
"Yang Allah ... jantung ku rasanya mau copot, aku tidak sanggup membayangkan bagaimana kejamnya kak Priska kala itu, ia hendak mencelakakan ku di kantin sekolah, ia juga menyirami ku dengan air jus sewaktu di perpustakaan ketika aku sedang bersama kak Rivandra."
Zahrana menyembunyikan wajahnya dibelakang Pramuja Wisnu Baskara. Ia benar-benar tidak siap bersitatap dengan Priska Prahara.
"Hey, kau kenapa?" tanya Pramuja ketika melihat wajah Zahrana berubah menjadi pucat pasi.
"Ada Si ulet keket, Mas."
"Whatttt? Si ulet keket?"
Pramuja di buat kaget oleh ucapan Zahrana yang menyebutkan Si ulet keket.
"Wajah mu benar-benar pucat, Ra. Di sini tidak ada ulet keket, jika ada uletnya nanti Mas buang. Kau takut ya sama ulat?"
"Takut sekali, Mas. Ulatnya sudah dekat, ia datang kemari." Zahrana semakin gusar. Ia bingung dengan ucapan Zahrana, sebab pandangan Pramuka tertuju ke segala arah, namun tidak ia temukan ulat yang Zahrana takutkan.
"Mas Pramuja Wisnu Baskara!" Priska menghampiri sosok pemuda bertubuh kekar nan tampan itu. Dengan tidak tahu malunya Priska Prahara memeluk tubuh kekar Pramuja dari arah belakang. Ia pun menyandarkan kepalanya di punggung Pramuja.
Priska sangat hafal dengan bahasa tubuh Pramuja dan style-nya jika hendak mengunjungi bengkelnya di PWB Groups.
Meski baru satu Minggu diperkenalkan oleh kedua orang tua masing-masing, Priska sangat mengenali calon suaminya itu. Iya, Priska Prahara adalah wanita yang di jodohkan oleh Bu Asma Nadia pada anak semata wayangnya Pramuja Wisnu Baskara.
Menyadari ada tangan lembut yang memeluknya dari arah belakang membuat Pramuja kaget bukan kepalang, tak terkecuali Zahrana.
Zahrana nampak kaget dan syok, melihat Si ulet keket tiba-tiba memeluk Pramuja sepupunya.
"OMG, si ulet keket berani-beraninya langsung memeluk Mas Pramuja? memangnya ia sudah kenal dengan Mas Pramuja? memangnya Mas Pramuja kekasihnya? Aku heran dari sejak dulu sifat kak Priska tidak pernah berubah, apa ia tidak malu memeluk laki-laki di depan umum seperti ini? sangat tidak beradab sekali!" gerutu Zahrana.
Pramuja membalikkan tubuhnya, betapa terkejutnya ia melihat wanita yang akan dijodohkan dengannya, begitu berani dan lancangnya memeluk dirinya dihadapan sepupunya Zahrana yang sangat dicintainya.
"Lepaskan! berani-beraninya kau menyentuh ku, di mana rasa malu mu sebagai wanita? kau tahu, kau telah membuat wanita ku cemburu!" ucap Pramuja dengan tegasnya, membuat Priska bergidik ngeri dan spot jantungnya.
Namun, Priska tetap terlihat santai dan menekan urat malunya, apalagi melihat sosok yang di kenalnya kini berdiri di antara dirinya dan Pramuja yang digadang-gadangkan untuk menjadi calon suaminya.
"Apa maksud mu, Mas Pramuja Wisnu Baskara? Aku ini calon istri mu, lalu siapa yang kau sebutkan sebagai wanita mu?" tanya Priska dengan nada tinggi.
"Siapa yang ingin menjadikan mu istri ku? aku sudah punya calon istri yang lebih baik akhlaknya dari mu, perkenalkan dia kekasihku Tsamirah Zahrana Az Zahra!" ucap Pramuja seenak jidatnya, Pramuja sama sekali tidak menyukai Priska Prahara dari sejak awal dipertemukan oleh orang tuanya sejak satu Minggu yang lalu.
Zahrana yang mendengarkan ucapan Pramuja seketika membolakan matanya, ingin rasanya ia tertawa sekencang-kencangnya mendengarkan kekonyolan Pramuja yang mengatakan jika dirinya kekasihnya, calon istrinya dihadapan Priska Praha.
Padahal, sejatinya Zahrana dan Pramuja adalah saudara sepupu. "OMG, entu ulet keket sepertinya sedang darting, apa yang harus aku lakukan?" bathin Zahrana dengan berpikir jernih agar jangan sampai terjadi baku hantam lagi seperti masa putih-biru tempo dulu.
__ADS_1
Priska Prahara menatap nyalang ke arah Zahrana, ia benar-benar naik pitam melihat Zahrana yang kini luar biasa cantik dan mempesona di bandingkan dirinya.
Di tambah lagi Zahrana telah menghalangi hubungan cintanya dengan Pramuja membuat Priska semakin berang terhadap Zahrana.
"Si*l, kendati wanita jal*ng itu mengenakan hijab, tetap saja pesona dan kecantikannya 1001 kali lebih cantik dan mempesona dari diri ku, berani-beraninya dia merebut Mas Pramuja dariku!" bathin Priska dengan tatapan membunuh terhadap Zahrana.
Menyadari tatapan Priska yang tidak bersahabat, Zahrana pun siaga. Ia tidak ingin terlihat lemah dan di injak-injak oleh sosok Priska seperti saat ia masih sekolah dahulu, cukup harga dirinya di injak oleh Priska dan teman-temannya kala itu.
"Dasar wanita jal*ng! bersembunyikan hijab di balik wajah lugu mu. Dari dahulu hingga sekarang kau selalu merebut orang yang kucintai. Dasar wanita tidak bermoral!" umpat Priska dengan setengah berlari. Ia ingin menjambak kerudung yang di kenakan oleh Zahrana.
Namun, Zahrana menahan pergerakan Priska dengan tangan mulusnya yang memang belum pernah ia bersikap kasar terhadap siapapun. Berhadapan dengan Priska Prahara membuat Zahrana membela harga dirinya yang terkoyak.
"Berani-beraninya kau melawan ku, dasar gadis jal*ng! menjual harga diri kepada semua laki-laki, percuma berwajah cantik dan berhijab jika kelakuan tidak lebih dari wanita malam!" umpat Priska dengan emosi yang meledak-ledak.
Zahrana mencekal lengan Priska sekuat tenaganya, "Jaga bicara mu, kak Priska. Aku tidak pernah mengganggu dan mencampuri hidup mu, mengapa kau begitu membenci ku? apa salah ku? aku tidak pernah sedikitpun berniat merebut apa yang menjadi hak milik mu, dari dulu hingga sekarang."
"Jika dahulu, kak Rivandra atau siapa pun yang hadir dalam kehidupan ku, yang kau bilang adalah kekasih mu yang kau rebut, itu salah besar. Sebab, pada kenyataannya mereka tidak pernah mencintai mu dan menganggap mu sebagai kekasihnya. Dan satu lagi, jangan pernah kau muncul di hadapan ku. Jika hanya ingin menghina ku sebagai wanita jal*ng, aku tidak serendah yang kak Priska pikirkan!" pungkas Zahrana di penuhi rasa emosi.
Zahrana menghempaskan lengan Priska yang di cekal olehnya, sehingga lengan Priska terlihat merah oleh bekas cekalan Zahrana.
Priska meringis kesakitan, namun ia merasa senang sebab melihat kelembutan hati Zahrana kini pun terhempas, ia terlihat bahagia sebab bisa memancing emosi seorang Zahrana yang dulunya terkenal dengan kesantunan dan kelembutannya, namun kini nampaklah gurat emosi dari raut wajah Zahrana.
"Akhirnya, dapat kulihat titik kelemahan mu Tsamirah Zahrana Az Zahra!" bisik hati Priska dengan seringai liciknya.
"Zahra, kau mau kemana?" tanya Pramuja dengan menarik pergelangan tangan Zahrana.
"Lepaskan, Mas! urus calon istri Mas yang tidak beradab itu," ucap Zahrana dengan berusaha menahan bulir air matanya agar tidak jatuh.
Zahrana sakit hati dengan ucapan Priska Prahara yang mencerca dirinya dengan sebutan gadis jal*ng dan wanita malam.
"Hey, kau terlihat jelek jika seperti ini?" ucap Pramuja dengan menarik Zahrana dalam dekapannya. Pramuja sama sekali tidak peduli dengan kehadiran Priska Prahara, yang ia khawatirkan adalah sosok saudari sepupunya sekaligus bidadari kecilnya Tsamirah Zahrana Az Zahra.
Priska merasa berang melihat Pramuja begitu menyayangi Zahrana, ia tidak tahu jika Zahrana dan Pramuja adalah saudara sepupu.
"Dasar wanita jal*ng!" Priska hendak menarik kerudung yang di kenakan oleh Zahrana. Namun, dengan sigap Pramuja memutar tubuh Zahrana sehingga yang ditarik oleh Priska adalah baju seragam PWB groups yang di kenakan oleh Pramuja bukan kerudung Zahrana.
Pramuja yang jengah dengan kelakuan Priska pun membuka suaranya, ia tidak tahan melihat sosok Zahrana, wanita yang sangat dikasihinya tersebut terluka oleh tingkah ekstrim Priska.
"Priska Prahara, kau benar-benar keterlaluan! kau telah menyakiti wanita ku! jangan harap aku akan melanjutkan perjodohan kita, aku tidak sudi memiliki istri seperti mu, tidak punya adab dan akhlak!" bentak Pramuja berang.
"Jadi, kau menolak ku hanya karena wanita jal*ng ini? akan aku adukan sikap kasar mu pada Tante Asma Nadia," ucap Priska dengan menghentak-hentakan kakinya.
__ADS_1
"Silahkan, adu kan saja! jika dirimu tidak punya urat malu, aku pun akan mengadukan tingkah keji mu pada ibu ku, dan kupastikan perjodohan ini batal dan kau yang rugi!" ancam Pramuja, sehingga membuat Priska bungkam seketika.
"Dasar wanita gila! untung aku belum melamarnya, jika tidak aku bisa mati berdiri!" gumam Pramuja pada dirinya sendiri.
Zahrana pun akhirnya menumpahkan air matanya yang sejak tadi ia bendung, hampir saja kerudungnya terlepas dari kepalanya, oleh sebab perbuatan Priska. Zahrana menangis dalam dekapan Pramuja.
Jika tidak ada Pramuja entah apa jadinya Zahrana, tentunya harga dirinya akan semakin tercabik-cabik oleh sikap brutal Priska terhadapnya.
Pramuja mengusap air mata Zahrana, "Jangan menangis kekasih hatiku, belahan jiwa ku!" ucap Pramuja spontan, membuat Zahrana membeku di tempatnya.
"Ya Allah ... apa aku tidak salah dengar dengan ucapan Mas Pra barusan? apa ia sedang beracting di depan kak Priska?" bathin Zahrana.
Zahrana yang mengira jika Pramuja sedang beracting untuk memanasi Priska, akhirnya ikut dalam permainan Pramuja.
"Terimakasih Mas Pra atas semua ketulusan mu, terima kasih untuk segala cinta yang telah Mas persembahkan untuk Zahra. Zahra sangat beruntung bisa menjadi wanita pilihan Mas!" ucap Zahra dengan berpura-pura menatap wajah Pramuja dan mengelus kedua pipi pria yang tampan dan sangat gagah itu.
Detak jantung Pramuja pun terasa berdegup kencang, ketika mendapatkan perhatian dari Zahrana yang tidak seperti biasanya. Ia pun terhanyut oleh untaian kata-kata dan pesona Zahrana.
"Tsamirah Zahrana Az Zahra, sungguh Mas sangat mencintaimu!" ucap Pramuja dengan memegang kedua tangan Zahrana yang menempel di pipinya. Ia pun menatap lekat nanar wajah Zahrana.
Melihat kemesraan yang tercipta antara Pramuja dan Zahrana pun akhirnya membuat Priska kepanasan. Ia pun pergi dari hadapan Pramuja dan Zahrana.
"Awas kau Zahrana, aku akan membuat perhitungan dengan mu! ku pastikan hidup mu tidak akan pernah tenang sebab selalu mengusik kebahagiaan ku!" bathin Priska, ia pun pergi dari Aisyah Boutique Collection membawa semua kekecewaannya.
Niat hati Priska ingin memberikan surprise pada Pramuja dengan mengikuti kemana pun langkah Pramuja. Sampai ia nekad memasuki Aisyah Boutique Collection demi membuntuti calon suaminya, yang telah dijodohkan oleh kedua orang tua masing-masing.
Namun, jauh api daripada panggang pertemuan tak terduga dengan Zahrana seakan menghancurkan harga diri dan mimpinya untuk bersanding dengan sosok Pramuja Wisnu Baskara.
***
Setelah kepergian Priska tinggallah Pramuja yang masih terus mendekap erat tubuh Zahrana. Ia terus memandangi wajah cantik nan ayu itu dengan perasaan yang kian bergelora terhadap adik sepupunya itu.
Melihat bibir mungil nan menggoda itu membuat birahi Pramuja meningkat menjadi 99,99%.
Pramuja terhanyut dalam buaian cinta terhadap sosok wanita seribu pesona itu, yang kini masih mendekapnya mesra, jarak bibir Pramuja terhadap Zahrana masih tinggal satu inchi lagi.
Pramuja hendak mengecup bibir Zahrana, namun Zahrana dengan sigap menempelkan jari telunjuknya di bibirnya, sehingga yang di kecup oleh Pramuja bukan bibirnya melainkan jari telunjuknya.
Zahrana mendorong tubuh Pramuja, "Kak Priskanya sudah pergi Mas, acting kita selesai!" pungkas Zahrana dengan menjauhkan dirinya dari hadapan Pramuja.
🌷🌷🌷
__ADS_1
Pencerahan 👉 "Kemarahan itu seperti bola api, tapi jika kamu menelannya, itu akan lebih manis daripada madu. Ucapan itu seperti obat, dosis kecilnya bisa menyembuhkan tapi jika berlebihan bisa membunuh. Tidak ada yang lebih menyakiti hati daripada dosa."