Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
145 . Di Sepertiga Malam Terakhir


__ADS_3

"Alhamdulillah ... terimakasih ya Allah, atas karunia mu. Semoga dengan begini aku terus bisa melihat dan dekat dengan Zahrana. Semoga nantinya aku bisa menjadikan Zahrana satu-satunya bidadari dunia dan akhirat ku!" bathin Muhammad Zaid Arkana, dengan sejuta cinta dan rasa kagumnya.


Di tengah perbincangan mereka, Sabrina pun membawakan minuman dan camilan untuk kedua anak muda tersebut.


"Akh, Zaid. Silahkan di minum dan di cicipi hidangannya!" titah Sabrina.


"Terimakasih, kak Sabri!" ucap Zaid dengan menyeruput secangkir teh tersebut berikut camilannya.


"Ya Allah ... terimakasih atas karunia mu, Alhamdulillah akhirnya hamba pun mendapatkan tawaran pekerjaan dari Kak Zaid!" bathin Zahrana, dengan perasaan penuh kebahagiaan.


Setelah menawarkan pekerjaan kepada Zahrana, Muhammad Zaid Arkana pun segera pamit undur diri, sebab ia pun harus membuka toko buahnya yang akhir-akhir ini sering tutup ketimbang buka, lantaran MZ Arkana lebih fokus memperhatikan special someone yang kini telah bertahta di hatinya, yakni Tsamirah Zahrana Az Zahra.


Entah jodoh entah bukan? Namun Zaid berusaha melakukan pendekatan dengan Zahrana melalui caranya, cukup menjalani hubungan silaturahmi dan persahabatan kepada Zahrana dan keluarga.


Jika pun suatu saat nanti, pada saat yang tepat, disaat pemikiran Zahrana sudah matang dan siap untuk menikah, Zaid berencana ingin melamar Zahrana dengan caranya sendiri, meskipun ia tahu saingannya kini sangat berat yakni Yusuf Amri Nufail Syairazy, santri Buya Harun sendiri, yang sampai detik ini Zaid belum mengetahui perihal nama Yusuf apalagi orangnya.


Zaid tidak ingin mengetahui itu semua, baginya cukup mendekati dan mengejar cinta Rabb-Nya di sepertiga malam terakhirnya itu sudah cukup bagi Muhammad Zaid Arkana.


Dengan merayu Zat Maha Penggenggam Hati dan Kehidupan itu sudah cukup memberikan ketenangan untuk Muhammad Zaid Arkana, guna mencapai niat dan tujuannya untuk merebut hati Zahrana.


***


Di sepertiga malam terakhir ( Pov Muhammad Zaid Arkana )


Setelah melaksanakan ibadah shalat Sunnah Tahajjud, di hamparan sajadahnya, Muhammad Zaid Arkana menadahkan tangannya. Berharap agar Sang Maha Penggenggam Kehidupan mengijabah do'a-do'anya.


"Ya Allah ya Rabbi ... Engkaulah Zat Maha Penggenggam Hati dan Jiwa. Sungguh hamba akui atas segala kehinaan dan kerendahan hamba dihadapan mu, hamba lemah dan tak berdaya."


"Ya Allah ... sungguh benar, hamba telah pun jatuh hati terhadap sosok Tsamirah Zahrana Az Zahra. Sosok wanita muslimah yang sempurna dan berhati mulia, berbalut iman dan taqwa."


"Wahai Zat yang Maha Pemberi segala Maaf. Maafkan hamba yang belum bisa menjaga pandangan mata ini ketika bersua dengannya, maafkan hamba yang telah terpikat oleh pesonanya. Maafkan hamba yang lemah dan goyang ketika berhadapan dengannya."


"Ya Allah jagalah hati dan jiwa ku, agar aku bisa menjaga rasa dihati ku, menyimpannya dengan rapi, di lubuk hati ini. Hingga akhirnya ia pun halal untuk ku miliki."


"Ya Allah ... semoga dirinya lah jawaban atas segala rasa ku, jika memang ia adalah jodoh ku dekatkanlah ya Allah, jika sudah dekat maka percepatkanlah! namun, jika dia bukan jodohku, maka jodohkanlah kami dengan cara-Mu ya Rabb, agar nantinya hamba bisa berjodoh dengannya, aamiin ... aamiin ... ya Rabbal'alaamiin."


Untaian do'a panjang lebar Muhammad Zaid Arkana di sepertiga malam terakhinya. Ia terus merayu Rabb-Nya, walaupun harus setengah memaksa diakhir kalimatnya. 😁😁😁


***


Di Sepertiga Malam Terakhir ( Pov Aslan Abdurrahman Syatir )


Di Rumah Sakit Medika Stania, Aslan Abdurrahman Syatir terbangun dari tidur lelapnya. Ia melirik jam tangannya, detik jarum jam pun berputar berdasarkan urutan waktunya.


"Ya Allah ... pukul 03.00 dini hari?" Aslan pun segera bangkit dari pembaringannya.


"Alhamdullillahilladzi ahyaanaa ba'da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur ( Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami, dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan)."


Aslan pun segera beranjak mengambil wudhu, ia hendak melaksanakan Ibadah Sholat Sunnah Tahajjud.

__ADS_1


Dihamparkannya sajadah miliknya, yang sengaja ia bawa dari rumahnya. Aslan melaksanakan ibadah sholat Tahajjud dengan khusu'nya, ia pun berdzikir dan berdo'a untuk kesembuhan adiknya Nandini Sukma Dewi.


Selain itu, Aslan pun memohon ampunan kepada Rabb-Nya atas segala kekhilafan dan dosa-dosa yang telah diperbuatnya di masa lalu, hingga detik ini ia bersyukur sebab masih diberikan kesempatan untuk bertaubat dan beribadah serta menundukkan keningnya diatas hamparan sajadah, bersujud kepada Rabb semesta alam yang telah memberikannya nafas kehidupan.


"Ya Allah ... Ya Rabb ... wahai Zat pemilik dan penggenggam nafas kehidupan, ampunilah hamba-Mu yang dhoif ini. Hamba akui atas segala dosa-dosa hamba dihadapan-Mu."


"Hamba akui atas kehinaan dan kelemahan hamba di hadapan Mu. Hamba tahu dan hamba sadari betapa diri ini berlumuran noda-noda dosa. Maafkan hamba dibutakan oleh cinta terhadap sosok wanita shalihah yang bernama Tsamirah Zahrana Az Zahra, maafkan hamba yang setengah mati menggila dan mengejar cintanya. Sehingga hamba melupakan bahwa cinta dan kasih sayang MU, jauh lebih besar dari itu semua," do'a Aslan dengan menadahkan tangannya, mengharapkan seberkas cahaya hidayah dan ampunan dari Rabb-Nya atas segala dosa-dosanya.


Aslan terus mencurahkan isi hatinya terhadap Sang Pemilik kehidupan, betapa selama ini hati dan jiwanya telah tersesat terlalu jauh dalam jerat lumpur dosa yang mengikatnya. Ia benar-benar menyesali segala dosa-dosa yang pernah di perbuatnya di masa lalu, juga detik ini ia menyadari akan semua kekeliruannya.


Terbayang di benaknya, jika ia terlalu berlebihan mengejar Zahrana. Ia pun merasa berdosa, oleh sebab cinta butanya menyebabkan Ibunya, yakni Ibu Ratna Anjani berujung membenci Zahrana dan melemparkan semua kesalahan pada Zahrana yang tidak berdosa dan sama sekali tidak melakukan kesalahan apa-apa.


"Hiks ... hiks ... hiks ... " Aslan menangis sesenggukan. Ia masih betah untuk terus bermunajat pada Rabb-Nya.


Air mata Aslan pun berlinang membasahi wajah tampannya. "Ya Allah ... maafkan dosa-dosa ibu hamba atas tuduhannya terhadap Zahrana, sentuhlah hati, pikiran dan jiwa ibu hamba ya Rabb, agar ibu menyadari akan kesalahpahaman dan kekeliruannya terhadap Tsamirah Zahrana Az Zahra. Sadarkan ibu hamba ya Rabb, agar ia bersikap baik dan lembut terhadap Zahrana seperti masa kecil dulu."


"Tumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang pada ibu hamba terhadap Tsamirah Zahrana Az Zahra ya Rabb, jangan biarkan api kebencian dan kemarahan tertanam di hati dan sanubari ibu hamba ya Rabb," ucap Aslan disela-sela isak tangisnya.


"Ya Allah ... maafkan dosa-dosa adik hamba Nandini Sukma Dewi, atas dosa-dosa yang di perbuat olehnya, hingga ia terjatuh ke dalam bentuk perzinahan yang menyesatkannya. Sehingga menyebabkan tertanam benih yang tak berdosa di rahimnya, jadikanlah segala kekhilafan dan dosa-dosa yang telah diperbuatnya, dapat menuntunnya kembali ke jalan Mu, dalam menjemput kembali hidayahnya yang terhempas oleh noda-noda dosa yang telah diperbuatnya."


Aslan terus mengulang-ulang do'anya di selingi isak tangisnya yang tiada henti, hingga menyebabkan kedua pelupuk matanya pun terlihat sebab. Lantaran hampir satu jam menangis dan mengadu kepada Rabb-Nya di atas sajadah cinta-Nya.


"Ya Allah, maafkan hamba sebagai seorang kakak belum bisa menjaga amanah-Mu. Hamba janji setelah ini hamba akan lebih memperhatikan adik hamba Nandini Sukma Dewi," do'a Aslan lagi dengan menghiba.


"Ya Rabb, memang benar hamba sangat mendambakan sosok Tsamirah Zahrana Az Zahra untuk menjadi bidadari dunia dan akhirat hamba. Namun, jika ibu pun tidak menyukai dan merestuinya, hamba bisa apa? yang lebih menyedihkan Zahrana tidak mencintai hamba seperti dulu lagi ya Rabb. Iya benar-benar telah berubah, ia kini telah bermetamorfosa menjadi wanita muslimah yang sesungguhnya berbalut iman dan taqwa."


"Ampunilah hamba ya Rabb, atas rasa hamba yang terlalu berlebihan terhadapnya. Mulai detik ini hamba tidak akan kentara lagi untuk mengejarnya ya Rabb, biarlah rasa ini ku kubur jauh dalam lubuk hati ini, hamba yakin jika ia adalah tulang rusuk hamba yang telah tercatat di kitab Lauhul Mahfudz-Mu, maka ia akan datang kembali pada hamba bersanding di pelaminan atas izin-Mu ya Rabb, aamiin ... aamiin ya Rabbal'alaamiin ...."


Aslan menutup do'anya dan tak lupa pula do'a untuk kedua orang tuanya, juga do'a sapujagat ia panjatkan diakhir do'anya.


Aslan tidak menyadari, jika adiknya Nandini Sukma Dewi sudah dari sejak tadi terbangun dari tidurnya. Nandini hampir mendengar semua untaian do'a yang di ucapkan oleh kakaknya Aslan.


"Ya Allah ... kasian kak Aslan!" Nandini mengusap air matanya dan berpura-pura tidur ketika kakaknya selesai menjalankan ibadahnya dan menghampirinya di brankarnya.


Aslan mengecup kening Nandini. " Cepat sembuh ya, sayang. Kakak menyayangi mu! maafkan kakak, belum bisa menjadi kakak yang baik." Aslan mengusap air matanya. ia tidak ingin membuat Nandini yang sedang terlelap, terbangun oleh dirinya.


Aslan menjatuhkan tubuhnya di kursi jaga pasien, ia pun menggenggam erat jemari tangan Nandini adiknya.


Aslan terlelap setelah untaian do'a-do'a panjang yang di munajatkan olehnya.


Nandini mengerjapkan matanya, ia pun mengelus pucuk kepala kakaknya.


"Maafkan Nandini, Kak. Belum bisa menjadi adik yang baik untuk kakak. Maafkan Nandini sebab telah merepotkan kakak, maafkan Nandini yang telah berbuat dosa, hingga mencoreng nama baik keluarga kita."


Nandini mengusap perutnya yang masih datar. Ia membayangkan bagaimana beratnya perjuangan menjadi seorang istri dan ibu di usianya yang baru beranjak 17 tahun.


"Humptttt ... " Nandini membuang nafasnya kasar. Ia lelah memikirkan problema yang terjadi dalam proses kehidupannya, hingga Nandini pun ikut terlelap bersama kakaknya, ditengah waktu yang telah menunjukkan pukul 04.00 WIB, yang insyaAllah 1 jam lagi akan masuk waktu subuh, kedua adik-kakak itu pun terlelap di ruang rawat inap tempat dimana kini Nandini masih terbaring di brankarnya.


***

__ADS_1


Di bilik kamar yang berdesain Hello Kitty dan bernuansa pink.


Zahrana terbangun dari tidurnya, "ya Allah sudah pukul 04.00 Wib. Masih ada kesempatan untuk melaksanakan ibadah sholat Tahajjud."


Zahrana pun segera beranjak ke kamar mandi yang memang berada di dalam kamarnya. Ia pun memutar kran air guna melakukan ritual wudhunya.


Zahrana menghamparkan sajadahnya dengan penuh suka cita. Tasbih untuk berzikir dan Al Qur'an sudah ia letakkan di atas hamparan sajadahnya. Setelah melaksanakan ibadah sholat Tahajjud ia pun berniat mendaras Qur'an sambil menunggu waktu adzan subuh, agar ia tetap terjaga dan tidak terlelap lagi, sampai tibanya waktu Shubuh.


Setelah usai melaksanakan ibadah sholat Tahajjud, Zahrana pun berzikir menggunakan tasbihnya. Ia pun berdo'a dengan khusu', menadahkan tangannya ke atas, bermunajat kepada Rabb-Nya.


"Ya Allah ya Rabb ... terimakasih atas nikmat iman dan Islam yang telah engkau karunia kan untuk kami. Terimakasih ya Rabb atas nikmat sehat, nikmat rezeki yang tak terhitung jumlahnya yang telah engkau limpahkan kepada kami. Terimakasih pula atas nikmatnya nafas hidup yang sampai detik ini masih terus berhembus pada jiwa-jiwa kami yang lemah dan papah ini."


"Ya Allah ... terimakasih atas semua hidayah mu, hingga detik ini hamba masih bisa bersujud kepada-Mu, menundukkan kening ini di hamparan sajadah cinta-Mu."


"Ya Allah ... sungguh Engkau telah menganugerahkan paras yang cantik dan alami menghiasai diri hamba. Hamba mohon ya Rabb perindahkan akhlak hamba dalam keimanan dan ketaqwaan terhadap-Mu."


"Ya Allah ... jangan biarkan kecantikan yang menghiasi wajah hamba menjadi fitnah untuk diri hamba sendiri, sehingga membuat kaum Adam terbuai dan terpesona hanya karena kecantikan paras wajah."


"Ya Allah ... hamba merindukan sosok imam yang mencintai hamba hanya karena mengharapkan keridhaan-Mu, bukan memandang dari paras dan rupa hamba yang satu saat pun akan pudar oleh bertambahnya usia kehidupan."


"Ya Allah ... hamba mendambakan sosok kak Amri Nufail Syairazy untuk menjadi imam hamba dimasa depan nanti ya Rabb. Hamba berharap kak Yusuf lah yang akan menuntun hamba untuk terus berada di jalan-Mu," bisikan hati Tsamirah Zahrana Az Zahra di dalam untaian do'a-do'anya.


"Ya Allah ... besok pagi, hamba akan memulai pekerjaan hamba di butik muslimah yang ditawarkan oleh seorang hamba-Mu yang bernama Muhammad Zaid Arkana. Izinkan hamba nantinya bisa bekerja dengan sebaik-baiknya, ya Rabb."


Zahrana pun segera mengakhiri do'anya. Ia pun berdo'a untuk kedua orang tuanya.


“Allahummaghfirlii Wa Liwaa Lidhayya Warham Humaa Kamaa Rabbayaa Nii Shaghiraa.”


Artinya:


“Ya Allah, ampunilah semua dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orang tuaku, serta berbelaskasihlah kepada mereka berdua seperti mereka berbelas kasih kepada diriku di waktu aku kecil.”


Kemudian, ia pun menutup do'anya dengan do'a sapu jagat.


"Robbanaa aatina fiddunya hasanah, wafil aakhirati hasanah waqinaa 'adzaa bannaar."


Artinya:


"Wahai Tuhan kami, anugerahi kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jauhkan kami dari api neraka. Aamiin ... aamiin ... ya Rabbal'alaamiin."


Usai berdo'a, Zahrana pun melanjutkan tilawah Qur'an sampai menunggu masuknya waktu Shubuh yang memang menjadi kebiasaan rutinnya hingga detik ini.


Zahrana pun nampak terlihat bersemangat setelah melakukan serangkaian ibadah di sepertiga malam terakhirnya.


"Ya Allah ... betapa nikmatnya jika hati dan jiwa ini senantiasa di hiasi dengan keimanan dan ketakwaan pada-Mu!" bisikan hati Tsamirah Zahrana Az Zahra.


🌷🌷🌷


Pencerahan 👉 "Dosa adalah penyakit, tobat adalah obatnya, dan berpantang dari itu adalah obat yang paling mujarab. Jadikan tobat bukan hanya untuk dosa-dosa yang telah kamu lakukan, tapi juga untuk kewajiban yang belum kamu tunaikan. Jika ingin kedamaian hati, taatlah kepada Allah, taruh keningmu di atas tanah, bicaralah kepada-Nya, dan curahkan semua isi hatimu. Renungkan hidupmu, sesali kesalahanmu, dan bertobatlah. Sesungguhnya Allah akan menerima tobat seorang hamba selama nafasnya belum sampai di tenggorokan (sakaratul maut).

__ADS_1


__ADS_2