Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
151 . Kontrol Kehamilan ( Pov Zain Nandini)


__ADS_3

Ya Allah ... Hubby lama sekali! lebih baik aku pergi sendiri ke Rumah Sakit Medika," bathin Nandini dengan menyambar kunci motor maticnya.


Nandini bergegas memakai tas selempangnya, ia pun mengenakan helm dengan gaya metalnya, ia pun segera tancap gas setelah memberikan kode pada kakaknya sedang sibuk dengan rutinitas tokonya.


"Mau kemana kamu, Dek!" pekik Aslan di sela-sela rutinitasnya.


"Kontrol ke Rumah Sakit Medika, Kak!" pekik Nandini tak kalah sengitnya. Ia pun perlahan menghilang dari pandangan mata Aslan. Semua orang yang sedang berbelanja di tokonya di buat terperangah dengan tingkah Nandini Sukma Dewi.


"Dasar gadis ceroboh!" gerutu Aslan di sela-sela rutinitasnya.


Namun, Nandini tidak peduli dengan celotehan dan pandangan orang-orang yang menatap sinis kepadanya.


"Alhamdulillah ... aku masih di berikan kesempatan untuk bernafas dan menikmati hari-hari, ku pikir kemarin aku tidak bisa lagi membuka mata ini setelah rawat inap satu Minggu dirumah sakit. Ternyata Allah masih sayang pada ku dan juga pada calon buah hati ku," bathin Nandini di sela-sela laju kendaraannya.


"Hari ini, kita jalan-jalan tanpa papa sayang. Papa mu itu gerakannya lamban sekali. Sampai hari ini pun belum ada tanda-tanda ia hendak melamar mama," ucap Nandini sambil mengelus perutnya yang masih datar.


"Satu lagi, papamu sudah berjanji untuk mengantarkan kita kontrol kehamilan. Namun, di tunggu-tunggu ia belum datang juga." Nandini menggerutu dan curhat pada calon buah hatinya yang masih berada dalam rahimnya.


***


Di sisi lain.


"Mas Barra Adi Sanjaya, coba kau lihat itu sepertinya Nandini Sukma Dewi! Ia hendak kemana sendirian?" pekik Zainal Abidin yang hendak meninjau cabang ZA Lamongan Groups di kawasan kota S.


"Mana Tuan Muda?" tanya Barra pada Zainal Abidin.


"Itu! kita ikuti kemana langkahnya, Mas!" titah Zainal Abidin pada Barra, yang bertugas sebagai Asisten pribadinya.


Barra pun mengikuti arah laju kendaraan Nandini Sukma Dewi.


"Tunggu dulu! Kenapa Nandini menuju Rumah Sakit Medika? Apa ia sedang sakit?" bathin Zainal Abidin.


"Ikuti ia memasuki gerbang rumah sakit itu!" titah Zainal pada Barra Adi Sanjaya.


"Baik, Tuan!" ucap Barra dengan segera memasuki gerbang Rumah Sakit Medika.


"Kau tunggu disini! biar aku yang mengikuti Nandini," ucap Zainal.


Barra mengangguk, ia pun menuruti titah Zainal.


Nandini memarkirkan motornya di tempat parkir khusus motor, ia tidak menyadari jika Zainal sedang membuntutinya.


"Ya Allah ... kenapa kepala ku tiba-tiba terasa pusing, mata ku pun terasa berkunang-kunang?" Nandini memijit-mijit pelipisnya.


Nandini hampir tumbang. Namun, Zainal dengan sigap menopang Nandini dengan kedua tangannya, hingga Nandini pun terjatuh kedalam dekapan Zainal.


Menyadari jika ada yang mendekapnya, Nandini kaget bukan kepalang ketika dada bidang itu mendekapnya dengan penuh kelembutan.


"Kau sakit apa, Din?" tanya Zainal yang nampak panik ketika melihat rona wajah dan bibir Nandini yang nampak pucat.

__ADS_1


"Kepala ku sakit sekali!" ucap Nandini.


Zainal pun mengalungkan tangan Nandini di lehernya, ia pun membopong Nandini dengan ala bridal style. Sementara Nandini nampak pasrah atas perlakuan Zain terhadapnya.


Zainal pun segera membawa Nandini ke ruang IGD. Para suster pun segera menyambut kedatangan Nandini, mereka pun dengan sigap melakukan pertolongan pertama pada Nandini.


Sementara Zainal nampak setia mendampingi Nandini Sukma Dewi.


Suster pun menanyakan keluhan yang dialami Nandini. Nandini pun menjelaskan semua keluhannya.


Sementara Suster pun tersenyum mendengar penuturan Nandini.


"Tuan dan Nyonya tenang saja, janin didalam kandungan istri Tuan baik-baik saja. Ia sehat, hanya Ibunya saja yang mengalami pusing. Tekanan darah Nyonya sangat rendah. Nanti Dokter Rufaidah Al-Aslamiyyah akan segera menangani istri Tuan, ia pun akan di berikan resep obat tambah darah khusus Ibu hamil, dan lain-lainnya untuk menunjang kesehatan Ibu dan bayinya."


Salah satu suster memberikan penjelasan pada Zainal dan Nandini.


"Apa? Nandini hamil?" bathin Zainal yang tidak percaya dengan apa yang dilihat dan didengar olehnya.


Nandini melirik ke arah Zainal, senyumnya pun nampak kecut. Nandini menangkap dari raut wajah Zainal nampak memendam rasa marah dan kecewa dimatanya.


Nandini ingin menjelaskan pada Zainal, namun perutnya tiba-tiba mual.


"Hoek ... hoek ... hoek!" Nandini menutup mulutnya ia ingin muntah, Zainal dengan sigap memberikan wadah untuk tempat Nandini muntah.


Nandini pun memuntahkan isi perutnya, semua makanan yang ia makan pagi tadi ia muntahkan semua.


"Kau tidak apa-apa, Din?" tanya Zainal.


"Ti-tidak, apa-apa. Terimakasih,atas bantuannya."


Nandini nampak gelagapan, ia khawatir Zainal akan bertanya padanya dengan seribu macam pertanyaan.


"Din, ma-af. Benarkah dengan apa yang kulihat dan kudengar ini? benarkah dirimu sedang mengandung?" tanya Zainal dengan tatapan serius pada Nandini.


Nandini mengangguk pelan. Ia tidak berani membuka suara untuk menjawab pertanyaan Zainal kecuali dengan bahasa isyarat.


"Jadi benar kau sedang mengandung? siapa yang telah melakukan semua ini terhadap mu, Din?" tanya Zainal dengan dada yang bergemuruh.


Zainal mengepalkan tinjunya. Ia terlihat berang dan kecewa melihat sang pujaan hati kini pun telah berbadan dua.


Nandini hanya terdiam, ia tidak berani menatap nanar wajah Zainal. Nandini meremas kasur brankarnya. Ia tahu jika Zainal menahan ledakan emosi di hatinya.


Zainal ingin menangis melihat semua kenyataan yang terjadi, sirna sudah harapannya untuk memiliki dan mengejar cinta Nandini Sukma Dewi.


"Setelah keluar dari ruangan ini, kau ikut aku! tolong jelaskan padaku kenapa semua ini bisa terjadi?" ucap Zainal berusaha meredam emosinya.


Nandini masih saja bungkam ia tidak berani menjelaskan apa-apa kepada Zainal. Nandini tahu jika Zainal kecewa terhadapnya.


Di tengah ketegangan mereka berdua, Dokter Rufaidah Al-Aslamiyyah masuk ke ruang IGD, tempat dimana Nandini sekarang di tangani.

__ADS_1


Dokter Rufaidah seketika tertegun melihat sosok Zainal yang kini sedang mendampingi Nandini Sukma Dewi.


"Assalamu'alaikum ... " Dokter Rufaidah memberikan salam pada Nandini dan Arjuna.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... " jawab Zainal dan Nandini.


"Ma-af, apakah kalian berdua saling mengenal?" tanya Dokter Rufaidah Al-Aslamiyyah dengan melirik wajah Nandini dan Zainal secara bergantian.


"Iya, Dok. Nandini Sukma Dewi adalah sahabat ku dari sejak SMP, tadi Zain tidak sengaja melihatnya hampir terjatuh pas keluar dari area parkiran motor hendak masuk ke dalam rumah sakit," ucap Zainal jujur pada Dokter Rufaidah.


"Hemmm ... begitukah ceritanya?" tanya Rufaidah dengan mengeryitkan dahinya. Ia menangkap gelagat aneh dari sosok Zainal Abidin.


"Apa mungkin dia gadis yang dikagumi Zainal dari sejak SMP hingga detik ini? Aku baru ingat dibuku harian Zain tertulis nama Nandini Sukma Dewi, dialah wanita yang di cintai oleh adik semata wayang ku!" bathin Dokter Rufaidah.


"Namun, kemanakah suami Nandini? kenapa ia pergi sendiri kerumah sakit? lalu kenapa Zain bisa tahu dengan keberadaan Nandini yang hendak masuk rumah sakit?" Rufaidah bertanya-tanya didalam hatinya.


"Lakukan yang terbaik untuk sahabat ku, Dok!" ucap Zainal dengan mengerlingkan matanya pada Dokter Rufaidah.


Iya, tanpa Nandini ketahui Dokter Muda yang ada di hadapannya adalah kakak kandung Zainal Abidin. Namun, Zainal Abidin mengerlingkan matanya pada kakaknya Rufaidah agar merahasiakan status kakak beradik di antara mereka berdua.


"Baiklah, Tuan Muda!" ucap Dokter Rufaidah dengan senyum khasnya.


Dokter Rufaidah merasa lucu melihat ekspresi wajah adik semata wayangnya begitu kentara menaruh rasa terhadap Nandini Sukma Dewi.


"Kasian sekali kamu, Dek. Mencintai seseorang yang telah menikah," bathin Dokter Rufaidah.


Setelah memeriksa keadaan Nandini, Dokter Rufaidah pun memberikan resep obat untuk Nandini. Obat khusus Ibu hamil.


"Tuan, nanti tolong tebus obat ini dibagian farmasi!" titah Dokter Rufaidah.


"Siap Dokter!" ucap Zainal dengan ekspresi wajah yang sulit untuk di artikan.


Zainal pun segera membopong Nandini untuk turun dari brankarnya. Sebab Nandini rawat jalan, setelah pun ia kontrol kehamilannya.


Nandini terdiam, ia nampak terkesima dengan perlakuan Zainal terhadapnya.


"Ya Allah ... kenapa perasaan ku menjadi begini? ada apa dengan ku? kenapa jantung hatiku terasa berdebar-debar seperti ini ketika berada di dekat mu, Zain!" bisikan hati Nandini Sukma Dewi.


🌷🌷🌷


Pencerahan πŸ‘‰"Satu di antara rasa sakit dan penderitaan terbesar adalah cinta bertepuk sebelah tangan dengan seseorang. Bahkan jika kamu merobekku berkeping-keping atau bahkan jika kamu membuatku menjadi abu, aku akan tetap kembali dan memberikan hatiku kepadamu. Hal tersulit untuk dilakukan adalah melihat orang yang kamu cintai, mencintai orang lain. Kita bisa berkorban dan tidak mencintai. Tapi, kita tidak bisa mencintai dan tidak berkorban." ( Bisikan_H@ti Zainal Abidin 😁😁 )


🌺🌺🌺


Sambil menunggu update selanjutnya, yuk mampir di karya my besti, yang ceritanya tidak kalah seru dan menariknya.😊😘


Judul karyanya : Dendam Cinta


Authornya : Lena Laiha

__ADS_1



__ADS_2