Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
138 . Pramuja vs MZ Arkana


__ADS_3

Muhammad Zaid Arkana pun telah sampai di kediaman Pramuja. Ia segera mempercepat langkahnya menuju tempat di mana Pramuja, Zahrana dan keluarganya yang sedang bersantai ria.


Netra Zaid tertuju pada kebersamaan Zahrana dan Pramuja. Ada rasa perih di ulu hatinya, melihat kebersamaan keduanya.


"Ya Allah, kenapa harus sesakit ini? ada apa dengan hati ku? bukankah mereka berdua hanya saudara sepupu? apakah ini rasanya cemburu?" Zaid bertanya-tanya didalam hati kecilnya.


Zaid berusaha menetralkan perasaannya. Ia tidak ingin terlihat kentara, jika ia cemburu dengan Pramuja Wisnu Baskara yang terus lengket dengan Zahrana.


"Kenapa aku harus cemburu? Mereka kan, saudara sepupu?" bathin MZ Arkana.


"Assalamu'alaikum ... " ucap Muhammad Zaid Arkana, dengan memberi salam pada semuanya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... Maa syaa Allah, Nak Zaid? Mari bergabung di sini!" ucap Pak Nazrul Anwar, ayah Pramuja.


"Terimakasih, Om Nazrul." Zaid pun menyalami Pak Nazrul Anwar dan Buya Harun. Sedangkan, berhadapan dengan Bunda Fatimah dan Bu Asma Nadia Zaid menelungkupkan tangannya di dadanya.


"Hello, brother! kemarilah, kita makan bareng!" ucap Pramuja dengan gaya cool-nya.


Zaid segera menghampiri Pramuja dan Zahrana yang sedang asyik menikmati cemilannya.


Zaid tidak mengetahui, jika Buya Harun dan Bunda Fatimah adalah orang tua Zahrana. Yang ia tahu Pramuja hanya memberitahukan jika ada Zahrana di kediamannya, sehingga membuat Zaid rela menutup tokonya, demi ingin bertemu kembali dengan Zahrana.


"Ayolah, kemari! jangan sungkan-sungkan, tidak perlu malu." Pramuja sengaja menampakkan kedekatannya dengan Zahrana. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Zaid, adakah Zaid menaruh rasa terhadap Zahrana adik sepupunya.


Melihat kehadiran Zaid di sisi mereka membuat Zahrana merasa canggung dan malu, apalagi mengingat insidennya di dapur akibat serpihan gelas, tangannya sempat tergores oleh pecahan gelas tersebut. Dan Zaid lah yang telah menolongnya, mengobatinya.


Zahrana baru teringat jika sorban MZ Arkana tadi sempat terkotori oleh darahnya.


"Astagfirullah ... kak Zaid, ma-af. Zahra lupa untuk mencuci sorban kakak , sebab kakak buru-buru pulang tadi."


"I-ya, tidak apa-apa, Dik. Zaid menampakkan senyum manisnya pada Zahrana."


"Maksudnya, sorban apa, Ra?" tanya Pramuja penasaran.


Pramuja, tidak menyadari jika air yang hendak ia minum tumpah mengenai jemari tangan Zahrana.


"Awww ... perih!" ucap Zahrana meringis menahan perih di jemari tangannya, akibat tertumpah oleh air minum Pramuja.

__ADS_1


"Kau kenapa, Ra?" tanya Pramuja penuh kekhawatiran.


Namun, MZ Arkana sudah duluan melakukan pertolongan pada Zahrana.


"Subhanallah ... Zahra?" Zaid spontan mengeringkan jemari tangan Zahrana dengan tissue.


"Kenapa, tidak berhati-hati? Kau kan belum pulih betul lukanya?" Zaid meniup luka di jemari tangan Zahrana dengan hati-hati.


Zahrana terdiam di tempatnya. Ia tidak menyangka jika Zaid begitu perhatian terhadapnya. Ini yang kedua kalinya, Zaid mencemaskannya.


"Ma-af, Ra. Kakak tidak bermaksud apa-apa." Zaid pun melepaskan sentuhannya pada jemari tangan Zahrana. Ia pun kembali menundukkan pandangannya.


"Tunggu dulu! ini maksudnya apa, brother? Zahra bukan mahram mu, kenapa main sentuh-sentuh saja!" ucap Pramuja yang tidak rela sepupunya di sentuh oleh pria manapun kecuali dirinya.


"Ada apa dengan tangan mu Zahrana? kenapa terluka begini? maaf, Mas baru tahu jika jemari tangan mu terluka." Pramuja terlihat panik.


"Ini gara-gara ketumpahan air putih ini. Mestinya jangan sampai mengenai My Bidadari," ucap Pramuja dengan mengusap lembut jemari tangan Zahrana.


"Aku benar-benar sudah gila, mencari kesempatan dalam kesempitan!" bathin Pramuja.


"Hemmm ... tunggu dulu! meskipun kalian saudara sepupu, tetap saja tidak di benarkan saling bersentuhan tangan seperti itu." Zaid pun balik memprotes Pramuja.


"Ya Allah ... ada apa dengan Mas Pramuja? kenapa Mas Pra tidak suka melihat kebersamaan ku dengan kak Zaid?" bathin Zahrana.


Di tengah ketegangan mereka bertiga, Bu Asma Nadia, Bunda Fatimah, Buya Harun dan Pak Nazrul Anwar segera menghampiri mereka.


"Ya Allah ... ada apa dengan mu, Nak?" Bunda Fatimah melihat jemari tangan Zahrana.


"Tidak apa-apa, Bunda. Hanya luka kecil, nanti saja lukanya akan sembuh. Tadi, tidak sengaja kena pecahan gelas dirumah kak Sabri, Bun."


Bunda Fatimah memeluk Puterinya, dan mengecup kening Zahrana.


"Lain kali lebih berhati-hati lagi, ya Nak? ini siapa? apa Zahra sudah kenal dengan pemuda ini?" tanya Bunda Fatimah penasaran. Sebab, MZ Arkana spontan menyentuh dan meniup jemari Puterinya.


"Dia Muhammad Zaid Arkana, Bunda. Teman seperguruan Mas Fardhan Arkan, suami kak Sabrina." Zahrana menjelaskan pada Bunda Fatimah, terdengar pula oleh Buya Harun dan juga Pak Nazrul Anwar dan Bu Asma Nadia.


"Oh, jadi kalian sudah saling kenal?" tanya Buya Harun.

__ADS_1


"Sudah Buya, belum genap dua hari ini!" ucap Zahrana.


"Ma-af, sebelumnya. Jadi Ibu dan Bapak ini adalah orang tua Zahrana?" tanya Zaid tak enak hati. Sebab, ia spontan menyentuh jemari Zahrana. Lantaran khawatir jika terjadi apa-apa dengan Zahrana.


Bunda Fatimah menatap Zaid dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Pemuda ini, nampak Sholeh. Namun, bukan berarti aku memberikan kebebasan pada Puteri ku disentuh oleh lelaki manapun. Namun, tadi mungkin ia khawatir dengan puteri ku." Bunda Fatimah mencoba untuk berbaik sangka pada Muhammad Zaid Arkana.


"Jadi nama mu Muhammad Zaid Arkana? wajah mu mengingatkan Buya, pada santri Buya 4 tahun yang lalu. Namun, sekarang dia sedang menuntut ilmu di negara Piramida. Buya berharap bisa bersua dengannya lagi," ucap Buya Harun dengan menepuk pundak MZ Arkana.


Buya Harun tertunduk lesu, ia sangat merindukan santri kesayangannya Yusuf Amri Nufail Syairazy, yang akan ia jodohkan dengan sosok Zahrana Puteri tercintanya.


Melihat MZ Arkana, sedikit mengobati kerinduan Buya Harun pada sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy.


"Terimakasih, Buya. Sepertinya, sosok santri tersebut sangat berarti untuk Buya?" tanya Zaid.


"Benar sekali, Nak. Insya Allah, Buya hendak menjodohkan Puteri Buya dengan beliau," ucap Buya Harun.


Buya Harun tidak mengetahui sama sekali jika Muhammad Zaid Arkana telah pun menaruh hati pada Zahrana.


Zaid tertunduk lesu mendengar jika Zahrana yang sangat ia harapkan untuk bisa menjadi Bidadari dunia akhiratnya, ternyata hendak di jodohkan oleh Buya Harun dengan santrinya.


"Siapa gerangan nama pemuda tersebut yang begitu beruntungnya bisa menyentuh hati Ayah Zahrana? Hingga akan di jodohkan untuk Zahrana?" bathin Muhammad Zaid Arkana.


Namun, MZ Arkana tidak ingin mencari tahu siapa pemuda tersebut dan tidak ingin tahu siapa gerangan nama pemuda yang akan dijodohkan dengan Zahrana.


"Hemmm ... rasain loe brother, ternyata Zahrana sudah punya calon. Malangnya dirimu, setidaknya hati ku tidak begitu sakit kala melihat mu bersama adik sepupu ku, nyatanya kau pun tidak bisa mendapatkan Zahrana." Pramuja menyoraki MZ Arkana di dalam hatinya.


Pramuja vs MZ Arkana, sama-sama kecewa mendengar penuturan Buya Harun jika Zahrana hendak dijodohkan dengan santrinya yang sedang menuntut ilmu di negara Piramida itu.


Pramuja kecewa dan menyesali kenapa Zahrana berstatus sebagai sepupunya, hingga ia hanya bisa mencintai Zahrana dalam angannya.


Berbeda dengan Muhammad Zaid Arkana, ia yang telah pun menaruh rasa terhadap Zahrana dan ingin menjadikan Zahrana sebagai makmumnya. Pun harus menelan pil pahit dengan ucapan Buya Harun yang ingin menjodohkan Zahrana dengan Santrinya itu.


"Jodoh, rezeki, maut memang menjadi urusan Allah. Namun, sebelum janur kuning melengkung tidak ada salahnya aku berjuang untuk mendapatkan hati Zahrana!" cicit Muhammad Zaid Arkana yang memang mulai tergila-gila pada Zahrana.


🌷🌷🌷

__ADS_1


...Pencerahan 👉 "Pagi itu memiliki embun yang menetes tanpa harus diminta. Kebahagiaan itu memiliki arti ketulusan tanpa rencanakan. Sama halnya hati dia memiliki cinta tanpa harus diminta meskipun terkadang menyakitkan."...


__ADS_2