Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
150 . Kesedihan Zahrana


__ADS_3

Hampir saja Muhammad Zaid Arkana hilang kendali, namun mengingat status Zahrana yang bukan mahramnya, Zaid segera menundukkan pandangannya.


"Ma-af, lanjutkan makan siang mu!" ucap Muhammad Zaid Arkana. Ia pun segera menjauhkan diri dan menjaga jarak dari Zahrana.


Zahrana pun mengangguk pelan. Ia pun menyuapkan nasi kedalam mulutnya, pikiran dan hatinya traveling entah kemana. Mengingat Muhammad Zaid Arkana hampir saja lepas kendali dan ingin menciumnya.


"Ya Allah ... perasaan apakah ini? kenapa aku jadi lemah seperti ini? maafkan Zahra kak Yusuf, sebab hampir gagal menjaga kesetiaan dan kesucian diri ini! Bisikan hati Zahrana.


Di sela suapan makannya Zahrana masih saja terbayang-bayang dengan perlakuan manis Zaid terhadapnya. Ia bingung kenapa sedetik pun ia tidak bergeming untuk menolak segala perhatian Zaid terhadapnya.


"Ya Allah ... apa yang terjadi pada ku? Kenapa biduk keimanan ku terasa goyah ketika berada di dekatnya?" Zahrana menyesali kebodohannya.


Sementara Zaid duduk bersandar dikursi santai Aisyah Boutique Collection, yang tak jauh dari tempat duduk Zahrana. Zaid pura-pura memainkan ponselnya. Padahal sejatinya, ia sebentar-sebentar melirik ke arah Zahrana.


"Astagfirullah ... jika terus seperti ini, sungguh aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya," bisikan hati Zaid yang mulai resah dan tidak bisa menahan dirinya ketika berada di dekat Zahrana.


"Mungkinkah aku harus mengutarakan niat ku untuk mempersuntingnya, setebal apa pun iman seseorang jika sudah berhadapan dengan Zahrana, aku tidak yakin mereka mampu menahan dirinya."


"Buktinya saja Si Pramuja juga mencari kesempatan dalam kesempitan, walaupun ia sudah mengetahui bahwa Zahrana adalah sepupunya, ia masih saja nempel dengan Zahrana bermoduskan status sepupu." Zaid menggerutu di dalam hatinya.


Zahrana pun selesai dari makan siangnya, Zaid segera siaga menyodorkan minuman pada Zahrana.


"Di minum dulu, Ra airnya!"


Zahrana pun segera menyeruput air putih tersebut dan meminumnya sampai tandas.


"Terimakasih, Kak!" ucap Zahrana terengah-engah.


Akibat terlalu banyak melamun, ia tidak menyadari jika nasi Padang dalam porsi yang besar habis di lahapnya. Pikiran dan perasaan Zahrana tidak menentu, ia nampak bingung mengartikan perasaannya sendiri.


"Ya Allah ... aku tidak boleh goyah, 4 tahun sudah aku menjaga diri ku untuk tidak menempuh jalan pacaran dan juga tidak tergoda oleh laki-laki manapun. Sekalipun ia tampak alim dan Sholeh, sebab laki-laki yang Sholeh tidak akan menyentuh wanita yang bukan mahramnya kecuali dalam keadaan darurat, dan aku menemukan semua ke sholihan itu hanya pada diri kak Yusuf Amri Nufail Syairazy," bathin Zahrana dengan menimbang-nimbang perasaannya.


"Kak Zaid memang Sholih, namun kak Yusuf jauh lebih Sholih!" cicit Zahrana.


"Kau ini, kenapa dari sejak tadi melamun terus? lihat ada butiran nasi lengket di sudut bibir mu," ucap Zaid dengan membersihkan sisa makanan yang tersisa di sudut bibir Zahrana dengan menggunakan tissue.


Zahrana terhenyak, ia kaget dengan aksi Muhammad Zaid Arkana yang spontan membersihkan sudut bibirnya.


Zahrana nampak gelagapan, wajahnya tiba-tiba merona. Detak jantungnya pun berdegup lebih kencang dari biasanya. Perlakuan manis yang di lakukan Muhammad Zaid Arkana terhadapnya tak ayal membuat hati Zahrana merasakan perasaan yang tak semestinya harus ia rasakan, di saat ia telah berkomitmen untuk menjaga hatinya hanya untuk Yusuf Amri Nufail Syairazy. Selain itu, Zahrana pun sedang berada dalam proses hijrahnya.


"Ya Allah ... jangan sampai aku jatuh hati dengan Kak Zaid, jangan pula Kak Zaid sampai terpana oleh diriku. Ia adalah pemuda yang Sholih, sebelumnya ia tidak pernah dekat dengan wanita manapun, apalagi sampai jatuh hati atau sampai menempuh jalan pacaran. Kenapa ketika bersama ku, Kak Zaid mendadak perhatian dan romantis seperti ini?" bathin Zahrana.

__ADS_1


"Ma-af!" ucap Muhammad Zaid Arkana, yang entah berapa kali hari ini ia lepas kendali ketika berhadapan dengan Zahrana.


Zahrana memalingkan wajahnya dari Muhammad Zaid Arkana.


"Kak, sebaiknya kakak pergi ke Mesjid dulu, sebentar lagi masuk waktu Dzuhur. Tidak baik kita selalu berduaan dalam satu ruangan seperti ini. Terimakasih atas semua perhatian kakak, namun ada baiknya kita menjaga batasan. Mengingat adanya batasan mahram antara kita," ucap Zahrana memberanikan diri mengingatkan Muhammad Zaid Arkana.


"Baiklah, kakak pergi dulu!" MZ Arkana menyadari akan kekeliruannya.


"Ya Allah, maafkan hamba yang hina dan papah ini. Maafkan hamba, sebab tidak bisa menahan diri ketika berhadapan dengan Zahrana ya Rabb. Hamba benar-benar jatuh hati padanya ya Rabb," bathin Zaid yang kini di butakan oleh rasa cintanya pada sosok Tsamirah Zahrana Az Zahra.


Zaid pun segera beranjak pergi dari hadapan Zahrana yang kini sedang fokus merapikan semua barang-barang yang di jual di gerai Aisyah Boutique Collection.


"Ya Allah, ampuni hamba ya Rabb, jika keindahan dan pesona diri hamba menyebabkan para kaum Adam tidak bisa menjaga pandangannya ketika berhadapan dengan hamba," bathin Zahrana lirih.


Zahrana pun menghadapkan wajahnya di cermin khusus ruang ganti customer. Ia pun terus membathin di dalam hatinya.


"Allohumma kamaa hassanta kholqii fahassin khuluqii ( Ya Allah ... sebagaimana Engkau telah memperindah ciptaan wajahku maka perindahkan pula akhlak ku )."


Zahrana pun kembali termenung, ia merasa sedih sebab pesona dirinya kerap kali menjadi fitnah untuk kaum Adam.


"Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan?" bathin Zahrana.


"Ya Allah, Kak Zaid adalah pemuda yang Sholih, namun kenapa akhir-akhir ini ia mendadak romantis seperti ini? padahal ia pun mengetahui hukum bersentuhan dengan yang bukan mahramnya, itu tidak diperbolehkan dalam syari'at Islam? Namun kenapa ia pun melanggarnya?" sesal Zahrana.


"Dan bodohnya aku, kenapa aku pun terhipnotis oleh perlakuan manisnya. Intinya, kami sama-sama terjerat dalam kesalahan yang fatal."


Zahrana terus menggerutuki kebodohannya dirinya sendiri.


Saat ini, Zahrana benar-benar down. Ia tidak bisa untuk berpikir jernih. Kehadiran Zaid di sisinya benar-benar membuat kesedihan Zahrana pun berlarut-larut.


Zahrana takut jika satu saat benteng pertahanannya runtuh, ia teramat takut jika tiap hari bertemu dengan Zaid ia akan lepas kendali seperti kisahnya bersama Aslan Abdurrahman Syatir 4 tahun yang lalu, ia pun terjatuh dalam jerat lumpur dosa yang tak berkesudahan.


Zahrana sangat takut sekali jika ia kembali terjerat dalam cinta yang berbalut nafsu belaka.


"Ya Allah, jangan biarkan hamba dan Kak Zaid tersesat dari jalan-Mu ya Rabb!" bathin Zahrana dengan meneteskan air matanya.


Ditengah kesedihannya, ponsel Zahrana tiba-tiba berbunyi. Zahrana pun mengangkat telfonnya tanpa melihat nama kontak yang tertera di ponselnya.


πŸ“ž "Hallo, assalamu'alaikum ..? Ra kamu dimana? tanya Nandini Sukma Dewi.


πŸ“ž "Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... maa syaa Allah, Nandini apa kabar mu? Aku sekarang di Kota S, di tempat Kak Sabrina. Alhamdulillah aku sudah satu Minggu ini bekerja di Aisyah Boutique Collection," ucap Zahrana terlihat kegirangan.

__ADS_1


πŸ“ž "Alhamdulillah jika begitu, Ra. Aku turut senang mendengarnya. Insya Allah hari ini aku mau kontrol kehamilan ku di Rumah Sakit Medika Stania. Tapi, aku lagi menunggu calon papanya. Entah kenapa sekarang Arjuna gerakannya begitu lambat," gerutu Nandini sambil memonyongkan bibirnya.


Sementara Zahrana terkekeh geli mendengarkan penuturan sahabat nya Nandini.


πŸ“ž "Ya sudah, calon bumil tidak boleh banyak menggerutu. Mesti sabar-sabar dulu, biar pas brojol Si Kecil terlahir menjadi anak Sholih-Sholihah!" ucap Zahrana sekenanya.


πŸ“ž ''Hemm ... kamu, seperti sudah pengalaman saja, Ra. Oh, iya aku ingin meminta maaf pada mu atas kejadian satu Minggu lebih yang lalu. Maafkan atas perlakuan semena-mena Ibu ku padamu, Ra." Nandini menyesali akan tuduhan dan makian Ibu Ratna Anjani yang di tujukan pada Zahrana sahabatnya.


πŸ“ž "Iya, tidak apa-apa, Din. Aku sudah memaafkan semua perlakuan Ibu mu terhadap ku. Lupakan semua hal-hal yang buruk. Sambut hari ini dengan penuh suka dan cita. Don't be sad!" ucap Zahrana menenangkan Nandini Sukma Dewi. Padahal sejatinya, Zahrana pun sedang bersedih.


πŸ“ž "Terimakasih, Ra. Kau memang sahabat yang baik.


πŸ“ž"sama-sama, Din. Sekarang lebih baik kamu fokus untuk kontrol kehamilan mu, ya? Aku mau melanjutkan aktivitas ku dulu, lain kali kita sambung lagi. Ada customer yang hendak berbelanja. Assalamu'alaikum ...."


πŸ“ž"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ...."


Sambungan telfon Nandini dan Zahrana pun akhirnya terputus.


Zahrana kembali bergelut dengan rutinitasnya di gerai Aisyah Boutique Collection.


Ia pun segera melupakan sejenak kesedihannya, ia tidak ingin terlalu larut dalam keterpurukan dan kesedihan yang tiba-tiba menderanya, ia mencoba untuk terus menyemangati dirinya sendiri.


Sedangkan Nandini Sukma Dewi, masih fokus dengan niat awalnya, menunggu Arjuna Restu Pamungkas menjemputnya untuk pergi ke Rumah Sakit Medika, guna kontrol kehamilannya.


Meskipun jengah Nandini tetap berusaha sabar menunggu, entah sebatas mana ia akan berusaha sabar. Sebab, di tengah kehamilannya saat ini, Nandini sangat sulit mengontrol emosi dan kesabarannya.


"Ya Allah ... Hubby lama sekali! lebih baik aku pergi sendiri ke Rumah Sakit Medika," bathin Nandini dengan menyambar kunci motor maticnya.


🌷🌷🌷


Pencerahan πŸ‘‰ "Hidup ini warna warni, tidak mungkin hanya hitam putih saja. Jangan berharap selalu bahagia, jangan juga berpikir kesedihan akan selamanya. Kadang kamu memilih untuk terlihat bahagia karena tak ingin menjelaskan mengapa kamu bersedih pada mereka yang bahkan tak berusaha untuk mengerti.”


🌺🌺🌺


Sambil menunggu update selanjutnya, yuk mampir ke karya Author bestie, yang ceritanya tak kalah menarik dan seru lho, Kak 😊😘


Judul karyanya : Pernikahan Salsa


Authornya : Zaenab Usman


__ADS_1


__ADS_2