Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
147 . Antara Cinta dan Cemburu


__ADS_3

Brukkk ... awww!" pekik customer tersebut.


Customer tersebut bertabrakan dengan dada bidang Muhammad Zaid Arkana yang hendak masuk ke dalam gerai Aisyah Boutique Collection, guna mengantarkan sarapan untuk Zahrana.


"Kau?" ucap customer tersebut.


"Kau?" ucap Muhammad Zaid Arkana.


Seketika mereka berdua pun saling beradu pandang.


Zahrana yang menyaksikan kejadian tersebut pun di buat tak berdaya, entah kenapa perasaannya tiba-tiba tertusuk duri mawar ketika melihat Muhammad Zaid Arkana saling beradu pandang dengan customer tersebut.


"ya Allah ... perasaan apakah ini? Mengapa hati ku terasa tersusuk duri yang tajam ketika melihat kak Zaid bersama customer tersebut?" bathin Zahrana.


Manik mata Zahrana masih terus tertuju pada adegan di hadapannya. Perasaan dihatinya pun terasa semakin tidak menentu ketika melihat interaksi antara customer gerai Aisyah Boutique Collection dengan sosok Muhammad Zaid Arkana yang selama ini hanya di anggap seorang kakak dan teman biasa untuk Zahrana.


Namun, entah kenapa melihat pemandangan di pagi hari ini yang terjadi secara tiba-tiba, tak ayal membuat jantung hati Zahrana terasa lain dari biasanya.


"Ya Allah ... sebenarnya apa yang terjadi pada ku?" Zahrana bertanya-tanya di dalam hatinya dengan memegang dadanya yang terasa sesak melihat interaksi Muhammad Zaid Arkana dan customer tersebut.


"Antara cinta dan cemburu itu bedanya tipis, Neng! Ibu juga pernah muda, sudah banyak makan asam garam kehidupan. Dari manik mata mu, ibu tahu kamu cemburu dengan interaksi antara pemuda itu bersama wanita tersebut. Itu berarti kamu memiliki rasa pada pemuda tersebut," ucap salah satu costumer yang sedang fokus memilih dan memilah fashion muslim yang di minatinya.


Zahrana pun terperangah mendengar penuturan salah satu customer yang sudah bergelar ibu-ibu itu.


"Aku jatuh hati dan cemburu dengan kak Zaid? tidakk, itu tidak mungkin!" bathin Zahrana dengan terus melihat percakapan antara Muhammad Zaid Arkana dan customer wanita yang bertabrakan dengannya.


"Kau ... Muhammad Zaid Arkana, bukan?" tanya customer wanita tersebut.


Zaid berpikir sejenak.


"Oh, iya. Aku ingat, kau Rufaidah Al-Aslamiyyah anaknya om Fathir Muchtar Lubis?" tebak Zaid.


"Iya, benar."


"Berarti cita-cita dan impian mu tercapai menjadi seorang Dokter Specialis Kandungan?" tanya Zaid dengan senyuman manisnya.


"Alhamdulillah, Ar. Aku baru satu bulan ini bekerja di Rumah Sakit Medika Stania berperan menjadi Dokter Spesialis kandungan."


Rufaidah nampak bersemangat dengan aktivitas yang digelutinya saat ini. Menjadi seorang Dokter adalah cita-citanya dari sejak kecil. Dan sekarang cita-cita dan impiannya pun telah terwujud, hingga menjadi kebanggaan tersendiri bagi dirinya dan juga untuk kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Oh, iya. Maaf, aku buru-buru. Ada pasien Ibu Hamil yang akan jadwal kontrol sekitar pukul 09.00 WIB nanti," ujar Rufaida pada MZ Arkana.


"Iya, hati-hati Rufaidah!" ucap Muhammad Zaid Arkana.


"Sampai bertemu kembali, Arkan!" Rufaidah tersenyum manis dengan melambaikan tangannya pada Muhammad Zaid Arkana.


Rufaidah dari sejak dulu lebih kerasan memanggil Muhammad Zaid Arkana dengan panggilan Arkan.


Ayah Rufaidah dan Abi Muhammad Zaid Arkana adalah teman akrab dari sejak SMA, hingga sampai detik ini kedua orang tua mereka masih berhubungan sangat dekat satu sama lain, terutama bergelut dalam bidang bisnis dan ekonomi. Keduanya saling merintis usaha dan saling mensupport satu sama lain.


Muhammad Zaid Arkana dan Rufaidah Al-Aslamiyyah tidak mengetahui jika Abi Zaid dan Ayah Rufaidah telah berniat menjodohkan mereka berdua dari sejak Zaid dan Rufaidah bertumbuh dewasa, tepatnya ketika Zaid dan Rufaidah masih duduk di bangku SMA.


Kedua orang tua mereka sengaja merahasiakan perjodohan tersebut sampai Zaid dan Rufaidah telah pun sukses dengan kariernya masing-masing.


Dan sekarang, keduanya pun sudah sama-sama sukses. Pada saat yang tepat mereka berdua akan segera di pertemukan dan di jodohkan oleh kedua orang tuanya masing-masing.


"Ya Allah ... kenapa dada ku semakin sesak melihat interaksi kak Zaid dengan wanita tersebut. Tunggu dulu! ia bilang jika namanya Rufaidah. Ia berprofesi sebagai Dokter Spesialis Kandungan di Rumah Sakit Medika?"


Zahrana mengingat-ingat kembali tentang peristiwa hampir dua Minggu yang lalu. Ketika ia menjenguk Nandini di Rumah Sakit Medika, hingga berujung cacian dan makian dari Ibu Ratna Anjani yang tidak suka kepadanya.


"iya, aku ingat! wanita itu adalah Dokter Rufaidah Al-Aslamiyyah yang menangani Nandini Sukma Dewi di Rumah Sakit Medika tempo hari," bathin Zahrana.


"I-iya, Bu. Maaf," ucap Zahrana terlihat gugup.


"Hemmm ... jika memiliki rasa cinta jangan di pendam, Dek. Ungkapkan saja! sebelum si Dia di ambil orang," ucap Ibu-ibu customer tersebut, hingga membuat Zahrana merasa spot jantungnya mendengar penuturan Ibu-ibu tersebut.


"Maaf, Bu. Totalnya 700 ribu," ucap Zahrana enggan menanggapi ucapan customer tersebut. Ia lebih fokus dengan pekerjaannya ketimbang bergulat dengan perasaannya yang tak menentu.


Ibu-ibu itu pun segera membayar belanjaannya, ia pun segera melenggang pergi dari hadapan Zahrana dan juga Muhammad Zaid Arkana yang kini telah berdiri di belakangnya.


"Permisi, Neng. Mas!"


"Iya, Bu. Terimakasih atas kunjungannya!" ucap Zahrana dengan memalingkan wajahnya dari Muhammad Zaid Arkana.


Sedangkan castomer tersebut terlihat tidak enak hati, sebab ternyata percakapannya dengan Zahrana tidak sengaja tertangkap indera pendengaran Muhammad Zaid Arkana.


"Mau sejak kapan kau memalingkan wajah mu, Ra? apa kamu tidak lelah dengan berpura-pura tidak melihat ku disini? hentikan sejenak aktivitas mu, mari sarapan bersama ku!" ucap Zaid dengan menyiapkan hidangan nasi Padang beserta lauk-pauknya untuk Zahrana.


"Zahra belum lapar, Kak. Tadi, aku sudah sarapan di rumah kak Sabrina."

__ADS_1


Zahrana tetap tidak melirik ke arah Muhammad Zaid Arkana, ia tetap fokus merapikan barang-barang toko yang berantakan akibat dibongkar oleh para customer yang memilih dan memilah apa yang ingin mereka cari.


Zahrana terus menghindari bersitatap dengan Muhammad Zaid Arkana. Entah apa yang terjadi dengan perasaannya ia pun tidak mengerti.


Zahrana hendak berbalik arah, namun ia tidak menyadari jika Zaid terus mengekorinya dari arah belakang. Hingga ia nyaris menubruk dada bidang MZ Arkana.


"Maaf, Kak!" ucap Zahrana tertunduk malu.


Jika bukan memikirkan ada batasan mahram di antara mereka, ingin rasanya Muhammad Zaid Arkana menarik Zahrana ke dalam pelukannya, namun ia masih mampu menahan duduk keimanannya ketimbang keinginan nafsu buruknya.


"Zahrana kau sangat menggemaskan sekali!" bathin MZ Arkana dengan berlalu dari hadapan Zahrana. Sebab, jika ia terus menatap wajah ayu Zahrana dan terus berada di dekat wanita berparas cantik itu, akan tidak mungkin Zaid tidak mampu menahan dirinya untuk tidak menyentuh Zahrana.


"Kakak pergi dulu! tolong di makan nasi Padangnya, itu special kakak persembahkan untuk mu!" ucap Muhammad Zaid Arkana hendak pergi dari hadapan Zahrana.


"Assalamu'alaikum ... " ucap MZ Arkana hendak pamit pada Zahrana.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... " Zahrana pun mendongkakkan kepalanya ketika melihat MZ Arkana hendak beranjak pergi dari hadapannya.


Sebelum meneruskan langkahnya keluar dari Aisyah Boutique Collection, MZ Arkana pun menoleh ke arah Zahrana.


"Ba'da Ashar, kakak akan datang kemari menjemput mu. Jaga dirimu baik-baik! Jika ada apa-apa jangan lupa telfon Kakak," ucap Muhammad Zaid Arkana berlalu pergi dari hadapan Zahrana.


Melihat perhatian MZ Arkana yang begitu tulus terhadapnya, membuat hati Zahrana seolah tersirami oleh tetesan hujan yang turun setelah kemarau jiwanya pun sempat kering dan dilanda api cemburu oleh interaksi antara Zaid dengan Dokter Rufaidah Al-Aslamiyyah beberapa menit yang lalu.


"Ya Allah ... apa benar yang dikatakan oleh customer Ibu-ibu tadi jika antara cinta dan cemburu itu bedanya tipis?" bisikan hati Tsamirah Zahrana Az Zahra.


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


Pencerahan๐Ÿ‘‰ "Ketika cinta terasa seperti sihir, kamu menyebutnya takdir. Saat takdir berubah menjadi sebuah humor, kamu menyebutnya kejutan yang menyenangkan. Takdir adalah sesuatu yang mempertemukan kita, karena kita tidak akan percaya pada fakta bahwa semua hal terjadi secara kebetulan"


ย 


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Sambil menunggu kelanjutan ceritanya, mampir dulu ke karya bestie aku yang ceritanya di jamin keren dan seru lho kak ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜˜


Judul karyanya : Dewi Untuk Dewa


Authornya : Tyatul

__ADS_1



__ADS_2