Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
228 . Duka dan Air Mata Bahagia


__ADS_3

Yusuf mengusap manik mata istrinya yang kini telah menganak sungai, sebab rasa haru dan bahagia yang memenuhi relung hati dan jiwanya.


"Terima kasih kak sudah menjadikan diriku sebagai pilihan hatimu," ucap Zahrana lirih, ia pun ingin kembali berbaring di brankarnya. Yusuf dengan telaten menuntun istrinya merebahkan kepalanya diatas bantalnya.


"Terimakasih juga istriku kau telah berkenan menjadikan ku imam mu, aku mencintaimu karena Allah istriku. Kau lah bidadari surga ku!" ucap Yusuf dengan kembali mengecup kening istrinya.


Zahrana mengangguk pelan, ia pun memejamkan matanya. Zahrana terlelap setelah sah menjadi istri dari Yusuf Amri Nufail Syairazy.


Air mata bahagia yang mengalir di pipinya menjadi saksi bahwa Zahrana merasa lebih tenang dan nyaman berada di sisi Yusuf yang kini halal untuk keduanya saling bersentuhan satu sama lain.


Semua orang yang hadir menyaksikan pernikahan antara Yusuf dan Zahrana pun mengabadikan foto pernikahan keduanya di ponsel masing-masing.


Ummi Yasmin nampak bahagia mengabadikan momen bahagia mereka bersama menantunya Zahrana meskipun harus berpose dalam keadaan mempelai wanita duduk bersandar di brankarnya.


"Nak, kini kau telah sah menjadi menantu kami. Ummi bahagia sekali!" ucap Ummi Yasmin dengan mengecup kening menantu yang sangat disayanginya itu.


"Terima kasih, Ummi!" ucap Zahrana walaupun masih terselip duka yang mendalam dihatinya oleh sebab masih di dera trauma atas perlakuan asusila Aslan terhadapnya. Duka dan air mata bahagia kini melebur menjadi satu.


Kehadiran Yusuf disisinya membuatnya merasa menjadi wanita yang paling bahagia. Meskipun, butuh waktu untuknya menyembuhkan luka di hatinya oleh sebab noda hitam yang kini membekas dalam hati dan jiwanya. Juga pikiran dan ingatannya kini tak henti-henti bagaimana dengan begitu ambisinya Aslan hendak menodainya.


"Nak, semoga Allah memberkahi pernikahan kalian!" ucap Bunda Fatimah dengan mengecup kening dan memeluk erat Zahrana putrinya.


Bathin Bunda Fatimah merasa sangat teriris melihat keadaan putrinya yang terlihat sangat terpukul dengan musibah yang menimpanya.


Kedua ibu dan anak itu saling merangkul dan meneteskan air matanya. Antara duka dan air mata bahagia kini menyelimuti keduanya.


Buya Harun pun mengelus pucuk kepala putrinya, ia hanya bisa menahan keperihan di hatinya melihat putrinya yang biasa penuh keceriaan kini nampak lemah.

__ADS_1


"Maafkan Buya, Nak. Buya tidak telaten menjaga mu, maafkan Buya karena membiarkan mu bekerja jauh dari Ayah dan Bunda." Buya Harun bergumam didalam hatinya. Tanpa sadar ia pun meneteskan air matanya.


Di satu sisi Buya Harun berduka dengan musibah yang menimpa putrinya. Di satu sisi ia bahagia sebab kini Zahrana puterinya sudah resmi menjadi istri dari santrinya, Yusuf Amri Nufail Syairazy.


Semua orang yang ada di ruangan tersebut pun mengucapkan selamat pada Zahrana dan Yusuf.


Dokter Rufaidah Al Aslamiyah pun hadir menyaksikan pernikahan Zahrana dan Yusuf. Ia ikut terharu melihat kisah Zahrana dan Yusuf. Namun, ia merasa sedih setelah mendengar dari rekan kerja sesama dokter yang memang bertugas untuk menangani pasien yang sedang trauma atau gangguan psikologisnya menjelaskan bahwa Zahrana mengalami sakit di kejiwaannya lantaran hampir saja di nodai oleh seorang yang pernah menjadi mantan kekasih Zahrana.


Meskipun Dokter Rufaidah tidak tahu siapa pelaku tersebut, namun ia merasa sangat prihatin dengan kondisi Zahrana. Andai ia tahu pelakunya adalah Aslan kakak Nandini Sukma Dewi, wanita yang sangat dipuja oleh adiknya Zainal, tentu Rufaidah akan merasa sangat terkejut dan mungkin akan terpukul. Mengingat betapa bejatnya kakak Nandini tersebut.


Pramuja dan Zaid, juga Tante Asma Nadia bersama suaminya pun mengucapkan selamat pada Zahrana dan Yusuf.


Begitu pun dengan Sabrina dan Suaminya Fardhan Arkan, semua mengucapkan selamat dan ikut memberikan support pada Zahrana dan Yusuf.


Tak terkecuali Shaka dan Yumna keponakan Zahrana pun menghampiri Zahrana yang masih terbaring lemah.


Raffa Nauzan Al Farid kakak sulung Zahrana yang baru datang dari kota P pun mendo'akan dan memeluk erat adiknya. Ia mengepalkan tinjunya, di dalam hatinya ia berjanji akan menuntut orang yang telah mendzolimi adiknya.


"Kakak berjanji pemuda tersebut akan mendekam di jeruji penjara dalam waktu yang sangat lama!" bathin Raffa dengan menahan emosi yang bergejolak di dadanya. Ia jarang sekali berkunjung menemui Zahrana adiknya. Ketika melihat adiknya menderita seperti ini membuat Raffa benar-benar geram. Ia ingin sekali memberikan bogem mentah pada orang yang hendak menodai adiknya tersebut.


Setelah semua mengucapkan selamat pada Zahrana dan Yusuf mereka pun keluar dari ruangan di mana kini Zahrana di rawat mereka memberikan kesempatan pada kedua pengantin tersebut saling meluahkan rasa.


"'Yaa Zawjatii , wahai istriku!" ucap Yusuf dengan menaruh telapak tangannya di kening istrinya. Di lafadzkannya do'a yang mengandung kebaikan, ia berharap agar istrinya bisa menjadi wanita shalihah, penyejuk hati dan jiwanya. Selalu terasa sejuk, indah dan menyenangkan dipandangan matanya. Tak lupa pula ia mendo'akan kesembuhan untuk istri tercintanya.


"Syafakillah ya Zawjatii!" ucap Yusuf dengan mengecup kening Zahrana dengan penuh kasih.


Zahrana memejamkan matanya, ia merasa tenang dan damai berada di sisi suaminya. Air mata haru dan bahagia terus menetes membasahi pipinya. Zahrana merasa berada di dalam mimpi, ia benar-benar bahagia bisa menjadi pasangan yang halal untuk Yusuf.

__ADS_1


"Terimakasih Hubby!" ucap Zahrana pelan. Ia tersenyum pada suaminya.


Yusuf merasa sangat bahagia ketika tidak sengaja mendengar Zahrana memanggilnya dengan sebutan Hubby.


"Terima kasih, ya Humaira!" ucap Yusuf dengan memandangi wajah istrinya yang kini masih terpancar raut kesedihan. Bagaimana pun tidak mudah untuk melupakan peristiwa yang sangat menyakitkan bagi istrinya tersebut.


Meskipun begitu, namun wajah Zahrana tetap bersemu merah, oleh sebab hatinya merasa sangat bahagia ketika suaminya memanggilnya dengan sebutan Humaira. Detak jantung keduanya pun seketika berdegup kencang, ketika keduanya saling menyanjung satu sama lain. Sampai akhirnya Zahrana pun terlelap dengan menggenggam jemari tangan Yusuf yang kini sudah sah menjadi suaminya.


Yusuf pun merebahkan kepalanya bertumpu pada brankar Zahrana, sambil terus menggenggam jemari Zahrana istrinya. Ia sendiri ikut terlelap di kursi tunggunya.


Kedua orang tua mereka juga merasa sangat bahagia melihat interaksi kedua putra dan putri mereka.


"Terima kasih ya Rabb, atas segala nikmat dan karunia-Mu!" bathin orang tua mereka masing-masing.


***


Sementara di kantor polisi.


Aslan di keluarkan dari jeruji besi yang mengukungnya, sebab ada yang hendak menjenguknya.


"Keluar! ada yang ingin bertemu! ucap polisi yang bertugas menjaga jeruji besi tersebut!"


"Siapa!" tanya Aslan dengan ekspresi wajah cemas.


🌼🌼🌼


Untaian mutiara hikmah πŸ‘‰Β "Menikah adalah separuh perjalanan ketakwaan kepada Allah dan bagian dari sunnah Rasulullah. Istri adalah tulang rusukmu, ia bukanlah wanita yang bisa engkau suruh-suruh. Perlakukanlah ia dengan kelembutan, maka ia akan lebih lembut dari perlakuanmu. Tiada janji terindah yang didengar oleh wanita dari lisan laki-laki, kecuali janji akad pernikahan."

__ADS_1



__ADS_2