Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
119. Semakin Menjadi Candu


__ADS_3

"Pagi My Baby, apakah semalam kau bisa tidur nyenyak?" tanya Virgantara.


"Nyenyak banget malah," ucap Fadhillah.


Sementara Nandini dan Arjuna hanya lirik pandang. Arjuna ngambek lantaran Nandini baru menampakkan batang hidungnya dari sejak tadi.


"Kenapa pula kalian saling diam? biasanya kalian berdua yang paling heboh dan romantis sejagat raya. Kenapa berubah datar dan dingin seperti ini?" tanya Virgantara dengan gayanya yang selalu kocak.


Sementara Nandini dan Arjuna masih tetap bungkam. Nandini memikirkan tentang hasr*t satu malamnya dengan Arjuna. Ia khawatir dengan keadaannya selanjutnya. Jika semesta mengetahui semua yang terjadi padanya, tentunya semua akan menge-capnya sebagai wanita yang buruk.


Sementara Arjuna tidak terlalu memikirkan akan hal itu, sebab ia telah pun berniat untuk melamar Nandini sebelum Nandini benar-benar mengandung benihnya, apa pun yang akan menjadi tanggapan masing-masing kedua orang tua mereka nantinya.


"Kak, sepertinya kita harus mencari angin di luar deh. Di kulkas Arjuna hanya ada stok cemilan, minuman dingin, mie sama telur. Sepertinya ia jarang mampir ke rumahnya ini kecuali waktu tertentu. Aku lapar sekali, aku ingin makan bubur ayam deh, sebelum kembali pulang nantinya," ucap Fadhillah mengalihkan pembicaraan. Ia ingin memberikan waktu luang untuk Nandini dan Arjuna untuk sekedar tukar pikiran dan berbenah diri. Sebab, hanya Fadhillah yang mengetahui jika Nandini dan Arjuna sudah making love layaknya suami-istri.


"Oke deh, Beb. Biar mereka berdua lebih rileks mengeluarkan unek-uneknya, entah apa masalah mereka pagi-pagi sudah saling diam. Mumpung kita belum pulang beri kesempatan untuk mereka saling bernostalgia satu sama lain. Jangan di ganggu!" kelakar Virgantara.


Fadhillah pun menarik pergelangan tangan Virgantara untuk segera menjauh dari Nandini dan Arjuna yang sedang diam-diaman.


"Cepat! kau cerewet sekali, banyak celotehnya seperti emak-emak rempong." Fadhillah bersungut, memarahi kekasih dewasanya itu.


"Iya, baby. Sabar aku begini karena dirimu ketularan bawel dan cerewetnya," sangkal Virgantara.


"Mereka segera keluar dari kawasan perumahan elite XX, mencari angin segar sembari melatih otot-otot kaki, sekalian jalan santai sembari mencari pedagang kaki lima yang menjual bubur ayam di pagi hari."


"Kak Virgan, lihat tu Si Kirana juga Cinta dan kak Rangga Sahadewa. Ternyata mereka sudah sejak tadi nongkring di situ, nampaknya sangat menikmati bubur ayam disitu. Dhilla jadi laper ni, Kak." Fadhillah semakin mempercepat langkahnya sembari menarik pergelangan tangan kekasih dewasanya itu.


Virgantara pun mengikuti keinginan gadis kecilnya itu.


"Iya deh, bawel. Untuk mu apa yang tidak, kau adalah dara ku." Virgantara semakin gemas dengan tingkah Fadhillah yang terlihat kocak.


"Aish ... gombalnya, Mas! tapi sayang aku tak termakan dengan rayuan mu Mas Virgantara, yang ada perut ku sangat lapar, aku ingin sarapan."


"Iya deh, walaupun kau tak termakan rayuan ku setidaknya kau telah menerima cinta ku dan menjadi milik ku, itu sudah cukup untuk ku." Virgantara menampakkan senyum manisnya membuat jantung hati Fadhillah semakin berdetak kencang.


Tak ayal wajah Fadhillah pun bersemu merah seperti saus tomat, dengan rayuan maut Virgantara. Namun, sebisa mungkin ia menguasai ritme jantungnya agar tidak bertindak kegirangan dan besar angan-angan dengan rayuan maut Virgantara.


Sebab, Fadhillah tidak ingin sampai terlena seperti sahabatnya Nandini Sukma Dewi. Baginya bisa dekat dan menjadi teman istimewa untuk Virgantara itu sudah cukup untuknya.


"OMG ... pasangan paling kocak sudah datang tuh," timpal Cinta yang asyik menikmati bubur ayamnya bersama kekasihnya Rangga, juga Kirana Larasati yang nampak menikmati kesendiriannya walaupun belum memiliki pasangan.

__ADS_1


"Ciyeeee ... kak Virgantara, akhirnya punya pasangan juga setelah sekian lama menjadi jomblo sejati. Perdana pacaran bersama seorang gadis belia nan kocak, intinya kalian sama-sama kocak." Rangga Sahadewa ikut membully Virgantara.


Virgantara mendelik ke arah Rangga, sebab Rangga telah membuka kartunya. Selama sepanjang perjalanan hidupnya, yang kini sudah beranjak 23 tahun baru sekarang Virgantara memiliki teman istimewa, yakni Fadhillah.


"Hemmm ... jadi aku adalah cinta pertama dalam hidup mu, yach?" tanya Fadhillah dengan senyuman menggodanya.


"Tentu saja dirimu adalah cinta pertama dan terakhir untuk ku," ucap Virgantara dengan senyuman manisnya yang tak kalah menggoda. Membuat wajah Fadhillah semakin bersemu merah. Ia merasa beruntung di cintai oleh Virgantara.


Selama ini Virgantara sibuk dengan bisnis juga kuliahnya, hingga ia pun sukses di usia mudanya. Virgantara lebih memilih kuliah jurusan pertanian, sebab ia sangat menggeluti bidang itu.


Kini, Virgantara sudah memiliki bisnis perkebunan sawit, lada, karet dan sayur-sayuran juga buah-buahan. Ia pun memiliki bisnis pertambangan yang semakin hari hasilnya pun semakin berlimpah dan bertambah pesat. Semua bisnisnya ia kerahkan pada tenaga kerja yang terlatih untuk menanganinya.


Setiap hari dan setiap bulan ia hanya tinggal menerima transferan yang masuk ke rekening miliknya. Bisa di pastikan Virgantara adalah sosok pemuda yang mapan di usia mudanya.


"Bang, bubur ayamnya dua porsi. Satu untuk saya, yang satunya untuk kekasih ku yang bawel dan cerewet ini." Virgantara dengan gaya cool-nya meminta Abang yang menjual bubur ayam untuk segera meracik bubur untuknya dan kekasihnya Fadhillah.


Mereka pun terlihat menikmati bubur ayam tersebut untuk mengawali sarapan paginya.


***


Nandini mendudukkan bokongnya di kursi makan bersama Arjuna Restu Pamungkas kekasihnya.


Sampai akhirnya, Arjuna yang terlihat kesal membuka suaranya.


"Nandini Sukma Dewi! kenapa kau baru datang? Kau lihat mie yang ku masak special untuk mu menjadi melar? Kau kemana saja? Kenapa SMS ku tidak di balas? kenapa telfon ku habis di angkat namun tidak kau jawab? Aku hanya berbicara sendiri seperti patung saja, tanpa ada yang menjawab pertanyaan ku?" Arjuna membuang nafas kasarnya dengan serentetan pertanyaannya.


"Hubby, ma-af tadi aku sedang mandi wajib kemudian menjalankan ibadah sholat subuh."


"Aku tidak enak berbicara di telfon, sebab ada Fadhillah dikamar. Dan kau pun berbicara terlalu Vulgar. Aku khawatir didengar olehnya, jadi ku matikan telfonnya." Nandini memberikan alasan.


Padahal tanpa sepengetahuan Arjuna, sebenarnya Fadhillah yang telah mengangkat telfonnya. Namun, Nandini memilih mencari alasan lain agar Arjuna tidak terus bertanya dan merasa diabaikan.


"Jadi itu alasannya, baiklah lain kali jangan seperti ini lagi. Lihat mie-nya sudah mulai mengembang. Aku buatkan mie kuah yang baru untuk mu, yah?" ucap Arjuna. Ia kembali bersemangat lagi.


"Maaf, biarkan aku saja By yang membuatnya. Tadi kan kau telah berusaha membuatnya untuk ku. Sekarang giliran aku yang berbaik hati untuk mu," ucap Nandini seraya bergegas menghidupkan kompor dan memasak mie kuah untuk Arjuna sebagai ganti mie yang telah dingin dan mengembang.


"Apa kita cari makan keluar saja, Honey? kemungkinan sudah ada warung atau pedagang kaki lima yang sedang berdagang. Mana tahu ada menu yang menggugah selera kita," ajak Arjuna.


"Tidak perlu, Hubby. Kita sarapan mie sama telur saja," ucap Nandini dengan tangannya yang cekatan memasak mie kuah campur telur sebagai pelengkapnya.

__ADS_1


Arjuna memeluk Nandini dari arah vbelakang. Entah mengapa setelah hasr*t semalam Arjuna menjadi semakin candu dengan tubuhnya.


Ditelusurinya leher jenjang Nandini dengan hasr*t yang menggebu-gebu. Ia pun perlahan mengecup bibir Nandini dengan deru nafas yang semakin membuncah.


"Hubby, jangan begini nanti teman-teman tiba-tiba datang kesini tentunya kita akan sangat malu, jika ketahuan berbuat mesum." Nandini melerai pelukan Arjuna. Hingga Arjuna pun terdiam di tempatnya.


Jika tidak ingat tempat dan menghargai Nandini kekasihnya, ingin rasanya Arjuna mengulangi hasr*t satu malamnya bersama Nandini. Namun, Arjuna berusaha meredam hawa nafsunya yang kini semakin menjadi candunya.


"Sarapan dulu, Hubby! berhentilah berpikiran macam-macam, sudah cukup keteledoran kita semalam aku tidak ingin mengulanginya lagi, kecuali kita sudah HALAL untuk melakukannya!" seloroh Nandini seraya mengunyah mie yang telah terhidang di meja makan.


Arjuna terdiam. Ia nampak berpikir keras sembari ikut sarapan mie bersama Nandini Sukma Dewi kekasihnya.


"Hubby, jika teman-teman kita sudah kembali dari luar. Aku akan langsung pulang, Ayah dan Ibu ku juga kakak ku sudah bertanya-tanya dan menanti kehadiran ku sebab semalaman telah menginap dirumahnya.''


Arjuna tertunduk lesu setelah mendengar Nandini untuk segera pulang. Namun, ia pun menyadari jika mereka pun belum halal untuk terus bersama-sama.


Di tengah keheningan mereka, Virgantara bersama teman-temannya pun telah kembali kekediaman Arjuna.


"Hemmmm ... yang sudah baikan, nggak ada yang ngambek-ngambek lagi, kan? ini bubur ayam untuk kalian. Biar tambah adem," seloroh Virgantara yang doyan sekali menggoda Arjuna sepupunya itu.


"Dimakan dulu, Din! hari sudah menunjukkan pukul 07.15 wib. Kita harus segera pulang pagi ini juga, Ummi dan Abi ku barusan telfon katanya jangan berlama-lama lagi. Setelah ini aku tidak boleh lagi menginap di rumah teman-teman lagi. Sebisa mungkin harus pulang tepat waktu." Fadhillah menundukkan wajahnya. Ia merasa bersalah sebab telah membohongi Ummi dan Abinya.


Fadhillah mengatakan jika mereka menginap di rumah teman sekolah wanitanya. Padahal mereka menginap di rumah Arjuna Restu Pamungkas.


"Maafkan kami ya teman-teman gara-gara aku dan kak Juna kalian jadi kena imbasnya." Nandini melirik ke arah Arjuna. Mereka berdua pun saling melirik.


Hanya Fadhillah yang mengetahui arti lirikan Arjuna dan Nandini. Hanya Fadhillah yang mengetahui rahasia yang tersembunyi antara kedua pasangan tersebut.


Nandini dan Arjuna pun segera menghabiskan bubur ayam yang di berikan oleh Virgantara. Mereka semua pun segera bergegas untuk pulang menuju kediaman masing-masing.


Nandini berboncengan dengan Fadhillah. Cinta berboncengan dengan Kirana Larasati.


Virgantara dan Rangga Sahadewa pulang bersama Arjuna Restu Pamungkas dalam satu mobil menuju kediaman mereka di kota B.


Sementara rumah pribadi milik Arjuna dikawasan perumahan elite XX, ia tinggalkan. Ia pun kembali pulang kerumah orang tuanya di kota B. Rumah pribadinya hanya akan ia kunjungi dalam jangka waktu tertentu, ketika ada kebutuhan mendesak.g


🌷🌷🌷


Untaian Mutiara Hikmah 👉  "Terlalu menyesali hanya akan membuat kita lupa untuk bersiap memperbaiki. Ketakutan itu hanya sementara. Penyesalan itu selamanya. Penyesalan tidak dapat mengubah masa lalu, begitu pula kekhawatiran tidak dapat mengubah masa depan." ( Bilik Penyesalan )

__ADS_1


__ADS_2