
Zahrana masih terus menikmati kurma Mesir yang ada di pangkuannya. Entah sudah berapa buah kurma yang ia kecapi. Namun, ia terus menikmati kelezatan buah Timur tengah tersebut.
Sesekali Yusuf memperhatikan rona wajah Zahrana yang begitu terlihat sangat manis menurutnya.
"Maa syaa Allah ... dalam keadaan apapun, rona wajahnya tetap terlihat anggun dan bersahaja. Wajahnya nampak terlihat manis sekali, semanis kurma Mesir, yang bagaimana pun keadaannya masih tetap menampakkan rasa manisnya." Yusuf tanpa sengaja telah kembali memuji keanggunan Zahrana.
"Astaghfirullah!" bathin Yusuf dengan mengusap surai wajahnya, ia seakan menyadari kekeliruannya.
Menyadari gelagat aneh pada Yusuf yang tak seperti biasanya, Zahrana pun menghentikan mengunyah buah kurma yang memang menjadi buah kesukaannya itu.
"Kak Yusuf, kakak kenapa? Ini, kakak pun boleh ikut menikmati buahnya. Enak, lembut, lezat dan manis sekali loh, Kak. Aku, jika sudah ngemil kurma jadi ingat bulan ramadhan. Di mana kurma menjadi menu wajib ketika hendak berbuka puasa," ucap Zahrana dengan senyum manisnya. Membuat Yusuf sesaat terpana dengan pesona Zahrana.
"Maa syaa Allah, benar-benar manis. Semanis kurma Mesir." Yusuf tersenyum, dirinya benar-benar telah jatuh hati terhadap bidadari yang kini berada di dekatnya.
"Kak, ini kurma untuk kakak. Bijinya sudah Zahra buang, kakak tinggal menikmati saja." Zahrana memberikan buah kurma tersebut pada Yusuf yang masih fokus mengemudi mobilnya.
"Maa syaa Allah, terima kasih Ra." Yusuf pun ikut mencicipi buah kurma tersebut dengan perasaan bahagia.
"Ternyata menikmati buah yang lezat ini, semakin menambah rasa lezatnya, ketika bersama dirinya." Yusuf berusaha mengendalikan perasaannya, tingkah Zahrana yang terlihat sangat menarik dan manis terhadapnya, tak ayal membuat detak jantung Yusuf berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Ya Allah ... semoga secepatnya kita menjadi pasangan yang halal Tsamirah Zahrana Az Zahra, agar kesucian hati kita senantiasa terjaga," bathin Yusuf dengan terus menahan gejolak rasanya yang semakin membuncah melihat pesona bidadari yang ada di hadapannya kini begitu teramat menggoda.
"Kak, enak dan lezat kan kurmanya? pasti kakak pun menikmatinya," ucap Zahrana dengan menampakkan senyuman termanisnya.
Rona wajah yang indah, kulit putih mulus dan bercahaya semakin menampakkan keindahan dan pesona dari kecantikan alami Zahrana yang semakin terpancar nyata di hadapan Yusuf Amri Nufail Syairazy.
"Ya Allah, Ummi, Abi, jika tahu akan begini rasanya duduk berdua dengannya dalam satu mobil, lebih baik aku menyertakan Ummi pergi bersama ku. Biar Abi saja yang menyusul sendirian," bathin Yusuf dengan mempercepat laju kendaraannya.
"Kok ngebut, Kak?" Zahrana nampak protes, sebab ia hampir tersedak buah kurma.
__ADS_1
"Maaf, Ra. Biar kita cepat sampai dan tidak keburu Magrib sampai di desa," ucap Yusuf beralasan. Padahal, sejatinya ia tidak ingin berlama-lama berduaan dengan yang bukan mahramnya.
Bagi Yusuf, kendatipun Zahra adalah wanita yang sangat di cintainya tetap saja ia tidak ingin berlama-lama berduaan dengan Zahrana. Walau dalam keadaan darurat sekalipun. Sebelum Zahrana benar-benar halal untuk di miliki olehnya.
Zahrana pun mengangguk, ia tidak mempermasalahkan jika memang Yusuf ingin cepat sampai di desanya. Ia pun menyandarkan kepalanya di kursi mobil, seketika gadis cantik itu pun terlelap bak Puteri tidur setelah ngemil buah kurma dalam jumlah yang cukup banyak dan menghabiskan sebotol air mineral.
"Maa syaa Allah, dia terlelap. Benar-benar seperti Puteri tidur, dia benar-benar terlihat sangat manja." Yusuf terus melajukan kendaraannya, sembari memutar kaset murrotal di mobilnya, untuk menjaga hati dan pikirannya agar jangan sampai terbawa suasana ketika bersama sosok bidadari yang sangat dicintainya itu.
"Alhamdulillah ... akhirnya sampai juga di desa," bathin Yusuf. Ia merasa senang sebab sudah sampai di kediaman Zahrana. Seyogyanya, hatinya dan pandangannya bisa lebih terjaga dan tidak terus menerus panas dingin ketika terus bersama dalam satu mobil bersama Zahrana.
"Subhanallah ... ia masih terlelap bagaimana aku membangunkannya," bathin Yusuf dengan kebingungan. Ia tidak mungkin menyentuh seorang wanita yang belum menjadi mahramnya.
"Zahra, bangun! kita sudah sampai di kediaman mu," ucap Yusuf. Terdengar pelan di telinga Zahrana.
Namun, Zahrana belum juga terbangun. Ia malah menggigau di dalam tidurnya. "Kak Yusuf, jangan pernah tinggalkan Zahra lagi! Zahra sangat mencintai kakak, hanya kakak seorang yang sangat istimewa di hati Zahra, tiada yang lain!" ucap Zahrana dalam igauan mimpinya.
Dalam keadaan terlelap pun, Zahra selalu memanggil-manggil nama Yusuf. Membuat hati Yusuf seakan tersentuh oleh ucapan Zahrana yang tanpa sengaja tersebut tertangkap oleh indera pendengarannya.
Yusuf perlahan menyentuh wajah Zahrana beralaskan sarung tangannya. "Ra, bangun. Kau sedang bermimpi," ucap Yusuf dengan menepuk pelan pipi Zahrana.
Keringat dingin bercucuran di dahi Zahrana, "Astaghfirullah ... apa yang sedang ia lihat di alam mimpinya?" bathin Yusuf.
Yusuf pun meletakkan telapak tangannya yang masih beralaskan sarung tangan di atas dahi Zahrana yang masih terus menggigau menyebut namanya. Yusuf membacakan ayat-ayat ruqyah untuk Zahrana agar gangguan tidur yang di alami oleh Zahrana bisa teratasi.
Lantunan ayat-ayat ruqyah yang di bacakan oleh Yusuf seketika membangunkan Zahrana yang sejak tadi menggigau tak karuan.
Zahrana mengerjapkan netranya, keringat sebesar biji kacang pun membasahi dahinya.
"Kau Yusuf, Kau!" Zahrana nampak kaget melihat Yusuf yang nampak khusu' melantunkan ayat-ayat Ruqyah padanya.
__ADS_1
"Ma-af, kakak tidak bermaksud apa-apa, diri mu terlalu lama menggigau." Yusuf menundukkan pandangannya, ia pun melepaskan tangannya dari dahi Zahrana dan perlahan membuka sarung tangannya, yang ia gunakan untuk membangunkan Zahrana. Yusuf sangat bersyukur, setidaknya dengan sarung tangan tersebut bisa menjaga dirinya dan Zahrana agar tidak bersentuhan langsung dengan bidadari yang kini berada di hadapannya.
"Ma-af, Zahra merepotkan kakak. Akhir-akhir ini aku memang sering menggigau dan bermimpi hal-hal yang di luar nalar ku," ucap Zahrana dengan menekan rasa malunya.
Yusuf tertegun sejenak, "Hendaknya, sebelum tidur jangan lupa berdo'a dulu, agar terhindar dari mimpi-mimpi yang buruk. Cukup bacakan Alfatihah, juga surah Al Ikhlas, Al Falaq dan An-Naas masing-masing 3x juga ayat kursi. Kemudian, tiupkan pada telapak tangan, kemudian sapukan keseluruh tubuh yang bisa di jangkau dan bacakan do'a ketika hendak tidur. Barulah baringkan tubuh kita pada sisi sebelah kanan dahulu. Itu tata cara tidur yang diajarkan oleh Nabi besar kita Muhammad Shalallahu alaihi wassalam." Yusuf memberikan sedikit pencerahan untuk Zahrana, sebelum mereka turun dari dalam mobil.
"Terimakasih, Kak untuk pencerahannya. Akhir-akhir ini Zahra memang sering kali lalai. Jika sudah merasa kelelahan langsung terlelap, hingga bermimpi yang tidak-tidak di luar pemikiran Zahra sendiri." Zahrana tersipu malu, ia memikirkan igauannya barusan. Ia bahkan tidak menyadari jika dirinya terus saja memanggil-manggil nama Yusuf di dalam mimpinya.
"Semoga saja igauan mimpi ku tidak terlalu buruk. Sangat memalukan sekali jika aku sampai mengucapkan yang tidak-tidak," bathin Zahrana dengan memalingkan wajahnya ke arah jendela.
"Maa syaa Allah, itu kan rumah kediaman Buya Harun, berarti sekarang sudah sampai didesa." Zahrana nampak kebingungan, sebab dari sejak tadi ia memang ketiduran.
"Alhamdulillah ... kita memang sudah sampai di desa kediaman mu, Ra." Yusuf tersenyum melihat tingkah lucu Zahrana, ia pun segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Zahrana.
"Silahkan turun, nona Zahrana!" ucap Yusuf dengan setengah bercanda.
Zahrana nampak terpukau dengan sikap manis Yusuf terhadapnya. "OMG, jika diratukan seperti ini, wanita mana yang tidak terpesona dengan kharisma mu, Kak!" bathin Zahrana dengan binar mata bahagia.
***
Dari dalam rumah.
"Bun, coba lihat siapa yang datang dengan mobil berkelas itu!" ucap Buya Harun ketika netranya melihat ada mobil Avanza putih memasuki halaman rumahnya.
"Sebentar, Yah. Bunda bukakan pintu dahulu," ucap Bunda Fatimah dengan tergopoh-gopoh membuka pintu ruang tamunya.
"Maa syaa Allah ... lihatlah Yah, itu Puteri kita Zahrana. Ia bersama siapa?" Bunda Fathimah mendongakkan kepalanya, melihat siapa yang datang bersama dengan putri kesayangannya itu.
💙💙💙
__ADS_1
Untaian mutiara hikmah 👉“ Cinta adalah dimana kamu selalu punya alasan untuk kembali meski kamu sudah berjalan begitu jauh. Jika sorang wanita jatuh cinta dengan seorang lelaki, lelaki itu akan senantiasa ada di pikirannya walaupun ketika dia sedang bersama lelaki lain.”