
Zahrana telah sampai di depan rumahnya, Bunda Fatimah dan Buya Harun sudah menanti kedatangannya. Tampak Rona bahagia terpancar dari wajah keduanya menyambut kehadiran puteri tercinta mereka yang sudah 3 tahun ini tidak pernah menampakkan batang hidungnya di Desa kelahirannya.
Bunda Fatimah dan Buya Harun hanya sesekali saja mengunjungi puterinya di kota S. Sebab Buya Harun fokus mengurus Ayam-ayam ternaknya dan juga perkebunan lada dan karet miliknya.
Tiga tahun terakhir ini mereka lebih sering berkomunikasi dengan puterinya itu menggunakan alat komunikasi handphone sebagai bahasa pengantar ketika mereka sedang merindukan puterinya itu.
Walaupun hanya via telfon dan SMS itu sudah cukup mewakili interaksi diantara mereka. Kala itu belum ada yang namanya WhatsApp, Facebook, Instagram dan sejenisnya. Belum ada yang namanya Video call seperti zaman sekarang ini.😁😁
"Assalamu'alaikum ... " ucap Zahrana dan Aslan bersamaan.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... " Buya Harun dan Bunda Fatimah seketika tertegun, pikir mereka kenapa Puteri kesayangan mereka bisa bersama dengan Aslan Abdurrahman Syatir.
"Ayah, Bunda. Zahra kangen!" Zahra berlari mencium punggung tangan dan memeluk erat Ayah dan Bundanya secara bergantian.
Air mata Zahrana luruh lah sudah. Ia benar-benar merindukan kedua orang tuanya.
"Kau sudah besar, Nak. Kau semakin cantik dan anggun wahai Bidadari syurganya Ayah dan Bunda." Bunda Fatimah mengecup kening Zahrana.
Begitu pun Buya Harun, ia tampak bahagia melihat Puterinya kini pun telah menutup auratnya secara sempurna.
"Buya bangga pada mu, Nak." Buya Harun pun mengelus pucuk kepala Puteri kesayangannya itu.
Zahra masih terus mengeluarkan air matanya. Ia benar-benar terharu sebab jarang sekali bersua dengan kedua orangtuanya, setelah 3 tahun ia menetap di kediaman kakaknya Sabrina Zelmira Al Aqra di Kota S, yang tak jauh dari keberadaan SMK Negeri 1 XX tempat Zahrana kini bersekolah.
Selain itu, Zahrana sengaja ingin menghindari dan melupakan semua kenangannya bersama Aslan Abdurrahman Syatir yang dulu pernah menjadi masa lalunya.
"Nak Aslan, maaf. Silahkan masuk, Nak!" Buya Harun baru menyadari kehadiran Aslan yang masih berdiri di ambang pintu teras, memperhatikan interaksi antara Zahrana dan kedua orang tuanya.
"Oh, iya Buya. Terimakasih!" Aslan segera masuk kedalam dan mengantarkan koper dan barang-barang Zahrana.
Zahrana termangu. Ia tidak tahu harus berkata apa terhadap Aslan, namun jelas ia membatasi jaraknya dengan pria tersebut. Zahrana benar-benar tidak ingin lagi membuka celah untuk Aslan. Cukup masa lalu yang pernah mereka lewati bersama menjadi sebuah pengajaran dalam proses kehidupan mereka agar lebih baik dimasa depan nanti.
Zahrana segera memasukkan semua barang-barangnya kedalam kamarnya. Ia tidak ingin berlama-lama berada di hadapan Aslan. Aslan sengaja ia tinggalkan bersama Buyanya.
Bunda Fatimah ikut masuk kedalam bilik kamar Puterinya.
"Nak, jangan terlalu kentara jika kita tidak menyukai kehadiran seseorang disisi kita. Bunda tidak tahu kenapa kini kau begitu acuh terhadap laki-laki termasuk Nak Aslan."
__ADS_1
"Tapi, tidak begini caranya, Nak. Tetaplah rendah hati dan bersikap ramah terhadap siapapun, meskipun terhadap lawan jenis mu tetap lah bersikap sewajarnya. Jangan terlalu berlebihan menampakkan diri mu, kecuali yang biasa tampak dari mu. Namun, tetap jaga komunikasi mu dan bergaul lah selayaknya dan jangan berlaku ataupun merasa seolah-olah diri kita lebih baik dari siapapun."
"Sejatinya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri diatas muka bumi ini. Sebab, kesombongan itu hanya pantas di miliki oleh Sang Pencipta kita, yakni Allah Subhanahuwata'ala."
"Tetaplah menjadi anak Ayah dan Bunda, yang santun dan ramah terhadap siapapun!" Bunda Fatimah menatap lekat nanar wajah Zahrana.
"Tapi, Bun--"
Zahrana hendak menjelaskan tentang rasanya terhadap Aslan, namun Bunda Fatimah langsung memeluk Zahrana dan melanjutkan kalimatnya.
"Nak, Bunda sudah tahu mengenai kisah yang terjalin antara dirimu dan Nak Aslan tempo dulu. Kalian diam-diam menjalin hubungan dibelakang Ayah dan Bunda, kan? Sampai kalian putus hubungan pun Bunda mengetahuinya, hingga kau memutuskan untuk menjauhinya pun hingga sampai menetap di rumah kakak Sabrina pun Bunda tahu," ucap Bunda Fatimah sembari memeluk Zahrana dan mengelus pucuk kepala anaknya.
Zahrana kaget mendengar penuturan Bundanya. Pikirnya darimana Bundanya bisa mengetahui itu semua.
"Ma-af Bunda, jika dahulu Zahra tidak amanah. Siapa yang telah membeberkan itu semua Bunda?" tanya Zahrana dengan rasa bersalah.
Ingin rasanya Zahrana menangis, sebab mengenang peristiwa masa lalunya. Betapa malunya dirinya mengingat masa-masa jahiliyahnya itu. Berpacaran dengan Rivandra juga berpacaran pula dengan pria dewasa seperti Aslan Abdurrahman Syatir.
Yang menyedihkan dan lebih menghinakan. Ia pun pernah melakukan adegan panas bersama Aslan. Ciuman itu pun sampai detik ini masih terus melekat dalam ingatan Zahrana. Ia tidak pernah melupakan peristiwa yang buruk itu.
"Nak, sungguh Ayah dan Bunda sudah memaafkan mu. Terlepas dari mana Bunda mengetahui itu semua, tidak ada yang harus dijelaskan lagi, sebab Bunda bahagia. Kini Princess Ayah dan Bunda sudah menjadi gadis remaja yang anggun nan Sholihah," ucap Bunda Fatimah seraya mengecup kening Puterinya berulang kali.
Zahrana semakin mempererat pelukannya dengan Bundanya.
"Terimakasih Bunda. Zahra bangga menjadi anak Bunda. Zahra sayang Bunda," ucap Zahrana seraya mencium pipi Bundanya.
"Ya sudah, sekarang Zahra buatkan minuman untuk Nak Aslan. Hargai tamu yang datang ke rumah walaupun hanya sekedar suguhan segelas air putih saja!" titah Bunda Fatimah.
Zahrana segera pergi menuju dapur menuruti titah Bundanya, dengan niat dihati hanya sekedar menghargai tamu yang datang kerumahnya walaupun tidak di undang.
Melihat kehadiran Zahrana hendak menyuguhkan minuman padanya hati Aslan pun terasa berbunga-bunga. Pikirnya, Zahrana masih menyimpan rasa terhadapnya. Padahal, sejatinya sekali lagi Zahrana meyakinkan hatinya.
"Bismillah ... ini hanya sekedar menghargai. Sama sekali tidak ada rasa apa-apa dan maksud terselubung lainnya," bisik hati Zahrana.
Aslan nampak terpana dengan pesona Zahrana. keterkaguman Aslan terhadap Zahrana tertangkap oleh indera penglihatan Buya Harun dan Bunda Fatimah.
Namun, Buya Harun berusaha bersikap santai. Pikirnya, wajar sekali jika ada lelaki yang terpesona dengan keindahan dan keanggunan Puterinya. Namun, bukan berarti Buya Harun membiarkan Puterinya dari pandangan mata liar. Ia akan selalu menjaga kesucian hati dan jiwa Puterinya itu.
__ADS_1
Sementara Bunda Fatimah tidak membatasi lagi interaksi Zahrana dengan Aslan seperti zaman Zahrana masih SMP dulu. Sekarang, Bunda Fatimah berpikir jika Puteri kesayangannya kini pun sudah besar tentu bisa mawas diri, dari pergaulan bebas yang tidak mengenal batasan dan tempat.
Zahrana segera meletakkan minuman dan beberapa cemilan untuk Aslan di meja ruang tamu mereka.
"Di minum, kak. Cemilannya juga, silahkan di cicipi!" titah Zahrana tanpa sedikitpun berniat untuk melihat ke arah Aslan.
Zahrana terus menunduk. Ia tidak ingin bersitatap dengan Aslan. Dalam pikirannya ia berharap Aslan segera pergi dari kediamannya.
Sementara Bunda Fatimah dan Buya Harun begitu memperhatikan gelagat Aslan dan Zahrana anaknya.
"Maa syaa Allah ... Bunda kagum pada mu, Nak. Kini kau benar-benar menjaga pandangan mu terhadap lawan jenismu," cicit Bunda Fatimah didalam hatinya.
Buya Harun nampak tersenyum bahagia, sebab Puterinya kini benar-benar telah berubah. Zahrana benar-benar menjaga marwahnya dari melihat yang bukan mahramnya.
"Kring ...."
"Kring ...."
"Kring ... " ponsel milik Aslan Abdurrahman Syatir pun berbunyi di tengah-tengah asyiknya ia menikmati hidangan yang disuguhkan oleh Zahrana.
Aslan menekan tombol hijau. Ia pun segera menjawab panggilan tersebut.
📱"Halo Nak! kau dimana? counter mu ramai sekali pengunjung, segera kembali!" titah Ibu Ratna Anjani.
📱"Ma-af Ibu, Aslan merepotkan. Iya, Aslan akan segera kembali.
📱 "Baiklah, Ibu tunggu 5 menit dari sekarang!"
📱"Iya, Ibu." ucap Aslan sebelum memutuskan sambungan telfonnya, namun Ibu Ratna Anjani sudah lebih dahulu mematikan panggilan di antara mereka.
Aslan segera menegak minuman yang di suguhkan Zahrana. Ia pun mencicipi aneka cemilan yang di suguhkan Zahrana. Sedikitpun ia tidak ingin menyisakan apa yang telah disuguhkan oleh Bidadari hatinya tersebut.
"Zahra apa pun yang kau hidangkan untuk ku, itu sangatlah istimewa dan berharga bagi ku!" cicit Aslan di dalam hatinya.
🌷🌷🌷
Pencerahan 👉 "Syukurilah derita masa lalumu, karena ia adalah penyebab kekuatanmu di hari ini. Dewasa tak selalu menuntut kita berubah, tapi perubahan yang baik selalu menuntut kita tuk lebih dewasa.". ( Bisikan_H@ti Tsamirah Zahrana Az Zahra )
__ADS_1