Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
229. 5 Tahun Penjara


__ADS_3

Aslan keluar dari penjara yang kini menjadi tempat bersemayamnya, setelah aksi nekatnya hendak menodai Zahrana. Selain itu, ia pun terjerat kasus percobaan tindak kejahatan terhadap Yusuf Amri Nufail Syairazy. Sebab, ia membayar berapa orang penjahat untuk melenyapkan Yusuf, yang kini telah menjadi suami Zahrana.


Aslan berjalan menuju ruangan tempat membesuk para tahanan, ia tertunduk malu ketika melihat kehadiran orang tuanya Ibu Ratna Anjani dan Ayah Anjasmara juga adiknya Nandini Sukma Dewi datang menjenguknya kecuali Arjuna. Ia ada kesibukan tersendiri yang katanya tidak bisa untuk ditinggali.


Meskipun pengantin baru, Arjuna dan Nandini tidak begitu menampakkan kebersamaannya semenjak Arjuna bertemu kembali dengan Adelia mantan pacarnya. Arjuna tidak begitu fokus lagi untuk memperhatikan Nandini seperti saat-saat mereka bersama dulu.


"Kak Aslan, Nandini kecewa dengan kakak. Kenapa kakak tega ingin melenyapkan kak Yusuf? kenapa kakak tega ingin menodai Zahrana sahabatku!" ucap Nandini berapi-api.


Aslan menundukkan wajahnya, ia tidak berani menatap wajah adik semata wayangnya itu.


"Iya, Nak. Kau membuat malu Ibu dan Ayah. Ibu malu dengan Buya Harun dan keluarga. Terutama Zahrana, selama ini Ibu selalu membenci Zahrana. Namun, ternyata Ibu salah menilai. Ibu tidak pernah menyangka jika dirimu yang terkenal santun dan sholeh di mata Ayah dan Ibu tega-teganya berbuat nista seperti ini!" ucap Ibu Ratna Anjani dengan menangis pilu.


"Apa salah dan dosa Ibu, Nak? sehingga kamu dan adikmu harus menerima semua kepahitan ini? kau melakukan tindakan kriminal dan asusila. Sedangkan adikmu harus menanggung hamil diluar nikah. Ibu benar-benar merasa gagal mendidik kalian!" ucap Ibu Ratna Anjani dengan isak tangisnya.


Ayah Anjasmara memeluk Ibu Ratna Anjani dalam dekapannya. "Sabar, Bu. Semua sudah menjadi kehendak Allah Subhanahu wata'alla. Kita harus ikhlas untuk menerimanya!" ucap Ayah Anjasmara dengan mengusap punggung istrinya.


Ibu Ratna menangis tersedu-sedu meluapkan emosinya yang tidak sanggup lagi untuk ia menahannya.


"Ibu, maafkan Nandini!" Nandini memeluk ibunya dengan tetesan air mata yang kini mengalir deras membanjiri pipinya.


Ibu Ratna hanya meneteskan air matanya, ia tidak bisa berucap apa-apa lagi kepada putra dan putrinya.


"I-ibu, ma-afkan Aslan Bu. Aslan khilaf!" ucap Aslan dengan menyesali perbuatannya.


Ibu Ratna hanya menangis tersedu-sedu, ia benar-benar telah pasrah.


"Nak, kau harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu!" ucap Ayah Anjasmara dengan menepuk pundak putranya tersebut.


Aslan menundukkan wajahnya, ia benar-benar merasa terpuruk dan menyesal atas apa yang diperbuatnya. Memory-nya kembali merekam bagaimana ia dengan beringasnya ingin merenggut paksa kesucian Zahrana, wanita yang sangat dicintainya dari sejak dahulu hingga saat ini.


Namun, karena rasa cemburu dan rasa cintanya yang berlebihan pada Zahrana membuat ia harus mendekam di balik jeruji selama 5 tahun penjara. Membuat keluarganya merasa sedih dengan ketetapan hukum tersebut. Selama kurun waktu tersebut mereka harus berpisah dengan Aslan Abdurrahman Syatir putera semata wayang mereka.

__ADS_1


"Ampuni hamba ya Rabb, sebab telah tersesat terlalu jauh dari jalan-Mu!" bathin Aslan meringis pilu. Kini ia harus menerima kenyataan, segala bukti-bukti telah menjurus kepadanya tanpa ada sedikitpun jalan untuknya mengelak. Sebab, ia memang melakukan itu semua.


Aslan melepaskan kepergian keluarganya dari hadapannya. Jam besuk sudah habis ia pun harus kembali kedalam jeruji, tempat yang kini menjadi penjara khusus dirinya. Tidak ada lagi kebebasan seperti hari-hari biasanya. Ia hanya bisa melihat tembok dan jeruji juga orang-orang yang tak dikenalnya berada dalam satu bui dengannya.


"Dasar cengeng!" ucap salah satu tahanan yang berkumis tebal. Ia adalah gembong perampok yang sangat terkenal beringasnya. Ia pun memberikan pukulan di wajah dan perut Aslan dengan seringai jahatnya.


Aslan meringkuk dan tidak sempat menghindar. Ia meringis kesakitan, menahan sakit di perut dan wajahnya akibat pukulan tahanan yang berkumis tebal tersebut.


"Cepat bangkit! kau harus menjadi budak ku, pijit aku! jika kau tidak ingin ku patahkan kaki dan tangan mu!" pekik tahanan gembong perampok tersebut.


Aslan tidak sudi di perbudak oleh gembong perampok tersebut, ia lebih memilih mempertahankan harga dirinya ketimbang menjadi budak dari kepala perampok itu.


Aslan bangkit dari duduknya, hanya dengan satu tendangan dan pukulan ia pun membalas pukulan gembong penjahat tersebut. Namun, benteng pertahanannya melemah ketika ia diserang dan di keroyok lima orang sekaligus hingga membuatnya babak belur.


Polisi penjaga jeruji itu pun mengamankan Aslan yang telah babak belur, "Kalian semua, berani-beraninya berbuat keributan!" ucap polisi yang bertugas mengamankan dan melerai mereka.


"Ya Allah, betapa mengsedih nasib ku!" bathin Aslan dengan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya yang terasa remuk oleh serangan dan keroyokan tahanan satu buih dengannya.


***


Di Rumah Sakit.


"Yaa Zawjatii, kamu harus makan buah kurma ini. Biar cepat pulih," ucap Yusuf dengan menyuapkan buah kurma Mesir untuk Zahrana istrinya.


"Terimakasih, Hubby." Zahrana segera mengunyah buah kurma tersebut dengan lahapnya. Sebab, itu adalah buah favoritnya.


"Sama-sama, Zawjatii." Yusuf nampak tersenyum bahagia melihat keceriaan sang isteri.


"Hubby, Zahra mau minum air putih. Zahra haus," ucap Zahrana dengan penuh manja pada Yusuf suaminya.


"Baiklah, isteri ku!" ucap Yusuf penuh kasih dan segera menyodorkan botol air mineral pada Zahrana.

__ADS_1


"Hati-hati jangan terburu-buru, minumnya pelan-pelan saja!" ucap Yusuf dengan mengusap pucuk kepala isterinya.


Zahrana tersenyum, hanya kata bahagia yang kini ia rasakan bersama suaminya.


"By, aku merasakan aku sudah sehat, bolehkah besok aku pulang?" tanya Zahrana sembari menikmati Buah kurma yang di suapi Yusuf untuknya.


"Insya Allah, jika dokter sudah mengizinkan pulang kita akan pulang sayang!" ucap Yusuf dengan menenangkan istri kesayangannya.


Zahrana nampak senang, suaminya selalu siaga mendampinginya tanpa mengenal lelah untuk merawatnya.


"Maa syaa Allah yang sudah halal. Dunia pun terasa milik berdua!" Sabrina dan suaminya Fardhan Arkan tampak menggoda Zahrana dan Yusuf.


Wajah Zahrana nampak bersemu merah, oleh godaan kakaknya.


"Kakak dan Mas Fardhan pulang dulu ya? Shaka dan Yumna sudah mengantuk berat. Jangan banyak pikiran, cepat pulih. Biar cepat pulang, nggak enak di rumah sakit terusan. Lebih baik cepat-cepat honeymoon, biar kakak cepat dapat ponakan," ucap Sabrina dengan terus menggoda Zahrana. Hingga membuat Zahrana semakin tersipu malu.


Yusuf yang masih terlihat polos pun, merasa tersipu. Sebab ia pun belum menunaikan nafkah batinnya terhadap istrinya. Pernikahan itu pun terjadi secara dadakan membuat keduanya tidak terpikirkan untuk honeymoon atau apalah namanya, yang menjadi hal penting bagi Yusuf istrinya bisa sembuh dan lepas dari rasa traumanya.


"InsyaAllah, Kak. Do'akan Zahra dan kak Yusuf dapat melewati semua proses kehidupan ini."


Zahrana tertunduk lesu, ia khawatir tidak bisa menjadi istri yang sempurna untuk Yusuf. Lantaran rasa traumanya yang teramat dalam, akan terasa sulit baginya untuk bersentuhan lebih dengan laki-laki mengingat betapa beringasnya Aslan seorang yang menjadi masa lalunya hendak menodai dirinya.


Meskipun Yusuf telah sah menjadi suaminya, Zahra tetap dilanda ketakutan jika sampai melakukan hubungan layaknya suami istri. Kecuali hanya sentuhan biasa Zahrana masih mampu menerima itu, meskipun tubuhnya tetap terlihat gemetaran.


Setelah kepergian Sabrina bersama suaminya, dan juga ponakannya Shaka dan Yumna. Zahrana nampak termangu memikirkan ucapan kakaknya tentang honeymoon.


"Yaa Zawjatii, jangan di pikirkan tentang ucapan kak Sabrina, jika memang kita belum bisa melakukan hal itu tidak apa-apa. Kakak menikahi mu bukan hanya karena nafsu semata, kakak ingin menjadi sosok imam yang diridhoi Allah dapat membimbing-Mu di jalan-Nya. Menjadikanmu sosok bidadari dunia dan akhirat ku. Aku mencintaimu karena Allah isteri ku!" ucap Yusuf dengan menggenggam jemari tangan Zahrana juga mengecup lembut kening bidadari yang sangat dicintainya itu.


💙💙💙


Untaian mutiara hikmah 👉"Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan, atau mempersilakan. Yang pertama adalah keberanian, yang kedua adalah pengorbanan.Tidak ada solusi yang lebih baik bagi dua insan yang saling mencintai dibanding pernikahan. Ketika seorang suami dan istri saling berpandangan dengan penuh cinta, Allah melihat mereka dengan belas kasih."

__ADS_1



__ADS_2