Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
74 . Karena Sebuah Janji


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang Zahrana dan kekasihnya Aslan nampak begitu bahagia. Seakan-akan dunia hanya milik mereka berdua, tidak ada lagi kecanggungan diantara keduanya. Yang ada hanya rasa suka dan cita.


Zahrana nampak erat memeluk Aslan kekasihnya, begitu pun dengan Aslan ia pun menggenggam erat jemari tangan Zahrana seolah-olah tidak ingin terpisahkan oleh jarak dan waktu. Mereka benar-benar terbuai oleh alunan nada cinta, sehingga mereka pun tidak menyadari beberapa menit lagi akan sampai di kediamannya.


"An, berjanjilah untuk ku setelah ini kau akan setia pada ku dan tak kan pernah lagi membuka tirai hatimu kecuali hanya untuk ku! berjanjilah untuk menjaga pandangan mu terhadap yang lain, cukuplah lihat aku seorang!" pinta Aslan.


"Insya Allah kak, Ana akan berusaha untuk menjaga hati Ana hanya untuk kakak seorang," ujar Zahrana meyakinkan.


"Terimakasih Bidadari kecil ku!" ujar Aslan.


Mereka pun saling melepaskan genggaman satu sama lain. Zahrana pun segera melerai pelukannya, sebab rumah kediaman Zahrana hampir dekat.


Aslan segera menepikan Sepeda Motornya, Zahrana pun segera beranjak turun dan segera berpamitan pada kekasihnya. Aslan dan Zahrana saling melemparkan senyuman dan saling melambaikan tangan. Hingga akhirnya Aslan tidak tampak lagi di pelupuk matanya.


***


Di kediaman Zahrana.


Bunda Fatimah sudah berdecak pinggang dari tirai jendela, ia mengintip kebersamaan Puterinya dan Aslan Abdurrahman Syatir, membuat Bunda Fatimah merasa sangat cemas dengan Puterinya yang kini sudah berani-beraninya berduaan dan berboncengan dengan laki-laki dewasa.


Zahrana melangkah dengan penuh rasa takut, sebab ia khawatir akan di marahi oleh Ayah dan Bundanya.


"Assalamu'alaikum ... " ucap Zahrana dibumbui rasa Kekhawatiran.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... " ucap Bunda Fatimah menahan segala yang bergemuruh di dadanya.


Zahrana pun mencium punggung tangan Bundanya.


"Dari mana saja kamu, Nak? kenapa baru pulang sekarang!" tanya Bunda Fatimah.


"Ma-af, Bun. Zahra dan teman-teman habis pembagian raport kumpul-kumpul bersama dulu Bun, sebab selama dua Minggu kedepan kami tidak bersua hingga hari ini kami menghabiskan waktu bersama," ujar Zahrana dengan rasa gugup. Ia khawatir Bundanya akan benar-benar marah.

__ADS_1


Bunda Fatimah langsung memeluk erat Puterinya dengan penuh kasih. Bunda Fatimah pun berusaha menetralkan perasaannya agar jangan sampai meluapkan emosinya terhadap Puterinya.


"Nak, bukannya Bunda melarang kedekatan mu dengan siapapun. Kamu boleh berteman dengan siapa pun, Nak. Namun tetap ingat batasan mu! Bunda khawatir dengan kedekatan mu dengan Nak Aslan, akhir-akhir ini Bunda sering kali menangkap kebersamaan mu dengan pemuda itu. Juga hari ini, Bunda lihat Zahra berduaan dengannya berboncengan pula," tutur Bunda Fatimah penuh selidik.


"Deg ... " jantung hati Zahrana terasa ingin keluar dari tempatnya. Mendengar penuturan Bundanya tentang kedekatannya dengan Aslan Abdurrahman Syatir.


Zahrana masih terus berada dalam pelukan Bundanya, tanpa berani menampakkan wajahnya dihadapan Bundanya.


Bunda Fatimah mengecup dan membelai lembut pucuk kepala Puterinya. Dengan harapan Zahrana memberikan penjelasan kenapa ia sampai berduaan dengan Aslan Abdurrahman Syatir yang bukan mahramnya.


"Bunda, maafkan Zahrana ya, tadi Zahrana tidak sengaja berpapasan dengan kak Aslan. Ia menawarkan Zahrana ikut dengannya, sebab menunggu Bis Sekolah sangat lama sekali, sehingga Zahra menerima tumpangannya," pungkas Zahrana beralasan.


"Baiklah ... Nak. Namun Bunda harap Zahra bisa menjaga diri dari hal-hal yang bertentangan dengan syari'at Islam. Seorang laki-laki dan perempuan tidak boleh berdua-duaan apalagi sampai berpacaran dan sebagainya," ucap Bunda Fatimah.


Ada rasa bersalah dihati Zahrana setelah mendengar penuturan Bundanya. Sebab Bidadari kecil di hadapan mereka, kini benar adanya telah berpacaran dengan Aslan Abdurrahman Syatir. Bahkan mereka pun telah saling menyentuh dan berbagi kasih layaknya sepasang kekasih. Zahrana benar-benar telah berubah menjadi gadis remaja yang dewasa sebelum waktunya ketika bersama Aslan Abdurrahman Syatir.


Percakapan Bunda Fatimah dan Zahrana pun terhenti ketika Buya Harun dan Raihan hendak berangkat ke Mesjid guna melaksanakan Ibadah Sholat Ashar.


"Iya nich kak Zahra, kebiasaan bukannya ganti seragam dulu. Malah asyik berpelukan dengan Bunda, seperti anak kecil saja. Manja!" celoteh Raihan sambil mencebirkan bibirnya.


"Weee ... anak kecil sewot mulu," ucap Zahrana.


Zahrana dan adiknya Raihan pun terus berkelakar jika tidak segera di tegahi oleh Ayah dan Bundanya.


"Raihan ... sudah berkelakarnya, Nak! mari kita segera menuju ke Mesjid waktu sudah menunjukkan pukul 15.10 Wib." Buya Harun dan Raihan segera berpamitan dengan Bunda Fatimah dan Zahrana. Tidak lupa mereka pun mengucapkan salam.


Seperti biasanya Zahrana pun melakukan kewajiban rutin-nya. Ia pun segera menunaikan ibadah Sholat Ashar, setelah selesai dari ritual bersih-bersihnya. Dan tidak lupa pula ia mendaras Qur'an sebagai santapan rohaninya. Setelah seharian bergelut dengan rutinitasnya.


***


Hari-hari pun berlalu, detik menit dan jam terus berputar.

__ADS_1


Kini, dua Minggu pun sudah berlalu pasca liburan semester pertama. Anak-anak sekolah pun kembali bergelut dengan rutinitas Sekolah mereka.


Zahrana dan teman-temannya pun kembali masuk sekolah seperti biasanya. Menunggu Bis Sekolah pun seolah-olah menjadi santapan harian untuk Zahrana juga adiknya Raihan serta anak-anak sekolah lainnya pada Zaman itu.


Zahrana pun tiba di sekolahnya, ia disambut dengan suka cita oleh teman-temannya.


"Perincess ... selamat pagi! kami sangat merindukanmu," ujar teman-temannya.


Nandini Sukma Dewi, Cinta Kiara Khoirani, Kirana Larasati dan Fadhillah segera menghamburkan diri memeluk Zahrana.


Kini, mereka masih berlima sebab salah satu personil mereka yakni Hafidzah kini telah mondok di Pesantren dekat Kota P.


"Teman-teman, ternyata sepi juga ya tanpa kehadiran Hafidzah di sisi kita," ujar Fadhilah. Sebab biasanya Fadhilah satu bangku dengan Hafidzah. Kini Fadhilah duduk sendiri tidak ada lagi Hafidzah duduk menemaninya.


"Benar Dhil, tidak ada lagi yang menasehati kita dengan kultum- kultumnya yang mampu menyentuh hati dan jiwa," sesal Nandini. Sebab Nandini lah yang sering di nasehati oleh Hafidzah, lantaran gaya ceplas-ceplos Nandini dan gaya metalnya.


"Sudah ... jangan di sesali apa yang telah terjadi, ambil hikmahnya dari semua kejadian dan peristiwa yang telah kita lewati selama 6 bulan yang lalu. Hafidzah memang lentera dalam persahabatan kita. Aku pun sudah jatuh terlalu jauh dalam kesalahan yang sangat luar biasa ku perbuat. Aku pun tidak tahu kenapa aku menjadi serapuh ini hanya karena asmara," sesal Zahrana. Ia bingung dengan perasaannya sendiri, ingin mengakhiri cerita asmaranya namun ia sudah terlanjur mengukir sebuah janji pada Aslan Abdurrahman Syatir yang kini masih berstatus kekasihnya.


Dengan Rivandra Dinata Admaja kini pun hubungan itu kandas dua Minggu yang lalu lantaran ia ketahuan mendua. Hingga berujung duka dan nestapa, Zahrana harus mengakhiri ceritanya dengan sosok Rivandra Dinata Admaja yang sebenarnya begitu tulus menyayanginya.


"Kak Rivandra ... maafkan Zahra karena telah melukai mu!" bisik hati Zahrana.


Tanpa Zahrana sadari Rivandra Dinata Admaja bersama sahabatnya Rangga Sahadewa juga Arjuna Restu Pamungkas kekasih Nandini nampak kompak memasuki gerbang sekolah dengan motor gedenya.


Rivandra Dinata Admaja menyetir sendiri sedangkan Arjuna Restu Pamungkas berboncengan dengan Rangga Sahadewa. Nampaklah mereka bertiga sangat amazing sekali, seperti anak-anak muda gaul seperti difilm-film layar lebar dengan motor gede yang di kenakannya.


Para Siswi-siswi pun nampak terpesona melihat penampilan Rivandra Dinata Admaja, juga Arjuna Restu Pamungkas dan temannya Rangga Sahadewa.


"OMG ... Amazinggggg!" teriak para Siswi-siswi. Sehingga membuat Zahrana dan teman-temannya pun ikut menoleh melihat pekikan para Siswi-siswi tersebut.


Namun Zahrana hanya bisa mengagumi dalam hati terhadap sosok Rivandra Dinata Admaja, sebab kini ia telah memilih Aslan Abdurrahman Syatir sebagai kekasih hatinya.

__ADS_1


Karena sebuah janji membuat Zahrana untuk tetap memilih bertahan dengan sosok Aslan Abdurrahman Syatir dan memilih menutup pintu hatinya pada sosok Rivandra Dinata Admaja. Demi menjaga satu hati agar tidak terluka lebih dalam lagi.


__ADS_2