baginya melihat Nandini Sukma Dewi bahagia bersama pilihan hatinya itu sudah cukup untuk seorang Zainal Abidin.
Kini mereka semua bisa bernafas lega, dan badai itu pun telah berlalu.
Hari Kamis nanti akan segera di adakan acara perpisahan sekolah special untuk pelepasan Siswa-siswi kelas 3 di SMP NEGERI 3 XX. Hari terakhir untuk Rivandra Dinata Admaja dan teman-temannya berada di bangku Sekolah Menengah Pertama dan mereka pun akan segera memasuki bangku SMA awal. Dan tentunya mereka akan jarang sekali untuk bersua dengan Zahrana dan teman-temannya.
__ADS_1