Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
210 . Kedatangan Orang Tua Yusuf


__ADS_3

Sejenak, Buya Harun, Yusuf dan juga Aslan nampak tertegun mendengar ucapan Raihan yang terkesan blak-blakan tanpa ada yang ditutupi. Membuat Aslan dan Yusuf akhirnya saling melemparkan pandangan. Keduanya pun berusaha mengontrol ego yang tiba-tiba membuncah di hati dan pikiran masing-masing.


Yusuf yang semula sempat bawa perasaan oleh kisah masa lalu Aslan pada Zahrana, bidadari yang sangat dicintainya itu pun perlahan mencoba untuk berpikir positif. Ia tidak ingin larut dalam perasaan yang tak jelas, yang justru dapat memperlemah biduk keimanannya.


Bagaimana pun, ia sangat menyadari syetan selalu membisikkan pikiran yang buruk kedalam dada dan hati manusia. Yusuf tidak ingin hanya karena urusan hati dan perasaan kepada mahluk dapat merusak akhlak dan keimanannya pada sang khalik yang telah sekian lama ia pupuk.


"Astaghfirullah!" bathin Yusuf beristighfar. Ia pun berusaha mengontrol dirinya agar tidak baper.


"Apa kabar akhi?" sapa Yusuf pada Aslan yang masih kelihatan tegang ketika berhadapan dengan dirinya.


"Alhamdulillah, baik." Aslan masih terlihat canggung, namun sebisa mungkin ia tetap mengontrol dirinya.


Buya Harun yang menyaksikan interaksi antara Yusuf dan Aslan pun membaca gelagat aneh dari kedua anak muda tersebut.


"Nak Aslan, Nak Yusuf. Alhamdulillah, kalian masih mengingat satu sama lain, semoga kalian terus bisa saling berhubungan layaknya saudara muslim seiman. Saling menghormati dan menghargai satu sama lain.


"Insya Allah, Buya. Kami akan berteman baik," terang Yusuf dengan ekspresi wajah bersahabat. Begitu pula dengan Aslan, ia pun mengangguk pelan, walaupun masih ada kerancuan dalam hatinya.


"Alhamdulillah, jika begitu mari kita pulang bersama-sama!" ucap Raihan dengan menarik pergelangan tangan calon kakak iparnya dengan penuh semangat.


Sedangkan, Aslan berjalan beriringan dengan Buya Harun Al Aziz. Sepanjang perjalanan ke empatnya pun berbincang-bincang dengan penuh hikmat.


***


Di Padepokan Buya Harun Al Aziz.


Ba'da Magrib, para santri telah berkumpul di padepokan Buya Harun guna mempelajari ilmu pengetahuan dan Al Qur'an seperti biasanya.


Malam ini, Buya Harun di bantu oleh Yusuf dan Raihan juga Zahrana untuk membimbing para santri mendaras Qur'an dan muroja'ah, para santri terlihat penuh antusias dalam memahami ilmu pengetahuan dan Al Qur'an, mereka merasa memiliki semangat yang tinggi ketika melihat kehadiran Zahrana dan Yusuf Amri Nufail Syairazy menjadi salah satu pembimbing untuk mereka malam ini.


Suasana padepokan Buya Harun pun terlihat sangat tenang dan damai. Lantunan demi lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an seakan memberikan keberkahan dan ketenangan bagi mereka semua, seolah membuat suasana di padepokan Buya Harun nampak terlihat bercahaya oleh kekuatan spiritual yang berasal dari kebeningan hati dan jiwa mereka masing-masing.

__ADS_1


"Maa syaa Allah, terasa di kelilingi dan disaksikan oleh malaikat rahmat!" gumam para santri ketika melihat kehadiran ustadz dan ustadzah baru yang mendampingi mereka belajar mendaras dan menghafal Qur'an.


Tidak butuh waktu lama, proses kegiatan belajar mengajar pun berlangsung lebih cepat dari biasanya. Sebab, dihadiri dan di dampingi oleh Yusuf dan Zahrana sebagai staf pengajar dadakan.😊😊


"Maa syaa Allah, mereka sangat cocok sekali!" gumam para santri ketika melihat keanggunan Zahrana dan ketampanan wajah Yusuf yang sangat memukau bak bintang dan cahaya rembulan yang bersinar di malam hari.


Kegiatan belajar mengajar pun telah usai sebelum ibadah shalat isya, bersyukur ... jadwal belajar hari ini adalah khusus anak-anak remaja dibawah 15 tahun, jika di atas 15 tahun akan tidak mungkin para santriwan dan santriwati akan terpikat oleh pesona Zahrana dan Yusuf yang kecantikan dan ketampanannya yang sangat luar biasa tersebut.


Para santriwan dan santriwati pun menuruni anak tangga padepokan dengan hati yang penuh ceria, mereka merasa begitu menikmati proses belajar malam ini. Pasalnya, bisa bertemu dengan dua anak manusia yang sangat luar biasa penuh kesantunan dan kelembutan dalam membimbing mereka belajar dan mengkaji ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan kitab suci Al-Qur'an, dengan penyampaian yang penuh hikmah, sehingga mudah di terima oleh hati para santri yang ada di padepokan tersebut.


"Zahra, hati-hati menuruni anak tangganya. Jangan terburu-buru!" ujar Yusuf mengingat kembali kisah mereka berapa tahun yang silam. Ketika Zahrana terjatuh dari anak tangga padepokan, sebab terlalu menundukkan pandangan, sehingga menyebabkan ujung mukenanya tersangkut anak tangga padepokan dan menyebabkan ia hampir terjungkal, namun kala itu Yusuf dengan sigap menariknya. Hingga Zahrana terjatuh dalam dekapannya. Na'asnya kaki Zahrana pun terkilir hingga menyebabkan ia tidak bisa masuk sekolah ketika zaman putih-biru kala itu.


"Terimakasih, Kak." Zahrana menanangkupkan wajahnya, ia pun tertunduk malu ketika mengingat kembali kenangan masa itu.😁😁


Yusuf tersenyum simpul melihat wajah sang bidadarinya tertunduk bak putri malu.


"Subhanallah ... yang sedang di landa rasa tingkat dewa, mengingat kembali kisah yang lampau, seperti kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha!" seloroh Raihan yang selalu berbicara tanpa filter.


"Raihannn, kamuuu!" teriak Zahrana histeris. Ia merasa sangat malu, pasalnya Raihan selalu menggodanya dihadapan Yusuf Amri Nufail Syairazy.


Yusuf melebarkan tawanya melihat kekocakan antara kedua adik kakak tersebut. Sehingga tampaklah deretan gigi putihnya yang berbaris rapi menghiasi wajah tampannya.


Zahrana nampak terpukau melihat pesona Yusuf, "Maa Syaa Allah ... kak Yusuf, sungguh dirimu teramat tampan dan berkharisma. Betapa sangat sempurnanya dirimu diciptakan," bathin Zahrana dengan terus memuji ketampanan Yusuf.



Menyadari sang bidadari menatapnya penuh arti Yusuf pun balas menatap manik mata indah itu. Seketika keduanya sama-sama terpana asmara yang memang sudah mencapai batas kesabarannya dalam mengendalikan segala gejolak rasa yang hadir dalam jiwa, yang sejak lama terpendam. Detik ini juga gejolak rasa itu pun tercurah sudah lewat isyarat mata dan bahasa tubuh keduanya.


"Subhanallah ... Buya, lihat putri mu. Sepertinya ia benar-benar telah terpikat dengan sosok pemuda kearab-araban itu, santri yang memang telah Buya jodohkan dengannya sejak dahulu kala. Sepertinya gayung pun akan segera bersambut. Putri kita akan menikah di usia muda," pungkas Bunda Fatimah.


Dahulu, Bunda Fatimah berharap putrinya menikah di usia 25 tahun. Namun, harapannya seperti pupus sudah, kini Zahrana di pastikan akan segera menikah di usianya yang baru beranjak 17 tahun.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bun. Itu akan lebih baik, daripada putri kita jatuh dalam kemaksiatan. Pacaran umpamanya, akan lebih baik putri kita menikah muda. Buya yakin, Yusuf adalah sosok pemuda yang Sholih, insyaAllah ... iya bisa mengayomi putri kita dengan baik, mengingat latarbelakang keluarganya yang sangat religius!" terang Buya Harun dengan penuh hikmah.


Bunda Fatimah pun meng-iyakan ucapan Buya Harun. Jika itu memang pilihan yang terbaik untuk putrinya Zahrana, Bunda Fatimah pun hanya bisa merestui dan mengaamiinkan itu semua. Asalkan putrinya bisa bahagia dunia akhirat, itu menjadi pilar utama bagi Bunda Fatimah untuk menentukan pilihan yang tepat bagi putri kesayangannya.


Di tengah keterpanaan kedua anak manusia yang sedang di landa asmara tersebut, tampaklah mobil Avanza dengan nuansa hitam memasuki pekarangan rumah Buya Harun dan Keluarga.


Tinnnn ... tinnnn ... bunyi klakson mobil milik kedua orang tua Yusuf terdengar nyaring memekak telinga. Sehingga membuat Zahrana dan Yusuf tersadar dari keterpanaannya, mereka pun tertunduk malu. Pasalnya, orang tua Zahrana dan juga orang tua Yusuf juga Raihan menyaksikan keterpanaan mereka berdua.


Buya Harun dan Bunda Fatimah nampak menyambut kedatangan orang tua Yusuf. Mereka nampak bahagia sekali melihat kehadiran Ummi Yasmin dan Abi Farhan, setelah sekian lama tidak bersua lantaran kesibukan masing-masing.


Abi Farhan dan Ummi Yasmin pun bergegas turun dari mobilnya, mereka pun mengucapkan salam pada orang tua Zahrana. Buya Harun dan Bunda Fatimah pun menyambut kedatangan orang tua Yusuf dengan suka cita.


"Maa syaa Allah, silahkan masuk Akh Farhan!" ucap Buya Harun dengan merangkul pundak Abi Farhan. Keduanya pun nampak saling melepaskan rasa kangen sebab sudah lama tak bersua.


"Maa syaa Allah, apa kabar mu Akh Harun?" tanya Abi Farhan dengan menepuk-nepuk pundak Buya Harun.


"Alhamdulillah, ana bi khoir!" jawab Buya Harun dengan sedikit menyelipkan bahasa Arab.


"Alhamdulillah kami turut senang mendengar Akh Harun dan keluarga baik-baik saja." Keduanya pun nampak sumringah, begitu pun Bunda Fatimah dan Ummi Yasmin pun nampak berbincang-bincang satu sama lain.


Sementara Zahrana menuju dapur menyiapkan teh panas dan juga berbagai macam cemilan untuk dihidangkan pada orang tua Yusuf. Sementara Yusuf di ikuti pula oleh Raihan ikut membantu Zahrana menyiapkan berbagai cemilan untuk keluarganya.


"Maa syaa Allah, Kak Yusuf biarkan Zahra sendiri, Kak. Kakak duduk manis saja dengan kedua orang tua kita diruang tamu!" ucap Zahrana dengan niat mengambil kembali tampah yang berisi 6 buah gelas dan satu teko yang berisi teh panas.


"Tidak apa-apa, Ra. Biar kakak bantu, agar Zahra tidak kerepotan." Yusuf pun segera mengambil alih tampa yang di bawa oleh Zahrana, sehingga membuat Zahrana terpana oleh perlakuan manis Yusuf terhadapnya.


"Ya Allah, belum menjadi Zaujii pun ia sudah seromantis ini? bagaimana jika memang sudah halal?" gumam Zahrana dalam hatinya, ia terus memperhatikan Yusuf yang semakin menjauh dari hadapannya mengantarkan minuman ke ruang tamu, menemui keluarga mereka yang sudah berkumpul di ruang tamu.


"Cilukba! kok melamun, Kak? jangan di pikirkan, insya Allah nanti juga akan segera menjadi pasangan yang halal. Mari kita antarkan camilan ini kedepan!" sarkas Raihan, membuat Zahrana terhenyak dari lamunannya.


Raihan memang selalu menjadi bodyguard untuk menjaga kedekatan antara Yusuf dan Zahrana, agar keduanya terjaga dari hal-hal yang dapat memudhoratkan keduanya. Sebab, sekuat apapun biduk keimanan seseorang, tidak akan pernah luput dari godaan makhluk yang bernama syeitan. Dan, sebagai seorang adik laki-laki, Raihan merasa punya kewajiban untuk menjaga kakaknya.

__ADS_1


🌸🌸🌸


Untaian mutiara hikmah πŸ‘‰"Cinta sejati memandang kelemahan, lalu dijadikan kelebihan untuk selalu mencintai. Dengannya kau mungkin akan merasakan apa beda cinta ikhlas sejati dengan cinta nafsu yang hanya perlu pelampiasan. Nafsu hanya akan memberikan kebahagiaan sesaat, tapi cinta yang tulus dan sejati akan memberikan kebahagiaan selamanya. Cinta sejati itu abadi, tanpa batas dan selalu menyukai diΒ­rinya. Cinta sejati itu seimbang dan murni, tanpa kekerasan, cinta sejati tetap terlihat bersama memutihnya rambut, namun selalu muda di hati." ( Bisikan_H@ti pov Zahrana Yusuf )


__ADS_2