Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
56 . Di Ladang Cinta


__ADS_3

Nandini masih fokus mengunyah coklat Silver Queen di mulut mungilnya,ia acuh tak acuh pada Zahrana dan kakaknya.Walaupun ia tahu sebenarnya coklat itu,dibingkiskan oleh kakaknya special untuk Zahrana.


Nandini tidak peduli,ia bertindak seolah-olah seperti orang kelaparan, seharian tidak makan.Entah sudah berapa bungkus coklat yang Nandini kunyah, namun ia nampak menikmatinya.


Nandini sengaja ingin menghabiskan semua bingkisan coklat itu, sebagai bentuk protes terhadap kakaknya Aslan dan Zahrana yang nampak acuh terhadapnya.Sebab, sedari tadi ia hanya jadi umpan nyamuk.Ia harus rela dan menahan hati melihat kemesraan Zahrana dan kakaknya.


Sementara, Zahrana dan Aslan membiarkan apa yang di lakukan oleh Nandini.Sebab, mereka pun sadar sedari tadi telah mengacuhkan Nandini .


"Kak, Nandini haus.Nandini mau minum,"cercah Nandini.Wajahnya tampak terlihat masam, sebab sedari tadi terus dikacangin.Ia pun ingin segera di perhatikan seperti Zahrana.


"Ya Allah ... Dek, kamu jelous yach dengan Zahrana?kamu kok gitu sih,Dek."Aslan pun segera memberikan sebotol air mineral dari dalam tasnya, juga beberapa cemilan lainnya untuk Nandini adiknya, yang memang sudah ia siapkan untuk Nandini juga untuk Zahrana.


"Maa syaa Allah ... kak, terimakasih."Nandini nampak girang, ternyata kakaknya juga perhatian dengannya.


Nandini pun, langsung memeluk erat kakaknya.Pelukan seorang adik pada kakaknya.Ia merasa bersalah, karena telah mengira kakaknya tidak mempedulikannya, dan lebih memperhatikan Zahrana daripada dirinya.


Sementara, Zahrana nampak tersenyum melihat tingkah Nandini yang menurutnya sangat berlebihan.Padahal sejatinya, Zahrana dan Aslan hanya ingin melepaskan kerinduan yang selama ini menderanya.


"Kak Aslan, Zahrana ... Nandini minta maaf yach, karena sudah bersikap kekanak-kanakan."


"Iya,Din.Tidak apa-apa kok,wajar jika kau merasakan seperti itu,"ujar Zahrana seraya merangkul Nandini.


Mereka bertiga pun nampak menikmati kebersamaannya, diselingi oleh canda ria.Mereka pun tampak menikmati tumbuhan hijau dari kejauhan,nampak sejuk dan indah di pandang mata.


Di sela canda ria mereka, mereka pun menikmati aneka cemilan yang di bawakan oleh Aslan dari rumah, yang memang disediakan khusus untuk mereka.


"Kak, Nandini ngantuk sekali.Pengen tidur,"ujar Nandini seraya menahan mulutnya agar tak menguap lebar.Padahal, sejatinya Nandini pura-pura ngantuk,ia ingin membiarkan Zahrana dan kakaknya untuk menghabiskan waktu bersama.Sebab,selama ini mereka sangat sulit untuk bertemu lantaran masih backstreet.


"Cepatnya Dek, hari masih pagi juga lebih baik kita keliling-keliling perkebunan dulu.Melihat pemandangan yang nampak menghijau dan indah, yang terlihat sejuk di pandang mata."Aslan ingin mengajak Zahrana dan Nandini mengitari perkebunan mereka.


"Kak Aslan dan Zahrana pergi berdua saja.Nandini istirahat di pondok ini saja,"ujar Nandini.


"Ya sudah ... kami jalan-jalan dulu Din,kamu tidak apa-apa kami tinggal sebentar,"tanya Zahrana.


"Iya ... nggak apa-apa Ra.Kalian pergi saja berdua,nikmati lah kebersamaan kalian di hari istimewa mu ini,Ra."Nandini mengerlingkan matanya pada Zahrana, agar jangan membantah perkataannya.


"Baiklah, kalo begitu kami jalan-jalan dulu Din."Zahrana dan Aslan saling bergenggaman tangan, mereka tampak senang dan bahagia lantaran ingin menghabiskan waktu bersama.


Sebelum beranjak pergi, Aslan memberikan kaset tips recorder untuk Nandini.Agar Nandini tidak bosan menunggu kedatangan mereka nantinya.


Nandini pun segera memutar kaset tips tersebut, sebagai teman pengantar tidurnya nanti.Disaat Aslan dan Zahrana sedang berkeliling perkebunan.


***


Aslan dan Zahrana segera beranjak dari pondok dan meninggalkan Nandini yang sedang asyik mendengarkan musik Tips.


"Kak,kita hendak kemana?kok,bawa gitar dan motor?Apa kita jalan kaki saja kak, sekalian olahraga pagi."Zahrana nampak canggung jika harus berboncengan dengan motor gede Yamaha MTZ 150,milik Aslan Abdurrahman Syatir.


Sebab, seumur hidup Zahrana belum pernah menaiki motor gede.Apalagi berduaan dengan laki-laki.


"Deg ... " jantung Zahrana,berasa mau copot.Seperti ingin keluar dari tempatnya, disaat Aslan menatap lekat nanar wajahnya, kemudian menuntun Zahrana agar segera naik ke motor gede miliknya.Sedangkan gitarnya ia sandang didepannya,agar Zahrana ketika dibonceng lebih leluasa mendekapnya erat dari arah belakang.


Aslan pun segera menghidupkan kuda besinya, dan tak lupa ia menuntun Zahrana untuk memeluknya erat dari belakang.Zahrana pun mengikuti apa yang di minta oleh Aslan, dengan perasaan yang berdebar-debar ia pun memeluk erat tubuh Aslan

__ADS_1


Cuaca di pagi itu nampak cerah ... secerah hati Zahrana dan Aslan yang nampak berbunga-bunga, oleh gelora rasa yang sedang melanda jiwa.


Semilir angin pagi nampak berhembus sepoi-sepoi, membuat Zahrana harus mengikat tinggi rambutnya yang hitam dan bergelombang.


Zahrana pun terpana dengan panorama alam di perkebunan Aslan dan keluarga,disana nampak ada beberapa petani yang sedang membajak sawahnya, ada yang sedang memanen sayur-sayuran,timun,terong, juga cabe yang nampak lebat buahnya.


"Maa syaa Allah ... ternyata seindah ini pemandangan alam disini kak, sudah banyak perubahan disini, tanaman tumbuh dengan indahnya,"ucap Zahrana dengan rasa kagumnya.


"Kak, tanaman singkong tumbuh pula dengan rindangnya,disana juga ada pohon jeruk yang sedang berbuah lebat, banyak sekali tanaman buah-buahan di sini kak,ada pohon rambutan, durian dan buah naga juga,kak.Keluarga kakak hebat sekali,"puji Zahrana.


"Alhamdulillah ... An, itu semua adalah inisiatif kakak sendiri.Kakak kuliah memilih jurusan pertanian, insya Allah 5 semester lagi kakak akan lulus Sarjana, namun meskipun belum selesai kuliah,kakak sudah menerapkan pola cara bertanam yang baik."Aslan menjelaskan detail pada Zahrana tentang awal mula hasil pertaniannya melonjak pesat.


Aslan tidak bekerja sendiri,ia di bantu oleh belasan orang buruh harian tetapnya.Jika hasil panen tiba,maka ia akan mencari buruh tambahan untuk mempercepat proses kerjanya.


Zahrana tertegun sejenak, ada rasa malu yang tiba-tiba datang menyelubungi jiwanya.Sebab, ia baru menyadari jika Aslan Abdurrahman Syatir berasal dari keluarga berada.Sedang ia berasal dari keluarga yang sederhana, tidak kurang, tidak lebih, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.


"Ya Allah ... apakah aku pantas berdampingan dengan mu kak Aslan Abdurrahman Syatir?"tanya Zahrana pada dirinya sendiri.


Zahrana merasa khawatir jika nantinya hubungan mereka diketahui oleh orangtua Aslan, "akankah kisah cinta mereka direstui? atau malah sebaliknya?"Zahrana terus berpikir keras,ia merasa resah jika nantinya, orangtua Aslan Ayah Anjasmara dan Ibu Ratna Anjani sampai mengetahui hubungan mereka, entah apa jadinya nanti.


"Ana ... kenapa diam? Apa mungkin ada ucapan kakak yang salah dan kurang berkenan dihatimu,An?"tanya Aslan.Ia khawatir sebab Zahrana tiba-tiba diam.


Aslan pun menepikan kuda besinya, tepat di bawah pohon yang rimbun.Tak jauh sana, tampaklah tumbuhan padi yang menghijau dan gemercik air yang mengalir dipematangan sawah, cukup memanjakan mata menikmati segala panoramanya.


"Ana ... kita bersantai di bawah pohon ini yach? itu ada tempat untuk duduk santai, yang sengaja dibuat oleh para Petani disini, untuk sekedar duduk santai disela-sela istirahat dan santap siang mereka."


"Bagaimana jika tempat ini kita namakan 'LADANG CINTA', sehingga aku dan dirimu menjadi kita,"ujar Aslan dengan rasa bahagia.Nampak jelas dari nanar wajahnya.


Zahrana pun mengangguk pelan,ia tidak tahu harus berkata apa.Rasa malu melanda jiwanya, ketika ia mulai menyadari perbedaan kasta antara Aslan dan dirinya.


Zahrana pun balik menatap Aslan dan menghamburkan diri kedalam pelukan Aslan."Ana takut kehilangan kakak,"ujar Zahrana seraya semakin mempererat pelukannya pada Aslan.


"Ana ... jangan berucap seperti itu lagi yach?kakak akan selalu ada di sini untuk mu,"ujar Aslan seraya mengusap pucuk kepala Zahrana.


Aslan menuntun Zahrana untuk duduk santai di bawah pohon yang rimbun yang menjadi pilihannya untuk berdua dengan kekasih hatinya.


Aslan pun mulai memainkan dawai gitarnya,ia ingin mempersembahkan sebuah lagu untuk Zahrana kekasihnya.


Zahrana nampak terpesona dengan perlakuan Aslan terhadapnya.


***


Aslan pun mulai bersenandung,ia mempersembahkan sebuah lagu yang berjudul 'Cinta Kita', yang dibawakan oleh Tengku Wisnu dan Shireen Sungkar.


💝CINTA KITA 💝


Inilah aku apa adanya


Yang ingin membuatmu bahagia


Maafkan bila ku tak sempurna


Sesempurna cintaku padamu

__ADS_1


Ini cintaku apa adanya


Yang ingin selalu di sampingmu


Ku tahu semua tiada yang sempurna


Di bawah kolong langit ini


Jalan kita masih panjang


Ku ingin kau selalu di sini


Biar cinta kita tumbuh harum mewangi


Dan dunia menjadi saksinya


Untuk apa kita membuang-buang waktu


Dengan kata kata perpisahan


Demi cinta kita aku akan menjaga


Cinta kita yang t'lah kita bina


Walau hari terus berganti hari lagi


Cinta kita abadi selamanya


Jalan kita masih panjang


Ku ingin kau selalu di sini


Biar cinta kita tumbuh harum mewangi


Dan dunia menjadi saksinya


Untuk apa kita membuang-buang waktu


Dengan kata kata perpisahan


Demi cinta kita aku akan menjaga


Cinta kita yang t'lah kita bina


Walau hari terus berganti hari lagi


Cinta kita abadi selamanya


Usai sudah sya'ir lagu yang di senandungkan oleh Aslan pada Zahrana kekasihnya, sya'ir yang ia nyanyikan benar-benar mewakili perasaannya pada sosok Bidadari kecilnya Tsamirah Zahrana Az Zahra.


Disini, diladang cinta menjadi saksi bukti cinta Aslan terhadap Zahrana.Benar ia sangat mencintai Zahrana dengan setulus hati dan jiwanya.


Zahrana nampak terpaku dengan sya'ir lagu yang dipersembahkan oleh Aslan Abdurrahman Syatir terhadapnya.Ia benar-benar terlena dalam buaian cinta dari seorang pemuda yang sangat tampan dan rupawan seperti sosok Aslan.

__ADS_1


Tak ayal, perasaan Zahrana terasa sangat berbunga-bunga.Bagai tersiram oleh air hujan yang membuat dahaganya yang pernah haus dan gersang.Kini,nampak sejuk oleh setiap tetesan cinta yang telah dipersembahkan oleh Aslan Abdurrahman Syatir terhadap dirinya.


__ADS_2