Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
53 . Di Bawah Naungan Cinta (Pov Yusuf)


__ADS_3

Aslan Abdurrahman Syatir dan Nandini adiknya, hendak berangkat bersama-sama ke Mesjid.Mereka hendak menunaikan Sholat Magrib berjama'ah.


"Kak,aku singgah kerumah Zahrana duluan.Kakak nggak usah ikut, khawatir ada Bunda Fatimah nanti.Kakak pergi duluan saja, nanti kami menyusul,"ujar Nandini.


"Ya Allah ... Dek, kakak juga hendak mengembalikan gerobak telur ayam Buya Harun, yang tadi kakak bawa.Sebab, kapasitas telur yang kakak beli di Buya Harun tadi cukup banyak, nggak bisalah kakak membawanya sekaligus."


"Ceeilee ... yang ingin mengembalikan gerobak cinta, segitunya cari kesempatan dalam kesempitan,"goda Nandini.


"Bisa aja kamu,Dek.Kakak hendak mengumpulkan keberanian, bagaimana nantinya bertemu lagi dengan Bunda Fatimah nantinya.Tadi aja, beliau memandang sinis pada kakak, berdecak pinggang pula, saat kakak refleks membantu Zahrana memungut jemuran yang jatuh berhamburan ke tanah,"ujar Aslan keceplosan.


"What???kak Aslan Abdurrahman Syatir, yang gagah perkasa, yang paling manis dan tampan sejagat raya, membantu Bidadari kecilnya untuk mengangkat jemuran.Apa Nandini nggak salah dengar,Kak?"pekik Nandini.


"Ya Allah ... Dek, serius amat.Lagian nggak ada salahnya kok,membantu pekerjaan wanita.Sekalian, belajar menjadi sosok suami idaman.Rosulullah juga membantu meringankan pekerjaan isteri-isterinya, mencuci,memasak, menyapu, mengepel dan lain-lainnya adalah termasuk Sunnah Nabi kita.Agar terciptalah rasa kasih, cinta dan sayang antara dua insan yang telah terikat janji suci pernikahan, yang seperti orang-orang bilang itu, sakinah, mawadah, warahmah,"ujar Aslan dengan nada seriusnya.


"OMG(Oh My God),kakak.Bernas sekali pemikiran kakak, sudah jauh kesana, membahas tentang pernikahan pula.Yang jadi masalahnya, kakak dan Zahrana kan,belum menikah."


"Sabar yach,Kak.Nanti jika sudah halal baru diterapkan itu semua, sekarang kan, Zahrana masih kecil.Mesti di pupuk dulu biar cepat gedenya,"celoteh Nandini.


"Memangnya, tanaman Dek.Harus di pupuk dulu,"ujar Aslan.


Aslan menepuk jidatnya pelan.Ia merasa sangat bodoh di hadapan adiknya, jika sudah membahas tentang Zahrana,ia pun suka keceplosan.


"Ya udah,Kak.Nggak usah di pikirkan, buruan berangkat ke Mesjid, nanti keburuan Magrib,"pungkas Nandini.


Baru hendak melangkah, tiba-tiba dari arah belakang, Cinta dan Kirana ngos-ngosan akibat berlari ingin mengejar Nandini.Mereka juga hendak berjama'ah di Mesjid.


"Nandini ... tunggu kita!"pekik Cinta dan Kirana.


Nandini menoleh.


"Maa syaa Allah ... Cinta, Kirana.Ayo buruan! ... kita hendak kerumah Zahrana dulu,"pungkas Nandini.


"Oke,Din."Cinta dan Kirana mengikuti instruksi Nandini.


"Hai,kak Aslan ... apa kabar? "tanya Cinta Kiara Khoirani dengan rasa percaya dirinya.


"Alhamdulillah ... kakak baik,"ujar Aslan singkat.


Aslan pun segera berjalan di depan seraya mendorong gerobak milik Buya Harun, yang ingin segera ia kembalikan setelah transaksi jual beli telur ayam ba'da Ashar tadi.


"Kak,kok ke Mesjid pakai dorong gerobak segala, hilang dong kerennya,"timpal Cinta.


Aslan tersenyum geli, mendengar ucapan Cinta.


"Iya,Cin.Tadi sore,habis sholat Ashar kakak ku membeli telur ayam dirumah Buya Harun untuk stok karena telur yang di beli sebanyak 200 butir,kan berat.Jadi,pinjam gerobak Buya Harun,"terang Nandini.


Kirana yang dari sejak tadi diam, seketika berujar."Jadi, ini gerobak punya Buya Harun?"tanya Kirana dengan rasa terkejutnya.

__ADS_1


Pikir Kirana, betapa istimewanya Zahrana bagi Aslan Abdurrahman Syatir.Sampai rela memborong telur ayam begitu banyaknya,"ganteng-ganteng dorong gerobak pula,"cicit Kirana.


"Beruntung sekali Zahrana di cintai oleh kak Aslan juga kak Rivandra.Tapi aku benar-benar tidak rela jika kak Rivandra harus tersakiti, apabila nantinya ia lebih memilih kak Aslan."Pikiran Kirana berkecamuk kemana-mana,ia masih baper setelah mengetahui jika sahabatnya Zahrana mendua.


"Ya Allah, maafkan aku atas segala rasaku.Terus memikirkan kak Rivandra, yang sama sekali tidak tahu akan perasaan ku,"bathin Kirana.


"Kir, ada apa dengan mu?aku perhatikan dari sejak disekolah tadi,kau tidak banyak bicara, sampai sekarang pun masih terus diam,"tanya Nandini.


"Iya,Kir ... apa kamu sedang sakit?"timpal Cinta.Mereka semua bingung dengan perubahan sikap Kirana hari ini.


"Aku tidak apa-apa, hanya kurang mood saja,"ucap Kirana datar.


"Ya sudah ... ayo percepat langkahnya,kak Aslan hampir sampai di rumah Zahrana,"ujar Nandini pada Cinta dan Kirana.


***


Aslan Abdurrahman Syatir, telah sampai di rumah Zahrana,di susul oleh Nandini, Cinta dan Kirana.


Mereka berpapasan dengan Buya Harun dan Raihan yang hendak berangkat ke Mesjid.


"Assalamu'alaikum ... Buya?"sapa Aslan mewakili semuanya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... nak Aslan, sudah selesaikah semua urusannya?"tanya Buya Harun.


"Alhamdulillah ... sudah Buya,"ujar Aslan seraya mengembalikan gerobak dorong milik Buya Harun.


Aslan pun menaruh gerobak tersebut ditempatnya.Ia pun tidak sengaja berpapasan dengan Zahrana.


"Ana ... "panggil Aslan.


Zahrana pun sekilas menatap nanar wajah Aslan yang memang sangat dirindukannya.


"Kakak, terimakasih untuk sore tadi sudah membantu Ana.Maafkan jika sikap Bunda ku yang kurang bersahabat, "ujar Zahrana seraya menundukkan pandangannya.


"Tidak apa-apa,An.Namanya juga orang tua, pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya,"tutur Aslan bijak.


Obrolan mereka terhenti, lantaran pekikan Nandini, Cinta dan Kirana.


"Princess, aku kangen pada mu,"ujar Nandini seraya merangkul Zahrana.


"Ceeilee ... yang sedang terbawa rindu, kita sampai terlupakan."Cinta protes seraya ikut merangkul Zahrana.Sedangkan Kirana tidak banyak bicara, hanya diam ditempat.


"Kok,kamu diam Kir.Kenapa tidak ikut merangkul ku?"tanya Zahrana, sebab seharian ini gelagat Kirana nampak aneh.


"Aku nggak apa-apa,Ra.Mari kita berangkat ke Mesjid,"ajak Kirana pada Zahrana dan Cinta.


Aslan berjalan duluan, ia sengaja menjaga jarak agar teman-teman Zahrana tidak banyak tanya perihal yang menyangkut hubungannya dengan Zahrana.

__ADS_1


***


Ibadah sholat Maghrib pun telah usai, Zahrana dan teman-temannya segera kembali ke kediaman Zahrana.Mereka hendak belajar mengaji di Padepokan Buya Harun.


Proses belajar mengajar di Padepokan Buya Harun tetap berjalan dengan penuh hikmat seperti hari-hari biasanya.


Para Santriwan dan Santriwati mendaras Qur'an dan menghafalkannya, dengan sangat antusias.Begitupun, dengan Nandini, Cinta dan Kirana.Sedangkan Zahrana, seperti biasanya aktif membantu Ayahnya mengajar para Santri mendaras Qur'an.Sebab, Zahrana benar-benar telah memahami ilmu tajwid dengan baik dan benar, sehingga ia dipercayakan oleh Buya Harun untuk ikut mengajar para Santrinya.Tujuannya, tidak lain untuk melatih Zahrana dari sejak dini untuk terus berproses agar bisa menjadi sosok panutan dimasa depan nanti.


Pelajaran mengaji di Buya Harun telah usai,para Santri berbaris rapi menuruni anak tangga satu-persatu.Agar tidak ada insiden yang tidak diinginkan seperti halnya Zahrana tempo hari.


Zahrana dan Yusuf Amri Nufail Syairazy pun, kerapkali turun di baris akhir.


Zahrana menundukkan pandangannya,sama seperti halnya Yusuf juga menundukkan pandangannya.Ia masih terngiang-ngiang bagaimana insiden yang terjadi antara ia dan Zahrana tempo hari.


Tak pelak,bermula dari kejadian itu membuat Yusuf terpesona pada sosok Zahrana.Ia pun perlahan terus mengagumi Zahrana dalam diamnya.Rasa itu,ia simpan rapi di dalam hatinya, tanpa sepengetahuan Zahrana.Ia tidak ingin mengungkapkan perasaannya, sampai saat itu tiba,ia pantas untuk Zahrana.


Yusuf tidak ingin mengumbarkan perasaannya terhadap Zahrana, apalagi sampai berpacaran.Itu benar-benar tidak ada dalam kamus hidupnya.Ia benar-benar memegang tuntunan syari'at, bahwa pacaran itu tidak diperbolehkan dalam syari'at Islam.


Zahrana dan Yusuf saling berpandangan sekilas, Yusuf mempersilahkan Zahrana untuk turun duluan dan ia menyusul terakhir.


"Ya Allah ... jika Zahrana adalah jodohku, tolong pertemukan dan dekatkan aku dan dirinya pada saat yang tepat.Disaat usia kami memang sudah pantas untuk mengukir janji.Namun jika ia bukan jodohku, tolong jaga rasaku.Gantikanlah dengan jodoh yang lebih baik, yang lebih Engkau ridhoi untuk ku.Sebab, Engkaulah pemilik jiwa dan cinta yang menguasai ku.Ya Allah ... jangan biarkan hawa nafsu ku menguasai jiwa ku lantaran pesonanya yang membius ku.Benar rasa itu terus bertumbuh dihatiku, namun tolong genggamlah rasaku dalam sujud ku, agar aku tak tersesat dalam rasaku.Disini diatas sajadah cinta,ku ungkapkan rasaku yang menyelimuti jiwaku.Cukup hanya Engkau yang tahu ... ya Rabbi."Do'a Yusuf di dalam hati, bahwa benar ternyata ia pun jatuh cinta pada sosok Tsamirah Zahrana Az Zahra.


"Kak Yusuf, terimakasih sudah menolong Zahrana tempo hari,"ujar Zahrana disaat ia hendak menuruni anak tangga Padepokan.


Zahrana pun membelakangi Yusuf.


Yusuf tertegun sejenak, berusaha menguasai ritme hatinya.Ia tidak ingin Zahrana tahu akan perasaannya.


"Sama-sama,Ra.Kakak sudah cukup senang melihat Zahra sudah pulih kembali, harapan kakak semoga Zahra selalu dalam naungan cinta dan kasih sayang Allah.Semoga Allah senantiasa melindungi dan merahmatimu dimana pun dirimu berada,"tutur Yusuf menatap sekilas Zahrana ketika mereka telah bebas menuruni anak tangga.Kemudian ia kembali menundukkan pandangannya.


Ada rasa yang mewarnai dalam relung hati Yusuf, betapa ia benar-benar jatuh hati terhadap Bidadari kecil dihadapannya.


Zahrana yang tidak peka dengan apa yang dirasakan Yusuf terhadapnya, hanya bisa mengaminkan do'a Yusuf.


"Do'a yang sama untuk kak Yusuf juga,"tutur Zahrana seraya menundukkan pandangannya.


Yusuf hanya menggangguk pelan.Ia tidak sanggup untuk terus berlama-lama berhadapan dengan Zahrana.


"Ra,kakak pamit pulang dulu.Semoga Allah menjaga mu dalam naungan cintanya, begitu pun dengan diriku,"ujar Yusuf sebelum ia beranjak pergi.


Zahrana terkesima, jantungnya terasa berdetak ketika Yusuf mengucapkan kata dibawa naungan cinta.Bersama desiran angin malam Zahrana melepaskan Yusuf dari pandangannya.Sampai Yusuf tak terlihat lagi dari pandangannya.


Sementara,di seberang jalan Aslan Abdurrahman Syatir menatap nanar wajah Zahrana.Ada nyeri di ulu hati, ketika Aslan melihat interaksi Zahrana dan Yusuf.Padahal Yusuf dan Zahrana tidak melakukan apa-apa.Namun rasa cemburu tiba-tiba merasuki kedalam relung hati Aslan Abdurrahman Syatir.


Interaksi antara Zahrana dan Yusuf, juga Aslan Abdurrahman Syatir tertangkap oleh pandangan Buya Harun Al Aziz yang hendak pergi ke Mesjid guna menunaikan ibadah sholat Isya.


"Ya Allah ... hamba baru menyadari jika Zahrana Puteri ku mulai beranjak remaja.Sehingga ia mulai dikagumi oleh banyak pemuda,"cicit Buya Harun.

__ADS_1


__ADS_2