Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
59 . Zahrana and Friends


__ADS_3

Zahrana dan teman-temannya sudah selesai santap siang dengan Jagung rebus dan jagung bakar. Itu semua sudah cukup membuat mereka merasa sangat kekenyangan.


Apalagi Nandini Sukma Dewi, mulai dari ngemil cokelat Silver Queen yang tak terhitung lagi berapa bungkus jumlahnya yang ia makan, di tambah lagi dengan jagung rebus dan jagung bakar yang ia makan dengan porsi yang cukup banyak. Sudah cukup membuat perutnya terisi penuh. Bernafasnya pun terengah-engah, sebab kekenyangan.


Di susul Kirana Larasati pun, beradu dengan Nandini Sukma Dewi. Kirana hampir menghabiskan satu tandan buah pisang, yang masih bergelayut di pohonnya, pada saat Cinta mengintrogasi Zahrana di bawah pohon pisang.


Jadilah Nandini dan Kirana ingin beradu tidur siang, mereka benar-benar mengantuk lantaran kekenyangan.


"Nandini, Kirana. Baiknya, kalian berdua duduk dulu. Setelah makan jangan langsung berbaring, sebagaimana yang disunnahkan oleh Nabi besar kita Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam, makanlah sebelum lapar! berhentilah sebelum kenyang!"


"Ada baiknya, lambung kita dibagi menjadi sepertiga bagian. Bagian pertama untuk makanan, kedua untuk minum, ketiga untuk bernafas. Itu cara pola makan sehat. Baiknya, sebelum tidur siang kerjakan Sholat Zuhur dulu. Sebab, sebentar lagi sudah masuk waktu Zuhur. Khawatir nantinya kita terlelap lama, hingga melalaikan Shalat Zhuhur. Ya, walaupun sebenarnya tidur sebelum Zuhur itu disunnahkan, namun mulanya dari pukul 11.00 Wib. Sedangkan sekarang sudah masuk jam dua belas siang, waktu tidur sudah kejepit, sebaiknya kerjakan ibadah Sholat Zuhur dulu, baru lanjutkan tidur siang!" ujar Zahrana pada teman-temannya.


Nandini dan Kirana Larasati segera beranjak dari peraduannya, ketika mendengar kultum dari Zahrana.


"Yach ... gagal lagi deh, botiknya alias bobo cantik," ujar Nandini seraya melebarkan netranya setelah mendengarkan penuturan Zahrana.


"Sama, Din. Aku juga kekenyangan sangat, terlalu banyak makan," timpal Kirana Larasati dengan nafas yang masih terengah-engah, lantaran banyak makan.


Sementara Cinta Kiara Khoirani, malah terkekeh geli melihat Kelakuan Nandini dan Kirana Larasati.


"Maa syaa Allah ... calon isteri Sholihah, sosok Bidadari syurga ku, dunia akhirat ku," ucap Aslan keceplosan.


Aslan memandang lekat nanar wajah Zahrana, ia benar-benar kagum dengan sosok Zahrana.


"Sempurna ... " ucap Aslan. Ia benar-benar kagum dengan sosok Zahrana,"Bidadari kecil yang mempesona," pikir Aslan Abdurrahman Syatir.


Wajah Zahrana nampak bersemu merah oleh godaan dan pujian Aslan terhadapnya. Tak ayal, pikiran Zahrana pun melambung tinggi kelangit ketujuh. Saking tersanjungnya.


Zahrana pun mengalihkan topik pembicaraan Aslan,ia tidak ingin berlama-lama terbuai oleh ucapan manis kekasihnya yang kerap kali menggodanya, dengan sejuta kata-kata cintanya.


"Teman-teman ... Zahra ambil wudhu dulu. Sudah masuk waktu Zuhur, nanti kita gantian Sholatnya. Sebab, mukenanya hanya aku bawa satu dari rumah?" ujar Zahrana. Ia pun mempercepat langkahnya menuruni Pondok kebun, ia hendak ke Sungai dekat sana. Gemercik air, begitu indahnya mengalir dengan tenangnya, membuat pandangan terasa terpana olehnya dengan tanaman yang menghijau di sana. Benar-benar panorama alam yang menyejukkan.


"Ana ... tunggu! biar kakak yang temani. Kakak juga hendak berwudhu," ujar Aslan.


"Aku juga ikut ... " ujar Nandini.


"Kami juga," ujar Cinta dan Kirana bersamaan.


Akhirnya, mereka berlima pun sepakat menyusuri anak Sungai untuk segera melakukan ritual wudhu.


Aslan menggenggam erat jemari Zahrana, yang membuat Zahrana tidak dapat berkutik dan menolaknya. Zahrana benar-benar terbuai oleh pesona Aslan Abdurrahman Syatir.


"Astagfirullah ... kak Aslan, hari ini penglihatan ku benar-benar di manjakan oleh keposesifan kakak terhadap Zahrana," ujar Nandini seraya menggigit bibirnya.


"Tumben loe istighfar Din, bukan kah loe dan Arjuna juga sering bermesraan seperti ini," ucap Cinta keceplosan.


"Iya,malah kita lihat loe dengan Juna sama-sama agresif," timpal Kirana Larasati.


Aslan menoleh. Ia perlahan melepaskan genggamannya dari Zahrana. Ia nampak kaget mendengar penuturan Cinta dan Kirana, jika adiknya Nandini Sukma Dewi bermesraan dengan laki-laki.

__ADS_1


"Cintaaa ... Kiranaaa ... " pekik Nandini dengan wajah masamnya.Ingin sekali ia menyumpal mulut Cinta dan Kirana Larasati sebab, keceplosan membicarakan hubungannya dengan Arjuna Restu Pamungkas. Hingga terdengar oleh kakaknya Aslan Abdurrahman Syatir.


Cinta dan Kirana spontan membekap mulutnya.


"Maaf... Din, kami benar-benar keceplosan," ucap Cinta dan Kirana.


"Hey ... adik kakak yang manis dan paling metal, jadi benar jika adik kakak Nandini Sukma Dewi. Kini, telah memiliki teman istimewa?" tanya Aslan.


Aslan memandang lekat wajah adiknya,ia ingin tahu yang sebenarnya dari ucapan adiknya sendiri. Ia ingin tahu sebatas mana kejujuran Nandini terhadapnya.


Nandini menunduk malu.


"Ma-af kak, apa yang di ucapkan oleh Cinta dan Kirana benar. Aku Nandini Sukma Dewi, memang benar telah memiliki tambatan hati. Ia yang menjadi teman istimewa ku adalah Arjuna Restu Pamungkas. Kakak kelas ku sendiri, yang kemarin membonceng ku,Kak." Nandini menjelaskan pada kakaknya.


"What? jadi,kamu dan Arjuna Restu Pamungkas pernah berboncengan juga,Din?" tanya Zahrana tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Sebab, yang Zahrana tahu Nandini anti berduaan dengan laki-laki.


"Ya Allah ... aku benar-benar tidak menyangka Nandini Sukma Dewi, yang terkenal dengan gadis tomboy nan metal,jago silat, Pendekar Sakti pula. Dengan mudahnya terbuai dengan pesona Arjuna Restu Pamungkas. Jadi itu awal kalian bisa jadian," goda Zahrana.


Nandini bungkam,ia merasa menelan ludahnya sendiri. Betapa dulu,ia sangat membenci Arjuna namun kini rasa benci itu pun berubah menjadi cinta.


"Iya Ra, tapi aku kasian dengan Zainal Abidin. Ia bela-belain menjaga Nandini,eh ... malah Nandini lebih memilih Arjuna Restu Pamungkas yang kemarin sempat terkenal dengan Sang Playboy Kelas Kakap." Cinta Kiara Khoirani pun ikut menggoda Nandini.


"Jadi, Si Arjuna itu terkenal playboy? Awas saja kalau ia berani-berani menyakiti adik kesayangan ku,ia harus berhadapan dengan ku, kakak dari Nandini Sukma Dewi," ujar Aslan ikut menggoda Nandini adiknya.


"Kakak apa-apaan sich, pakai ngancem segala. Arjuna itu baik tahu,Kak."


"Itu lebih baik kak, memilih salah satu diantaranya daripada mendua, seperti ... Zah ... " ucap Nandini menggantung.


Wajah Zahrana tiba-tiba memerah, hampir saja Nandini keceplosan dengan ucapannya, yang ingin menyebutkan hubungan Zahrana dengan Rivandra Dinata Admaja, dihadapan Aslan Abdurrahman Syatir.


"Oops ... " Nandini menepuk jidatnya pelan.


"Hampir saja keceplosan," bathin Nandini.


Sementara Cinta dan Kirana hanya menyimak. Hampir saja Nandini keceplosan perihal Zahrana mendua. Apa jadinya jika Aslan Abdurrahman Syatir mengetahui Bidadari kecilnya yang sangat ia puja-puja telah menduakan cintanya di belakangnya.


Nandini mengedipkan matanya pada Zahrana, sebagai isyarat untuk meminta maaf karena hampir keceplosan di hadapan kakaknya.


***


Mereka pun telah sampai di muara sungai.


Zahrana and Friends, juga kekasih hatinya Aslan Abdurrahman Syatir segera melakukan ritual wudhunya.


"Maa syaa Allah ... airnya sejuk dan tenang sekali,Din. Aku jadi ingin berenang seperti saat kita masih kecil dulu. Kala itu, kita dijaga ketat oleh kak Aslan. Khawatir kita akan tenggelam, sudah seperti bodyguard saja," ujar Zahrana sembari melirik kearah Aslan Abdurrahman Syatir.


Nandini pun tersenyum, dengan penuturan Zahrana. Ia pun mengingat kembali kenang-kenangan manis mereka sewaktu kecil dulu.


"Iya,deh Ra. Sekarang bodyguard kita yang dulu, sudah bertumbuh dewasa dan kita berdua sendiri,sedang bermetamorfosis menjadi gadis remaja," timpal Nandini.

__ADS_1


"Kamu benar Din, bodyguard kita kini sudah dewasa. Dan uniknya lagi ia sangat pandai menggoda dan bermain kata-kata," sindir Zahrana pada Aslan kekasihnya.


"Hehe ... tentu saja, sekarang bodyguard mu itu,sekarang sudah menjadi teman istimewa mu," goda Aslan. Ia pun refleks menyentuh dagu Zahrana.


Zahrana refleks menyirami Aslan dengan gemercik air.


Jadilah aksi siram-siraman antara dua sejoli yang sedang di mabuk asmara itu.


"Kak, sudah kak ... baju Ana basah," ujar Zahrana.


Aslan malah semakin gemas melihat wajah imut Zahrana. Ia pun refleks menggendong Zahrana ala koala dan menceburkannya kedalam air sungai. Sehingga mereka berdua sama-sama main basah-basahan, berenang kesana-kemari. Seperti ikan yang sedang berenang, kejar-kejaran dengan pasangannya.


Zahrana dan Aslan malah asyik berenang dan bercanda ria. Lupa jika mereka telah selesai berwudhu dan ingin segera menjalankan Ibadah Sholat Zuhur.


Sementara, Nandini,Cinta dan Kirana Larasati sudah naik keatas sungai. Namun mereka melihat Aslan dan Zahrana sahabatnya, masih asyik bermain air.


Zahrana yang mengingatkan, teman-temannya untuk segera menunaikan ibadah Sholat Zuhur. Namun, sekarang malah Zahrana yang lalai dengan kewajiban Sholatnya.


"Ya Allah ... anak itu, kenapa semenjak bersama kak Aslan,kadar keimanannya menjadi menurun dratis," cicit Nandini Sukma Dewi.


"Kamu benar Din,mana benteng keimanan Zahrana yang dulu kokoh. Sangat memegang nilai-nilai aturan Syari'at. Namun,kini ia yang melalaikannya," timpal Kirana Larasati.


"Iya,Kir ... Zahrana yang dulu bukanlah Zahrana yang sekarang, mereka dan kak Aslan benar-benar bucin parah, hingga melalaikan kewajibannya sebagai seorang muslim," tutur Cinta Kiara Khoirani.


"Aku malah kasian dengan kak Rivandra Dinata Admaja, menjadi pelampiasan cint* Zahrana saja, tega-teganya Zahra mendua," ucap Kirana Larasati penuh kepiluan. Ia tak tega melihat Rivandra terus tersakiti oleh Zahrana sahabatnya,sebab Kirana benar-benar menaruh rasa pada kekasih sahabatnya, Rivandra Dinata Admaja.


"Kau yang tersakiti,aku yang terluka perih. Oh ... kak Rivandra Dinata Admaja,Sang Pujaan hati," bathin Kirana Larasati.


"Ternyata benar ya Cin,Kir ... keimanan itu akan bertambah dengan ketaatan dan akan berkurang karena kemaksiatan," ujar Nandini Sukma Dewi. Kini ia yang balik menceramahi Zahrana sahabatnya, yang kini sedang asyik berduaan dengan kakaknya.


"Tapi,apa bedanya dengan ku yach ... bukankah, aku juga sudah melakukan kesalahan dosa, dengan berpacaran dengan Arjuna Restu Pamungkas, agresif pula. Ah tahu ah ... aku juga baru anak kemarin sore,tahu apa aku tentang dosa," bathin Nandini seraya menepuk jidatnya.


Melihat kebucinan kakaknya pada Zahrana hari ini cukup membuat Nandini jengah.


"Sudah lah Din, sepertinya Zahrana and Friends. Semuanya sedang terjerat cinta buta. Loe dengan Arjuna Restu Pamungkas, Cinta Kiara Khoirani dengan Rangga Sahadewa, Tsamirah Zahrana Az Zahra lebih parah lagi,malah mendua pula," pungkas Kirana Larasati.


"Dan hanya Fadhilah with Hafidzah yang masih polos dan suci jiwanya. Yang lain pada ditaburi oleh sepercik noda," ucap Kirana lagi.


Nandini dan Cinta Kiara Khoirani, terperangah mendengar penuturan Kirana Larasati. Mereka mencerna baik-baik ucapan sahabatnya, dan itu benar adanya.


"Nah ... loe sendiri ngapain Kir? tadi kan loe bilang hanya Fadhilah dan Hafidzah yang masih polos dan suci jiwanya. Nah ... loe sendiri bucinnya pada siapa?" tanya penasaran Cinta pada Kirana Larasati sahabatnya.


"Ada deh ... rahasia hati Kirana Larasati dong," ucap Kirana membuat Cinta jengah dengan sahabatnya yang satu ini kekeuh sekali menyembunyikan perasaannya.


"Sudah ... sudah ... kultumnya,ini sudah pukul 12.30 wib. Sebaiknya kita cari cara untuk menyadarkan kak Aslan dan Zahrana. Mereka harus segera di ingatkan, nanti keburu sholat Zuhur habis, waktu terlewatkan dengan sia-sia," cecar Nandini Sukma Dewi.


Akhirnya mereka bertiga pun sepakat meneriaki Aslan dan Zahrana sahabatnya yang sedang asyik berkencan, berenang kesana-kemari .


"Kak Aslannn ... Zahranaaaa ... wudhu kalian batalll ... " pekik Nandini, Cinta dan Kirana dari atas sungai.

__ADS_1


__ADS_2