
Waktu semakin menunjukkan pukul 19.00 Wib, sebentar lagi akan tiba saatnya sholat Isya.
Para Santriwan dan Santriwati masih tetap semangat mendaras Qur'an dan Muroja'ah serta menyetor hafalan mereka kepada Buya Harun.
Sebenarnya ada seorang Santriwan yang sangat mencuri perhatian Buya Harun. Ia adalah Yusuf Amri Nufail Syairazy ( Anak laki-laki tampan yang diberikan Tuhan untuk menjadi ulama besar dengan penuh kasih sayang ), arti nama panjang Yusuf.
Sesuai dengan namanya, Yusuf memiliki wajah tampan ke Arab-Araban dengan jambang dan jenggot tipis didagunya yang sudah mulai tumbuh, diusianya yang sudah beranjak 17 tahun. Ia bersekolah di MAN ( Madrasah Aliyah Negeri ), duduk di kelas 3 akhir.
Yusuf sudah sekitar 5 tahun lebih berguru dengan Buya Harun dan sekarang ia sudah setoran hafalan sekitar 27 Juz, tinggal Muroja'ah 3 Juz lagi untuk menggenapkan 30 Juz Al Qur'an-nya.
Buya Harun sangat mengagumi Yusuf lantaran kebaikan akhlak dan Budi pekertinya. Di tengah usianya yang baru 17 tahun, dengan kecerdasan yang di milikinya ia sudah mampu memahami dan menghafalkan ilmu pengetahuan dan Al Qur'an dengan baik.
Sebenarnya seringkali Buya Harun melihat Yusuf sekilas mencuri pandang ke arah Zahrana anaknya, namun setelah itu Yusuf segera menundukkan pandangannya, agar tetap terjaga dari menatap yang bukan mahramnya.
Namun, Buya Harun tetap berprasangka baik. Berharap di masa depan nanti Zahrana bisa berjodoh dengan laki-laki Sholeh seperti Yusuf di saat usia Zahrana sudah terbilang cukup untuk merasakan itu semua.
"Nak Yusuf, bacaan Qur'an mu sudah baik dan benar. Kamu sudah bisa memahami ilmu tajwid dengan benar, sering-sering lah Muroja'ah agar hafalan mu tetap melekat dan merendah hati lah dengan segala ilmu yang engkau miliki ya, Nak!"
"Sebentar lagi engkau akan menyelesaikan semua hafalan mu, dan jika nantinya kau tidak berguru lagi dengan Buya, jangan lupa amalkan semua ilmu mu ya, Nak! agar ilmu yang engkau miliki menjadi berkah dan berbuah pahala untuk dunia akhirat mu," tutur Buya Harun penuh pengharapan pada Yusuf Amri Nufail Syairazy.
"Insya Allah ... Buya," tunduk Yusuf Patuh.
Nandini yang selalu heboh, berbisik kecil di telinga Zahrana.
"Coba aku belajar mengaji dari sejak lama dengan Buya Harun, sudah pasti aku akan betah, apalagi setiap hari bertemu dengan pemuda Sholeh seperti Yusuf sudah tampan alim lagi," bisik Nandini dengan gayanya yang terlihat mulai feminim.
Zahrana hanya mengulum senyum, mendengar penuturan Nandini. Sebab baru sekali ini ia melihat sahabatnya yang biasa metal berubah menjadi sangat feminim ketika melihat seorang pemuda Sholih seperti Yusuf.
Cinta dan Kirana ingin sekali ikut menimpali, namun tertahan sebab masih dalam kegiatan belajar-mengajar di Padepokan Buya Harun.
"Anak-anak, untuk hari ini kita akhiri dulu kegiatan belajar mengajar kita, semoga ilmu yang kita pelajari hari ini membawa berkah dan manfaat untuk kehidupan kita didunia menuju akhirat," tutur Buya Harun kepada para Santrinya.
"Aamiin ... aamiin ya Mujibassailin ..." ucap para Santriwan dan Santriwati penuh hikmat.
"Sebelum kita akhiri pertemuan kita hari ini, ada baiknya kita tutup dengan do'a Kafaratul Majelis sebagaimana yang disunnahkan oleh Nabi besar kita Muhammad Shalallahu alaihi wasallam," tutur Buya Harun kepada para Santriwan dan Santriwatinya.
Segenap Santriwan dan Santriwati pun serempak membaca do'a Kafaratul Majelis.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
Subhaanakallaahumma wa bihamdika, asyhadu al-laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka, wa atuubu ilaik
Artinya: "Maha Suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu."
Kegiatan belajar dan mengajar di Padepokan Buya Harun pun telah usai. Para Santri pun berbaris rapi bergiliran hendak keluar menuruni anak tangga Padepokan yang masih terbuat dari kayu biasa yang terbilang sangat unik. Pondok yang terlihat sederhana namun sejuk dipandang mata dan sangat nyaman untuk ditempati.
Zahrana hendak menuruni anak tangga, namun ujung mukenanya tersangkut di salah satu kayu anak tangga, sebab Zahrana terlalu menundukkan pandangannya ketika bersama-sama berada di baris akhir, bersebelahan dengan Santri Laki-laki yang hendak antri menuruni tangga Padepokan.
Zahrana bersebelahan dengan Yusuf Amri Nufail Syairazy. Dengan segenap hati dan rasa malu yang terpatri dalam jiwanya, Zahrana berusaha menundukkan pandangannya demi menjaga marwahnya, agar tidak membuat para Santri atau siapa pun terpana karenanya.
__ADS_1
Masih tinggal Zahrana dan Yusuf yang antri dibaris akhir.
Yusuf mempersilahkan Zahrana untuk turun duluan.
Namun siapa yang bisa menolak takdir, hanya karena mukena yang tersangkut di salah satu anak tangga, Zahrana hampir jatuh tersungkur ke bawah, namun dengan sigap pemuda yang bernama Yusuf menarik pergelangan tangan Zahrana, hingga mereka berdua jatuh terduduk di lantai papan tepat di ambang pintu Padepokan.
Zahrana terjatuh ke dalam dekapan pemuda yang bernama Yusuf dengan posisi Yusuf menopang Zahrana bertumpu pada kedua lututnya dengan tangan kiri nya menopang erat tubuh Zahrana agar tidak terjatuh. Sedangkan tangan kanannya mendekap tubuh Zahrana yang masih berbalut mukena. Zahrana perpegang erat dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Yusuf.
Seketika tatapan mereka pun beradu pandang. Yusuf seorang pemuda yang Sholih, yang belum pernah sama sekali bersentuhan dengan yang bukan mahramnya di buat gelagapan karenanya, sekujur tubuhnya terasa gemetaran.
Namun, bukan berarti Yusuf tidak terpana dengan pesona Zahrana, sebab Yusuf pun Pria normal yang juga memiliki rasa terhadap lawan jenisnya.
Akan tetapi Yusuf masih mampu menguasai hati nya, sebagai mana didikan Ummi dan Abi nya, "lebih baik ditusuk besi yang panas ketimbang berduaan apalagi bersentuhan dengan yang bukan mahramnya."
Untaian kata-kata itu masih teringat jelas di memori seorang pemuda bernama Yusuf, yang kerap kali didik oleh kedua orang tuanya untuk mengikuti syari'at Islam yang sebenarnya di usianya yang sudah beranjak 17 tahun, didikan orang tuanya sangat kental dan religius menjalankan hukum-hukum Islam yang terbilang fanatik antara halal dan haram itu jelas terlihat.
Zahrana terkesima berbalut kagum dengan sosok Yusuf yang selama ini tidak pernah Zahrana lihat dari jarak dekat kecuali hanya sekilas, kemudian mereka pun saling menundukkan pandangan dan sangat jarang sekali berinteraksi kecuali mengenai hal-hal yang penting dan mendesak.
"Maa syaa Allah ... betapa sempurnanya dirimu kak," bisik hati kecil Zahrana, ketika ia tak sengaja melihat aura wajah Yusuf yang ke Arab-Araban dengan jambang dan jenggot tipisnya.
"Astaghfirullahal'adzim ... " ucap Yusuf, ketika tatapannya bertemu pandang dengan Zahrana, bola mata Zahrana yang indah itu hampir saja menghipnotisnya.
Namun, duduk keimanannya lebih kuat dari hawa nafsu buruknya. Perlahan Yusuf melepaskan dekapannya dari Zahrana.
"Zahra maafkan aku! sungguh aa-aku ... a-aku ... tidak bermaksud menyentuh mu, maafkan aku!" ucap Yusuf gelagapan seraya menundukkan pandangannya dari menatap Zahrana.
"Tidak apa-apa kak, terimakasih sudah menolong Zahra," ucap Zahrana sembari menahan rasa sakitnya.
Zahrana hendak menuruni anak tangga, namun kakinya berasa sangat sakit dia tidak mempunyai kemampuan untuk melangkahkan kakinya.
"Ada apa Ra? kamu seperti nya terkilir," ujar Yusuf panik. Ia pun hendak memapah Zahrana.
Namun Zahrana tetap tidak mempunyai kekuatan untuk berjalan meskipun dipapah.
"Ma-af aku kembali menyentuhmu Zahrana," tutur Yusuf penuh nada kepanikan. Kemudian tanpa aba-aba ia langsung menggendong Zahrana ala Bridal style.
Zahrana pun terkesima berbalut kaget dengan perlakuan Yusuf terhadapnya, yang menurutnya terlalu berlebihan. Namun Yusuf langsung mengalungkan kedua tangan Zahrana pada lehernya dengan langkah cepat menuruni anak tangga hendak membawa Zahrana ke rumah Buya Harun, entah perasaan apa yang merasuki Yusuf sehingga refleks melakukan hal yang demikian, karena rasa paniknya yang berlebihan terhadap Zahrana.
Lupa jika ada batasan antara mereka berdua yang memang bukan mahramnya.
Sebenarnya tujuan Yusuf hanya ingin melakukan pertolongan pertama pada Zahrana, dia sangat khawatir dan panik sekali ketika melihat Zahrana yang sedang meringis kesakitan.
Para Santriwan dan Santriwati yang menyaksikan kejadian tersebut dibuat terperangah dengan apa yang mereka saksikan.
"OMG ( Oh My God ) ... Zahrana. Kak Yusuf! " pekik Nandini, Cinta dan Kirana sembari mengatupkan mulutnya dengan kedua telapak tangan mereka.
Semua Santriwan dan Santriwati spontan menoleh ke arah Zahrana dan Yusuf. Semula mereka tidak menyadari jika Zahrana telah berada dalam gendongan Yusuf ketika insinden hampir terjatuhnya Zahrana dari anak tangga.
Ada sebagian Santriwati yang berbisik-bisik kecil, seolah merasa beruntung jika diperhatikan lebih oleh pemuda Sholih seperti Yusuf, mereka membayangkan betapa sangat indahnya jika posisi mereka seperti Zahrana.
__ADS_1
Sedangkan Santri laki-laki ada yang sampai ber-istighfar ada yang mengucapkan kalimat Subhanallah, ketika melihat musibah yang terjadi pada Zahrana.
Sementara Zahrana sendiri tidak menyadari jika dari seberang jalan, Aslan Abdurrahman Syatir yang hendak pergi ke Mesjid guna menunaikan ibadah sholat isya, tidak sengaja melihat adegan antara Zahrana dan seorang pemuda bernama Yusuf.
Hati Aslan seakan terbakar api cemburu yang tak terelakkan ketika melihat jelas di depan matanya betapa Yusuf begitu paniknya melihat musibah yang menimpa Zahrana, seolah-olah Zahrana sangat istimewa di hati pemuda tersebut
"Ana ... " panggil Aslan setengah berlari. Ia berusaha menahan rasa cemburunya.
Aslan hendak menyusul Zahrana dan Yusuf, namun pemuda bernama Yusuf dengan begitu cepatnya melangkahkan kakinya dalam keadaan masih menggendong Zahrana untuk segera masuk kedalam rumah Buya Harun.
Bunda Fatimah dan Buya Harun pun segera keluar ketika melihat keributan yang terjadi di Padepokan.
"Ada apa?"
"Apa yang terjadi dengan mu, Nak?" tanya Bunda Fatimah dengan penuh kecemasan, ketika melihat puterinya berada dalam gendongan Yusuf Amri Nufail Syairazy.
Yusuf segera meletakkan Zahrana di sofa ruang tamu dengan sangat lembut dan hati-hati sekali karena khawatir akan menyakiti Zahrana.
"Maaf Buya, Bu Fatimah ... saya kurang sopan terhadap Zahrana. Saya benar-benar panik, sepertinya kaki Zahrana terkilir, dia tidak bisa berjalan dan bertumpu pada kakinya."
"Tadi ketika Zahrana hendak turun dari Pondok mukenanya tersangkut anak tangga, jika tidak segera saya tangkap mungkin Zahrana akan tersungkur ke bawah dan akan lebih berbahaya lagi," tutur Yusuf dengan segala kejujurannya.
"Tidak apa-apa, Nak Yusuf. Terimakasih telah menolong Zahrana dalam keadaan darurat."
"Maaf karena merepotkan mu," tutur Buya Harun.
Buya Harun sangat memahami Yusuf. Sebab Buya Harun sangat tahu marwah Yusuf selama ini sangat terjaga, tidak pernah sekalipun Yusuf bersentuhan dengan wanita, walaupun berjabat tangan sekali pun Yusuf tidak pernah menerapkannya. Ia pemuda Sholih yang sangat jarang sekali berinteraksi dengan yang bukan mahramnya.
"Ana ... kau tidak apa-apa?" tanya Aslan Abdurrahman Syatir yang ikut masuk kedalam rumah. Ia pun ingin mengetahui keadaan Zahrana.
"Ana baik, Kak." Zahrana pun meringis menahan rasa sakitnya.
Zahrana terlihat kaget dengan kehadiran Aslan yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Zahrana memahami jika raut wajah Aslan yang terlihat kusut tidak seperti biasanya.
"Sepertinya kak Aslan jelous dengan Yusuf, sangat kentara sekali dari sorot matanya," bisik hati kecil Zahrana.
Buya Harun pun, segera memijit kaki Zahrana dengan minyak urut, agar puterinya segera pulih dengan rasa sakit yang di deritanya.
"Sabar ya, Nak! lain kali lebih berhati-hati lagi!" nasehat Buya Harun pada anaknya.
"Nak Aslan ... Nak Yusuf, lebih baik kalian pergi ke Mesjid dahulu, sebab sebentar lagi Ibadah sholat Isya, jangan lupa kumandang kan Azan!" titah Buya Harun kepada Aslan.
" Iya Buya kami hendak berangkat ke Mesjid dahulu!" ucap Aslan dan Yusuf serempak.
"Assalamu'alaikum ...."
"wa'alaikumsalam warahmatullahi ... " jawab Buya Harun.
"Oh ... jadi nama pemuda itu Yusuf Amri Nufail Syairazy," cicit Aslan dalam hati.
__ADS_1