
kini hampir masuk satu bulan sudah, sejak peristiwa satu malam yang tak direncanakan menimpa Nandini Sukma Dewi dan Arjuna Restu Pamungkas kekasihnya. Sampai detik ini pula, mereka jarang bersua sejak peristiwa satu malam tersebut.
Mereka sengaja menjaga jarak untuk tidak bertemu, sebab Nandini khawatir jika sering bertemu mereka tidak bisa menjaga keinginan nafsunya yang semakin menggebu-gebu.
Apalagi Arjuna, jika bertemu Nandini sering nyosor duluan. Akibat peristiwa satu malam tersebut seolah menjadi candu untuk Arjuna. Ia selalu ingin memakan kekasihnya itu. Benarlah kata pepatah, jika sudah mencicipi satu kali inginnya mencicipi berkali-kali. Tak perlu halal-haram yang hasr*t terpuaskan.
Oleh sebab itu, syari'at Islam melarang dua insan yang berlainan jenis untuk berdua-duaan, apalagi sampai menempuh jalan pacaran. Sehari dua hari benteng pertahanan masih kuat. Namun, dihari selanjutnya mulai berani pegang-pegang tangan, peluk-pelukan, akhirnya menjurus pada hal yang tidak dihalalkan bermula dari pandangan mata berujung pada hubungan terlarang layaknya pasangan yang telah terikat janji suci pernikahan.
Padahal sejatinya, hubungan antara dua insan yang belum halal termasuk kedalam kategori perzinahan yang paling besar, jika tidak segera bertaubat dari hal itu semua. Hanya berpedoman pada kenikmatan dan nafsu sesaat, rugi dunia hingga akhirat.
Selain itu, dijelaskan pula di dalam kitab suci Al-Qur'an surah Al Isra ayat 32 yang berbunyi :
وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلً
Artinya: "Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra: 32)
Mendekati Zina saja di larang, seperti halnya pacaran, apalagi sampai melakukan hubungan terlarang seperti halnya Nandini dan Arjuna Restu Pamungkas. Tentunya mudharat dan dosanya pun lebih besar lagi dan pelakunya pun dapat terancam dengan siksaan api neraka di hari kebangkitan nanti jika tidak segera menyesali dan bertaubat dari dosa yang telah diperbuatnya.
Namun, kita tidak punya hak untuk menjudge kehidupan seseorang. Boleh jadi hari ini ia melakukan kesalahan dan dosa, namun keesokan harinya ia bertaubat dihadapan Rabb-Nya. Sebab, sejatinya pintu taubat masih tetap terbuka selagi nafas masih tercekat di kerongkongan. Bersyukurlah bagi setiap diri yang masih diberikan nafas hidup dan bertaubat sebelum ajal pun menjemput.
Berkaca dari peristiwa yang terjadi dengan Nandini dan Arjuna, tentunya kita bisa mengambil hikmah agar kita pun jangan sampai melakukan hal yang sedemikian.
***
"Din, wajah mu nampak pucat. Sebaiknya kau istirahat dulu, Din. Muroja'ahnya lanjut besok lagi, yah?" ujar Zahrana. Ia nampak khawatir melihat Nandini sahabatnya yang tiba-tiba pucat pasi, namun tetap memaksakan diri untuk belajar mengaji.
"Alhamdulillah ... Kau sudah setoran hafalan 1 juz, tajwidnya pun sudah bagus. Semua ini berkat niat dan tekad mu yang kuat untuk tetap menghafal Qur'an dan merenungi ayat-ayat Allah, aku bangga pada mu, Din."
" Hanya butuh waktu satu bulan saja, kau sudah bisa menghafal 1 juz dari ayat suci Al-Qur'an." Zahrana menatap penuh haru dan bangga dengan sahabatnya itu. Ia pun merangkul Nandini Sukma Dewi sahabat baiknya dari sejak kecil itu.
Semenjak tragedi satu bulan yang lalu bersama kekasihnya Arjuna Restu Pamungkas, Nandini benar-benar menghindari untuk bertemu terlalu instens dengan Arjuna. Ia menyibukkan diri dengan belajar mengaji dan Muroja'ah serta belajar ilmu fiqih dengan Zahrana di Padepokan Buya Harun.
Bukan Nandini tidak mencintai Arjuna, namun ia merasa malu dengan apa yang di perbuatnya bersama Arjuna. Ia malu atas dosa dan maksiat yang telah diperbuatnya.
Nandini tidak ingin terus larut dalam kemaksiatan jika sering-sering bertemu dengan Arjuna Restu Pamungkas. Ia akan menerima pinangan Arjuna untuk datang berkunjung langsung pada orang tuanya, setelah Nandini mengambil kelulusan hari Sabtu nanti di SMK Negeri 2 Pelayaran XX.
Setelah lulus SMK, Nandini akan segera kepelaminan, sesuai kesepakatannya dengan Arjuna. Sebab, mereka pun telah melebur dalam penyatuan raga yang terjadi begitu saja tanpa ikatan yang sakral.
Nandini menyadari kesalahannya. Ia memilih untuk bertaubat dan mendekatkan diri kepada Rabb-Nya. Sebab, ia pun menyadari atas segala kelemahannya. Ia meyakini bahwa jika Rabb-Nya maha Pengampun atas segala kesalahan dan dosa-dosanya.
Kini pun, Nandini telah mengenakan hijab setelah pun ia belajar fiqih dari Zahrana jika berjilbab itu wajib bagi wanita muslimah. Nandini baru mengetahui jika menutup aurat merupakan perintah Allah kepada manusia, yang tujuannya agar kemuliaan seorang wanita muslimah di mata masyarakat selalu terjaga.
Selain itu, menutup aurat juga agar tidak menimbulkan fitnah yang datang dari lawan jenis. Menutup aurat bukan hanya bermanfaat bagi diri pribadi seseorang, tetapi juga untuk citra masyarakat secara umum. Nandini baru memahami itu setelah hampir satu bulan ia belajar menggali ilmu syar'i pada Zahrana sahabatnya.
Selain itu di dalam kitab suci Al-Qur'an pun disebutkan beberapa ayat yang memerintahkan manusia untuk selalu menutupi auratnya, di antaranya :
__ADS_1
QS Al A’raf Ayat
يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَٰرِى سَوْءَٰتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ ٱلتَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
Artinya: "Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS Al-A’raf :26)
QS Al Ahzab Ayat 59
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Artinya “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Ahzab : 59)
QS. An-Nur Ayat 31
وَقُل لِّلْمُؤْمِنَٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَٰرِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَآئِهِنَّ أَوْ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَآئِهِنَّ أَوْ أَبْنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوْ نِسَآئِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيْرِ أُو۟لِى ٱلْإِرْبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفْلِ ٱلَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا۟ عَلَىٰ عَوْرَٰتِ ٱلنِّسَآءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan ***********, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS An-Nur : 31).
Melalui wasilah belajar dengan sahabatnya Zahrana, juga niat karena mengharapkan keridhaan Allah Subhanahuwata'ala semata akhirnya Nandini pun menjulurkan hijabnya ke dadanya.
Walaupun ia menyadari jika ia telah kotor dan jatuh kedalam perzinahan. Namun, tidak menyurutkan niatnya untuk meraih ampunan dan hidayah Allah. Nandini menyakini sepenuhnya jika ampunan Allah jauh lebih besar daripada dosa yang di perbuatnya.
Meskipun seluruh dunia membenci dan menggerutuki kebodohannya sebab dengan mudahnya terjatuh dalam dosa dan kemaksiatan yang menghancurkan reputasi dan harga dirinya, Nandini bersyukur sebab ia masih punya kesempatan untuk meraih ampunan Rabb-Nya.
"Hoekkk ... " Nandini tiba-tiba muntah-muntah, kepalanya terasa pusing. Perutnya terasa mual. Badannya pun terasa berat dan pegal-pegal. Membuat Zahrana kelabakan melihat sahabatnya tiba-tiba muntah-muntah.
Al hasil baju gamis Zahrana pun di penuhi oleh muntah Nandini yang tiba-tiba muncrat mengenai bajunya, sebab ia dalam keadaan merangkul Nandini karena terlalu bahagia sahabatnya kini telah berhijab dan hafal Juz 30 dari kitab suci Al-Qur'an.
"Din, sepertinya kau masuk angin. Mari kita kedalam dulu! biar aku gosokkan minyak angin." Zahrana pun memapah Nandini menuruni anak tangga Padepokan. Ia pun membawa Nandini masuk ke dalam rumahnya, di bantu pula oleh Cinta dan Kirana Larasati.
Para Santriwan dan Santriwati pun menghentikan kegiatan belajar dan mengajarkannya. Mereka berbondong-bondong melihat keadaan Nandini Sukma Dewi, yang tiba-tiba mual dan muntah-muntah.
Buya Harun yang sedang mengajar pun ikut menghentikan kegiatan mengajarnya. Ia ingin melihat keadaan Santriwatinya itu.
"Kamu sepertinya masuk angin, Nak. Biar Buya ambilkan minyak angin dulu." Buya Harun pun mengambil kotak P3K dan segera mengambil minyak angin untuk diberikan pada Nandini Sukma Dewi.
"Zahra, tolong oleskan di punggung juga diperut Nandini. Sepertinya anak itu sedang masuk angin."
__ADS_1
Zahrana pun menuruti titah Buya Harun.
Wajah Nandini pun semakin terlihat pucat, ia pun kembali mual dan ingin muntah. Namun, ia tahan. Sebab, ia tidak ingin muntah sembarangan lagi. Ia tidak ingin merepotkan Zahrana dan keluarganya.
"Ra, aku ingin ke toilet. Aku mual dan ingin muntah lagi," ucap Nandini tertahan.
"Baiklah, mari aku bantu!" Zahrana merasa tidak tega melihat sahabatnya yang sedang tidak enak badan.
Nandini pun kembali muntah-muntah, semua makanan yang ia makan pun termuntahkan.
"Ya Allah ... kenapa aku akhir-akhir ini lemas dan sering mual-mual dan juga muntah, apa jangan-jangan aku telah mengandung benih Arjuna?" Nandini bertanya-tanya dalam hatinya. Sebab, ia sudah hampir dua Minggu lebih telat datang bulan.
"Ada apa, Din? kenapa diam? jika ada masalah, ceritakan pada ku! jangan dipendam sendiri," ucap Zahrana. Yang terus mengoles tengkuk Nandini dengan minyak angin.
"Ti-tidak ada apa-apa, Ra. Aku ingin pulang, bisakah tolong telfon kakak ku agar menjemput ku. Sepertinya aku tidak bisa pulang sendiri, badan ku terasa lemas. Aku pun merasa pusing," ucap Nandini dengan suara serak.
"Baiklah mana handphone mu. Biar aku telfon kakak mu," ucap Zahrana.
"Ma-af, handphone ku tidak aku bawa Ra. Jika kau tidak keberatan, tolong telfon kakak ku. Aku hafal nomornya."
Zahrana nampak ragu, ia berusaha untuk menghindari Aslan dan tidak ingin nomor pribadinya sampai di ketahui oleh Aslan.
Namun, melihat Nandini benar-benar sakit dan lemas mau tidak mau ia pun menelfon Aslan Abdurrahman Syatir yang dulu pernah menjadi masa lalunya.
***
Zahrana pun segera menghubungi Aslan.
📞 Aslan : " Assalamu'alaikum ... maaf dengan siapa?" Zahrana terdiam sejenak dan mengatur nafasnya sebelum berbicara pada Aslan.
📞 Zahrana : "Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... ini aku Zahrana, Kak."
📞 Aslan : "Benarkah kau Tsamirah Zahrana Az Zahra?"
Aslan terpaku sejenak. Betapa ia sangat merindukan Zahrana selama ini. Dan kini rasa rindu tersebut terlerai sudah setelah mendengarkan suara lembut nan merdu itu dari balik telfon.
📞 Zahrana : "Maaf, Kak Zahra ingin---" belum sempat Zahrana berucap Aslan sudah menyela ucapannya.
📞 Aslan : "Zahra, aku merindukan mu!" ucap Aslan dari balik telfon, membuat Zahrana seketika membungkam mendengar ucapan Aslan.
📞 Zahrana : "Ma-af, Kak. Tolong jemput Nandini kemari! Ia sakit. Terimakasih."
Zahrana pun mematikan telfonnya sepihak, sebab ia tidak ingin berlama-lama berbicara pada Aslan.
Aslan pun segera beranjak menyambar kunci mobilnya untuk menjemput Nandini di kediaman Zahrana.
"Ya Allah ... ternyata aku terlalu percaya diri. Ku kira kau merindukan ku Tsamirah Zahrana Az Zahra, tapi ternyata aku salah." Aslan pun membatin dengan nada pilunya.
__ADS_1
🌷🌷🌷
Pencerahan 👉"Dosa adalah penyakit, tobat adalah obatnya, dan berpantang dari itu adalah obat yang paling mujarab.Tidaklah seseorang berbuat dosa lalu ia beranjak bersuci, melakukan shalat kemudian beristighfar meminta ampun kepada Allah kecuali Allah mengampuninya."