
Zainal dan Rufaidah pun telah memasuki area pelaminan Nandini dan Arjuna, mereka menyalami semua yang ada di atas pelaminan tersebut, setelah menyalami kedua orang tua Nandini kini tibalah saatnya, saat-saat yang mendebarkan ketika Zainal hendak menyalami kedua mempelai, detak jantung Zainal seketika terhenti ketika manik matanya bertemu pandang dengan wanita yang sangat dikasihinya dari sejak zaman putih-biru hingga detik ini pun rasa itu pun terus bertumbuh dihatinya, meskipun yang terkasih kini telah bersanding di pelaminan bersama sosok Arjuna Restu Pamungkas yang menjadi rivalnya.
Bersama kepingan hati yang terkoyak Zainal mencoba menahan perih di hatinya. Ingin rasanya ia menangis sejadi-jadinya, meratapi hati dan jiwanya yang kini rapuh, sebab cintanya yang kini tak dapat untuk ia rengkuh. Betapa sedihnya dirinya ketika menyaksikan cintanya yang kini terenggut dan tak termiliki.
"Ya Allah, mungkin ini jalan takdirku dari semenjak zaman persekolahan hingga detik ini pun aku selalu kalah seribu langkah dari Arjuna Restu Pamungkas!" bathin Zainal meringis pilu.
"Ya Allah, kuatkanlah hati dan jiwa ku agar aku bisa sabar dan kuat menghadapi segala ujian hidup ini. Tak mudah bagi ku melupakan mu Nandini Sukma Dewi!" bathin Zainal dengan manik mata yang mulai berkaca-kaca.
Sungguh, hatinya tak kuat untuk lebih lama lagi menatap yang terkasih. Baginya, kini dunianya seakan runtuh. Tak ada lagi yang dapat ia perbuat harapannya ingin memiliki Nandini Sukma Dewi kini terkubur bersama kepingan hatinya yang terkoyak.
Wajah cantik nan ayu, yang kini bersanding di atas pelaminan hanya bisa ia lihat namun tak bisa untuk dimilikinya.
Nandini yang berusaha menahan diri agar tidak terlena oleh pertemuannya dengan Zainal pun tak kuasa menahan air matanya, ia pun menangis tanpa suara membuat Arjuna yang kini menjadi suaminya merasa tidak senang dengan kehadiran Zainal yang menurutnya sangat mengganggu ketenangan istrinya di hari kebahagiaannya.
Bagaimana pun kini Nandini adalah istri sahnya tidak ada yang boleh memandang apalagi menyentuhnya. Arjuna menggenggam erat jemari tangan istrinya, sebagai isyarat untuk menjaga pandangannya dari laki-laki lain selain dirinya. Meskipun ia menyadari, ia pun telah bermain hati dibelakang istrinya, dan parahnya perselingkuhan itu terjadi sebelum pernikahan mereka diresmikan.
Namun, sifat arogan Arjuna selalu mendominasi, apa pun yang sudah menjadi miliknya tidak boleh ada yang mendekatinya, seujung kuku sekalipun. Kendati pun ia sendiri sebenarnya melakukan kesalahan yang fatal, namun ia merasa ia lah Arjunanya tak ada yang boleh melawan atau bahkan menolaknya.
Arjuna menatap nyalang ke arah Zainal, ingin rasanya ia melayangkan tinjunya pada sosok Zainal yang telah berani-beraninya memandang istrinya dengan tatapan yang tak wajar menurutnya.
Nandini dan Arjuna pun saling memandangi dan menyalami satu sama lain, ketika kedua jemari tangan keduanya saling bertautan, seketika getaran rasa perlahan merasuki hati dan jiwanya. Rasa dihati keduanya pun saling menyatu meski tak bisa untuk saling memiliki.
Dalam waktu 60 detik dari sekarang, entah kenapa tiba-tiba Nandini teringat kembali dengan janji yang pernah terucap dari lisan Zainal, "KU TUNGGU JANDAMU!"
Janji yang seketika mengganggu hati dan pikirannya, "OMG, apakah aku sudah gila dan sudah hilang rasa warasnya? sadar Nandini kau kini sudah menikah dan berstatus menjadi istri seorang pria arogan yang bernama Arjuna Restu Pamungkas dan dirimu pun sedang mengandung benihnya, bukan Zainal!" bathin Nandini pada dirinya sendiri.
"Andainya aku bisa mawas diri, tentu tidak akan begini jadinya!" bathin Nandini dengan menggerutuki kebodohannya sendiri.
"Selamat atas pernikahan mu, Din. Semoga dirimu bahagia!" ucap Zainal dengan do'a setengah ikhlas terhadap pernikahan yang terjadi antara Nandini dengan Arjuna.😁😁
Nandini pun terhenyak, di tengah para tamu undangan yang semakin ramai berdatangan dan berdesakan di temani iringan musik yang menggema ikut meramaikan berlangsungnya prosesi pernikahannya. Ada kepingan hati yang terkoyak, Zainal membawa rasa kecewanya, Nandini membawa rasa dilemanya, Arjuna membawa rasa cemburu dan amarahnya.
"Terima kasih atas kehadiran dan do'amu!" ucap Nandini dengan berusaha menahan diri, agar air matanya tidak menetes, ia tidak ingin menampakkan kesedihannya di hadapan Zainal. Ia tidak ingin terlihat lemah, pikirnya biarlah rasa itu ia pendam sendiri agar tidak menambah segala kerumitan yang ada.
"Kurang ajar, berani-beraninya ia memandangi dan menyentuh wanita ku dengan sangat lama! awas saja, setelah ini aku akan memberikan perhitungan pada mu Si Kutu Buku!" geram Arjuna dengan menatap nyalang pada Zainal.
Begitu pun Zainal ia sengaja memanas-manasi Arjuna, sebab ia marah dan kecewa karena Arjuna telah merenggut kesucian Nandini sebelum pernikahannya.
"Rasakan oleh mu, wahai pria arogan. Kau pantas merasakan gejolak emosi di hatimu, kau telah merusak wanita yang kucintai!" bathin Zainal geram.
__ADS_1
Arjuna semakin tersulut emosi, pasalnya Zainal seolah-olah menabuh genderang perang dengannya.
"Dia berani melawan ku!" Arjuna pun meremas dan melingkarkan tangannya di pinggang Nandini dengan mesranya. Hingga membuat Nandini tak berkutik.
Nandini baru menyadari jika dirinya telah membuat suaminya marah dan di dera rasa cemburu terhadap interaksinya dengan Zainal.
"Hubby!" Nandini sekilas memandangi wajah tampan suaminya, sebaliknya Arjuna menampakkan senyum mesranya untuk memanas-manasi Zainal. Ia merasa menang seribu langkah dari Zainal. Sebab, Nandini sudah menjadi istri sahnya juga halal untuk ia miliki.
Arjuna menganggap Zainal seolah hanya seperti butiran debu di terbangkan angin yang hanya sekedar numpang lewat. Arjuna merasa ia lah pangerannya, dan Nandini adalah permaisurinya. Ia merasa Nandini laksana pelangi dikala hujan telah berhenti membasahi bumi dan ia adalah awannya. Sehingga kini, pelangi itu pun telah berselimut awan. Tiada yang bisa menghalangi keduanya, mengingat mereka berdua kini pun telah berstatus pasangan halal.
Menyadari suasana yang mulai tidak kondusif, para tamu undangan pun nampak sedang antri untuk menyalami kedua mempelai di atas pelaminan. Rufaidah selaku kakak kandung Zainal pun mengingatkan adiknya.
"Dek, buruan! tamu undangan sudah pada berdatangan, pakai adegan melo segala," ujar Rufaidah setengah kesal dengan adiknya.
Zainal pun segera menyalami Arjuna dengan meremas jemari tangan pria arogan itu dengan sekuat tenaganya, dan menghempas jemari tangan Arjuna dengan kasarnya, membuat mempelai pria itu meringis kesakitan dan mengumpat Zainal habis-habisan di dalam hatinya.😅😅
"Awas saja kau Si kutu buku! kau telah membuat ku malu dihadapan istri ku, untung saja suasana pesta sedang ramai, semua sibuk dengan urusan masing-masing. Jika tidak, mau di kemanakah wajah tampan ku!" gerutu Arjuna dalam hatinya.
Netra Arjuna pun beralih pada sosok Rufaidah yang hendak menyalaminya. "Bukankah ia dokter Rufaidah Al Aslamiyah? dokter spesialis kandungan yang menangani Nandini di rumah sakit Medika kemarin?" bathin Arjuna bertanya-tanya dalam hatinya.
"OMG, ia tampak menawan sekali! ada hubungan apa Si Zainal dengan dokter Rufaidah? tidak mungkin ia memiliki hubungan khusus dengan wanita dewasa?" bathin Arjuna kepo.
Nandini sebenarnya cemburu dengan kedekatan Zainal dengan Rufaidah. Namun, ia harus menekan rasa egonya. Sebab kini ia telah menjadi istri orang lain. Rasanya tidak pantas jika ia sudah menikah, namun perasaannya untuk laki-laki lain.
Zainal dan Rufaidah nampak cekikikan melihat wajah Arjuna yang terlihat penasaran dengan hubungan mereka.
"Rasain tu, kepo juga!" sarkas Zainal dengan bergandengan tangan dengan kakaknya. Keduanya nampak kompak dengan seragam couplenya. Padahal sebenarnya mereka adik kakak, sengaja untuk nge-prank Arjuna yang kembali muncul sifat playboy-nya.😂😂
***
Di kediaman Zahrana.
"Ya Allah, kak Yusuf kemana ya? katanya mau nemani Zahra ke pernikahan Dini?" gumam Zahrana yang nampak tidak sabaran menunggu kedatangan seorang yang sangat istimewa di hatinya.
Dumelannya pun tertangkap basah oleh indera pendengaran Raihan adiknya. "Subhanallah ... yang sedang menunggu teman istimewanya? Raihan juga akan ikut menemani kak Zahra dan kak Yusuf menghadiri pernikahan kak Dini. Kalian tidak boleh jalan berdua. Raihan sebagai mahram kakak, akan menemani kak Zahra dan kak Yusuf. Kakak tahu kenapa? meskipun kalian sudah resmi lamaran, tetap saja jika seseorang laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya jalan berdua dengan itu akan menimbulkan fitnah. Ingat, godaan syaitan itu halus, Kak!" tegas Raihan seolah-olah seperti da'i kondang yang sedang menyampaikan tausiyahnya.
Zahrana mengernyitkan dahinya, ia tidak menyangka adik bungsunya Raihan dengan gamblangnya menasehatinya tanpa titik koma. "Ya Allah, Dek. Kita bisa jaga diri, kok. Kak Yusuf pemuda yang sholih, ia berbeda dari laki-laki lain yang pernah kakak kenal dan yang kakak temui. Dari sejak dulu hingga detik ini, ia sangat menjaga marwahnya, tak sekalipun ia berbuat yang tidak-tidak terhadap kakak. Justru kakak yang terkesan kurang bisa menjaga pandangan," sarkas Zahrana sambil mencebikkan bibirnya karena menghindari ocehan adiknya Raihan.
"Justru itu, Kak. Sesholih-sholihnya seorang makhluk yang bernama Adam, jika terus menerus berduaan dan berdekatan dengan seorang wanita. Apalagi wanita tersebut sangat dikaguminya, bisa saja ia khilaf."
__ADS_1
"Kakak ingat tidak, Nabi Yusuf yang setara Nabi saja sempat terbersit hasrat cintanya terhadap Zulaikha, apalagi kita yang imannya hanya seujung kuku! tentunya akan lebih mudah terkena godaan syaitan. Hanya saja, ketika itu Nabi Yusuf bisa mengendalikan biduk hawa nafsunya, atas izin Allah subhanahu wata'alla. Kalau bukan karena rahmat Allah tentunya ia tidak akan selamat dari fitnah wanita dan godaan hawa nafsunya!" terang Raihan dengan mimik wajah serius."
"Ya Allah, Dek. Semenjak masuk pesantren dirimu semakin pintar berdalih," pungkas Zahrana, dengan mengacungkan jempolnya.
"Ilmu itu kan memang mesti di sampaikan kak, meskipun hanya satu ayat." Raihan terus memojokkan kakaknya dengan argumennya.
"Iya, deh. Raihan yang benar, kakak yang salah. Akan tetapi orang yang sedang hijrah dan berilmu itu sejatinya melewati tiga tahapan loh, Dek!" Zahrana pun balik menyerang Raihan dengan argumennya.
"Memang tahapannya apa saja, Kak?" tanya Raihan dengan melipat dadanya.
"Tahapan pertama, orang yang memiliki ilmu itu akan sombong dengan ilmu nya, hingga seringkali membanggakan diri dengan ilmu yang di milikinya. Hingga merasa dirinya paling benar dan dengan mudahnya menjudge orang lain salah, tanpa di saring dulu sebab dan akibatnya dari ucapan yang ia lontarkan apakah bisa di terima oleh hati seseorang yang mendengarnya."
"Tahapan kedua, orang yang memiliki ilmu itu akan merasa rendah hati, intinya ia tidak akan mudah untuk mendudge orang lain yang masih belum memahami atas apa yang belum diketahuinya, sebab ia menyadari sebelumnya ia pun bodoh dan awwam tidak seperti apa yang telah dipahaminya saat ini. Sebab ia selalu berusaha berpikir positif, iya meyakini setiap orang bisa berubah menjadi baik selagi nafasnya masih berhembus di kandung badan."
"Kemudian, tahapan ketiga. Orang yang berilmu merasakan jika dirinya bukan apa-apa. Sebab, ia menyadari jika diatas langit masih ada langit. Artinya di luar sana lebih banyak orang yang lebih tinggi ilmunya daripada dirinya, jadi tidak ada alasan baginya untuk menyombongkan dirinya terhadap ilmu yang di milikinya," pungkas Zahrana dengan tersenyum pada adiknya Raihan yang nampak fokus mendengarkan ilmu yang disampaikan olehnya.
"Jadi, ceritanya mau nyindir Raihan ni, Kak? sayangnya Raihan tidak tersindir dengan apa yang disampaikan oleh kak Zahra," sarkas Raihan dengan tertawa renyah.
"Raihan, Raihan ... kau memang adik kakak yang paling supel, cerdas dan pandai!" kedua adik kakak itu pun seketika saling melebarkan tawanya.
Buya Harun dan Bunda Fatimah pun nampak tersenyum bahagia melihat interaksi kedua adik kakak tersebut.
"Maa syaa Allah, anak kita Yah. Mereka berdua nampak terlihat akrab sekali!" ucap Bunda Fatimah dengan senyum bahagianya.
"Alhamdulillah, Bun. Semoga Allah senantiasa merahmati keluarga kita."
"Aamiin ya Rabb!" Bunda Fatimah nampak mengaamiinkan do'a Buya Harun.
Selang berapa menit kemudian nampaklah pemuda Sholih yang di tunggu-tunggu oleh Zahrana kini telah hadir memasuki pekarangan rumahnya menggunakan mobil sport mewah miliknya.
"Maa syaa Allah ... kak Yusuf!" pekik Zahrana setengah histeris. Pasalnya Yusuf nampak terlihat amazing dengan mobil sport dan kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya. Tak lupa pula dengan jubah dan sorban dikenakannya nampak tidak pernah lepas dari kepalanya.
"Ya Allah, apa ia hendak menghadiri pernikahan Dini dengan penampilan seperti itu!" bathin Zahrana. Rasanya ia tidak rela jika calon imamnya dilirik oleh para kaum hawa, namun harus bagaimana lagi sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy memang sudah tampan dan berkharisma dari sononya. Mau tidak mau Zahrana harus berbesar hati menerima segala konsekwensinya, jika nanti ada yang melirik sang pangeran hatinya.😍😍
💙💙💙
Untaian mutiara hikmah 👉"Jika akhirnya kamu tidak bersama dengan orang yang sering kamu sebut dalam do'amu, mungkin kamu akan dibersamakan dengan orang yang diam-diam sering menyebut namamu dalam do'anya. Untukmu yang selalu kusebut dalam do'a, izinkan aku menjadi bagian dari hidupmu. Seorang pria mendambakan wanita yang sempurna dan begitu juga wanita mendambakan sosok pria sempurna, namun mereka tidak tahu bahwa Allah telah menciptakan mereka untuk saling menyempurnakan satu sama lain."
__ADS_1