Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
226 . Di Penjara


__ADS_3

Zaid memberikan sebotol minuman untuk Zahrana yang sedang ketakutan melihatnya. "Minum dulu air mineral ini dan tenangkan diri mu!" titah Zaid dengan membantu Zahrana menyodorkan minuman tersebut ke mulut gadis yang terlihat sangat malang itu. Zahra pun meminum air putih mineral tersebut dengan nafas tak beraturan.


"Aku akan menelfon Mas Fardhan dan kak Sabrina. Mereka harus tahu keadaan mu!" ucap Zaid dengan menekan tombol ponselnya.


"Tidak di jawab, sepertinya mereka sedang sibuk di pagi hari." Zaid pun mencoba mengulangi telfonnya berulang kali, namun tetap tidak di angkat oleh Sabrina dan Fardhan Arkan.


Zahrana duduk bersandar di dinding, ia menangis sesenggukan meratapi nasibnya. Ia tidak mengira Aslan senekad itu padanya.


"Maafkan aku, Ra. Jika aku tidak terlambat datang tentu ia tidak sampai menyentuh mu seperti ini!" Zaid menyalahkan dirinya sendiri, sebab wanita yang dicintainya juga merangkap sebagai karyawan tokonya kini harus mengalami hal yang buruk oleh sebab hampir dinodai oleh mantan kekasihnya sendiri yang tidak rela jika Zahrana di miliki oleh laki-laki lain.


"Kak Yu-yusuf, ma-afkan Zahra! Zahra sudah kotor," ucap Zahrana ditengah isak tangisnya.


Zaid tidak tega melihat Zahrana yang begitu rapuh, ia tidak berani mendekati apalagi menyentuh Zahrana. Ia pun berinisiatif mengambil nomor ponsel Yusuf di ponsel milik Zahrana.


"Assalamu'alaikum, dengan siapa?" tanya Yusuf ketika menerima sambungan telfon tanpa nama.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi, saya Zaid pemilik Aisyah Boutique Collection tempat di mana Zahrana calon istri mu bekerja."


"Iya, terima kasih. Ada apa gerangan?" tanya Yusuf dengan seribu tanda tanya.


"Maaf, sebaiknya kau datang ke Aisyah Boutique Collection sekarang! Zahrana sedang mengalami musibah yang membuatnya syok berat," terang Zaid. Hingga membuat Yusuf merasa terkejut mendengar ucapan Zaid.


"Baiklah aku segera kesana!" ucap Yusuf dengan bergegas menyambar kunci motornya.


"Ummi, Abi Yusuf berangkat dulu ada keperluan mendesak!" ucap Yusuf dengan menyalami punggung tangan kedua orang tuanya.


"Kamu hendak kemana, Nak?" tanya Ummi Yasmin, sebab jam baru menunjukkan pukul 08.30 wib.


"Menemui Zahrana di tempat kerja Ummi," ucap Yusuf dengan terburu-buru.


"Hati-hati, Nak!"


"Iya, Ummi. Assalamu'alaikum," ucap Yusuf. Ia pun segera beranjak keluar rumah dengan wajah yang nampak cemas.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi," ucap Ummi Yasmin dan Abi Farhan bersamaan.


Keduanya pun saling lirik pandang, "Ada apa dengan putra kita, Bi?" tanya Ummi Yasmin dengan ekspresi wajah cemas.


"Semoga semua baik-baik saja, Umm. Jangan khawatir, Yusuf adalah putra kita yang baik. Insya Allah apa pun permasalahan yang sedang di hadapinya, ia bisa menyelesaikannya dengan cara yang baik pula!" ucap Abi Farhan dengan menenangkan istrinya.


***


Yusuf mengendarai motor gedenya dengan kecepatan tinggi. Tidak butuh waktu lama, dalam kurun waktu 15 menit ia pun sampai di Aisyah Boutique Collection.


Dengan terburu-buru, ia masuk ke dalam Boutique tersebut.


"Zahra ada apa dengan dirimu?" ucap Yusuf ketika melihat wajah dan pakaian Zahrana terlihat semerawut dan acak-acakan.


Netra Yusuf pun tertuju pada sosok Aslan Abdurrahman Syatir yang terlihat babak belur dengan tangan dan kaki terikat, membuat Yusuf bertanya-tanya didalam hatinya.


"Dia hendak menodai Zahrana," ucap Zaid tanpa ditutupi.


"Astaghfirullah, kau! sudah kuperingatkan jangan mendekati dan menyentuh calon istri ku!" tegas Yusuf dengan menarik kerah baju Aslan.


"Kita serahkan ia pada pihak yang berwajib. Aku tidak ingin mengotori tangan ku untuk menghajarnya."


"Sudah aku hubungi pihak kepolisian, insyaAllah sebentar lagi polisi akan sampai kemari!" terang Zaid berusaha menenangkan Yusuf yang terlihat menahan emosinya untuk menghajar Aslan.


Yusuf pun menghampiri Zahrana, ingin sekali ia mengusap air mata Zahrana. Namun, ia menyadari jika mereka bukan mahramnya.


Yusuf menyelimuti tubuh Zahrana dengan jaket miliknya. Ia pun berusaha menenangkan calon istrinya itu.


"Jangan dekat, Kak. Zahra sudah kotor," ucap Zahrana dengan derai air matanya yang telah menganak sungai.


"Tidak Ra, bagiku dirimu adalah wanita yang baik nan suci. Seperti apa pun dirimu aku akan tetap menerima apa adanya dirimu. Aku mencintaimu karena Allah Tsamirah Zahrana Az Zahra!" ucap Yusuf dengan menatap lekat wajah yang terkasih.


Zahrana merasa tenang ketika mendengar penuturan Yusuf, namun ia malu dengan musibah yang kini menimpanya.

__ADS_1


"Kamu jangan menganggap dirimu kotor, kau teramat mulia bagi ku Zahrana. Jangan pernah berucap kata itu lagi!" ucap Yusuf dengan tatapan sendunya.


Zahrana terdiam sesaat, kemudian ia pun berusaha untuk bangkit dari duduknnya dan beralih kemeja kasir. Ia ingin duduk di kursi yang biasa ia tempati berhadapan dengan meja kasir.


"Hati-hati, Ra!" ucap Yusuf dengan terus memperhatikan pergerakan Zahrana agar tidak terjatuh.


Zahra pun menyandarkan tubuhnya pada kursi goyangnya. Ia berusaha menenangkan dirinya yang kini terlihat sangat rapuh. Di tengah ratapan hatinya, petugas kepolisian pun datang menyergap masuk ke dalam Aisyah Boutique Collection.


"Maaf Nona, andakah yang sedang mengalami musibah seperti yang di ceritakan oleh pemuda yang tadi di seberang telfon?" tanya salah satu anggota dpolisi.


Zahrana menganggukkan kepalanya, dengan air mata yang masih berlinangan di pipinya.


"Benar sekali, Pak. Saya yang melaporkan kejadian tersebut, Bapak dan juga anggota lainnya silahkan tangkap pemuda yang sedang di ringkus di pojok sana!" terang Zaid dengan nada serius.


"Benar sekali! penjarakan Dia! dia hendak menodai calon istri ku. Dia pula sosok pemuda yang kemarin hendak mencelakai ku!" terang Yusuf dengan wajah merah padam, oleh sebab menahan emosinya terhadap Aslan.


"Ini kebetulan sekali! kami akan menghukumnya secara setimpal," ucap salah satu anggota polisi.


Aslan pun diborgol oleh pihak kepolisian. Ia pun di seret paksa oleh polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.


"Lepaskan! Aku tak ingin di penjara!" pekik Aslan dengan berusaha melepaskan diri dari borgolan


polisi tersebut.


"Kau harus di penjara, sebagai hukuman atas perbuatan mu! kau telah melakukan kedzoliman terhadap calon istri ku!" ucap Yusuf dengan menatap nyalang pada Aslan yang mencoba menyelamatkan diri dari pihak kepolisian tersebut.


"Berdebah, awas kau Yusuf! Aku tidak akan membiarkan mu bahagia dengan Zahrana. Dia milikku bukan milik mu!" pekik Aslan yang tidak rela di penjarakan oleh polisi atas semua perbuatan yang telah dilakukan olehnya.


"Cepat masuk!" titah polisi dengan memasukkan Aslan secara paksa ke dalam mobil.


Aslan pun terpaksa masuk kedalam mobil mengikuti apa yang diperintahkan oleh para anggota kepolisian tersebut


🌺🌺🌺

__ADS_1


untaian mutiara hikmah πŸ‘‰"Pada umumnya, alasan mengapa orang lain membencimu adalah karena mereka menganggapmu sebagai ancaman, karena mereka membenci diri mereka sendiri atau karena mereka ingin menjadi sepertimu. Sebaik apapun kita, yang benci tetaplah benci. Seburuk apapun kita, yang cinta tetaplah cinta. Tak perlu menjelaskan kebaikan kita karena yang menyukai kita tidak memerlukannya. Dan yang membenci kita tak akan mempercayainya."



__ADS_2