
Tidak usah repot-repot, Kak. Zahra bisa sendiri," ucap Zahrana.
Namun, Zaid Arkana dengan segala kewibawaannya pun segera siaga membantu mengangkut semua piring kotor yang ada.
"Ya Allah ... betapa beruntungnya seseorang yang akan menjadi makmum mu nanti, Kak!" bisikan hati Zahrana.
Namun, sebisa mungkin Zahrana berusaha menjaga hatinya agar tidak terpana oleh pesona Muhammad Zaid Arkana yang benar-benar mengingatkannya akan sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy.
Zahrana melanjutkan mencuci piring yang kotor, sedangkan MZ Arkana segera beranjak pergi ke ruang keluarga, sebab Shaka merengek ingin mengajaknya bermain.
"Ammi ... temani Shaka bermain mobil-mobilan, yuk!" ajak Si Kecil Shaka yang baru berusia 5 tahunan itu.
"Baiklah ... anak Sholeh, mari kita bermain!" ucap Muhammad Zaid Arkana dengan menggendong Shaka di punggungnya. Kedua sosok laki-laki yang berbeda generasi itu pun nampak riang gembira hendak bermain bersama.
"Zahra, kakak tinggal dulu! jika kelelahan istirahat dulu, jangan terlalu dipaksakan aktivitasnya," ucap Zaid yang mulai terlihat akrab dengan Zahrana.
"Iya, terimakasih Kak." Zahrana tetap menundukkan pandangannya, ia tidak ingin melihat ke arah Zaid. Sebab, pemuda itu benar-benar mengingatkannya pada sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy.
"Ya Allah ... jangan biarkan hamba terpedaya dan terperosok lagi dalam lembah kenistaan, kenapa hatiku menjadi gamang seperti ini. Wajahnya benar-benar mengingatkan ku pada sosok Kak Yusuf," bathin Zahrana.
"Memang benar jatuh cinta itu tidak dilarang oleh syari'at, karena cinta bukan dosa. Cinta itu hadir dan bertumbuh atas izin Allah. Ketika ia datang kita pun tidak sempat untuk menghindarinya."
"Namun, cinta yang hadir sebelum pernikahan itu bukan cinta akan tetapi nafsu semata, jika kita tidak mampu menjaga hati dan mengelola rasa. Apalagi sampai tercebur dalam kubangan dosa dan kemaksiatan, seperti halnya pacaran yang dulu pernah diri ini lakukan di saat masa-masa SMP!" bathin Zahrana yang tiba-tiba mengenang masa lalunya.
Masa lalu yang paling buruk yang pernah ia lalui adalah di saat berpacaran dengan Aslan Abdurrahman Syatir. Hingga membuat Zahrana trauma hingga detik ini.
Zahrana terus merenungi masa jahiliyahnya, hingga tidak menyadari gelas yang hendak ia cuci terlepas dari genggamannya dan terjatuh kelantai.
"Prankkk ... " bunyi pecahan gelas yang terlepas dari genggaman Zahrana.
"Astagfirullah ... " Zahrana hendak membersihkan serpihan gelas yang berserakan di lantai. Namun, ia kurang berhati-hati hingga jari telunjuknya, juga jari tengah dan jari manisnya terluka akibat serpihan gelas.
Darah segar pun bercucuran dari jemari tangan Zahrana.
"Awww ... " Zahrana meringis kesakitan.
__ADS_1
Muhammad Zaid Arkana yang sedang menemani Shaka kecil bermain pun spontan berlari menuju dapur menemui Zahrana.
"Subhanallah ... Zahra, kenapa tidak berhati-hati!" Zaid Arkana yang terlihat panik, spontan membuka sorbannya kemudian ia membersihkan darah yang mengalir dari jemari tangan Zahrana dengan menggunakan sorbannya.
Di tengah kepanikannya, Muhammad Zaid Arkana tidak menyadari jika ia telah menyentuh pergelangan tangan Zahrana.
Begitu pun Zahrana, ia tidak bisa menghindari perhatian Muhammad Zaid Arkana yang spontan terhadapnya.
"Apa ada Betadine? biar aku obati agar darahnya berhenti menetes," ucap Zaid Arkana yang tidak sengaja menatap lekat rona wajah Zahrana yang nampak indah dan mempesona.
Seketika manik mata keduanya pun saling bertemu pandang.
Ada getaran rasa yang perlahan bertumbuh dan menyelinap dengan malu-malu menyentuh hati Muhammad Zaid Arkana. Benar, ia pun terpana oleh pesona Zahrana.
Detak jantung Muhammad Zaid Arkana semakin berdegup kencang. Kecantikan alami yang terpancar dari pesona Zahrana benar-benar telah menghipnotisnya, tidak dapat dipungkiri, naluri lelakinya pun perlahan semakin mengobrak-abrik jiwanya.
"Maa syaa Allah ... terpahat dari ukiran manakah dirimu wahai Bidadari bermata jeli? sungguh bidadari syurga pun iri akan kecantikan dan kesholihan mu yang berbalut hijab syar'i," bisikan hati Muhammad Zaid Arkana.
"Ya Allah ... apa yang terjadi dengan hati ku? kenapa aku jadi luluh seperti ini? kenapa aku tidak bisa menolak perhatiannya terhadap ku? dia bukan kak Yusuf. Tidak! aku aku tidak boleh lemah," bisikan hati Zahrana. Ia pun perlahan menundukkan pandangannya.
"Biar aku obati sendiri kak," ucap Zahrana. Ia pun berusaha melepaskan genggaman tangannya yang masih berbalut sorban MZ Arkana.
"Biar Ammi Zaid yang obati Ammah Zahra, jangan menolak! biar cepat sembuh," ucap Shaka kecil yang sok dewasa.
Zahrana terpaksa menuruti keinginan Shaka kecil, sebab ia tidak ingin mengecewakan keponakannya yang sangat menggemaskan itu. Apalagi Shaka bela-belain naik kursi demi mengambilkan obat P3K untuknya.
"Baiklah anak manis!" Zahrana membiarkan Zaid Arkana untuk mengobati lukanya.
Dengan sangat lembut dan hati-hati Zaid mengobati luka Zahrana akibat serpihan gelas.
Zahrana melirik sekilas pada wajah Zaid Arkana.
"Ya Allah ... betapa mulianya budipekerti mu kak Zaid, semoga Allah membalas kebaikan mu dengan kebaikan yang lebih baik. Maafkan hamba ya Rabb, sebab telah bersentuhan dengan yang bukan mahram hamba setelah 4 tahun hamba berusaha menghindari bersentuhan dengan laki-laki," bathin Zahrana yang berusaha meredam kegugupannya. Zahrana nampak gemetaran berdekatan dengan pemuda Sholih tersebut.
Begitu pun dengan Muhammad Zaid Arkana. Ia baru menyadari jika ia telah bersentuhan dengan wanita yang bukan mahramnya.
__ADS_1
"Astagfirullah ... maafkan hamba ya Rabb, atas perhatian hamba dan kepanikan hamba yang terlalu berlebihan terhadapnya," bathin Muhammad Zaid Arkana.
"Ma-af, a-ku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya terlalu panik terhadap mu," ucap Muhammad Zaid Arkana dengan menundukkan pandangannya.
Zaid pun melepaskan pegangannya dari tangan Zahrana, begitu pun sebaliknya. Mereka berdua sama-sama terlihat salah tingkah.
"Ammah Zahra dan Ammi Zaid seperti Ummi dan Abi Shaka, romantis!" ucap Shaka spontan.
Zaid dan Zahra terperangah mendengar ucapan Shaka yang seperti orang dewasa.
"Shakaaa!" pekik Zaid dan Zahra bersamaan. Tak ayal wajah keduanya pun bersemu merah oleh guyonan Shaka.
"Bi, lihat Akh Zaid dan dek Zahra nampak serasi sekali. Apa kita jodohin saja mereka," ucap Sabrina yang masih berdiri mematung melihat cuplikan cerita antara Zahrana adiknya dan Muhammad Zaid Arkana yang begitu nampak cocok sekali dengan gaya dan perhatiannya.
"Iya, benar Umm. Abi setuju sekali jika Zahrana bisa berjodoh dengan teman Abi," ujar Fardhan terhadap isterinya Sabrina.
Sabrina dan Fardhan pun saling melemparkan senyuman, mereka nampak senang sekali melihat interaksi antara Zahrana dan Zaid Arkana. Mereka berdua sengaja membiarkan Zahrana dan Zaid Arkana guna memecahkan masalah mereka sendiri. Sekalian untuk pendekatan diantara keduanya.
"Berarti kita berhasil, Bi." Sabrina kegirangan.
"Insya Allah, Umm. Sejauh ini perkembangannya baik," ucap Fardhan.
"Tapi, berdosa nggak, Bi! Jika kita membiarkan mereka berduaan seperti itu," ucap Sabrina ragu.
"Insya Allah tidak Um, kan gawat darurat." Fardhan menimpali.
"Sejatinya cinta itu tidak dilarang oleh syari'at, karena cinta itu bukan dosa. Namun, jangan sampai karena cinta hidup kita menjadi tidak terarah dan salah langkah, semoga mereka berdua berjodoh nantinya Umm," ujar Fardhan terhadap Sabrina isterinya.
"Aamiin ... " ucap Sabrina.
"Ummi ... Abi, kok berdiri di sini! kenapa tidak menghampiri Ammah Zahra? Itu tangan Ammah sudah selesai diobati oleh Ammi," ucap Yumna yang baru keluar dari kamarnya setelah mendengar kegaduhan yang terjadi di dapur.
Zahrana dan Zaid pun menoleh ke sumber suara.
"Kak Sabri, Mas Fardhan!" pekik Zahrana kaget.
__ADS_1
π·π·π·
Pencerahan πβCinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan, atau mempersilakan. Yang pertama adalah keberanian, yang kedua adalah pengorbanan."