Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
31. Tersisih


__ADS_3

Raihan, Yusuf dan Aslan telah selesai menunaikan ibadah sholat isya.


Mereka berjalan beriringan hendak menuju ke rumah Buya Harun.


Aslan maupun Yusuf masih mengkhawatirkan keadaan Zahrana, mereka berdua sama-sama mempercepat langkah kaki masing-masing, hati dan pikiran mereka hanya tertuju pada Zahrana.


"Kak Aslan ... kak Yusuf, hati-hati ... jangan tergesa-gesa! kak Zahrana sudah di tangani oleh Buya Harun, kok. Jangan terlalu khawatir berlebihan. Buya Harun ahli dalam memijat atau mengurut," ucap Raihan menenangkan kekhawatiran Aslan dan Yusuf.


Aslan semakin mempercepat langkah kakinya, sedangkan Yusuf berusaha meminimalisirkan perasaannya.


"Astaghfirullahal'adzim ... Ya Allah maafkan kekhawatiran Hamba yang terlalu berlebihan pada sosok Zahrana ya Rabb, tolong jaga hati perasaan serta pikiran Hamba dari mengikuti hawa nafsu yang buruk, jadikan lah rasa cinta ini hanya karena mu ya Allah bukan karena selain Mu."


"Rahmatilah kami dengan cinta dan kasih sayang Mu ya Rabb ... jaga pandangan hati dan jiwa Hamba dari memandang sesuatu yang belum halal untuk ku miliki, jika memang dia adalah jodoh yang Engkau ciptakan untuk ku di masa depan nanti maka dekatkanlah kami dalam menuju ke ridhoan Mu, namun jika dia bukan jodohku gantikan lah dengan yang lebih baik berdasarkan pilihan dan ketetapan Mu, aamiin ya Rabbal'alaamiin ..." do'a Yusuf di dalam hati.


"Alhamdulillah ... terimakasih ya Rabb atas nikmat dan ketenangan hati yang Kau berikan untuk Hamba Mu yang dhoif ini," bisik hati Yusuf tiada henti. Ia terus dan terus berusaha menjaga hati dan pikiran agar tetap tenang ketika melihat kembali sosok Zahrana.


Berbeda dengan Aslan Abdurrahman Syatir, dia nampak resah dan gelisah. Khawatir memikirkan Zahrana juga iya, cemburu dengan Yusuf Amri Nufail Syairazy juga iya.


Akal dan pikirannya terasa di butakan oleh cinta.


Perbedaan yang kontras antara Yusuf dan Aslan membuat Raihan tampak berpikir keras, "Ya Allah masalah orang dewasa sangat pelik sekali, tapi Raihan kagum dengan kak Yusuf. Dia lebih mampu menguasai diri dan menjaga batasannya, sangat dan sangat menjaga hati agar tak terjerat dalam lumpur dosa yang tak berkesudahan," cicit Raihan dalam hati sudah seperti detektif saja.


Mereka pun tiba di rumah Buya Harun, nampak lah Zahrana sedang berbaring di sofa dengan gaun tidur You Can See di bawa lutut, menampakkan kulit putih mulusnya, yang terekspos dengan sempurna. Zahrana hendak beranjak dari tempat duduknya namun kakinya masih menyisakan rasa sakit meskipun sudah selesai terapi urut. Ia tidak tahu akan kedatangan Aslan dan Yusuf kerumahnya.


"Assalamu'alaikum ... " ucap Raihan, Aslan, dan Yusuf serempak.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... " jawab Zahrana.


"Kak Aslan ... kak Yusuf, kalian di sini?" tanya Zahrana kaget. Ia merasa sangat risih dengan gaun tidur You Can See biru muda yang cukup menggoda yang sedang dia kenakannya saat ini. Meski panjang di bawah lutut namun sangat menampakkan keindahan dirinya.


"Ana?" panggil Aslan.


"Bagaimana keadaan mu? Apa sudah lebih baik?" tanya Aslan dengan nada penuh kekhawatiran.

__ADS_1


"Ana sudah lebih baik kak, namun masih terasa sakit, untuk berjalan masih harus di papah," tutur Zahrana.


Zahrana hendak menurunkan kedua kakinya dari sofa hingga terjulur ke lantai, sebab ia merasa risih dengan kulit putihnya terekspos sempurna di hadapan Aslan dan Yusuf.


"Hati-hati Ana! biar kakak bantu," ucap Aslan seraya membantu Zahrana untuk berangkat dari sofa pembaringannya.


Sedangkan Yusuf hanya terdiam dan terlihat menundukkan pandangannya dari melihat Zahrana.


"Zahrana ... sejatinya seorang wanita adalah laksana mutiara di tengah lautan, selayaknya mutiara itu harus di jaga. Ia tak layak untuk di sentuh oleh sembarang orang, begitu pula diri mu adalah permata indah, sudah selayaknya keindahan itu tertutup agar tidak menyilaukan pandangan mata yang melihatnya," ucap Yusuf penuh makna.


Yusuf menyerahkan jaket miliknya untuk di kenakan Zahrana.


"Tolong gunakan ini! Kau lebih indah dengan pakaian tertutup," ujar Yusuf sekilas melihat ke arah Zahrana.


Zahrana pun tunduk patuh mengenakan jaket yang di berikan oleh Yusuf. Ia merasa sangat malu dengan auratnya yang sangat terbuka di hadapan kedua pemuda yang ada di hadapannya.


Hati Aslan seakan perih melihat perhatian Yusuf yang terlalu berlebihan pada Zahrana, namun ia tidak bisa mencegah pergerakan Yusuf, karena tujuannya adalah untuk kebaikan Zahrana.


Aslan merasa tersisih dan terpojokkan oleh interaksi Yusuf dan Zahrana. Ia merasa kalah satu langkah dengan Yusuf.


"Maafkan Ana kak Aslan, Ana tidak bermaksud untuk menyakiti kakak, tapi Ana malu dengan penampilan Ana seperti ini," bisik hati Zahrana.


Mereka bertiga pun terdiam, tidak ada yang berani membuka suara, sampai akhirnya Buya Harun keluar dari kamarnya.


"Nak Aslan ... Nak Yusuf? sejak kapan kalian di sini? maaf Buya baru selesai menjalankan Ibadah sholat Isya."


"Nak Yusuf, terimakasih telah berkenan menolong anak Buya. Buya tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada Nak Yusuf di Padepokan mungkin Zahrana akan lebih cidera lagi."


"Sama-sama Buya, Qodarullah ... tidak ada yang bisa menerka segala hal yang akan menimpa kita, jodoh, rezeki dan maut sudah Allah tentukan dalam proses kehidupan kita. Termasuk insiden yang terjadi antara aku dan Zahrana, semua sudah menjadi kehendak Allah," tutur Yusuf penuh keikhlasan.


Buya Harun nampak tertegun dan tersenyum bangga dengan kecerdasan dan keyakinan Yusuf.


"Buya bangga pada mu, keyakinan mu terhadap kemahakuasaan Allah begitu besar, semoga kelak dirimu bisa menjadi pemimpin. Da'i dan ulama besar seperti yang di harapkan oleh kedua orang tua mu, seperti makna dari nama mu, aamiin." Secerah harapan dan do'a Buya Harun untuk Yusuf Amri Nufail Syairazy.

__ADS_1


"Terimakasih Buya atas do'anya," ujar Yusuf rendah hati.


Aslan semakin tersisih, harapannya seakan goyah, nampak sekali Buya Harun sangat kerasan dan menyukai sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy.


Selang berapa menit kemudian. Muncul lah Bunda Fatimah dari arah dapur membawa tampah teh juga cemilan, hendak disuguhkan pada Aslan dan Yusuf.


"Nak Yusuf ... Nak Aslan, silahkan diminum teh dan cemilannya! Jangan sungkan," tutur Bunda Fatimah


"Terimakasih Bunda," ucap Aslan dan Yusuf bersamaan.


Aslan dan Yusuf pun segera mencicipi hidangannya.


Singkat cerita, Yusuf dan Buya Harun semakin khusu' bercerita, mereka membahas perkara ilmu Agama Islam.


Sedangkan Aslan dan Zahrana hanya terdiam menjadi pendengar setia. Mereka berdua saling mencuri pandang satu sama lain.


Ingin sekali Aslan melepaskan jaket Yusuf yang di kenakan oleh Zahrana dan menggantikannya dengan pakaian lain.


Aslan benar-benar termakan api cemburu dan merasa tersisihkan.


Zahrana sangat mengerti makna yang tersirat dari sorot pandangan Aslan yang nampak cemburu buta terhadap Yusuf. Benar-benar terlihat jelas di matanya.


"Maafkan Ana kak, atas keadaan ini. Sungguh Ana ingin segera menggantikan pakaian ini. Tetapi ana belum mampu untuk melangkahkan kaki sendiri," bisik Zahrana dalam hatinya.


Raihan yang sedari tadi memonitor keadaan segera angkat bicara.


"Sepertinya, kita dikacangin nih! Buya dan kak Yusuf sangat khusu' sekali berceritanya. Kita hanya menjadi pendengar setia saja," ujar Raihan yang kesannya bersenda gurau namun syarat makna.


Buya Harus menampakkan senyum sumringahnya, menyadari kekeliruannya sebab ada Aslan Abdurrahman Syatir di sisi mereka.


"Subhanallah ... Nak Aslan, maaf Buya terlalu fokus berkisah sehingga lupa jika disini ada Nak Aslan, Zahrana dan Raihan," tutur Buya Harun diselingi canda tawa.


"Tidak apa-apa Buya, kami cukup menjadi pendengar yang baik, Alhamdulillah bisa mendapatkan ilmu yang baru," ucap Aslan berusaha menyembunyikan rasa kecemburuannya terhadap Yusuf.

__ADS_1


Namun kecemburuan Aslan dapat dibaca oleh Zahrana dan Raihan, betapa Aslan kini merasa sangat tersisih oleh kehadiran Yusuf Amri Nufail Syairazy di sisi mereka.


__ADS_2