Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
97 . Berpisah Diujung Jalan


__ADS_3

Setelah Aslan menyadari akan kekhilafannya, Zahrana memberanikan dirinya untuk menghampiri Aslan yang sampai detik ini pun sebenarnya masih berstatus kekasihnya. Di saksikan pula oleh teman-teman mereka lainnya.


"Kak Aslan, a-ku minta maaf sebab telah pun membuat kakak kecewa terhadap ku. Maafkan aku kak, belum bisa menjadi yang terbaik untuk kakak. Maafkan aku atas segala ego ku. Sungguh, aku tak bermaksud untuk melukai perasaan kakak. Bukan aku tidak menginginkan kakak atau pun tidak mencintai kakak, namun untuk saat ini aku ingin sendiri dulu, Kak."


"Ana mohon izinkan Ana untuk menenangkan diri Ana, Kak. Sungguh ... Ana butuh kebebasan dan ketenangan. Izinkan Ana untuk berkarya dan mengukir prestasi untuk masa depan Ana nanti, Kak. Berjanjilah padaku jika kakak tidak akan melakukan hal yang konyol lagi! benar kata kak Yusuf jika pun kita berjodoh, kita pun akan bertemu kembali nantinya dalam mahligai yang Allah ridhoi."


"Ana tidak ingin ada rasa benci dan dendam yang bersarang dalam hati dan jiwa kita. Aku ingin kita berpisah secara baik-baik untuk sementara waktu ini. Mari kita sama-sama merajut asa, guna menggapai impian di masa depan nanti. Izinkan aku pergi untuk sementara dari kehidupan kakak. Jika pun nantinya kita berjodoh aku berjanji aku akan kembali untuk kakak," ucap Zahrana seraya menggenggam jemari tangan Aslan untuk yang terakhir kalinya.


Aslan Abdurrahman Syatir diam terpaku mendengar penuturan Bidadari kecilnya yang memang sangat dicintainya. Aslan tidak tahu harus berucap apa-apa lagi. Sebab Zahrana kini benar-benar ingin pergi dari kehidupannya.


Air mata Aslan bercucuran membasahi pipinya. Ia tidak pernah menyangka jika akhirnya pun ia harus berpisah dengan Sang Primadona itu. Bunga pun layu gugur di taman hatinya. Hubungan yang dengan susah payah mereka bangun kini pun harus kandas sudah, rasa cinta itu pun terhempas oleh permintaan Sang kekasih yang menginginkan perpisahan.


"Ya Allah ... Jika pun bisa di putar waktu, sungguh aku tidak ingin menodai kepolosan dan kesucian hati mu, Ana. Maafkan aku karena telah mengambil ciuman pertama mu secara paksa, maafkan aku yang telah membuat mu merasa tidak nyaman oleh keposesifan ku," bisik hati Aslan Abdurrahman Syatir. Ia benar-benar menyesali perbuatannya hingga berujung kata perpisahan terucap sudah dari bibir Zahrana, Sang Bidadari kecilnya.


Teman-teman Zahrana pun di buat berdebar-debar oleh keputusan Zahrana yang tiba-tiba ingin berpisah dengan Aslan, mengingat hubungan Zahrana dan Aslan yang selama ini baik-baik saja dan selalu menampakkan kemesraannya. Hubungan itu pun kini telah pun berada di ujung tanduk.


"Ra, kau yang benar saja ingin mengakhiri hubungan kalian berdua dengan kak Aslan? sebenarnya apa yang telah terjadi dengan kalian hingga harus berpisah seperti ini, mengingat hubungan yang telah kalian rajut selama ini." Nandini ikut bersedih atas kata perpisahan yang terucap dari bibir Zahrana untuk Kakaknya.


Nandini ingat betul awal mula proses hubungan Zahrana dan kakaknya Aslan. Dimana kala itu, Nandini berlaku sebagai Mak Comblangnya. Ia menjadi pak Pos cinta, sebagai pengantar surat cinta antara Kakaknya dan Zahrana sahabatnya. Kini hubungan keduanya pun akan berakhir sudah.


"Maafkan aku Din, sungguh aku tidak bisa lagi untuk terus melanjutkan hubungan ini. Aku tidak ingin lagi terus berada dalam ikatan cinta yang terus mengekang ku, oleh bujuk hawa nafsu yang terus menggerogoti jiwa belia ku. Aku tidak ingin jatuh lebih dalam lagi dalam api asmara yang terus menerus membuat ku terjerat dan terjebak dalam bisikan dan buaian hawa nafsu sesaat. Aku ingin memperbaiki diri ku yang selama ini rapuh dan tergoda oleh rasa cinta yang sebenarnya belum pantas untuk aku merasakannya," ucap Zahrana dengan manik mata yang mulai berkaca-kaca.


"Bayangan bercumbu rayu dengan Aslan Abdurrahman Syatir kembali berkelebat menghantui pikirannya. Zahrana benar-benar malu dengan apa yang telah di perbuatnya, bagaimana adegan panas itu terjadi dengan beringasnya." Zahrana menelungkupkan wajahnya, Zahrana merasa dirinya begitu hina dan kotor sekali jika mengingat itu semua.


Zahrana terdiam. Ia tidak tahu harus berkata-kata apa-apa lagi, harapannya ia ingin Aslan segera membebaskannya dari semua ikatan yang mengekangnya.


Sementara teman-temannya yang lain hanya bisa menghela nafas masing-masing. Mereka nampak menunggu keputusan apa yang akan diambil oleh Aslan setelah mendengarkan jika Zahrana Sang pujaan hati benar-benar menginginkan perpisahan. Pikir mereka entah apa yang sebenarnya terjadi dengan Zahrana dan Aslan, sehingga Zahrana begitu kekeuh menginginkan perpisahan mengingat hubungan keduanya yang selama ini nampak adem ayem. Namun akhirnya harus kandas begitu saja entah apa yang menjadi pemicu utamanya sehingga Zahrana sedari tadi selalu menginginkan sebuah perpisahan.


"Zahra ... jika memang dirimu menginginkan perpisahan di antara kita, sungguh aku pun tidak mampu untuk mencegah mu. Sekuat apapun aku mempertahankan diri mu, itu juga tidak akan mampu mengubah pandangan mu terhadap ku." Aslan tidak lagi memanggil Zahrana dengan sebutan 'Ana', hatinya benar-benar pilu dan terluka sebab keputusan Zahrana yang tidak bisa di ganggu gugat untuk mengakhiri cerita asmara mereka.


Aslan memalingkan wajahnya. Ia tidak sanggup lagi untuk melihat wajah Zahrana. Bidadari kecil yang pernah mengisi hari-harinya. Karena satu kesalahan fatal yang di perbuatnya pada Zahrana hari ini, membuat hubungannya dengan Zahrana pun harus terlerai.


Aslan menjauh dari pandangan Zahrana. Ia pun menuju ke tempat wudhu, sebab sebentar lagi waktu shalat Ashar akan tiba. Aslan lebih memilih menenangkan dirinya dengan tetesan air wudhu untuk menenangkan jiwanya. Ia pun berdiam diri di Mushola Pantai Indah Kenangan Bersama, sembari menunggu waktu shalat Ashar.


Aslan tiada henti-hentinya beristighfar, ia benar-benar menyesali semua perbuatannya.


"Ampuni hamba ya Rabb, atas segala kesalahan dan dosa-dosa yang telah hamba perbuat. Maafkan hamba sebab telah merusak kesucian dirinya, maafkan atas cinta ku yang terlalu berlebihan terhadapnya, maafkan aku sebab tidak bisa meredam gejolak nafsuku." Aslan terus meratapi kebodohannya, ia menangis sejadi-jadinya dihadapan Rabb-Nya.


Yusuf menghampiri Aslan yang sedang tertunduk lesu di hamparan sajadahnya. Air matanya tiada henti membasahi wajah tampannya.

__ADS_1


"Akhi, sungguh dirimu telah berada di jalan yang benar. Jangan terlalu meratapi kedukaanmu. Perpisahan memang adalah jalan terbaik untuk dirimu dan Zahrana, mengingat Zahrana belum halal untuk mu begitu pun sebaliknya."


"Sejatinya pacaran di dalam pandangan Islam itu tidak diperbolehkan, mengingat adanya batasan antara seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya. Selain itu pacaran memiliki mudharat yang besar, sehingga tidak jarang memicu kedua belah pihak jatuh kedalam dosa dan perzinahan jika keduanya pun tidak bisa meredam keinginan hawa nafsunya," tutur Yusuf dengan nada penuh keseriusan.


Yusuf pun kembali meneruskan kata-katanya. Selain itu, Allah SWT berfirman :


"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." (Q.S. Al-Isra: 32).


"Berpedoman dengan ayat tersebut, dapat kita ketahui bahwa agama Islam memang jelas sangat melarang adanya pacaran karena termasuk perbuatan zina dan dosa besar, mengingat dampak buruknya hubungan yang di awali dengan proses pacaran sebelum terikat janji suci antara kedua belah pihak."


" Sejatinya pacaran yang di halalkan adalah pacaran setelah menikah, itulah pacaran yang dibenarkan dalam pandangan Islam." Yusuf pun termenung memikirkan ucapannya sendiri, sebab ia pun tak sempurna. Namun ia berusaha menerapkan nilai-nilai Islam yang telah pun di pelajarinya secara perlahan-lahan.


Aslan pun merasa tertohok dengan ucapan Yusuf. Air matanya pun kembali berderai mengingat adegan panasnya bersama Tsamirah Zahrana Az Zahra berapa jam yang lalu. Pikirnya, untaian kata yang di ucapkan oleh Yusuf Amri Nufail Syairazy benar adanya. Ia pun sempat mengalaminya.


Aslan dan Yusuf pun saling berdiam diri, mereka pun sama tafakur dan berzikir sembari menunggu tibanya waktu shalat Ashar.


***


"Princess ... sabar ya? Aku turut berduka-cita atas kandasnya hubungan mu dengan kak Aslan," ucap Fadhilah tanpa filter. Sebab dari sejak tadi ia hanya terdiam menyaksikan perseteruan antara Zahrana dengan Aslan Abdurrahman Syatir yang kini telah berstatus menjadi mantan.


"Loe pikir Si Aslan sahabat ku sudah di jemput maut, ya? pakai turut berduka-cita segala," tutur Virgantara seraya menyentil jidat Fadhilah yang berseloroh tanpa di filter dulu.


"Aww ... sakit kak," pungkas Fadhilah sembari mengelus jidatnya akibat sentilan Virgantara.


"Kalian ini, teman lagi bersedih bukannya dihibur malah asyik di jadikan bahan candaan." Cinta Kiara Khoirani protes pada Fadhilah dan Virgantara.


"Princess ... sabar ya? yakinlah jika setelah kesulitan akan ada kemudahan!" seloroh Cinta seraya memeluk erat Zahrana.


"Aku juga turut prihatin dengan hubungan mu dengan kak Aslan, Ra. Terlepas ada masalah apa diantara kalian aku pun tidak tahu dan tidak ingin mencari tahu kebenarannya, jika perpisahan adalah jalan terbaik untuk kalian berdua, ku do'akan semoga kalian ikhlas untuk menghadapi semua ujian ini." Kirana pun memeluk erat Zahrana di susul pula oleh Fadhilah.


Mereka berempat pun berpelukan sangat erat guna menguatkan Zahrana. Hanya Nandini yang berdiam diri. Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Nandini tidak habis pikir kenapa Zahrana bisa memutuskan kakaknya Aslan dengan begitu saja tanpa memberikan kesempatan untuk Kakaknya mempertahankan hubungan mereka.


Melihat Nandini diam tak bergeming dan tidak ikut merangkulnya Zahrana merasa tidak enak hati dengan diamnya sahabatnya itu.


"Hubby, kita pergi dari sini! Aku sedang tidak baik," ucap Nandini.


"Honey, jangan begini. Hargai keputusan Zahrana dan juga kak Aslan, mungkin saja ada hal yang bersifat pribadi di antara mereka yang tidak boleh orang lain tahu." Arjuna menegahi Nandini agar jangan sampai mengabaikan Zahrana. Mengingat kondisi Zahrana yang belum stabil.

__ADS_1


Pikir Arjuna, jangan sampai Nandini dengan Zahrana saling menjauhi apalagi sampai saling membenci satu sama lain sebab Zahrana telah mengakhiri hubungannya dengan Aslan Abdurrahman Syatir, kakak Nandini Sukma Dewi.


Nandini membuang nafasnya kasar. Ia pun melipat kedua tangannya di dadanya. Ia menatap lekat ke arah Zahrana dan teman-temannya yang kini saling merangkul erat dan menguatkan satu sama lain.


"Maafkan aku Ra, untuk saat ini aku tidak bisa berpihak pada mu. Aku kecewa terhadap mu, Ra." Nandini berbisik dalam hatinya. Kemudian ia menggenggam erat jemari tangan Arjuna kekasihnya. Ia ingin menjauh dari pandangan Zahrana dan teman-temannya yang lainnya.


Namun, belum sempat Nandini beranjak pergi dari hadapan Zahrana dan teman-temannya. Suara kumandang adzan pun menggema di Musholla Pantai Indah Kenangan Bersama.


Rivandra Dinata Admaja yang sejak tadi terdiam melihat hal yang terjadi antara Zahrana dan Aslan, membuat ia termangu. Ia pun tak menyangka pada akhirnya cerita cinta Zahrana dan Aslan harus berpisah di ujung jalan lantaran Zahrana kekeuh ingin berpisah dengan Aslan Abdurrahman Syatir.


Mendengar kumandang adzan sholat Ashar, Rivandra pun segera melangkahkan kakinya menuju tempat wudhu di ikuti pula oleh kakaknya Virgantara.


"Brother, jangan terburu-buru!" Ucap Virgantara seraya menepuk pundak adiknya .


"Kak Virgan ... ayo kita sama-sama ambil wudhu kak," ucap Rivandra seraya mengajak kakaknya menuju tempat berwudhu.


Virgantara dan Rivandra pun kompak mengambil wudhu guna menunaikan ibadah sholat Ashar.


***


"OMG!" pekik Fadhilah, Cinta dan Kirana.


"Jadi yang mengumandangkan adzan itu adalah kak Aslan Abdurrahman Syatir, cepat sekali kak Aslan taubat. Suaranya merdu betul," ucap Fadhilah yang selalu saja berbicara tanpa filter.๐Ÿ˜๐Ÿ˜


"Iya, luar biasa sekali pesona kak Aslan." Cinta Kiara Khoirani ikut terkesima mendengar suara kumandang Adzan yang di gemakan oleh Aslan Abdurrahman Syatir.


"Maa syaa Allah ... kak Aslan luar biasa!" pungkas Kirana Larasati.


"Maa syaa Allah ... sungguh aku tak menduga jika dirimu bisa mengumandangkan adzan semerdu ini," Zahrana pun bermonolog di dalam hatinya.


"Maafkan diriku kak, sebab aku tidak bisa lagi meneruskan hubungan kita. Bukan aku tak cinta pada mu, namun inilah jalan terbaik untuk kita. Agar kita bisa muhasabah diri kita, setelah pun kita alpa atau pun lalai dari mengingat kebesaran Rabb kita. Aku do'akan semoga Allah Subhanahuwata'ala selalu menjaga kakak, semoga secercah hidayah senantiasa menyelimuti hati dan jiwa kita yang sempat rapuh sebab terpedaya oleh setetes kenikmatan dunia yang semu," bisikan hati Tsamirah Zahrana Az Zahra.


"Di sini di Mushola Pantai Indah Kenangan Bersama, menjadi saksi bisu akhirnya cerita kita. Biarlah ku kubur semua harapan dan impian yang pernah kita bina bersama dulu, di dalam lubuk hati ku yang terdalam. Hari ini pun menjadi akhir cerita kita harus terpaksa berpisah diujung jalan, maafkan aku kak Aslan sebab telah menggores luka di hatimu." Zahrana terus merintih dalam hati kecilnya mengingat kini pun hubungan antara dirinya dan Aslan Abdurrahman Syatir pun kini kandaslah sudah. Zahrana mengusap air matanya yang dari sejak tadi membasahi pipi mulusnya.


Selang berapa menit kemudian kumandang adzan yang di bawakan Aslan Abdurrahman Syatir usai sudah. Lafadz iqomat pun di bawakan oleh Rivandra Dinata Admaja. Sholat Ashar pun segera di mulai dengan Imam Sholat mereka sore ini adalah Yusuf Amri Nufail Syairazy.


Berapa anak manusia itu pun menunaikan ibadah sholat Ashar berjama'ah dengan khusu'nya. Mereka semua nampak menikmati lantunan ayat suci Al-Qur'an yang di imamkan oleh Yusuf Amri Nufail Syairazy.


Mereka semua tenggelam dalam kekhusyukan dalam sujud dan do'a sebagai bentuk ketundukan terhadap Rabb semesta alam dalam menikmati ibadah yang bernama Sholat.

__ADS_1


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


Pencerahan ๐Ÿ‘‰โ€œKetika hatimu terlalu berharap kepada seseorang, maka Allah timpakan pada mu pedihnya sebuah pengharapan. Supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap kepada selain-Nya. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.โ€ - Imam Syafiโ€™i


__ADS_2