
"Astaghfirullah ... Ra, kau sudah bangun? maaf Mas ketiduran, tunggu sebentar Mas ambilkan perlengkapan alat sholat mu!" ucap Pramuja dengan membuka laci khusus penyimpanan barang-barang milik Zahrana.
"Baik, Mas Pra. Terimakasih, maaf merepotkan mu lagi!" ucap Zahrana dengan senyum manisnya.
"Sama-sama my sepupu, ini mukenanya!"
Zahrana pun meraih mukena tersebut, ia pun melakukan ibadah sholat shubuhnya dalam keadaan duduk di brankarnya.
Pramuja memperhatikan gerakan sholat Zahrana dengan seksama, dari sejak mula Zahrana takbir hingga salam.
"Maa syaa Allah ... sungguh, diriku semakin terpikat oleh pesona mu Tsamirah Zahrana Az Zahra! dalam keadaan darurat seperti ini pun, kau masih bersemangat untuk menjalankan ibadah shalat 5 waktuk mu!" bathin Pramuja dengan terus memandangi Zahrana yang sedang khusu' melaksanakan ibadah sholatnya.
Pramuja masih terus menatap ke arah Zahrana, ia tidak menyadari jika gadis tersebut telah selesai menunaikan shalatnya.
"Hemmm ... Mas Pra, tolong Zahra, ambilkan tas Zahra dilaci!"
"I-iya, baiklah." Pramuja nampak gagap.
"Ini, tasnya!"
"Terima kasih, Mas. Oh ya, lebih baik kakak wudhu dulu, kemudian sholat shubuh di Mushola. Zahra tidak apa-apa ditinggal sendiri."
"Nanti, tunggu Akh Zaid dulu! Mas nggak mau terjadi apa-apa dengan Zahra, jika sampai di tinggali."
"Nggak apa-apa, kok Mas. Zahra sudah sembuh, kok. InsyaAllah, hari ini juga Zahra sudah pulang. Semoga selang infusnya segera di buka nantinya, Zahra tidak betah berlama-lama di rumah sakit."
Zahra membuka mushaf Qur'annya, satu muka surat sudah dilantunkan olehnya, beserta artinya pun sudah diresapinya. Ia pun menyimpan kembali mushaf tersebut ditas miliknya.
Pramuja dengan langkah gontai meninggalkan Zahrana sendiri, ia hendak melaksanakan ibadah sholatnya yang sempat tertunda. Ia menuju musholla, menyusul Muhammad Zaid Arkana.
Tinggallah, Zahrana sendiri di ruang rawat inapnya.
kring ... kring ... ponsel Zahrana berbunyi.
📞 "Assalamu'alaikum ... Din, apa kabar mu?"
📞 "Wa'alaikumsalam ... aku baik, Ra. Kamu apa kabar?"
📞 "Alhamdulillah ... aku juga baik, Din. Bagaimana persiapan pernikahan mu dengan Arjuna?"
📞 "Itu dia Ra, yang ingin aku sampaikan. Persiapannya tinggal 25% lagi, hari ini kami akan membagikan undangan untuk semua teman-teman sekolah. Sementara di desa kita juga ditempat lainnya di bantu oleh Cinta, Kirana, dan Fadhillah. Undangan dari pihak orang tua, di bantu oleh kak Aslan Abdurrahman Syatir, juga Ayah dan Ibu ku sendiri banyak dari teman-teman dan rekan bisnis mereka. Sementara, dari pihak kak Arjuna pun telah dihandle oleh pihak keluarganya. Rencananya kita hanya menyiapkan 1000 undangan saja, Ra."
📞 "Maa syaa Allah ... pesta besar-besaran dong, Din?"
__ADS_1
📞 "Alhamdulillah ... kesepakatan keluarga, kedua belah pihak, Ra."
📞 "Selamat ya, Din. Bakal menempuh hidup baru, 7,5 bulan lagi insyaAllah ... sudah punya baby. Pasti, sangat menggemaskan sekali!" ucap Zahrana antusias.
📞 "Terimakasih, Ra. Tapi, entah kenapa aku kok, jadi kepikiran Zainal. Rindu berat rasanya."
📞 "Astaghfirullah ... istighfar, Din. Pernikahan mu tinggal di depan mata, kok yang dipikirkan adalah pemuda lain? lupakan Zainal, sambut apa yang ada di depan mata mu! jangan bimbang, dan jangan memberikan celah untuk syaitan terus menggoda dan melemahkan niat baik mu untuk segera menikah."
📞 "Insya Allah, Ra. Terimakasih, nasehatnya. Kamu datang ya, ke pernikahan ku insyaAllah akan diadakan Minggu depan."
📞 "InsyaAllah ... aku akan hadir, Ra. Nanti mungkin berbarengan dengan Mas Pramuja dari sini, soalnya aku libur kerja hari Minggu saja. Hari ini pun, aku mogok kerja. Qodarullah, tubuhku tiba-tiba drop, jadi dirawat di rumah sakit. Semoga hari ini bisa pulang. Aku sudah merasa lebih sehat."
📞 "Astaghfirullah ... Ra, nanti aku sekalian menjenguk mu. Kamu dirumah sakit mana?"
📞 "Nggak, usah repot-repot, Din. Aku sudah merasa lebih baik. Sebaiknya, kau fokus mengurusi persiapan pernikahan mu. Aku nggak apa-apa, kok."
📞 "Tidak boleh begitu, nanti aku akan menjenguk mu kerumah sakit ditemani kak Aslan juga Cinta, dan Kirana, kami pun hendak kerumah Fadhillah. Katanya Minggu depan juga Hafidzah sudah pulang dari pondok pesantren di kota P. Kabarnya, dua Minggu ia akan menetap di rumah orang tuanya, yang tidak jauh dari tempat tinggalnya Fadhillah. Sebelum Hafidzah berangkat ke Kairo. Katanya ia mau kuliah di sana, Ra? kamu ingat kan dengan sahabat kita Hafidzah, teman sekolah kita dulu?"
📞 "Maa syaa Allah ... Hafidzah! iya, aku ingat sekali, Din. Jadi, ia akan kuliah di Kairo, di Universitas Al Azhar Mesir tempat dimana kak Yusuf Amri Nufail Syairazy mengenyam pendidikan? berarti Hafidzah bisa bertemu dengan kak Yusuf, dong Din?"
📞 "Ciyeee ... yang sedang merindukan sosok Yusuf? bagaimana jika jalan takdir menentukan jika kak Yusuf berjodoh dengan Hafidzah, apakah hatimu akan tegar, Ra? secara keduanya pun sama-sama religius?" Nandini keceplosan, membuat Zahrana terdiam sejenak.
Dada Zahrana seakan sesak, bulir air matanya pun tiba-tiba menetes, tanpa bisa ia bendung. Jika menyangkut nama Yusuf, pemuda yang sangat dinantikan olehnya, membuat perasaan Zahrana seakan tercubit, jika mendengar sosok pemuda yang dikaguminya digadang-gadangkan dengan sahabatnya sendiri.
📞 "Tidak, apa-apa Din. Aku hanya takjub saja, Hafidzah memang sosok wanita shalihah, wajar jika ia pun mendapatkan sosok pendamping yang Sholeh. Oh, iya. Aku dirawat di Rumah Sakit Medika, kau boleh datang kemari jika aku belum pulang."
📞 "Baiklah Ra, insyaAllah ... aku akan datang, ditunggu ya? Assalamu'alaikum ...."
📞 "Wa'alaikumsalam warrahmatullahi ...."
Zahrana menutup telfonnya dan mengusap air matanya.
"Ya Allah ... kenapa hatiku merasa sakit dan tercubit mendengar Nandini menyebutkan jika Hafidzah dan kak Yusuf cocok sekali berjodoh, mengingat keduanya sama-sama religius? padahal belum jelas kak Yusuf dan Hafidzah berjodoh?"
"Astaghfirullah ... apa yang sedang aku pikirkan? Aku cemburu dengan sesuatu yang tak tampak. Yang sama sekali belum jelas kebenarannya?" bathin Zahrana dengan menggerutuki kebodohannya sendiri.
"Benar-benar cemburu yang tak jelas!" bathin Zahrana.
Di tengah keterpakuannya, Zahrana tidak menyadari akan kedatangan Zaid di ruangan rawat inapnya.
"Assalamu'alaikum, hey kenapa kau menangis?" ucap Zaid ketika melihat air mata Zahrana jatuh berderai.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi, kak Zaid sejak kapan disini?"
__ADS_1
"Baru saja, Ra. Kau kenapa? ini aku bawakan bubur ayam untuk mu, tadi kakak beli dikantin rumah sakit."
"Zahra tidak apa-apa, Kak. Hanya kangen ayah bunda saja."
"Kamu tidak bohong? jangan bilang, jika kamu sedang memikirkan sosok pemuda yang ada dalam mimpimu itu?" tanya Zaid.
Zahrana terdiam, ia enggan menjawab pertanyaan Zaid.
"Sudah, jangan banyak pikiran, buruan dimakan bubur ayamnya, nanti keburu dingin. Apa mau kakak suapin?" ucap Zaid menawarkan diri.
"Tidak kak, terima kasih. Biar Zahra sendiri."
Keduanya pun tampak menikmati hidangan bubur ayam tersebut.
"Bagaimana rasa bubur ayamnya? Apa kamu suka, Ra?"
"Alhamdulillah, rasanya nikmat sekali, Kak. Zahra suka," ucap Zahrana dengan mata berbinar.
"Syukurlah jika begitu, kakak senang melihat mu ceria dan kembali bersemangat lagi."
"Terimakasih, untuk semua perhatiannya, Kak. Semoga Allah membalas semua kebaikan kakak."
"Sama-sama, Ra. Untuk mu, kakak rela berkorban apa saja! Asal dapat membuat mu bahagia," ucap Zaid penuh ketulusan.
Tak ayal, membuat hati Zahrana menjadi gamang seketika.
"Kak Zaid, maafkan aku karena belum bisa membalas niat baik dan ketulusan mu!" bathin Zahrana dengan perasaan yang berkecamuk. Sebab, dihati dan pikirannya hanya tertuju pada sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy. Meskipun ia tahu wujudnya pun tak nyata dihadapannya kini. Mengsedih ....😢😢
🌷🌷🌷
Untaian mutiara hikmah 👉 "Senja mengajarkan kita menerima sebuah perpisahan dengan jaminan pertemuan yang hangat pada esok hari. Sekuat apapun kamu menjaga, yang pergi akan tetap pergi. Sekuat apapun kamu menolak, yang datang akan tetap datang. Tak apa-apa apabila kita bukan jadi yang terbaik, setidaknya kita pernah berusaha walaupun kenyataannya memang tak bisa dipaksakan. Setiap pertemuan yang indah pasti akan berakhir dengan sebuah perpisahan, karena dalam kehidupan ini tiada yang abadi, perpisahan ini akan menyakiti, tapi aku yakin hal itu akan membuat kita bahagia di kemudian hari."
💮
💮
💮
Sambil menunggu update selanjutnya, yuk mampir ke karya my bestie Kak! tentunya dengan cerita yang sangat menarik dan tak kalah serunya.😊😘😘
Judul karyanya : Wanita Milik Tuan Mafia ( Cinta Alisha )
Authornya : Nurmay
__ADS_1