
Zahrana nampak terpana dengan segenap perhatian Yusuf terhadapnya. Ia tidak menyangka akan mendapatkan suprise yang sangat luar biasa dari sosok pemuda yang sangat religius tersebut.
Tak dapat diukirkan dengan seribu untaian kata-kata indah, saat ini Zahrana merasa seperti bintang jatuh dalam pelukannya. Kesantunan dan Budi pekerti Yusuf dan segala perhatiannya, benar-benar membuat Zahrana merasa menjadi wanita yang paling bahagia di seantero jagat raya.
Umi Yasmin yang melihat Zahrana nampak malu-malu akhirnya pun menghampiri dan menarik tangan Zahrana, sosok yang mendapat julukan wanita seribu pesona tersebut.
"Nak Zahra, terimalah bingkisan dari anak Ummi! Ummi merestui hubungan kalian!" ucap Ummi Yasmin, sehingga membuat Zahrana merasa terharu dan tersanjung oleh sikap baik Ummi Yasmin terhadapnya.
"Terima kasih, Ummi!" ucap Zahrana dengan memeluk erat Ummi Yasmin.
"Sama-sama, Nak Zahra." Ummi Yasmin mengecup kening Zahra, dan mengelus pucuk kepala Zahra yang masih tertutup hijab.
Mendapat restu dari Ummi Yasmin, Zahrana pun melangkahkan kakinya menuju ke arah Yusuf yang sejak tadi menunggunya untuk menerima bingkisan mukena Turki tersebut.
"Kak Yusuf, terima kasih atas semua kebaikan kakak." Zahrana pun menerima mukena tersebut. Seketika detak jantung kedua anak manusia itu semakin berdegup kencang dan bergetar hebat. Alunan melodi cinta seolah mewarnai relung hati dan jiwa keduanya, bertabur rasa cinta yang disandingkan pada kebesaran Rabb-nya.
Bertuturlah cinta mengucap satu nama
Seindah goresan sabda-Mu dalam kitabku
Cinta yang bertasbih mengutus hati ini
Kusandarkan hidup dan matiku pada-Mu
Bisikan doaku dalam butiran tasbih
Kupanjatkan pintaku pada-Mu Maha Cinta
Sudah di ubun-ubun, cinta mengusik rasa
Tak bisa kupaksa walau hatiku menjerit.
__ADS_1
Ketika cinta bertasbih, nadiku berdenyut merdu
Kembang-kempis dadaku merangkai butir cinta
Garis tangan tergambar, tak bisa aku menentang
Sujud syukur pada-Mu atas segala cinta
Garis tangan tergambar, tak bisa aku menentang
Sujud syukur pada-Mu atas segala cinta
Ketika cinta bertasbih.
Untaian bait kata tersebut, cukuplah untuk mewakili perasaan Yusuf dan Zahrana saat ini. Keduanya pun nampak mengungkapkan rasa lewat bahasa tubuh masing-masing, meskipun tak terucap namun sangat jelas terpancar dari binar mata keduanya, bahwa mereka memiliki rasa yang sama dan sehati.
Keduanya pun hening sejenak, "Sekali lagi, terima kasih untuk semuanya, Kak." Zahrana pun menerima mukena tersebut dan mendekapnya penuh haru dan bahagia, ia pun tertunduk malu.
Begitu pun dengan Yusuf, ia pun menundukkan pandangannya, sebab ia tidak sanggup melihat Zahrana dengan segala pesonanya. Sebab, ia pun menyadari jika Zahrana belum menjadi mahramnya, dia belum boleh untuk terus memandanginya apalagi menyentuhnya.
"Aamiin ya Rabb," ucap Zahrana dengan wajah yang merona. Antara rasa malu dan rasa cinta yang semakin bertumbuh dihatinya yang semampunya ia kuasai agar tidak melakukan hal-hal di luar kekuasaannya.
"Ya Allah ... kuatkanlah hamba dalam meredam rasa ini, sampai ia benar-benar halal bagiku?" bathin Zahrana dengan terus meredam keinginan hawa nafsunya yang begitu kuat menyelubunginya.
"Ya Allah ... jaga hatiku dan hatinya, sampai halal bagi kami untuk saling memiliki!" bathin Yusuf dengan terus menjaga pandangannya dari sosok bidadari yang ada di hadapannya kini.
Ummi Yasmin dari sejak tadi menyaksikan interaksi antara putranya dengan Zahrana pun menghampiri keduanya.
"Nak Yusuf, Nak Zahra. InsyaAllah, Ummi akan segera menghalalkan hubungan kalian, agar tidak terjadi fitnah diantara kalian!" ucap Ummi Yasmin dengan penuh kasih. Hingga membuat kedua anak muda tersebut semakin tersipu malu.
"Insya Allah ... nanti malam kami akan bersirahturahmi ke rumah mu, Nak!" terang Ummi Yasmin sehingga membuat Zahrana diselimuti rasa bahagia yang tak terhingga.
__ADS_1
Empat tahun dalam penantian panjangnya, kini harum mewangi bunga itu semakin merekahlah sudah, menyerbak dalam palung hatinya yang terdalam.
Betapa beruntungnya Zahra bisa berdampingan dengan sosok pemuda seperti Yusuf, yang juga memiliki sosok seorang ibu yang baik dan halus Budi pekertinya.
"Ya Allah ... terima kasih atas anugerah-Mu yang tak terhingga ini!" bathin Zahrana diselimuti oleh rasa bahagia.
"Ya Allah ... terima kasih atas segala cinta, malu, rasa bahagia yang kau titipkan di hatiku. Dengan rahmat dan pertolongan-Mu, izinkan hamba untuk mengkhitbah sosok Tsamirah Zahrana Az Zahra menjadi bidadari dunia dan akhirat ku, ya Rabb. Ku tasbihkan segala cinta ku pada-Mu wahai Sang pemilik cinta. Jadikanlah rasa cinta ku ini terhadap dirinya, hanya karena mengharapkan ridho-Mu ya Rabb. Jadikanlah, cinta di hati kami ini selalu berhias iman dan taqwa kepada-Mu, selalu bersimpuh dan bermunajat di atas sajadah cinta-Mu ya Rabb. Aamiin ... aamiin ya rabbal'alaamiin," bisikan hati Yusuf Amri Nufail Syairazy.
Ummi Yasmin pun segera membayar total belanjaan mereka, ia pun segera pamit pulang. Sebab, tidak ingin mengganggu rutinitas kerja Zahrana di Aisyah Boutique Collection.
"Zahra, kakak dan Ummi pulang dulu, ya? kamu jangan lupa jaga kesehatan, jangan lupa makan, juga sholat. Hati-hati ditempat kerja!" ucap Yusuf dengan senyuman khasnya, membuat jantung Zahrana semakin berdebar kencang.
"Terimakasih untuk semuanya, Kak!" ucap Zahrana dengan tertunduk malu. Ia tidak sanggup menatap wajah Yusuf yang begitu sangat tampan dan berkharisma. Wajah yang nampak bercahaya dari kebeningan iman yang terlahir dari hati seorang Yusuf Amri Nufail Syairazy membuat Zahrana tidak mampu untuk menatapnya. Sebab, khawatir akan terpikat oleh pesona dan kharisma dari sosok pemuda yang sangat dikagumi olehnya tersebut.
"Nak Zahra, Ummi pulang dulu! insyaAllah nanti malam Ummi dan keluarga akan sirahturahmi kerumah. Sampaikan salam Ummi pada Buya Harun Al Aziz dan Bunda Fatimah," ucap Ummi Yasmin sebelum beranjak pergi dari Aisyah Boutique Collection.
"Baiklah, Ummi. Insya Allah sore nanti Zahra balik kerumah. Besok pagi Zahra libur kerja."
"Memangnya, selama ini Zahra tinggal dimana?" tanya Ummi Yasmin.
"Zahra tinggal di rumah kak Sabrina, kakak kandung Zahra di Kota S juga Ummi, sekitar 15 menit jaraknya dari sini."
"Baiklah, jika begitu ... nanti biar nak Yusuf saja yang jemput dan mengantarkan Zahra pulang. Sekalian nanti di temani Ummi dan Abi Farhan, dengan begitu kalian tidak berduaan saja," ucap Ummi Yasmin dengan tersenyum pada calon mantunya.
"Oh iya, agar tidak lupa. Tolong save nomor handphone Ummi, ya? nanti Ummi hubungi Zahra ketika sudah jam pulang kerja," ucap Ummi Yasmin dengan memberikan nomornya pada Zahrana, sebab Yusuf putranya tidak memegang handphone semenjak kuliah di universitas Al-Azhar Mesir. Kecuali hanya bisa menghubungi lewat telepon umum yang memang telah di sediakan di dekat universitas tersebut jika ingin menghubungi orangtuanya
Setelah berpamitan dengan Zahrana juga dengan Zaid, Rufaidah dan Zainal yang masih berada di Aisyah Boutique Collection, Ummi Yasmin dan Yusuf hilang dari pandangan. Zahrana nampak terpaku melepaskan kepergian dua orang yang kini sangat berarti dalam kehidupannya itu.
"Ra, mari lanjutkan aktivitas mu! teman mu Zainal sudah selesai memilih barang yang hendak dijadikan bingkisan untuk Nandini," ucap Zaid dengan berusaha meredam rasa cemburunya ketika melihat Zahrana begitu sangat kentara mengagumi dan mencintai sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy.
"I-iya kak, maaf!" ucap Zahrana tak enak hati. Sebab, dari sejak tadi ia terlalu fokus melayani Ummi Yasmin dan Yusuf sang dambaan jiwanya.
__ADS_1
💐💐💐
Untaian mutiara hikmah 👉"Saat Allah mencintaimu, Dia akan meletakkan cintamu di hati seseorang yang cintanya layak untuk kamu miliki. Cinta adalah selalu terhubung kepada Allah di mana saja kamu berada. Ketika cinta dilandasi niat karena Allah, maka cinta itu tidak akan pernah sirna."