
"Semoga saja dalam waktu dekat aku segera mendapatkan pekerjaan yang baik dan cocok untuk ku," bathin Zahrana. Hingga berapa menit kemudian Zahrana pun terlelap dalam tidurnya.
Zahrana pun terbuai dalam mimpi indahnya setelah seharian menjalani rutinitasnya hari ini yang cukup menyenangkan baginya.
Zahrana benar-benar tertidur pulas dengan membawa sejuta kebahagiaan di hatinya. Ia benar-benar bahagia sebab telah selesai mengenyam bangku Sekolah Menengah Atasnya.
"Insya Allah, aku akan segera mendapatkan pekerjaan yang baik, halal dan berkah!" bisikan hati Zahrana sebelum terlelap.
Kumandang adzan Dzuhur pun menggema di telinga, hendak memanggil semua penghuni mayapada untuk sejenak meninggalkan rutinitas yang di geluti oleh setiap insan agar segera melangkahkan kaki memenuhi panggilan Allah Subhanahuwata'ala yang berupa ibadah sholat.
"Tok ... tok ... tok, Dek bangun! sudah masuk waktu Zuhur," seru Sabrina dari luar dengan membangunkan Zahrana adiknya.
Zahrana mengerjapkan netranya, mendengar suara panggilan kakaknya Sabrina dari bilik pintu kamarnya.
"Astagfirullah ... Sudah masuk waktu Zuhur, ini berarti aku terlelap 1 jam lebih, setelah kepulangan Buya Harun dan Bunda Fatimah."
Zahrana melirik jam diponselnya, "sudah masuk waktu Dzuhur juga. Tapi, aku kan sedang haid alias kedatangan tamu bulanan. Jadi, untuk sementara aku break menjalankan ibadah sholat wajib dan ibadah Sunnah lainnya." Zahrana bergumam di dalam hatinya.
"Ya Allah ... perutku lapar sekali, aku belum makan siang." Zahrana memegang perutnya yang berbunyi keroncongan. Ia pun segera beranjak membuka pintu kamarnya.
"Ceklekkk ... " pintu kamar pun terbuka.
"Dek, kamu baik-baik saja kan?" tanya Sabrina dengan menaruh tangannya di kening Zahrana.
"Alhamdulillah ... Zahra baik, Kak. Zahra lapar sekali," ujar Zahrana.
"Ya Allah ... Dek, kakak kira kamu sakit. Pasalnya, dirimu sudah hampir satu jam lebih tidak keluar kamar. Sekarang sudah masuk waktu Dzuhur, kamu belum makan siang dari sejak tadi."
Sabrina mengkhawatirkan Zahrana adiknya. Sementara Zahrana hanya nyengir kuda.
Zahrana pun segera beranjak menuju dapur. Ia pun segera menyantap makanan yang sudah terhidang di atas meja. Ada cah kangkung yang memang menjadi menu favorit Zahrana, ayam goreng dan sambal cabe hijau, serta lalapan mentimun, daun kemangi dan daun kol sebagai pelengkap.
Zahrana nampak menikmati semua hidangan tersebut.
"Maa syaa Allah ... nikmat sekali rasanya masakan kak Sabrina. Kak Sabri memang jago masak, pantas saja Mas Fardhan betah di rumah dan hampir-hampir tidak pernah makan di luar rumah. Keluarga kak Sabri memang sakinah walaupun ia menikah muda!" bathin Zahrana di sela-sela mengunyah makanannya.
"Mas Raffa, apa kabar? semenjak ia menikah dan langsung pindah ke kota P, di desa kediaman istrinya jarang sekali bersua." Zahrana tiba-tiba teringat dengan kakak laki-lakinya yang paling sulung, memang benar mereka jarang sekali bersua hingga detik ini.
Raffa Nauzan Al Fareed, kakak laki-laki Zahrana hanya bekerja sebagai kuli bangunan. Ia bekerja paruh waktu, hampir-hampir tidak ada libur sama sekali. Kecuali pas hari raya Idul Fitri dan Idul Adha ia baru libur dan mengambil cuti selama 3 hari. Jika pun libur pada hari Minggu itu pun hanya 1 bulan dua kali, ingin mudik kerumah orang tuanya pun ia sudah merasa kelelahan, akibat setiap hari bekerja. Berkutat dengan hal-hal yang berhubungan dengan bangunan.
__ADS_1
"Raihan juga, sepertinya akan segera libur sekolah juga. Sudah satu tahun ia mengenyam duduk di bangku Pesantren di Islamic Center," bathin Zahrana yang tiba-tiba merindukan adiknya Raihan Arman Habibie dan kakaknya Raffa Nauzan Al Fareed.
"Dek, kenapa melamun? selesaikan dulu makannya, jangan banyak pikiran. Apa lagi memikirkan special someone?" goda Sabrina dengan tersenyum simpul pada Zahrana.
"Nggak, kok Kak. Zahra lagi kangen dengan Raihan dan juga Kak Raffa," ujar Zahrana dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Jangan bersedih ya, Dek? insya Allah, nanti kita semua akan berkumpul kembali dengan Raffa dan juga Raihan."
Sabrina menghibur Zahrana adiknya.
"Terimakasih, Kak. Sudah menguatkan Zahra." Zahrana pun menyelesaikan makannya.
"Ummi, Ammah Zahra. Diluar pagar ada yang hendak datang kerumah, entah siapa gerangan!" ujar Yumna dengan menggenggam tangan adiknya Shaka.
Sabrina pun keluar dari dalam rumahnya menuju pintu gerbang. Sabrina membuka pintu gerbang tersebut.
Seseorang yang datang tersebut pun mengucapkan salam.
"Maa syaa Allah ... Akh Zaid, silahkan masuk!" ucap Sabrina yang kaget akan kedatangan Zaid kekediaman mereka dengan tiba-tiba tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Zaid pun masuk ke dalam rumah milik Sabrina dan keluarga.
Sabrina pun hendak menelfon Fardhan suaminya, namun pergerakannya di tahan oleh Muhammad Zaid Arkana.
"Maaf kak Sabri, saya hendak bertemu Zahrana sebentar. Apa Zahrananya ada, Kak?"
"Bertemu Zahrana? ada apa gerangan?" bathin Sabrina, namun ia tetap berjalan ke dapur menghampiri Zahrana yang hampir selesai makan siangnya.
"Dek, ada tamu yang ingin bertemu dengan mu!" ucap Sabrina, tanpa menyebutkan siapa yang datang berkunjung tersebut.
"Siapa Kak, orang yang hendak bertemu Zahra?" tanya Zahrana penasaran.
"Temui saja dulu, Dek! Tanyakan apa gerangan keperluannya?" ucap Sabrina yang mulai mencium aroma rasa antara Zaid terhadap adiknya Zahrana.
Zahrana segera mengakhiri makan siangnya yang tidak kunjung selesai, akibat sambil makan dengan pikiran yang tak menentu kemana-mana.
Zahrana segera menuju ruang tamu menemui tamu tersebut.
"Kak Zaid!" pekik Zahrana kaget
__ADS_1
Zaid pun tersenyum, dengan menatap sekilas ke arah Zahrana.
Zahrana mendudukkan bokongnya di sofa minimalis milik Kakaknya. Ia pun berusaha menahan kegugupan dan debaran jantungnya. Begitu pula dengan Muhammad Zaid Arkana, namun ia berusaha untuk setenang mungkin berhadapan dengan Zahrana.
"Ada apa gerangan, Kak? terimakasih sudah mengantarkan Ayah dan Bunda ku tadi," ucap Zahrana.
"Sama-sama, Dik Zahra. Kakak hanya ingin menawarkan pekerjaan untuk Dik Zahra. Tadi, pas di mobil Buya Harun bercerita jika Zahra sedang mencari informasi pekerjaan, kebetulan Ummi kakak punya butik Muslimah di kota S yang terletak di kawasan XX. Ummi kakak sedang mencari pegawai baru, sebab pegawai Ummi kakak yang kemarin resign. Ia akan segera mengakhiri masa lajangnya bulan ini juga," ucap MZ Arkana dengan melirik sekilas ke arah Zahrana.
"Jika Zahra berkenan, besok kakak bisa temani Zahra ke butik Muslimah tersebut, jika Zahra merasa cocok Insya Allah besok pagi pun bisa mulai bekerja!" ucap Muhammad Zaid Arkana penuh antusias.
Zahrana nampak berbinar mendengar tawaran MZ Arkana. Kebetulan ia memang benar-benar sedang mencari pekerjaan untuk mengisi waktu senggangnya.
"Benarkah, Kak? jika benar-benar masih ada lokernya, Zahra mau Kak bekerja di butik Muslimah tersebut!" ucap Zahrana serius.
"Baiklah, jika begitu. Besok pukul 07.30 WIB, kakak akan datang kemari menjemput Zahra."
Muhammad Zaid Arkana merasa sangat bahagia sebab Zahrana pun menerima tawaran pekerjaan darinya.
"Alhamdulillah ... terimakasih ya Allah, atas karunia mu. Semoga dengan begini aku terus bisa melihat dan dekat dengan Zahrana. Semoga nantinya aku bisa menjadikan Zahrana satu-satunya bidadari dunia dan akhirat ku!" bathin Muhammad Zaid Arkana, dengan sejuta cinta dan rasa kagumnya.
Di tengah perbincangan mereka, Sabrina pun membawakan minuman dan camilan untuk kedua anak muda tersebut.
"Akh, Zaid. Silahkan di minum dan di cicipi hidangannya!" titah Sabrina.
"Terimakasih, kak Sabri!" ucap Zaid dengan menyeruput secangkir teh tersebut berikut camilannya.
"Ya Allah ... terimakasih atas karunia mu, Alhamdulillah akhirnya hamba pun mendapatkan tawaran pekerjaan dari Kak Zaid!" bathin Zahrana, dengan perasaan penuh kebahagiaan.
π·π·π·
Pencerahan π "Dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah akan melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi segala sesuatu." (QS. At-Talaq: 3)
πΊπΊπΊ
Sambil menunggu kelanjutan ceritanya, mampir dulu ke karya bestie aku yang ceritanya di jamin keren dan seru lho kak ππ
Judul karyanya : Suami Rupa Madu Mulut Racun
Authornya : Teti Kurniawati
__ADS_1