Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
166 . Kemarahan Nandini ( pov Arjuna Nandini )


__ADS_3

"Zainal ... tak mudah bagi ku melupakanmu jejak mu yang pernah menghiasi relung hatiku, walaupun hanya sekejap ku rasakan keindahan sesaat bersama mu!" bisikan hati Nandini Sukma Dewi.


"Tsamirah Zahrana Az Zahra ... terima kasih dahulu kau pernah menghiasi ruang hati ku yang sempat berkarat oleh hausnya jiwa ku akan belaian kasih yang tulus dari mu. Bersama mu, mengajarkan ku arti cinta sejati dan ketulusan, kau telah mengajari ku arti kesabaran. Kau pun telah menyentuh hati dan jiwa ku untuk bisa meninggalkan segala macam bentuk kemaksiatan dan kini aku pun akan berusaha menjemput hidayah ku yang sempat terhempas oleh keinginan hawa nafsu buruk ku!" bisikan hati Aslan Abdurrahman Syatir.


Aslan dan Nandini pun saling terpaku, keduanya pun kembali masuk ke dalam rumahnya setelah mengantarkan Zaid dan Zahrana juga Zainal dan Barra sampai ke teras rumahnya.


Tinggal lah Arjuna, Rangga dan Virgantara yang masih belum pulang. Mereka rencananya akan pulang ba'da Magrib. Seketika suasana pun hening setelah kepergian Zahrana dan Muhammad Zaid Arkana dari hadapan mereka.


"Hubby, sepertinya malam ini kita tunda dulu lamarannya. Ayah dan ibu ku pun masih berkumpul bersama teman-temannya. Ada reunian bersama teman-teman seperjuangannya tempo dulu," ucap Nandini tanpa menatap ke arah Arjuna.


Arjuna diam sesaat. Walaupun dengan berat hati, ia pun akhirnya menyetujui keputusan Nandini.


"Baiklah, kalau begitu kita atur lagi jadwal lamarannya. Aku berharap secepatnya kita segera melangsungkan pernikahan. Aku tidak ingin lagi menunda-nunda!" sarkas Arjuna.


"Insya Allah!" ucap Nandini dengan langkah gontai.


Rangga dan Virgantara juga Aslan yang dari sejak tadi menjadi pendengar setia obrolan Nandini dan Arjuna mereka pun hanya mengiyakan keinginan kedua pasangan muda tersebut.


"Baiklah, jika itu keputusan kalian berdua nanti kakak akan sampaikan pada Ayah Anjasmara dan Ibu Ratna Anjani. Sekarang mari kita mempersiapkan diri untuk menunaikan ibadah shalat Maghrib. Kakak hendak ke Mesjid dulu! adakah yang ingin ikut berjama'ah di Mesjid?" tanya Aslan pada ketiga anak muda yang ada di hadapannya.


"Aku ikut!" ucap Virgantara.


"Aku juga!" ucap Rangga Sahadewa.


"Maaf, aku menunggu di sini saja. Sebab bagian perut dan dada ku terasa sangat sakit sekali, akibat---"


Ucapan Arjuna terjeda, hampir saja ia keceplosan di hadapan Aslan jika sempat terjadi baku hantam antara dirinya dan Zainal ketika mereka berada di kawasan Rumah Sakit Medika Stania.


Aslan mengernyitkan dahinya, mendengar ucapan Arjuna. Ia tidak mengerti mengapa Arjuna menyebutkan jika ia sedang sakit.


"Maksud mu, kamu sedang sakit? sakit akibat apa?" tanya Aslan serius.


"Nggak apa-apa, Kak. Perut ku tiba-tiba sakit, dada ku terasa sangat nyeri. Tapi, dokter telah memberikan ku obat pereda nyeri, kok."


"Baiklah, kau jaga kesehatan dan stamina mu agar menyambut hari pernikahan kalian nanti diri mu terlihat bugar. Kami pergi ke Mesjid dulu, jaga Nandini baik-baik. Dan jangan pernah macam-macam!" pungkas Aslan.


Aslan bersama Virgantara juga Rangga Sahadewa pun bergegas berangkat ke Mesjid guna menunaikan ibadah shalat Maghrib yang tinggal 5 menit lagi.


Kini, hanya tinggal Nandini dan Aslan di dalam rumahnya. Nandini pun segera bergegas ingin mengambil wudhu guna menunaikan ibadah sholat Maghrib. Namun, baru selangkah ia ingin menuju ke arah dapur pergerakannya tertahan hanya dengan waktu seperkian detik Arjuna dengan sigap menarik Nandini dari arah belakang.


Arjuna melingkari kedua tangannya di pinggang Nandini dengan nafas beratnya, "Nandini aku rindu padamu!" Arjuna menghembuskan nafasnya didekat daun telinga Nandini, sehingga membuat bulu kuduk Nandini terasa meremang oleh gerakan Arjuna yang tiba-tiba.


"Hubby, lepaskan! aku hendak berwudhu dan menunaikan ibadah shalat Magrib," ucap Nandini dengan jantung yang berdebar-debar.


Arjuna menarik dagu Nandini, ia menatap wajah calon isterinya itu dengan tatapan penuh nafsu.


"Nandini aku sangat menginginkan mu, jangan menolak ku!" ucap Arjuna dengan menempelkan bibirnya di bibir ranum Nandini Sukma Dewi, sehingga membuat Nandini refleks mendorong tubuh Arjuna dengan kekuatan penuh.


Arjuna pun terhuyung, ia merasa kecewa dengan penolakan Nandini terhadapnya.

__ADS_1


"Honey, kenapa kau selalu menolak ku akhir-akhir ini? kemarin kau beralasan tidak ingin mencium aroma tubuh ku, dan sekarang apalagi? aku yakin semua ini ada hubungannya dengan Si Kutu Buku itu!" ucap Arjuna berang.


"Hubby, maaf. Aku akan melakukan hubungan tersebut ketika kita sudah menikah, aku tidak ingin menambah dosa ku yang sudah menumpuk oleh sebab kemaksiatan yang kita perbuat!" ucap Nandini penuh penegasan.


"Jangan sok suci kau Nandini Sukma Dewi, bukankah dirimu sudah menikmati manisnya madu cinta dengan ku ketika malam itu!" ucap Arjuna dengan kembali menarik dagu Nandini secara kasar.


Arjuna mencium dan menyesap bibir Nandini dengan beringasnya. Ia membelitkan lidahnya dengan gerakan cepat didalam rongga mulut Nandini, tidak sedikit pun ia berniat untuk melepaskan tautan bibirnya. Sehingga membuat nafas Nandini tersengal oleh ciuman Arjuna yang begitu penuh ambisi dan nafsu yang tinggi.


"Hmpttttt ... " Nandini refleks mendorong tubuh Arjuna dengan kekuatan tinggi, ia terpaksa menggunakan ilmu bela dirinya guna melepaskan diri dari kungkungan Arjuna.


"Brukkk ... Plakkk!" Arjuna jatuh tersungkur oleh tendangan dan pukulan Nandini Sukma Dewi, tepat mengenai dada dan otot perutnya. Arjuna meringis kesakitan, ia pun mengumpulkan tenaganya untuk bangkit berdiri.


Selain itu, Arjuna mengusap pipinya yang memanas oleh tamparan Nandini yang mendarat sempurna di pipinya. Arjuna tidak menyangka jika aksi nekatnya menyerang Nandini dengan nafsu bejatnya dapat memancing kemarahan Nandini terhadapnya.


"Jaga ucapan mu Arjuna Restu Pamungkas! aku bukan wanita murahan atau pun wanita jal*ng yang sesuka hati mu untuk mereguk manisnya, aku menyesal telah jatuh hati pada mu. Aku menyesal pernah mengenal mu!" ucap Nandini dengan Nada yang sangat tinggi.


"Hiks ... hiks ... hiks!" Nandini menangis perih, air matanya luruh lah sudah. Ia sangat menyayangkan ambisi Arjuna yang terlalu bernafsu memperturutkan keinginan birahinya, tanpa menghargai dan menghormati serta menjaga harkat martabatnya sebagai seorang wanita.


"Aku tahu, aku berlumur dosa. Aku tahu aku telah melakukan kesalahan fatal dan kemaksiatan bersama mu, dengan menyerahkan mahkota berharga ku terhadap mu. Namun, tidak begini seharusnya kau bersikap!" ucap Nandini dengan berlaku pergi dari hadapan Arjuna Restu Pamungkas.


Arjuna terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa. Sebab, ia menyadari jika ia memang bersalah. Namun, ambisi dan egonya begitu tinggi ketika berhadapan dengan Nandini Sukma Dewi. Namun, kali ini Arjuna merasa sangat khawatir. Ia takut kalau-kalau Nandini menolak menikah dengannya.


Bagaimana pun juga, Arjuna masih menyayangi Nandini dan calon bayinya. Sebejat-bejatnya Arjuna, ia masih memiliki nurani untuk disayangi dan menyayangi.


Arjuna hendak menyusul Nandini Sukma Dewi, namun Nandini sudah berjalan secepat kilat menuju kamar mandi. Ia pun mengulang ritual mandinya untuk yang kedua kalinya.


Diselangi isak tangisnya, Nandini mengguyuri seluruh tubuhnya dengan air. Meskipun itu hanya berupa ciuman, ia merasa sangat kotor atas apa yang telah diperbuat oleh Arjuna terhadapnya barusan.


Air satu bak mandi hampir habis disirami oleh Nandini ke seluruh tubuhnya. Ia benar-benar merasa sangat hina dan kotor.


"Ya Allah ... aku benci dan aku jijik dengan diri ku sendiri, aku kotor!" ucap Nandini di selingi isak tangisnya.


Arjuna mengetuk pintu kamar Nandini dengan kekuatan penuh.


"Tok ... tok ... tok, Nandini buka pintu kamarnya atau aku dobrak!" pekik Arjuna tegas.


Namun, Nandini seolah-olah tidak mendengar. Ia terus mengguyur tubuhnya dengan air. Ia sengaja menutup pintu kamarnya agar Arjuna tidak menerobos masuk ke kamar tidurnya, sebab Nandini tahu jika Arjuna selalu nekad untuk memenuhi segala keinginannya.


Suara kumandang adzan Maghrib pun bergema diseluruh Desa XX tempat kediaman Nandini Sukma Dewi.


Nandini segera menghentikan ritual mandinya. Hari ini sudah dua kali ia mandi sore. Oleh sebab ciuman Arjuna membuatnya merasa kotor dan harus membersihkan dirinya agar bisa khusu' di dalam menunaikan ibadah shalatnya.


Nandini pun menghamparkan sajadahnya, ia pun sholat dengan khusu' nya, dalam sujudnya ia menangis memohon ampunan pada Rabb-Nya atas segala dosa yang telah di perbuatnya.


"Ya Allah ya Rabb, Engkau lah Zat yang Maha pemberi segala maaf. Hamba yakin ampunan mu jauh lebih besar daripada dosa yang hamba perbuatan. Wahai Zat yang Maha penerima taubat, terimalah taubat hamba. Sungguh! hamba bertaubat kepada-Mu atas segala dosa dan kemaksiatan yang telah hamba perbuat. Izin kan hamba untuk meniti jalan-Mu ya Rabb jalan yang Engkau ridhoi di dunia hingga akhirat."


"Ya Allah ... berikan hamba kekuatan dan kesabaran dalam melalui setiap ujian kehidupan ini, mudahkanlah segala urusan hamba. Jika memang sosok Arjuna Restu Pamungkas adalah yang terbaik yang kau kirimkan untuk ku, bukakanlah pintu hidayah-Mu untuk dirinya. Agar ia bisa membimbing ku menjadi sosok imam yang sama-sama berusaha untuk menempuh jalan-Mu. Bimbing ia menjadi sosok imam dan Ayah yang baik untuk anak-anak ku nantinya."


"Ya Allah ya Rabbi, wahai Zat yang membolak-balikkan hati. Tolong hapus rasa cinta ku pada sosok Zainal jika memang tidak Engkau izinkan aku untuk bersama dengannya. Sungguh aku tak kuat menahan rasa cinta ku pada dirinya yang tak kesampaian."😢😢

__ADS_1


"Robbanaa aatina fiddunya hasanah, wafil aakhirati hasanah waqinaa 'adzaa bannaar ( Wahai Tuhan kami, anugerahi kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jauhkan kami dari api neraka)."


"Kabulkanlah do'a hamba mu yang hina dan papah ini ya Rabb. Aamiin ... aamiin ya Mujibbasailin ...."


Air mata Nandini pun luruh lah sudah, ia menangis dalam do'a dan sujudnya. Do'a sapu jagad pun menjadi penutup do'anya. Ia pun segera merapikan mukena dan sajadahnya serta menaruh perlengkapan alat sholatnya pada nakasnya.


Nandini segera keluar dari dalam bilik kamarnya.


"Ceklek!" Nandini membuka pintu kamarnya.


Arjuna yang sejak tadi berada di balik pintu pun terhenyak ketika Nandini membuka pintu kamarnya.


Nandini memegang dadanya, lantaran spot jantungnya ketika ia menyadari bahwa Arjuna sejak tadi menunggunya di balik pintu kamarnya.


"Hubby, kau--?"


"Honey, maafkan aku. Aku yang salah! jangan tinggalkan aku, sungguh ... Aku tidak bisa hidup tanpa mu!" ucap Arjuna dengan menarik Nandini ke dalam pelukannya.


Arjuna mengusap lembut pucuk kepala Nandini. Kali ini Nandini membiarkan perlakuan manis Arjuna terhadapnya.


"Aku sudah memaafkan mu, Hubby. Aku tidak akan meninggalkan mu, demi calon bayi kita. Besok malam datang lah kemari bawa kedua orang tua mu, aku ingin pernikahan kita segera di percepat. Kamu benar, kita tidak boleh menunda-nunda lagi. Jangan sampai kehamilan ku menjadi gunjingan masyarakat sekitar jika mereka tahu aku sedang mengandung," ucap Nandini dengan nada serius.


"Maafkan aku sebab tadi refleks memukul dan menampar mu, Hubby!" ucap Nandini dengan mengelus pipi Arjuna. Kemarahan Nandini pun perlahan melunak setelah ia selesai menunaikan ibadah sholatnya.


"Terimakasih, Honey! Aku mencintaimu," ucap Arjuna dengan mengecup kening Nandini.


"Iya, Hubby!" ucap Nandini dengan mengangguk pelan.


Arjuna merasa lega melihat kemarahan Nandini telah melunak, tidak seperti sebelumnya. Ia merasa tenang Nandini sudah memaafkannya dan bersikap baik padanya.


"Baiklah, kau pasti belum melaksanakan ibadah sholat Maghrib. Segera lakukan ritual wudhu mu! Aku akan menyiapkan perlengkapan alat sholat mu, kamu sholat di kamar kak Aslan saja!" ujar Nandini dengan menunjukkan kamar Aslan yang di dalamnya pun terdapat kamar mandi khusus pribadi Aslan, di sana lah tempat Arjuna untuk melakukan ritual wudhunya.


"OMG! biasanya aku jarang melakukan ibadah sholat wajib, kadang-kadang saja jika aku mau! Namun, demi dirimu aku akan segera melaksanakan ibadah shalat ini!" bathin Arjuna.


"Entah di terima atau tidak amalan ibadah ku, namun sebagai muslim. Sholat 5 waktu itu wajib di kerjakan, sebejat-bejatnya diri ku. Aku meyakini bahwa Tuhan itu ada!" bathin Arjuna. Ia pun segera melakukan ritual wudhunya dan melaksanakan ibadah shalat Maghrib-nya di kamar pribadi Aslan Abdurrahman Syatir.


🌷🌷🌷


Untaian mutiara hikmah 👉 "Saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah, dan kita benar. Apakah orang itu memang jahat atau aniaya, bukan! Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati." ( Tere_Liye )


🌹


🌹


🌹


Sambil menunggu update selanjutnya, yuk mampir ke karya Author bestie. Tentunya dengan cerita yang seru dan tak kalah menariknya.😊😘


Judul karyanya : Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

__ADS_1


Nama Authornya : Nirwana Asri



__ADS_2