Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
89. Kebablasan


__ADS_3

Zahrana tertegun sejenak. Ia menatap jauh kedepan memandangi deburan ombak yang menggulung di lautan yang biru. Pikirannya pun kembali mengingat masa yang lalu, masa diawal-awal ia mulai terjerat dan tergoda dalam lingkaran cinta dan noda-noda dosa yang sampai detik ini menjeratnya tanpa bisa untuk ia menghindarinya ataupun beranjak pergi untuk melepaskan segala ikatan yang ada, ikatan yang seolah kuat mengikatnya dalam tali cinta yang tak jelas dimana rimbanya.


Dengan Rivandra Dinata Admaja ia dengan mudah untuk melepaskan diri dan ikatan yang telah terjadi di antara mereka. Namun, dengan Aslan Abdurrahman Syatir, Zahrana serupa berada di dalam sangkar emas. Ia tidak bisa untuk melepaskan diri dari jerat cinta Abdurrahman Syatir yang seolah terus mengukungnya.


Keposesifan Aslan Abdurrahman Syatir yang terlalu membatasi ruang geraknya, membuat Zahrana jengah dibuatnya. Hingga membuatnya ingin segera menyudahi ikatan yang tak pasti ini, Zahrana lelah dengan semua keadaan ini. Ia tidak ingin lagi pacaran. Ia ingin terbang bebas menyelami dan menikmati masa remajanya bersama teman-teman seusianya.


Zahrana membuang nafas kasar. Ia benar-benar kehabisan akal dan cara untuk menjauh dari Aslan Abdurrahman Syatir yang kini masih berstatus kekasihnya. Zahrana masih kecewa atas perlakuan Aslan terhadapnya, pasalnya ia benar-benar syok dengan kejadian yang barusan terjadi antara ia dan Aslan.


Tidak bisa di pungkiri tubuhnya pun merespon apa yang di lakukan oleh kekasihnya barusan. Namun, ia tidak rela jika Aslan yang terkenal dengan kelembutannya mencuri dengan paksa ciuman pertamanya.


"Ya Allah ... Aku benar-benar tidak menyangka ini semua terjadi pada ku, jika tempo hari aku pun sering merajut kebersamaan dengannya. Namun, tidak begini caranya. Kenapa ia memperlakukan aku dengan kasar dan beringasnya? seolah-olah aku ini seperti wanita murahan saja," gerutu Zahrana sembari bersedekap dada memandang lautan yang biru dengan deburan ombak yang tiada henti menggulung.


Zahrana tampak berang, wajahnya pun terlihat masam lantaran tersulut emosi pada Aslan Abdurrahman Syatir kekasihnya.


"Ini lah resiko pacaran dengan pria dewasa, sulit mengontrol keinginan nafsu bir*hinya." Zahrana terus menggerutu seraya memanyunkan bibir mungilnya.


Zahrana tidak menyadari jika tubuh kekar Aslan tiba-tiba mendekapnya erat dari arah belakangnya.


Pelukan Aslan kali ini lebih lembut dan penuh arti sehingga membuat tubuh Zahrana terasa meremang di buatnya. Zahrana ingin melepaskan diri dari pelukan Aslan sebab ia khawatir akan terjadi lagi hal-hal yang tidak diinginkan jika Aslan terus mendekapnya mesra seperti ini.


Zahrana khawatir jika ia pun tidak bisa menahan diri sebab perlakuan Aslan yang penuh arti padanya. Apalagi suasana pantai Kenangan Indah Bersama masih sangat sepi, hanya ada mereka berdua. Zahrana khawatir hal-hal yang tidak diinginkan terulang kembali.


Namun Aslan semakin memeluk erat tubuh Zahrana tanpa sedikitpun untuk melepaskan dekapannya. Kali ini Aslan memeluk Zahrana dengan penuh kasih dan cinta sehingga membuat Zahrana kembali terbuai dalam alunan nada cinta. Ia pun kembali dalam jerat cinta Aslan Abdurrahman Syatir.


"Kak Aslan ... kau disini?" tanya Zahrana dengan deru nafas yang semakin memburu.


"Aku tidak ingin berpisah dengan mu, Ana! Aku mencintaimu, sungguh mencintaimu!" ucap Aslan seraya menghembuskan nafasnya di telinga Zahrana. Hingga membuat tubuh Zahrana semakin meremang.


"Jangan pernah terucap lagi kata-kata perpisahan dari bibir manis mu Ana!" ucap Aslan seraya menempelkan telunjuknya pada bibir mungil Zahrana. Membuat jantung hati Zahrana pun serasa berdegup kencang melihat tatapan Aslan yang penuh syarat makna.


Zahrana ingin menjaga jarak dengan Aslan kekasihnya, namun gerak tubuhnya seolah terbuai dan termanjakan oleh sentuhan lembut pria dewasa yang kini sedang mendekap erat tubuhnya.


Jika sebelumnya Aslan mengambil ciuman pertama Zahrana secara paksa, namun kini ia justru memberikan sentuhan lembut pada setiap inchi tubuh Zahrana yang terekspos sempurna di hadapannya.

__ADS_1


Terpaan angin dan gelombang air laut yang menggulung menjadi saksi bisu atas gejolak hawa nafsu yang kini telah memporak-porandakan duduk keimanan dua anak manusia tersebut.


Zahrana pun terlena dalam buaian cinta Aslan Abdurrahman Syatir terhadapnya. Gejolak emosi yang tadi sempat menderanya, pun seolah-olah berubah menjadi gejolak rasa yang memburu dan saling menuntut keduanya menginginkan lebih dan lebih.


Aslan menyelusuri leher jenjang Zahrana, perlahan ia pun menyentuh dagu Zahrana. Dengan penuh kelembutan dan kasih ia pun kembali melabuhkan ciuman yang memabukkan di bibir ranum Zahrana untuk yang kedua kalinya. Untuk sekali ini Ia pun menyesap bibir manis itu secara perlahan mendalam dan semakin dalam.


Aslan terus memberikan sentuhan lembut di bibir manis kekasihnya. Kali ini mereka melakukannya atas dasar suka sama suka.


Zahrana yang masih polos nampak masih canggung. Aslan pun menuntunnya cara berciuman yang benar. Sehingga Zahrana pun kebablasan, tanpa sadar ia pun perlahan melakukan perlawanan terhadap Aslan kekasihnya.


Mereka pun saling bertukar saliva, keduanya benar-benar saling menikmati permainannya. Hingga Zahrana pun tersadar jika ia pun kini terbuai dan tergoda dalam indahnya kenikmatan dunia fatamorgana yang semu yang semakin menyesatkannya, hingga ia pun kembali terjerat kedalam hawa nafsu yang menyesatkannya lebih jauh lagi dalam lingkaran syetan dan noda-noda dosa yang menenggelamkannya hingga ia pun jatuh kedalam sumur dosa yang semakin mendalam.


"Astagfirullah ... " Zahrana melepaskan tautan bibirnya. Ia pun memalingkan wajahnya.


Zahrana malu pada dirinya sendiri, sebab telah kebablasan mengikuti permainan pria dewasa yang kini menjadi lawan mainnya.


"Ana, maafkan kakak sebab telah membawa mu kejalan yang salah. Maafkan kakak karena tidak bisa meredam gejolak nafsuku ketika berhadapan dengan mu."


Aslan pun menggenggam jemari tangan Zahrana. Ia pun memberikan kecupan hangat di kening Bidadari kecilnya.


"Terimakasih Ana, dirimu telah memberikan sentuhan manis mu pada ku."


"Terimakasih untuk segala ketulusan dan cinta mu, maafkan aku atas segala keegoisan ku."


"Setelah ini, aku berjanji tidak akan pernah lagi menyentuh mu sesuka hati ku, maafkan aku Ana sebab telah mengambil paksa ciuman pertama mu." Aslan menyesali perbuatannya. Niat hatinya ingin memberikan hukuman kecil pada Zahrana, namun ia pun kebablasan melakukan hal yang lebih diluar nalarnya.


"Ana, dulu aku berusaha untuk jangan sampai menodai kepolosan mu. Maafkan aku yang telah melanggar janji itu, aku berjanji aku akan bertanggung jawab untuk itu semua. Aku akan menikahi mu pada saat yang tepat, pada saat dirimu benar-benar sudah siap untuk merajut janji suci pernikahan," ucap Aslan dengan nada serius.


Zahrana pun terdiam sejenak, ia kembali teringat dengan kakak kandungnya Sabrina Zelmira Al Aqra yang dulu menikah di usia mudanya ketika lulus dari bangku SMP.


Zahrana tidak ingin hal itu terjadi padanya, dulu kakaknya Sabrina menikah diusia muda sebab perekonomian keluarganya sedang tidak stabil. Hingga kakaknya memilih untuk menikah muda dengan pilihannya sendiri, agar tidak membebani Ayah Bundanya yang terus berjuang mencari nafkah demi kelangsungan hidup mereka sekeluarga.


Waktu itu Zahrana masih kecil, usianya baru 8 tahun sedangkan kakaknya Sabrina baru beranjak 16 tahun ketika itu ia dilamar oleh seorang pemuda yang Sholeh, hanya butuh waktu 2 bulan perkenalan kakaknya dengan pemuda tersebut. Keduanya pun menikah tanpa melewati proses pacaran seperti yang sekarang ia alami bersama kekasih hatinya Aslan Abdurrahman Syatir.

__ADS_1


Membayangkan untuk menikah muda, sungguh pun tidak ada dalam pikiran seorang Zahrana. Ia belum sanggup untuk melewati segala proses hidup yang bernama bahtera rumah tangga, apalagi menyandang gelar seorang Ibu dan punya seorang anak dan hal lainnya.


"Tidak ... Aku belum siap untuk menikah diusia muda," bisik hati Zahrana. Ia pun menatap lekat nanar wajah pria dewasa dihadapannya.


Mereka pun saling berpandangan satu sama lain.


"Kak, maaf Ana belum siap untuk menikah muda!" ucap Zahrana mengagetkan Aslan.


Aslan terkekeh geli melihat ekspresi wajah gadis kecilnya yang nampak lugu ketika membahas soal pernikahan.


"Ya Ampun ... Baby, siapa yang ingin menikah muda? bisa di kejar Bunda Fatimah dengan gagang sapu, jika kakak melamar mu saat ini. Itu adalah sebuah niat dihatiku yang ingin ku pupuk dari sejak dini, guna belajar untuk berproses menjadi sosok seorang imam yang baik untuk mu di masa depan nanti Ana." Aslan memberikan keyakinan untuk Zahrana.


"Hemmm ... Ku rasa kau pun tahu bagaimana reaksi Bunda Fatimah jika aku berdekatan dengan mu apalagi sampai melamar sejak dini tentu Bunda mu tidak akan merestui itu," ujar Aslan seraya melebarkan senyumannya sehingga tampaklah gigi putihnya yang berbaris rapi menghiasi wajah tampannya.


"Akan lebih menyesakkan dada lagi, jika Bunda sampai mengetahui kakak telah menodai kepolosan ku dan mengambil ciuman pertama ku," ucap Zahrana dengan polosnya. Membuat Aslan tertohok dengan ucapan gadis kecilnya.


"Sudah, jangan di bahas lagi baby! Aku merasa bersalah terhadap mu sebab telah menodai kepolosan mu," ucap Aslan menundukkan pandangannya. Dalam hatinya ia tidak akan mengulangi lagi apa yang telah ia perbuat pada gadis kecilnya.


Zahrana menyandarkan pucuk kepalanya di bahu Aslan yang kini masih menjadi kekasihnya. Ia pun merenungi detik demi detik kejadian dan peristiwa yang ia lalui selama ia duduk di bangku SMP hingga detik ini ia pun masih berada dalam jerat cinta Aslan Abdurrahman Syatir.


Niat hati ingin menjaga jarak dan menjauhi Aslan kekasihnya, namun yang terjadi malah sebaliknya, jangankan berpisah atau pun saling menjauhi selama satu bulan. Nyatanya ia pun kebablasan, tenggelam dalam buaian cinta yang semu yang kini menjeratnya lebih dalam lagi jatuh kedalam kobaran api asmara yang telah pun siap berkibar membakar jiwa mudanya yang kini terhanyut dalam kisah cinta yang tak terelakkan di tengah usianya yang memang masih sangat belia yang sebenarnya belum pantas untuk merasakan itu semua.


Dua anak manusia itu pun kini sama-sama memandang jauh kedepan menatap langit biru dan menikmati panorama alam yang indah di sekitaran Pantai Kenangan Indah Bersama yang kini menjadi saksi bisu cerita cinta mereka, seolah ikut menikmati indahnya kisah cinta mereka berdua dalam untaian nada-nada cinta.


Zahrana pun terlelap di pundak Aslan kekasihnya, lantaran terlalu lelah dengan kejadian demi kejadian yang menderanya hari ini.


"Yach ... dia terlelap, berarti dari tadi aku bicara sendiri. Dasar gadis kecil yang lugu," cicit Aslan.


"Namun, dirimu terlihat sempurna dan manis sekali dengan gaya tidurmu yang seperti ini Tsamirah Zahrana Az Zahra." Aslan terus bermonolog di dalam hatinya. Ia pun merebahkan tubuh Zahrana secara perlahan dipangkuannya. Ia tidak tega melihat Zahrana terlelap di pundaknya.


Kini Aslan nampak bahagia, sebab Bidadari kecilnya masih tetap bertahan dengannya.


"Terimakasih Ana, atas semua ketulusan mu terhadap ku. Aku bahagia bisa mengenal dan mencintaimu," ucap Aslan seraya mengusap surai wajah gadis kecilnya yang sedang terlelap di dalam mimpinya.

__ADS_1


__ADS_2