
Kirana Larasati terlelap dalam tidur nyenyaknya. Ia tidak menyadari jika sudah sampai di depan rumahnya. Ia seolah menikmati mimpi indahnya, tidur bertengger di pundak Rivandra Dinata Admaja membuatnya terasa sangat nyaman di sepanjang perjalanan mereka.
Rivandra masih terus membiarkan Kirana Larasati yang masih asyik terlelap bertengger di pundaknya. Terlelapnya Kirana dipundaknya mengingatkan kembali pada awal pertemuannya dengan Tsamirah Zahrana Az Zahra di Bis Sekolah tempo dulu.
Zahrana terlelap di pundaknya ketika Abang Sopir melajukan kendaraannya di selingi oleh alunan musik remaja, betapa pada waktu itu Rivandra benar-benar terpesona pada sosok Zahrana. Sehingga pertemuan itu pun berujung terjalinnya benang-benang asmara diantara keduanya. Hingga hubungan itu pun kandas oleh orang ketiga.
"Kirana, dirimu mengingatkan ku pada Zahrana! Aku benar-benar tidak sanggup lebih lama lagi tinggal di sini, aku harus segera mengurusi pendidikan ku di Ibu kota. Aku butuh ketenangan," bathin Rivandra.
"Kiranaaa ... bangunnn!" pekik Cinta Kiara Khoirani. Ia baru turun dari boncengan Rangga Sahadewa kekasihnya.
Rumah Cinta dan Kirana kebetulan berdampingan, melihat Rivandra yang masih diam tak bergeming tetap duduk manis di motor miliknya, sembari berdiam diri membiarkan Kirana Larasati yang masih terlelap di pundak Rivandra membuat Cinta Kiara Khoirani berteriak histeris untuk membangunkannya.
Kirana pun terperanjat kaget oleh pekikan Cinta, perlahan Kirana membuka netranya. Melihat dirinya yang begitu erat memeluk Rivandra dan keasyikan bertengger di pundak Rivandra, membuat Kirana pun tersipu malu.
"Kak, ma-af ... Aku ti-tidak sengaja!" ucap Kirana Larasati. Ia spontan turun dari boncengan Rivandra Dinata Admaja.
Kirana menundukkan pandangannya, pipinya sudah terlihat seperti kepiting rebus, lantaran menahan malu yang teramat sangat sebab menahan malu atas perbuatannya yang telah lancang bertengger di pundak Rivandra.
Rivandra menatap lekat nanar wajah Kirana Larasati. Ia pun mengulurkan tangannya pada Kirana, membuat Kirana pun mendongakkan wajahnya. Ia balik menatap lekat nanar wajah Rivandra Dinata Admaja.
Keduanya pun saling beradu pandang, Kirana pun menerima uluran tangan Rivandra. Mereka saling bersalaman sebagai bentuk tanda perpisahan untuk terakhir kalinya.
Ada rasa sedih menyelimuti keduanya, setelah ini pun entah kapan lagi dapat bersua kembali.
"Kirana Larasati, terimakasih kehadiran mu perlahan telah mampu mengikis rasa ku yang terlalu berlebihan terhadap Zahrana. Dirimu mampu menenangkan diriku, ketika diriku yang sedang terluka dan patah hati. Tak kan pernah kulupakan senyum indah itu, satu nama tetap dihatiku adalah dirimu Kirana Larasati pun! tunggu aku kembali padamu dalam kurun waktu 7 tahun lagi setelah kepulangan ku menuntut ilmu di Ibukota Jakarta," bathin Rivandra Dinata Admaja.
"Biar rasa ini ku pendam, sampai diriku benar-benar move on dari Tsamirah Zahrana Az Zahra. Sebab ku tak ingin menyentuh hatimu, sebelum Zahrana benar-benar hilang dari hatiku selamanya. Aku tak ingin melukai perasaan mu Kirana jika aku belum bisa menghilangkan bayang-bayang Zahrana dari hidup ku," bisikan hati Rivandra.
"Rivandra Dinata Admaja, sungguh selama 8 bulan terakhir ini ku memendam rasa terhadap mu. Dapat memiliki sedikit waktu bersama mu itu sudah cukup bagi ku. Terimakasih atas segala waktu dan kesempatan yang ada. Semoga satu hari nanti kita akan dapat bersua kembali pada waktu yang tepat. Ku harap satu saat nanti kau pun akan membalas rasaku yang selama ini pun telah bertumbuh didalam hatiku. Satu nama tetap dihatiku, yakni dirimu Rivandra Dinata Admaja, sekarang, hari ini dan juga selamanya kau selalu di hatiku. Aku akan selalu menunggu mu disini!" bisikan hati Kirana Larasati.
"Ehemm ... yang sedang melepas kerinduan, kami di sini seolah angin berhembus saja," ucap Cinta Kiara Khoirani.
Kirana dan Rivandra pun perlahan melepaskan uluran tangannya, mereka berdua nampak tersipu malu dan saling melemparkan senyuman.
"Jaga dirimu baik-baik, aku pergi!" ucap Rivandra tanpa banyak kata-kata.
"Iya, hati-hati kak!" Kirana pun hanya berbicara tiga patah kata. Ingin rasanya ia menangis melepaskan kepergian Rivandra Dinata Admaja, namun Kirana berusaha meredam airmatanya agar tidak tumpah. Hatinya seolah tegar dan kuat menghadapi semua kenyataan yang ada.
Sementara Rangga dan Cinta nampak santai, sebab Rangga hanya melanjutkan pendidikan SMA di kota S yang masih satu Provinsi dengannya. Tentunya mereka akan sangat sering bertemu meskipun beda Sekolah.
"Cinta, aku pulang dulu ya? sampai jumpa lagi!" ucap Rangga seraya mengerlingkan matanya pada kekasihnya itu.
"Iya kak, baik-baik ya! jangan nakal di belakang ku," ucap Cinta dengan senyuman manisnya.
Kirana Larasati dan Cinta pun melepaskan kedua pemuda tersebut yang telah pun bertahta di hati keduanya.
Sementara dari arah belakang nampaklah Arjuna Restu Pamungkas dan Virgantara Dinata Admaja yang kini telah melaju kendaraannya masing-masing tanpa ada lagi boncengan di belakang mereka. Fadhilah dan Nandini Sukma Dewi telah pun di antar ke rumahnya masing-masing.
***
Di kediaman Nandini dan keluarga.
Aslan meletakkan motor gede miliknya digarasi rumah mereka. Ia masuk kedalam rumahnya dengan langkah gontai dan tidak bersemangat. Ia benar-benar masih berat menerima kenyataan jika kini ia dan Zahrana benar-benar telah pun berpisah.
Aslan segera membersihkan dirinya dan berganti dengan pakaian santainya. Ia nampak melamun, bersandar di tempat tidur miliknya. Ia menatap ke segala penjuru kamarnya yang terkesan sangat mewah namun tidak mampu menenangkan hati dan pikirannya.
"Ana, sungguh aku benar-benar tidak bisa melupakan mu. Gambaran wajah mu selalu bermain dalam ingatan ku, maafkan aku Zahrana telah menodai kepolosan mu."
__ADS_1
Aslan terus meratapi kedukaannya. Ia benar-benar kehilangan arah, sekuat apapun ia untuk melupakan Zahrana sedalam itu pula perasaannya terhadap gadis kecil itu.
Nandini menghampiri kakaknya.
"Kak Aslan, kakak yang sabar ya! maafkan Nandini sebab tidak bisa untuk mencegah Zahrana untuk berpisah dengan kakak. Nandini tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan kakak dan Zahrana."
"Sebenarnya, aku kecewa melihat Zahrana memutuskan kakak begitu saja, tanpa alasan yang jelas, mengingat hubungan kalian yang begitu indah dan mesranya namun harus kandas hanya dalam hitungan detik." Nandini pun tertunduk lesu.
"Zahrana tidak salah, Dek. Kakak yang salah jika saja kakak tidak--"
"Tidak apa kak?" tanya Nandini penasaran, sebab kakaknya menggantungkan kalimatnya.
"Ti-tidak apa-apa, Dek." Aslan nampak gelagapan. Ia tidak berani menjawab pertanyaan Nandini Sukma Dewi.
"Mulai pakai rahasiaan sekarang, ya?" Nandini di buat penasaran dengan putusnya hubungan Zahrana dengan kakaknya.
"Sudah jangan banyak tanya, masih kecil juga." Aslan menghindari pertanyaan Nandini dengan membalikkan badannya, seraya memeluk bantal gulingnya.
"Jawab kak!" Nandini menggoyangkan badan kakaknya. ia benar-benar penasaran perihal putusnya hubungan Zahrana dengan kakaknya.
Sampai akhirnya keributan antara keduanya terhenti ketika Ibu Ratna Anjani mendatangi keduanya.
"Ini ada apa? kenapa anak Ibu pada ribut-ribut? memangnya apa yang sedang kalian ributkan?" tanya Ibu Ratna Anjani.
"Nggak ada apa-apa Bu," ucap Nandini dan Aslan bersamaan.
"Jika memang tidak ada masalah apa-apa, Ibu minta tolong bantu Ayah Anjasmara tutup toko. Sebab 30 menit lagi akan segera masuk waktu Maghrib," titah Ibu Ratna Anjani.
Aslan pun segera bergegas menuju toko sembako mereka. Ia memang tidak banyak bicara, pikirannya hanya tertuju pada Zahrana. Ia benar-benar menyesali atas segala kekhilafannya terhadap sosok Bidadari kecil tersebut.
"Biasalah Bu, lagi patah hati pada Zah--"
Nandini menggantungkan kalimatnya. Ia pun menutup mulutnya, hampir saja ia keceplosan.
"Apa? patah hati?" tanya Ibu Ratna Anjani seraya mengeryitkan dahinya.
"Selama ini, Ibu tidak pernah melihat kakak mu punya pacar. Kok, tiba-tiba patah hati?" Ibu Ratna Anjani semakin gusar dengan perubahan yang terjadi dengan Putra kesayangannya.
"Ma-af Bu, Nandini hanya bercanda kok, Bu." Nandini cengengesan agar Ibunya percaya dengannya.
"Ya sudah, lebih baik kamu bersihkan diri dulu nanti siap-siap untuk Ibadah Sholat Magrib."
"Siap Ibu!" ujar Nandini seraya mencium pipi ibunya, guna mengalihkan pembicaraan ibunya agar tidak berbicara apa-apa lagi tentang kakaknya.
***
Aslan pun selesai membantu Ayahnya menutup toko mereka. Tiga puluh menit kemudian kumandang adzan Maghrib bergema di Desa XX tempat kediaman Zahrana dan sekitarnya. Kala itu semua bersujud dalam do'a dan ketundukan pada Sang Pencipta-Nya.
"Ya Allah, kediaman diriku dengan Zahrana begitu dekat. Namun kini dekat pun terasa jauh. Apalah artinya berdekatan rumah. Dekat pun terasa sangat jauh jika penghuninya pun tidak pernah ku lihat lagi!" bisikan hati Aslan Abdurrahman Syatir, ketika ia pulang dari Mesjid melewati rumah Zahrana yang tampak tertutup rapat.
Aslan mempercepat langkahnya menuju kediamannya.
Setiba di rumahnya Aslan segera mengganti baju koko dan sarungnya dengan piyama tidurnya yang berwarna hitam pekat sesuai mood-nya. Ia pun duduk termenung, bersandar di ranjang tempat tidurnya.
Aslan belum berniat untuk berkumpul di ruang dapur guna santap malam bersama keluarganya. Ia lebih memilih berdiam diri di kamarnya. Ia pun meraih gitar kesayangannya. Ia pun mulai bersenandung dengan nada pilunya mengenang percintaannya yang kini telah pun kandas bersama Sang Bunga Desa itu.
π Izinkan Selamanya Nama Mu Di hati π
__ADS_1
Telah aku terima takdir dari Yang Esa
Tertusuk sembilu pedih hati terluka
Terkubur impian kita bina bersama
Terlerai sedah ikatan cinta
Baru aku sedari siapa diri ini
Sebalik suratan cahaya cinta yang sudah
Sedalam renungan terlihat dalam diri
Hakikat cinta yang sejati
Kuturutkan cahaya dihadapan berliku
Keyakinan di dada mengiring langkahku
Jalinan bahagia iringan doa restu
Di dalam jiwa cinta yang satu
Jalanan yang berduri tetap aku gagahi
Biar gunung yang tinggi pasti kan kudaki
Detik-detik kenangan segar buat pedoman
Sepanjang jalan taman impian... ohhh
Selamat sejatera kepada dirimu
Semoga berbahagia tanpa aku
Izinkan selamanya namamu di hati
Biarkan selamanya ku begini
Sudah lumrahnya insan tak lepas kesilapan
Maafkan dosaku lupakan detik hitam
Sejarah yang berlalu jadikan perngajaran.
Air mata Aslan jatuh berderai membasahi wajah tampannya, ia benar-benar menyesali semua perbuatannya. Ia benar-benar lemah dan tak berdaya. Ia benar-benar terluka dan patah hati terhadap Zahrana.
Tembang kenangan dari Negara Jiran tersebut cukup untuk mewakili perasaannya yang kini benar-benar kecewa dan terluka perih oleh cintanya yang terlerai dan tidak lagi bisa terselamatkan lagi. Tinggallah dirinya sendiri yang kini berada keterasingan, mimpi itu pun terkubur bersama luka hati yang kini sedang menderanya.
Aslan pun termangu merenungi semua yang terjadi dalam kehidupan percintaannya yang tak sampai. Semua telah berubah, tiada lagi cerita yang seindah dulu. Semuanya kini hanya tinggal kenangan yang menjadi saksi bahwa ia pernah merajut kebersamaan bersama seorang gadis kecil bernama Tsamirah Zahrana Az Zahra.
"Ana ... walaupun kini kita telah berpisah dirimu akan tetap ada di hatiku, sekarang dan selamanya ketika jasad terkubur di dalam tanah satu nama tetap di hatiku! tidak akan pernah kulupakan sampai pun ajal menjemput ku, dirimu tetap terukir indah di hatiku Tsamirah Zahrana Az Zahra ...."
π·π·π·
Pencerahan πΒ βAllah menguji kita dengan sesuatu yang kita cintai, maka janganlah berlebihan mencintainya, agar saat kita sedih tidak terlalu berlebihan dan menyakitkan."(Bisikan hati Author ππ)
__ADS_1