Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
140 . Gara-gara Parfum Malaikat Shubuh ( Pov Arjuna-Nandini )


__ADS_3

"Nak Juna, kami pulang dulu! tolong jaga Nandini, jangan pernah menyakitinya walau sekecil apapun halnya. Berjanjilah kau akan selalu ada untuknya dan mempertanggung jawabkan semua perbuatan mu terhadapnya!" ucap Ayah Anjasmara sebelum pergi.


"Juna berjanji akan bertanggung jawab atas semua yang telah terjadi dan secepatnya melamar dan menikahi Nandini Sukma Dewi!" ucap Arjuna penuh keseriusan.


Arjuna pun menyalami Ibu Ratna Anjani dan Ayah Anjasmara yang hendak pulang, sampai akhirnya kedua orangtua Nandini hilang dari pandangannya.


Ayah Anjasmara dan Ibu Ratna Anjani merasa lega, sebab Arjuna berkenan untuk bertanggung jawab dengan secepatnya ingin menikahi Nandini Sukma Dewi.


Setelah kepulangan Ibu Ratna Anjani dan Ayah Anjasmara, seketika ruangan rawat inap Nandini menjadi senyap.


Arjuna terdiam, begitu pun dengan Aslan Abdurrahman Syatir. Sedangkan Nandini fokus memainkan ponselnya yang sudah hampir dua hari dua malam tidak di sentuh olehnya, lantaran handphonenya tidak ia bawakan saat ia belajar mengaji di rumah Buya Harun. Hingga berujung ia tiba-tiba drop dan di larikan ke rumah sakit, ponselnya memang sengaja ia tinggalkan di rumahnya ketika ia hendak belajar mengaji. Agar tidak menggangu proses belajar mengajarnya.


"Terimakasih, Kak. Sudah membawa ponsel Nandini," ucap Nandini yang mulai menampakkan keceriaan dan senyum sumeringahnya.


"Sama-sama, Dek. Kakak senang melihat senyuman dan keceriaan di wajah mu." Aslan mengecup kening Nandini.


"Kakak ke Toilet dulu, ya Dek? Kamu jangan banyak pikiran, tetap rileks. Don't be sad!" Aslan melirik ke arah Arjuna sebagai isyarat agar menggantikannya untuk menjaga Nandini Sukma Dewi.


Aslan sengaja beralasan hendak ke toilet, ia ingin memberikan kebebasan untuk Nandini dan Arjuna berbicara dari hati ke hati. Agar tidak ada kecanggungan di antara keduanya.


Arjuna pun segera menghampiri Nandini. Namun, Nandini acuh tak acuh. Ia malah fokus dengan benda pipih ditangannya.


"Honey, aku merindukanmu! sudah hampir satu bulan kita tak bersua, tidak kah kau pun merasakan seperti yang aku rasa?" Arjuna menatap lekat nanar wajah Nandini.


Namun, yang di tatap tetap acuh tak acuh.


"Nandini, aku bicara pada mu. Kenapa kau tidak mempedulikan ku? apakah kau marah pada ku? ataukah kau membenciku dengan keadaan ini?" tanya Arjuna setengah memelas.


Nandini memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin melihat wajah Arjuna dihadapannya.


Entah kenapa, setelah kehamilannya masuk kurang lebih hampir 3 Minggu, Nandini tidak mau bertemu dengan Arjuna, melihat wajah Arjuna rasanya Nandini ingin mual dan ingin mencabik-cabiknya.


"Pergi dan menjauhlah dari hadapan ku! entah kenapa aku tidak suka melihat mu didekat ku. Aroma tubuh mu sangat mengganggu indera penciuman ku!" ucap Nandini ketus.

__ADS_1


Arjuna merasa tertohok dengan ucapan Nandini. Ada rasa nyeri di ulu hatinya melihat dan mendengar ucapan Nandini yang tak seperti biasanya.


Arjuna hendak menggenggam jemari tangan Nandini dan ingin memberikan kecupan hangat pada Nandini.


Namun, Nandini menolaknya dengan tegas.


"Don't touch me, Hubby!" Nandini menepis tangan Arjuna dan mendorongnya dengan keras, hingga Arjuna pun terhuyung oleh pergerakan Nandini yang spontan.


"Honey, ada apa dengan mu? kenapa kau berubah? mengapa kau menolak ku?" tanya Arjuna dengan setengah prustasi.


"Karena aku tidak ingin di sentuh oleh mu, Hubby. Aku tidak ingin mencium aroma tubuh mu. Sepertinya anak mu tidak ingin disentuh oleh mu, ia marah dan tidak suka pada mu!" ucap Nandini dengan menutup mulut dan hidungnya, ia benar-benar tidak tahan dengan bau Arjuna disampingnya.


"Kamu yang benar saja Honey, aku ini calon Papanya. Mana mungkin anak ku tidak ingin di sentuh Papanya? apalagi aku sudah memakai parfum Malaikat Shubuh, tentunya aromanya harum dan tidak menyengat di indera penciuman." Arjuna pun refleks mencium bau badannya sendiri. Namun, tidak ada yang janggal. Aroma tubuhnya pun harum semerbak.


Nandini semakin mual, ia pun hendak memuntahkan semua isi perutnya. Entah kenapa semenjak hamil ia kerap kali mengalami mual dan muntah sehingga menyebabkan kondisinya tiba-tiba lemas dan tidak bertenaga.


"Kepala ku pusing, aku ingin muntah. Menjauhlah dari ku!" ucap Nandini.


"Hoek ... hoek ... hoek ... " Nandini pun memuntahkan isi perutnya yang berwarna kekuningan.


Selang berapa menit setelah muntah, Arjuna pun menjauh dari Nandini Sukma Dewi. Sebab Nandini benar-benar tidak peduli dan tidak ingin melihat wajahnya.


Arjuna pun keluar dari ruang rawat inap Nandini. Ia duduk di bangku teras rawat inap Nandini. Ia pun merenungi dan meratapi kedukaannya.


"Betapa malangnya nasibku, calon anak ku juga kekasih hati ku, belahan jiwa ku dan tumpuan harapan ku pun tak sudi melihat ku. Apakah dosa ku ini terlalu banyak? hingga aku harus mendapatkan karma dan hukuman yang seperti ini!" bathin Arjuna yang mulai baper dengan semua keadaannya.


"Percuma juga aku mengenakan parfum Malaikat Shubuh, yang katanya parfum muslim non Alkohol. Halal dan aman di gunakan oleh seorang muslim." Arjuna membuang parfum tersebut ke tong sampah yang tidak jauh dari tempatnya duduk bersandar.


"Hemmm ... kenapa parfumnya di buang, Mas?" tanya seorang wanita muda yang terlihat cantik dan modis. Dengan lekukan tubuhnya yang seksi dengan dress navy selutut yang di kenakannya.


Wanita tersebut hendak melintas di hadapan Arjuna. Ia tidak sengaja melihat Arjuna yang terlihat murung dan uring-uringan, dengan membuang parfum Malaikat Shubuh miliknya.


Arjuna tidak memandang ke arah wanita tersebut. Namun, ia terlihat menumpahkan kekesalannya. Raut wajahnya terlihat tidak baik-baik saja, pasalnya ia sedih dan kecewa dengan ucapan dan perlakuan Nandini terhadapnya.

__ADS_1


"Aku kecewa dengan isteri ku dan anak ku, mereka tidak ingin melihat ku. Katanya ia tidak ingin mencium aroma tubuhku. Padahal jelas-jelas aroma tubuh ku tercium harum sekali!" sarkas Arjuna yang tiba-tiba mencurahkan isi hatinya kepada wanita yang ada di hadapannya.


Wanita tersebut mengernyitkan dahinya mendengar penuturan Arjuna. Apalagi ketika netranya yang sejak tadi tidak berkedip memandang Arjuna. Ia bertanya-tanya didalam hatinya. "Benarkah Arjuna sudah menikah?" cicitnya.


Iya wanita tersebut sangat mengenal Arjuna, bahkan pernah menjadi bagian dari hidup Arjuna kurang lebih 5 tahun yang lalu ketika Arjuna masih menyandang gelar sebagai Sang Playboy Kelas Kakap, sewaktu ia masih duduk di bangku SMP.


Arjuna terdiam sejenak setelah mencurahkan isi hatinya, ia pun perlahan melihat wanita yang berdiri di hadapannya. Ia menatap lekat nanar wajah wanita tersebut dari ujung rambut hingga ujung kakinya.


"Sempurna!" bathin Arjuna.


"Aku pergi dulu, maaf parfum milikmu ku bawa. Mubazir di buang, Mas!" ucap wanita tersebut dengan berbisik manja di telinga Arjuna. Membuat tubuh Arjuna seketika meremang mendengar belaian manja wanita tersebut. Apalagi dengan aroma tubuh wanita tersebut yang sangat menggairahkan bagi kaum Adam yang terpikat oleh pesonanya.


"Tunggu! Aku seperti mengenalmu!" pekik Arjuna yang mulai mengingat kisah masa lalunya 5 tahun yang silam.


Namun wanita tersebut telah pergi dari hadapannya, tanpa menoleh lagi padanya.


Tanpa Arjuna sadari, wanita tersebut pun menjatuhkan kartu namanya di samping tempat duduk Arjuna. Ketika wanita itu membisikkan kata-kata azimat di telinganya.


"Wanita itu? jadi benar ia adalah Adelia Kencana Puteri!" bathin Arjuna ketika netranya tidak sengaja melihat kartu nama Adelia terjatuh di sampingnya.


Arjuna hendak berlari mengejar Adelia Kencana Puteri, namun pergerakannya di tahan oleh Aslan Abdurrahman Syatir.


"Hendak kemana dirimu? jangan macam-macam, kau punya tanggung jawab pada adik ku Nandini Sukma Dewi!" tegas Aslan dengan menatap nyalang pada Arjuna.


Tanpa Arjuna sadari Aslan Abdurrahman Syatir, sudah dari sejak tadi memperhatikan interaksi antara Arjuna dan Adelia Kencana Puteri.


Sementara Adelia Kencana Puteri, ia tampak senang dan bahagia bertemu dengan Arjuna Restu Pamungkas, setelah pun hubungannya dengan Arjuna harus kandas oleh kehadiran Nandini Sukma Dewi diantara mereka ketika merajut kisah kasih di sekolah tempo dulu.


"Aku tidak peduli jika dirimu sudah menikah atau belum? Aku tidak peduli kau sudah memiliki buah hati atau tidak? Namun aku akan merebut mu dari wanita jal*ng itu!" bathin Adelia Kencana Puteri yang memang menyimpan dendam kesumat pada Nandini Sukma Dewi.


"Kau harus merasakan bagaimana rasanya sakit hati ketika di khianati dan di duakan!" gumam Adelia Kencana Puteri, yang di penuhi rasa dendam terhadap Nandini Sukma Dewi.


"Hemmmm ... gara-gara parfum Malaikat Shubuh ini, aku tidak menyangka bisa berjumpa dengan mu lagi Arjuna Restu Pamungkas!" cicit Adelia Kencana Puteri dengan mengendus aroma parfum tersebut. Ia pun merasakan seolah-olah Arjuna telah pun berada di sisinya.

__ADS_1


🌷🌷🌷


...Pencerahan 👉 "Balas dendam memang dapat memuaskan hatimu, tapi itu tidak mengubah keadaan menjadi lebih baik. Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik. Terkadang cara menyadarkan adalah dengan membalas. Jangan mengharapkan kebahagiaan bersama dia yang baru, dengan membawa dendam kepada yang lama. Orang lemah, balas dendam. Orang kuat, memaafkan. Orang cerdas, mengabaikannya. Cara terbaik untuk membalas dendam terhadap orang yang menghina Anda, adalah menjadi lebih berhasil daripadanya. Jangan buang waktu untuk membenci dan balas dendam. Sebab, setiap orang yang menyakiti pada akhirnya akan menerima karmanya sendiri."...


__ADS_2