Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
105 . Pertemuan Setelah 4 Tahun Berpisah


__ADS_3

Zahrana nampak terlihat bahagia, sangat kentara sekali dari rona wajahnya yang nampak bercahaya dan mempesona. Dirinya begitu senang sekali, seolah merasa bintang jatuh dalam pelukannya.


Bingkisan terakhir dari Yusuf Amri Nufail Syairazy mampu membuat semangat hidupnya kembali ceria seperti awal mula ia mengenyam bangku SMP dahulu. Ia yang dulu polos, anggun, memiliki kepribadian yang lembut dan santun kini pun perlahan menjadi sosok Bidadari yang sulit untuk di taklukkan oleh pemuda mana pun.


Kini Zahrana benar-benar telah bertumbuh menjadi gadis remaja yang mampu menjaga marwahnya. Ia tidak pernah lagi menempuh yang namanya pacaran setelah berpisah dari Aslan Abdurrahman Syatir tempo hari.


Kini pun Zahrana benar-benar telah menutupi auratnya dengan hijab. Perlahan-lahan Zahrana pun telah hijrah dari masa-masa jahiliyahnya dulu.


Berkat didikan Buya Harun, juga nasehat adiknya Raihan juga berkat terus menerus mempelajari ilmu syar'i yang ia dapatkan dari buku-buku yang di bingkiskan oleh Yusuf Amri Nufail Syairazy dahulu, juga untaian nasehat Yusuf Zahrana pun kini telah berhijab.


Semua proses hijrahnya tersebut juga tidak lepas dari bimbingan guru Rohisnya Azzura Fauziyah Lashira di SMK Negeri 1 XX.


Bu Azzura adalah sosok wanita muslimah yang lembut, baik, cerdas dan pintar, serta berakhlak mulia, namun memiliki ketegasan yang luar biasa jika sudah menyangkut tentang ilmu Agama Islam.


Jika memang sesuatu itu di larang oleh Syari'at. Maka dengan tegas ia menyampaikan kepada murid-muridnya jika halal dan haram itu jelas tidak bisa harus di langgar ataupun di tutupi.


Yang benar tetap benar dan yang salah harus di perbaiki. Hingga tidak jarang semua murid-murid patuh dengan Bu Zura, oleh sebab ilmu yang di sampaikan oleh Bu Zura berasal dari ketulusan hatinya.


Ilmu yang di laksanakan dengan sepenuh hati,maka akan mudah pula untuk diterima oleh hati.


Bu Azzura bukan hanya sekedar menjadi guru mata pelajaran Akuntansi tapi ia merangkap sebagai guru Rohis di SMK Negeri 1 XX. Selain itu, Bu Azzura adalah wali kelas Zahrana di SMK tersebut.


⚛⚛⚛ Flash back off ⚛⚛⚛


Empat Tahun Kemudian.


Masa-masa Putih-biru Zahrana dan teman-temannya pun kini pun telah berlalu. Semuanya telah berganti menjadi Putih abu-abu. Zahrana kini telah duduk di SMK kelas 3 akhir.


Kini usia Zahrana telah pun bertambah menjadi 17 tahun sudah. Kini ia telah benar-benar bertumbuh menjadi gadis remaja yang anggun dan mempesona.


Tubuhnya semakin gempal padat dan berisi. Kulitnya semakin putih mulus, wajahnya pun terpampang indah dan bercahaya oleh karena tetesan air wudhu yang sering membasahi kulit wajahnya.


Alis mata Zahrana terlihat tebal, hidungnya mancung, mulutnya terlihat mungil, kelopak matanya benar-benar sipit seolah-seolah menunjukkan jika dirinya keturunan Tionghoa alias Chinese. Namun ia adalah muslim sejati.


Meskipun Zahrana memiliki postur tubuh yang hanya SENTIMEN alias berapa centimeter dari semen, yakni 147 cm. Namun hal itu tidak mengurangi kecantikan dan pesona Zahrana.


Kecantikan alami Zahrana justru semakin terpancar di usia remajanya yang kini menginjak 17 tahun. Hijab yang di kenakannya pun justru semakin menambah pesonanya.


Zahrana benar-benar terlihat anggun dan mempesona. Ia benar-benar bak Bidadari turun dari kayangan. Wajarlah jika ia semakin mendapat gelar " Wanita Seribu Pesona dan Bunga Desa serta Primadona di sekolahnya.


Zahrana termenung di balkon dekat taman bunga dirumah kakaknya Sabrina Zelmira Al Aqra di Kota S. Ia pun menghirup udara segar di sore hari.


Desiran angin pun berhembus menerpa surai wajahnya, membuat Zahrana pun kembali mengingat kenangannya beberapa tahun yang lalu. Di mana ia pernah merajut kebersamaan dengan seseorang yang pernah menjadi kekasih hatinya, yakni Aslan Abdurrahman Syatir.


"Apa kabar dengan mu, wahai insan yang di sana? maafkan aku karena selama 4 tahun terakhir ini menghindari mu dan benar-benar menjauh dari kehidupan mu. Sebab ku tak ingin dirimu terlalu berharap banyak pada ku. Sungguh aku benar-benar tak ingin lagi mengulangi kesalahan yang sama, seperti dulu."


"Dengan kepergian ku dari hidup mu ku berharap dirimu kini benar-benar move on dari diriku. Semoga kau membenciku dengan segala apa yang telah kulakukan terhadapmu."


"Semoga dirimu kini telah menemukan yang lebih baik dari ku, Kak Aslan!" bisikan hati Zahrana.

__ADS_1


Sudah 4 tahun terakhir ini Zahrana berusaha menghindari Aslan Abdurrahman Syatir. Setelah lulus dari bangku SMP dan berlanjut ke jenjang SMK, Zahrana menetap di rumah Kakaknya Sabrina Zelmira Al Aqra.


Selama kurun waktu 3 tahun ini, Zahrana nampak betah tinggal di kota S. Semakin hari Zahrana semakin memperdalam ilmu agamanya. Ia pun juga telah benar-benar memahami jika pacaran itu haram hukumnya dalam pandangan syari'at Islam.


Berpedoman dengan ilmu yang telah Zahrana dapatkan. Ia pun berusaha untuk Istiqomah dengan apa yang telah dipelajarinya.


Dengan segelas susu hangat dan di temani aneka cemilan di sore hari, Zahrana nampak menikmati keindahan alam dan bunga-bunga yang bermekaran dan bertumbuh segar di dalam masing-masing potnya.


Lamunan Zahrana pun buyar, ketika kakaknya Sabrina Zelmira Al Aqra menghampirinya.


"Dek ... kok melamun? apa yang sedang kamu pikirkan? pasti kangen Ayah dan Bunda di kampung ya?"


"Kakak rasa, sudah saatnya kamu pulang ke kampung halaman kita, Dek. Sepertinya kamu telah berhasil melupakan sosok pemuda yang dulu pernah mengisi hari-hari mu."


"Kakak harap, setelah ini Zahra benar-benar Istiqomah. Jangan kau tempuh lagi jalan itu, Dek."


"Jaga pandangan mu dari yang bukan mahram mu, kakak do'akan agar dirimu mendapatkan jodoh yang terbaik nantinya, Dek."


"InsyaAllah, Kak. Aku berharap bisa bertemu kembali dengan kak Yusuf Amri Nufail Syairazy. Aku menunggu kedatangannya pulang dari Kairo kak. Dia sekarang pasti sudah bertumbuh menjadi sosok pria yang semakin religius. Aku berharap jodoh ku seperti kak Yusuf," ucap Zahrana dengan senyum manisnya.


"InsyaAllah, Dek. Yang terpenting pantaskan dirimu dulu dihadapan Allah, agar kelak bisa bersanding dengannya."


"Iya kak, insyaAllah setelah lulus dari SMK ini Zahra hendak bekerja dulu kak, guna mengisi hari-hari ku. Aku pun akan terus menggali ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan syari'at Islam."


"Aku akan mengikuti berbagai ceramah dan kajian, juga aktifitas realigi lainnya."


"InsyaAllah bulan depan, sudah di umumkan kelulusan kami, Kak. Do'akan agar Zahra lulus dengan nilai yang baik, Kak."


"InsyaAllah ... Minggu depan Zahra ingin pulang ke Desa, Zahra rindu dengan Ayah dan Bunda, mereka pasti sangat kesepian apalagi Raihan sekarang sudah masuk Pondok Pesantren Islamic Center di Desa XX. Tentunya tidak ada yang menemani mereka untuk sekedar bersenda gurau seperti dulu."


"Iya Dek, sudah saatnya kamu pulang ke Desa untuk sekedar menjenguk Ayah dan Bunda. Kakak dan Mas Fardhan insyaAllah pas Anak-anak libur sekolah baru akan berkunjung ke tempat Ayah dan Bunda," ucap Sabrina Zelmira Al Aqra.


Sabrina Zelmira Al Aqra dengan suaminya Fardhan Arkan memiliki dua buah hati dari hasil pernikahan mereka yang kini sudah berjalan 9 tahun.


Anak perempuan mereka bernama Fairuz Yumna Haleema, usianya 8 tahun. Yumna duduk di kelas 3 SD di kota S, sedangkan anak laki-laki mereka adalah Muhammad Shaka Al Daffa. Shaka baru berusia 5 tahun, tidak lama lagi Shaka akan masuk sekolah Taman Kanak-kanak.


Selama 3 tahun terakhir ini, Yumna dan Shaka lah yang menjadi pelipur lara untuk Zahrana. Kedua ponakannya tersebutlah yang senantiasa menghibur Zahrana oleh kelucuan mereka yang sangat menggemaskan.


***


Satu Minggu kemudian.


'Ammah Zahra, kami kangen 'Ammah. Benarkah 'Ammah ingin pulang ke Desa hari ini? Yumna dan Shaka pasti akan sangat merindukan 'Ammah?" ucap Yumna.


Yumna dan Shaka pun menghamburkan diri kedalam pelukan Zahrana.


"Jangan lama-lama ya di sana? salam untuk Nenek kakek." Yumna masih terus bersikap manja. Ia seolah-olah tidak rela melepaskan kepergian Zahrana dari kediaman mereka


"Mohon maaf ya ponakan 'ammah yang cantik dan ganteng. Insya Allah nanti 'ammah akan kembali ke tempat Shaka dan Yumna lagi." Zahrana pun mencium kening kedua keponakannya tersebut.

__ADS_1


Sementara Sabrina dan suaminya, Fardhan Arkan nampak tertegun melihat interaksi kedua anaknya bersama Zahrana.


"Dek, salam untuk Ayah dan Bunda. Kami akan sangat merindukanmu." Sabrina memeluk erat adiknya itu.


"Iya, kak. Zahra pamit dulu!"


Zahrana pun balas memeluk erat kakaknya. Ia pun tak lupa mencium punggung tangan kakaknya Sabrina.


Kemudian Zahrana berpamitan dengan kakak iparnya Fardhan Arkan. Ia pun menelungkupkan tangannya di dadanya. Ia kini telah menerapkan perlahan-lahan tentang syari'at Islam.


Zahrana tidak lagi bersalaman atau pun sengaja bersentuhan dengan yang bukan mahramnya. Zahrana pun tidak lupa mengucapkan salam pada Sabrina dan keluarga.


Bis yang di tunggu Zahra pun tiba. Ia pun segera beranjak naik ke dalam mobil sembari melambaikan tangannya pada Sabrina dan dua bocah kesayangannya,. Yumna dan Shaka.


Zahrana nampak menikmati perjalanannya. Abang Sopir pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Para penumpang lain pun nampak menikmati alunan musik dari negeri Jiran, yang di stel oleh Abang Sopir dari sejak tadi.


Zahrana pun tiba-tiba terlelap. Ia tidak menyadari jika perjalanan yang sudah di tempuh sudah sekitar satu jam lebih. Sebentar lagi ia akan segera sampai ke tempat tujuannya. Desa yang sangat ia rindukan selama kurun waktu 3 tahun ini.


"Desa XX, sudah tiba. Adakah yang akan turun di sini?" Abang Sopir seperti paham betul tempat tinggal Zahrana di mana?"


Sebab, waktu SMP dahulu kerap kali Zahrana naik mobil bis tersebut untuk sampai ke sekolahnya.


Zahrana pun terbangun dari tidur lelapnya, ketika mendengar pekikan Abang Sopir.


"Stop Bang!"


"Kiri ...."


"Yach, lewat!"


Zahrana pun segera turun dari Bis tersebut. Ia kerepotan membawa koper bajunya. Tak lupa ia pun membayar ongkos mobilnya.


Zahrana turun di depan rumah megah yang kini sudah di bangun dengan lebih mewah lagi. Tokonya pun sudah di bangun menjadi tiga deretan. Toko Sembako, toko sayur dan counter khusus aksesoris handphone.


"Counter Aslan Cell?" Zahrana bertanya-tanya didalam hatinya.


Setelah empat tahun berpisah, begitu banyak sekali perubahan yang terjadi di Desa Zahrana. Semua orang kini terlihat tujuh tingkat lebih maju duduk perekonomiannya.


Zahrana dengan penuh kerepotan membawa koper bajunya, juga barang lainnya yang ia tenteng menuju rumahnya.


"Ya Allah ... merepotkan sekali, seperti orang yang hendak berdagang keliling saja!" Zahrana mengoceh sendiri. Ia perlahan-lahan menarik kopernya juga menenteng barang-barang lainnya yang ia bawakan dari kediaman kakaknya di kota S.


Zahrana tidak menyadari jika gerak-geriknya di perhatikan oleh seorang pria yang kini sudah berusia 23 tahun. Ia terlihat sangat tampan dan berkharisma. Ya, ia adalah Aslan Abdurrahman Syatir yang 4 tahun terakhir ini sangat merindukan kehadiran Zahrana.


Pertemuan setelah 4 tahun berpisah, membuat Aslan merindu dendam dengan sosok Bidadari yang dulu pernah bertahta dihatinya.


"Tsamirah Zahrana Az Zahra ... kau kah itu? Apakah ini nyata? Ataukah hanya mimpi belaka? sungguh aku sangat merindukanmu!" bisikan hati Aslan Abdurrahman Syatir.


🌷🌷🌷

__ADS_1


...Kata mutiara👉 "Merindukan seseorang adalah bagian dari mencintai mereka. Jika kamu tidak pernah berpisah, kamu tidak akan pernah benar-benar tahu seberapa kuat cintamu. Aku bahkan tidak bisa mulai memberitahumu betapa aku merindukanmu. Aku tidak bisa berpura-pura tidak merindukanmu karena aku melihatmu dalam segala hal yang aku lakukan.". ( Bisikan_H@ti )...


__ADS_2