
Aslan Abdurrahman Syatir menghampiri Tsamirah Zahrana Az Zahra, hari ini ia benar-benar tersulut api cemburu. Ia benar-benar tidak bisa menguasai dirinya, untuk kali ini ia benar-benar ingin memberikan hukuman untuk gadis kecilnya yang telah benar-benar memancing dirinya untuk berubah menjadi harimau ganas yang tak terkalahkan.
"Dia wanita ku! dia milikku bukan milikmu!" ucap Aslan dengan wajah berangnya. Ia benar-benar menatap nyalang terhadap Rivandra Dinata Admaja yang telah berani mendekati dan menyentuh wanitanya.
Aslan terus mengulangi kalimat tersebut, untuk menunjukkan tanda kepemilikannya terhadap Zahrana. Dihadapan semua yang hadir di sana, tidak ada lagi backstreet dan yang semisalnya, yang ada adalah rasa yang bergejolak di hatinya. Ia benar-benar menunjukkan tanda kepemilikannya dihadapan semua jika Zahrana adalah wanitanya, tidak boleh ada yang menyentuh gadis kecilnya kecuali hanya dirinya.
"Sekali lagi ku peringatkan, jangan berani-berani lagi mendekati wanita ku, walau dengan cara apapun itu. Sungguh kau telah melewati batasanmu!" ucap Aslan berapi-api.
Aslan ingin sekali menghajar Rivandra Dinata Admaja habis-habisan, masih terngiang-ngiang dalam ingatannya bagaimana Rivandra Dinata Admaja beradu akting dengan kekasihnya Zahrana di pentas hiburan tadi. Bayangan mereka berdua yang sedang beradu akting tersebut terus menhantui dirinya. Kali ini Aslan tidak bisa terus membiarkan kedekatan Bidadari kecilnya dengan Rivandra Dinata Admaja.
Semua yang hadir pun terperangah dengan sikap arogan Aslan yang tiba-tiba muncul dari dalam dirinya, padahal sebelumnya Aslan adalah pemuda yang lembut dan santun. Namun, karena rasa bucinnya terhadap Zahrana Sang Primadona alias Bunga Desa atau pun Wanita Seribu Pesona atau apalah namanya, yang jelas Zahrana kala itu memang digandrungi oleh 99 % kaum Adam pada masanya. Bahkan dalam satu hari pun belasan bahkan puluhan kaum Adam yang berusaha merebut hati seorang Zahrana lantaran pesonanya yang sangat luar biasa. Namun, entah kenapa hanya Aslan Abdurrahman Syatir yang menjadi pilihannya.
Zahrana yang sebelumnya terkenal dengan gadis ayu nan polos pun kini perlahan berubah menjadi gadis remaja yang matang sebelum waktunya. Bersama Aslan Abdurrahman Syatir perlahan duduk keimanan Zahrana pun semakin hari semakin pasang surut, terasa begitu sulit untuk Zahrana mengontrol keinginan nafsu buruknya di usianya yang masih beranjak remaja. Zahrana benar-benar berada dalam dilema tingkat tinggi.
Pernah Zahrana ingin mengakhiri cerita asmaranya dengan Aslan Abdurrahman Syatir, sebab ia tidak ingin tenggelam lebih lama lagi dalam api asmara cinta yang semu, yang terus membakar hati dan jiwa belianya. Sebab semakin hari keposesifan pria dewasa yang kini menjadi kekasihnya tersebut semakin menjadi-jadi dan semakin terus mengekang kebebasannya untuk bereksplorasi bersama teman-teman remajanya.
"Ana, kita pergi dari sini! Aku tidak ingin berlama-lama di sini," ucap Aslan risih. Ia pun tanpa sadar menarik kasar pergelangan tangan Zahrana yang kini masih berstatus kekasihnya.
Zahrana mau tidak mau terus mengikuti langkah Aslan Abdurrahman Syatir yang kini sedang tersulut emosinya, membuat semua yang menyaksikan di buat terperangah oleh keposesifan Aslan Abdurrahman Syatir terhadap Zahrana.
"Tunggu!" pekik Rivandra Dinata Admaja terhadap Aslan Abdurrahman Syatir.
Aslan pun menghentikan langkahnya. Ia pun menoleh ke arah Rivandra Dinata Admaja dengan tatapan penuh intimidasi.
Aslan berdiri di tempatnya dengan posisi tangannya masih menggenggam erat pergelangan tangan Zahrana.
"Mau apa, katakanlah! sebelum aku berubah pikiran." Aslan tampak memberikan ruang untuk Rivandra mengeluarkan unek-uneknya.
Sementara yang menyaksikan perseteruan mereka masih dalam posisi saling berpandangan dan terdiam ingin mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Jika terjadi hal-hal yang di luar batas baru mereka akan segera bertindak untuk mengatasinya.
"Ma-af sebelumnya kak, benar aku sangat mencintai dan mengagumi Zahrana hingga detik ini, di sini didalam hatiku masih terukir indah namanya. Namun, aku sadar Zahrana lebih memilih dirimu dari pada diri ku, kak."
"Sebenarnya, kakak harus bersyukur telah di pilih oleh Zahrana untuk menjadi teman istimewanya. Di antara 1001 laki-laki yang mengejarnya kau yang ia pilih untuk menjadi kekasihnya. Jadi tolong jangan sakiti dirinya, jangan sekali-kali kakak berani untuk bermain kasar terhadap Zahrana. Ia masih terlalu polos untuk kau sakiti dengan semua sikap arogan dan keposesifan mu!" tegas Rivandra.
"Jadi, ini yang hendak kau bicarakan wahai anak muda. Kau tak perlu mengajari ku! Aku tahu harus bagaimana bersikap terhadap wanita ku," sungut Aslan berapi-api.
"Aku harap setelah ini, jangan pernah lagi kau dekati wanita ku. Menyingkir dan menjauhlah dari kehidupannya!" tegas Aslan tak kalah berapi-apinya.
__ADS_1
Jika tidak memikirkan Rivandra Dinata Admaja adalah adik dari teman kampusnya Virgantara Dinata Admaja, mungkin sudah dari tadi Aslan melayang tinjunya terhadap Rivandra yang telah berani-beraninya mendekati dan menyentuh wanitanya walaupun hanya sekedar akting dipanggung hiburan. Namun Aslan mengetahui jika pentas tersebut bukanlah hanya sekedar cuplikan atau akting biasa, namun lebih kepada pengungkapan rasa yang sesungguhnya terhadap sosok wanita yang benar-benar di kaguminya.
Akan tetapi Aslan tidak akan membiarkan wanitanya untuk terus di dekati oleh pria manapun selain dirinya.
"Gawattttt! kak Aslan semakin tersulut emosi," cicit Nandini Sukma Dewi dalam hati.
Nandini pun segera melerai genggamannya dari Arjuna kekasihnya, yang sejak tadi masih terus berpegangan erat ketika mereka berdua menyaksikan perseteruan antara kakaknya Aslan dengan Rivandra Dinata Admaja yang sama-sama bersikeras untuk memperjuangkan Zahrana.
Nandini pun segera menghampiri dan melerai pertikaian antara kakaknya dan Rivandra Dinata Admaja. Sebab, Nandini tidak ingin terjadi baku hantam yang lebih parah lagi di antara mereka. Sebab kini, mereka masih berada di ruang lingkup sekolah. Khawatir jika dilihat banyak orang, apalagi sampai di ketahui oleh guru-guru SMP Negeri 3 XX tentang kekacauan yang di buat oleh Aslan kakaknya demi untuk memperebutkan seorang gadis kecil bernama Tsamirah Zahrana Az Zahra.
"Kak Aslan, sudah Kak. Sebaiknya kakak segera pergi dari sini, jangan kekanak-kanakan kak! khawatir mengganggu ruang lingkup sekolah, untung saja semua sudah pada bubar, masih terlihat beberapa orang Siswa-siswi yang masih berkeliaran di sini yang lain sudah pada beranjak pergi." Nandini mengusir kakaknya agar segera angkat kaki dari ruang lingkup sekolah.
"Cepetan pergi, Kak! selesaikan baik-baik urusan kakak dengan Zahrana. Heran deh, bucinnya parah sekali. Kekanak-kanakan pula nggak ingat usia," sunggut Nandini.
Aslan pun segera beranjak pergi. Ia membawa Zahrana ikut pergi bersamanya.
"Kak, tunggu dulu! Ana hendak pamit dengan teman-teman dulu, jangan begini Kak." Zahrana memohon.
Aslan tidak memperdulikan ocehan Zahrana, yang dia inginkan Sang Bidadari kecilnya tidak boleh lagi berada di dekat rivalnya Rivandra Dinata Admaja.
"Teman-teman aku pergi dulu, sampai berjumpa lagi!" pekik Zahrana.
Aslan benar-benar membawa Zahrana pergi dari hadapan Rivandra dan teman-temannya. Dalam pikiran Aslan saat ini adalah ia ingin segera menghukum Bidadari kecilnya dengan suatu hukuman yang bisa membuat Zahrana jera untuk berdekatan dengan laki-laki manapun selain dirinya.
***
"Kak Rivan, sabar ya Kak! cinta itu memang tidak harus memiliki, melihat orang yang kita cintai bahagia bersama pilihan hatinya, itu sudah cukup Kak." Kirana Larasati memberikan support kepada Rivandra Dinata Admaja.
"Jangan buang waktu hanya untuk memikirkan yang tidak pasti, jalan kita pun masih panjang, jangan pernah patah arang hanya karena gagal dalam percintaan. Yakinlah jika jodoh tak kan lari kemana. Sekuat apapun kita bertahan jika ia bukan jodoh kita pasti akan berpisah, namun sekuat apapun kita ingin menjauh darinya, jika pun ia jodoh kita pasti akan bertemu jua walau sejauh mana pun jarak memisahkan." Kirana terus menyemangati Rivandra Dinata Admaja yang kini terlihat lesu, sebab Zahrana sang pujaan hati telah di boyong oleh Aslan Abdurrahman Syatir dari hadapannya.
"Dan aku akan selalu ada untuk mu kak, aku akan menunggu mu sampai di penghujung waktu ku. Semoga dimasa depan nanti kita dapat bertemu kembali, wahai cinta dalam diam ku!" bisikan hati Kirana Larasati. Kalimat tersebut hanya Kirana yang bisa merasakannya.
"Terimakasih atas support mu Kirana Larasati," ucap Rivandra seraya menatap lekat nanar wajah Kirana.
"Sama-sama, Kak." Angguk Kirana Larasati. Ia tidak sanggup melihat tatapan Rivandra terhadapnya.
Sinyal-sinyal rasa itu pun semakin bergerilya di pita bathin Kirana Larasati, namun untuk Rivandra Dinata Admaja ia berusaha untuk memadamkan segala sinyal rasanya, setelah ia patah hati oleh cintanya bersama Tsamirah Zahrana Az Zahra.
__ADS_1
"Ternyata, dirimu terlihat manis jika seperti itu Kirana Larasati. Aku tidak menyangka jika ucapan mu mampu membangkitkan semangat ku," bisik hati Rivandra. Namun Rivandra berusaha menepis rasanya, sebab saat ini ia tidak ingin jatuh hati kepada wanita mana pun setelah Zahrana.
Untuk saat ini Rivandra ingin kembali fokus melanjutkan pendidikannya, untuk meraih masa depan dan cita-cita yang lebih cerah dari sekedar patah hati yang hanya membuatnya semakin terpuruk dengan keadaan.
"Nah ... begitu dong brother, semangat. No broken heart!" seloroh Virgantara Dinata Admaja yang sejak tadi memperhatikan interaksi antara adiknya dengan Zahrana juga Aslan Abdurrahman Syatir yang bersikeras memperebutkan Zahrana.
Virgantara tidak ingin ikut campur urusan asmara adiknya Rivandra, jika sudah terjadi pertikaian yang berujung baku hantam antara Rivandra dan Aslan Abdurrahman Syatir sahabatnya barulah Virgantara akan turun tangan. Jika hanya sekedar adu mulut itu mah biasa menurut Virgantara.
"You are great my brother!" ucap Virgantara seraya memeluk dan menepuk bahu saudara laki-lakinya Rivandra Dinata Admaja.
"Thanks brother, atas semua supportnya." Rivandra pun memeluk erat kakaknya. Ia merasa sangat bahagia sebab masih ada saudara kandung dan teman-temannya yang senantiasa mendukungnya.
"Nah, begitu dong Van. Kita turut senang melihat kau bersemangat lagi," ujar Rangga Sahadewa seraya memeluk erat Rivandra sahabatnya. Disusul pula oleh Arjuna Restu Pamungkas, ia pun tak kalah senangnya melihat Rivandra kembali semangat dan tersenyum bahagia.
"Ini baru saudara sepupu ku, kau kembali menjadi sosok Rivandra yang santun dan penuh kharisma." Arjuna turut bahagia atas kembalinya semangat Rivandra.
Rivandra pun menampakan senyum manisnya, sehingga nampak lah deretan gigi putihnya yang berbaris rapi di wajahnya yang memang tampan dari sononya.
"Hemmm ... semua masalah sudah usai. Kak Rivandra pun sudah kembali bersemangat, bagaimana jika kita lanjutkan kesepakatan kita untuk menghabiskan waktu bersama di Pantai Indah Kenangan Bersama," pungkas Nandini Sukma Dewi.
"Boleh, itu ide yang bagus Honey!" ucap Arjuna Restu Pamungkas.
Arjuna dan Nandini saling mengerlingkan matanya, mereka berdua sepakat untuk mendekatkan Kirana Larasati dengan Rivandra Dinata Admaja. Fadhilah dengan Virgantara Dinata Admaja kakaknya Rivandra. Sedangkan Cinta Kiara Khoirani memang sudah punya pasangan yakni Rangga Sahadewa.
Rivandra, Kirana Larasati, Fadhilah, Virgantara Dinata Admaja dan Cinta Kiara Khoirani juga Rangga Sahadewa sepakat menyetujui usulan Nandini Sukma Dewi.
Mereka pun segera beranjak pergi dengan pasangannya masing-masing menuju Pantai Indah Kenangan Bersama.
Rivandra Dinata Admaja berboncengan dengan Kirana Larasati, Virgantara Dinata Admaja berboncengan dengan Fadhilah, sedangkan Cinta Kiara Khoirani bersama pacarnya Rangga Sahadewa. Nandini Sukma Dewi sudah pasti bersama kekasih hatinya Arjuna Restu Pamungkas.
Hari terakhir perpisahan ini, Rivandra dan teman-temannya sengaja membawa sepeda motor masing-masing agar bisa menghabiskan waktu bersama dengan teman-teman sekolah mereka guna mengukir kenangan terindah yang tak mudah dilupakan, kisah kasih di sekolah.
"Hubby, sepertinya kita berhasil mendekatkan Kirana Larasati dan Kak Rivandra Dinata Admaja. Juga kak Virgantara dan Fadhillah, semoga siasat kita kali ini berhasil. Biar semuanya bisa jadian dan punya pasangan. Nggak ada lagi galau-galauan," pungkas Nandini seraya memeluk erat kekasihnya Arjuna Restu Pamungkas yang sedang mengendarai motor gedenya.
"Siapa dulu, siasat Arjuna Nandini. Insya Allah akan berhasil," timpal Arjuna.
"Aamiin ... " Nandini mengaminkan ucapan Arjuna.
__ADS_1
Mereka berdua pun terkekeh geli dengan siasat dan kekonyolan yang mereka perbuat.
Di sela-sela gurau candanya, Arjuna pun segera melajukan kuda besinya dengan kecepatan tinggi menuju Pantai Indah Kenangan Bersama dengan penuh suka cita bersama kekasih hatinya Nandini Sukma Dewi. Hari ini adalah hari yang sangat bermakna untuk Nandini dan Arjuna juga teman-teman mereka lainnya. Semuanya nampak riang gembira menghabiskan kebersamaannya, kecuali Aslan Abdurrahman Syatir dan Tsamirah Zahrana Az Zahra. Mereka berdua masih harus menyelesaikan segala kesalahpahaman yang ada.