
Hari yang ditunggu-tunggu pun kini telah tiba, Siswa-siswi SMP Negeri 3 XX nampak sibuk mempersiapkan Class Meeting dan juga persiapan acara perpisahan untuk Siswa-siswi kelas 3 yang sudah di nyatakan lulus dari SMP Negeri 3 XX.
Nandini Sukma Dewi sebagai Kapten alias ketua di Tim Basketnya telah siap siaga untuk mengarahkan Timnya untuk bersiap-siap mengikuti pertandingan dengan lawan mainnya anak-anak kelas 3A, yakni melawan Priska Prahara dan teman-temannya.
Dalam satu tim terdiri dari 5 regu. Regu kelas 1B diketuai oleh Nandini Sukma Dewi dengan empat orang temannya Tsamirah Zahrana Az Zahra, Kirana Larasati, Cinta Kiara Khoirani dan Fadhillah. Juga ada beberapa pemain cadangan, jika nantinya dalam satu tim ada yang cidera dan sebagainya.
Sedangkan Tim kelas 3A diketuai oleh Priska Prahara dengan empat orang temannya Adelia Kencana Puteri, Lembayung Senja dan dua orang Siswi lainnya.
Permainan bola basket pun akan segera di mulai. Sorak riuh dari para supporter nampak bergemuruh. Ada yang mendukung Tim Nandini, ada yang mendukung Tim Priska Prahara.
"Tim Nandini ... mana semangatnya!" pekik Arjuna Restu Pamungkas yang tidak sabaran melihat pertandingan antara Tim Priska Prahara kelas 3A dan Tim Nandini kelas 1B.
"Nandini and Friends ... Nandini and Friends ... semangat ... semangat!" teriak para supporter yang di pandu oleh Arjuna Restu Pamungkas. Ia mendukung Tim kekasihnya Nandini, walaupun ia adalah Siswa kelas 3A.
Rangga Sahadewa dan Rivandra Dinata Admaja pun mendukung Tim Nandini dan teman-temannya. Namun mereka tidak sekentara Arjuna Restu Pamungkas. Mereka berdua nampak terlihat santai dan elegan.
Netra Rivandra pun tertuju pada gadis kecil mungil nan cantik, namun bertubuh gempal. Meskipun posturnya terlihat pendek Zahrana terlihat cantik dan mempesona. Rambut bergelombangnya ia kuncir tinggi agar tidak membatasi ruang geraknya ketika sedang bermain basket.
Zahrana pun tidak sengaja melihat wajah tampan Rivandra, hatinya pun kembali berdesir hebat. Namun, ia berusaha menguasai gejolak hatinya. Ia terus meyakinkan dirinya, bahwa hanya ada Aslan Abdurrahman Syatir seorang yang bertahta dihatinya, tiada yang lain.
Rangga Sahadewa memberikan support untuk kekasihnya Cinta Kiara Khoirani lewat senyuman manis dan kerlingan matanya.
Sedangkan Kirana Larasati dan Fadhillah hanya menguatkan diri sendiri.
Priska Prahara yang mewakili Siswi kelas 3A pun di buat jengah dan emosi melihat Tim Nandini dan teman-temannya didukung oleh Rivandra Dinata Admaja dan teman-teman sekelasnya yang lain.
"Mestinya Rivandra, Arjuna dan Rangga harus mendukung Tim kelas 3A. Kenapa mereka malah mendukung Timnya anak kelas 1B," sungut Priska dengan berangnya.
"Dasar tidak sportif!" umpat Priska Prahara.
"Awas saja gadis ingusan itu. Aku pastikan hari ini ia akan cidera di tangan ku," ucap Priska dengan seringai liciknya. Priska merencanakan kejahatan pada Tsamirah Zahrana Az Zahra.
"Inilah kesempatanku untuk membuat perhitungan padanya," cicit Priska Prahara.
Pertandingan basket pun segera di mulai, sorak sorai dari para supporter kembali riuh. Mereka mendukung Tim pilihannya masing-masing.
"Tim Priska ... Priska ... Priska!" teriak supporter yang berada di pihak Priska. Begitu pun yang mendukung Tim Nandini mereka tak kalah semangatnya memberikan dukungan kepada Nandini dan teman-temannya.
Pertandingan pun berjalan dengan lancar dan serunya. Awal pertandingan di menangkan oleh Tim Nandini yang beda satu poin dengan Tim Priska Prahara. Namun diakhir pertandingan Tim Nandini kalah satu poin, ketika Zahrana sedang memainkan bola basket dan ingin memasukkan bola ke-Ring lawan tiba-tiba Priska Prahara langsung merebut bola basket tersebut dari Zahrana.
Priska Prahara sengaja menyenggol dan menyikut kaki Zahrana dan merebut bola basket tersebut dan memasukkan bola tersebut pada Ring Tim Nandini sebagai lawannya. Sehingga Zahrana jatuh terjungkal ke lantai basket yang terbuat dari lantai dasar berbahan semen kasar. Sehingga menyebabkan lutut Zahrana cidera dan mengeluarkan banyak darah.
Tim Nandini pun tidak fokus, mereka sontak berlari ke arah Zahrana dan segera melakukan pertolongan pertama Zahrana.
Kesempatan itu, di ambil oleh Priska Prahara dengan memasukkan bola kedalam Ring lawannya. Sehingga sorak sorai dari supporter yang mendukung Tim Priska Prahara bersorak gembira.
"Go ... go ... go ... yes ... yes ... yes!"
"Tim Priska ... Tim Priska ... Tim Priska!" sorak riuh dari para supporter di Pihak Priska, yang kebetulan dari pihak supporter tersebut pun memiliki dendam kesumat pada Zahrana dan teman-temannya.
Mereka membenci Zahrana yang kerap-kali menjadi sosok Primadona di sekolahnya.
"Rasain lho, gadis cent*l!" umpat beberapa Siswi yang memiliki dendam kesumat pada Zahrana.
__ADS_1
"Aku sangat bahagia melihat dirimu celaka. Siapa suruh berlagak layaknya seorang Bidadari yang turun dari kayangan? sok perfect! terimalah na'as mu hari ini!" ucap Siswi yang lainnya yang tidak kalah pedasnya.
Umpatan demi umpatan terus di layangkan pada Zahrana oleh para hater-nya.
Priska Prahara dan teman-temannya juga saling mengerlingkan matanya, mereka nampak terlihat senang dan bahagia melihat Zahrana di timpa kemalangan. Mereka seolah-olah seperti mendapatkan harta Karun yang tak ternilai harganya, ketika melihat Zahrana meringis kesakitan dan mengeluarkan banyak darah dari lututnya.
Melihat suasana yang mulai tidak kondusif, Zainal Abidin selaku wasit utama segera meniup peluit sebagai tanda pertandingan berakhir dan telah terjadi pelanggaran oleh Tim Priska Prahara terhadap Tim Nandini Sukma Dewi.
Sebagaimana peraturan yang berlaku dalam pertandingan basket, pihak yang melanggar peraturan akan dikenai sangsi, apalagi dengan sengaja menciderai lawan mainnya seperti yang di lakukan oleh Priska Prahara terhadap Zahrana.
***
Melihat Zahrana yang meringis kesakitan dan mengeluarkan banyak darah dilututnya, Rivandra Dinata Admaja refleks berlari kearah Zahrana yang dikerumuni oleh para Siswa-siswi yang langsung ingin melihat dan menolong Zahrana.
Tanpa banyak kata Rivandra langsung membopong dan menggendong Zahrana ala bridal style seperti yang pernah di lakukan oleh Yusuf Amri Nufail Syairazy tempo hari ketika Zahrana terjatuh di Padepokan Buya Harun dan hal itu pun pernah di lakukan oleh Aslan Abdurrahman Syatir ketika Zahrana hendak menelusuri anak sungai di Ladang Cinta tempo hari yang menyebabkan Zahrana cidera karena terpeleset di bebatuan anak sungai.
Untuk kesekian kalinya Zahrana berada dalam dekapan pemuda-pemuda yang semuanya sama-sama mencintai, menyayangi dan mengagumi Zahrana. Membuat Zahrana berada dalam dilema tingkat tinggi, sebab dirinya begitu di perhatikan oleh sosok kaum Adam yang sama-sama memiliki kharisma dan pesona yang luar biasa. Namun, Zahrana sebisa mungkin menguasai dirinya, hati dan perasaannya kala benih-benih rasa itupun menggodanya diusianya yang masih sangat belia.
Rivandra mempercepat langkahnya, menggendong Zahrana menuju UKS. Ia benar-benar khawatir melihat wajah Bidadari kecilnya yang dulu pernah mengisi relung hati dan jiwanya kini terbaring lemah dan tak berdaya lantaran didera ketakutan oleh banyaknya darah yang keluar dari lututnya. Zahrana memang takut melihat banyak darah.
Zahrana nampak berpegangan erat dileher Rivandra Dinata Admaja, begitu pun dengan Rivandra ia begitu erat menggendong Zahrana dengan penuh kasih. Masih ada cinta dihatinya untuk Zahrana Sang Bidadari kecil yang dulu pernah mengisi hari-harinya, hingga akhirnya cinta segitiga itupun terungkap sudah membuat Rivandra Dinata Admaja mengalah dan melangkah pergi tanpa harus berbalik arah lagi. Ia rela melepaskan Zahrana untuk Aslan Abdurrahman Syatir asalkan Zahrana bahagia.
Namun, hari ini melihat Sang Bidadari kecilnya terluka, tersakiti dan terdzolimi oleh Priska Prahara membuat Rivandra panik luar biasa. Ia tidak ingin seujung kuku pun Zahrana sampai terluka perih, cukup ia yang merasakan segala beban di hati jangan sampai Sang Pujaan hati yang mengalami kemalangan dalam hal apapun itu.
"Ra, bertahanlah!" ucap Rivandra penuh kepanikan.
"Kak Rivandra ... " ucap Zahrana.
Perlahan Zahrana menutup matanya, ia tidak sadarkan diri dalam dekapan Rivandra. Zahrana pingsan akibat melihat darah yang terlalu banyak keluar dari lututnya. Ia benar-benar tidak kuat melihat banyak darah.
Disusul kemudian Nandini dan teman-temannya masuk ke ruang UKS hendak melihat keadaan Zahrana.
"Ra ... kau tidak apa-apa? bangun Ra!" Nandini mengguncangkan tubuh Zahrana agar tersadar dari pingsannya.
Kirana Larasati dengan sigapnya membantu Rivandra Dinata Admaja. Rivandra membersihkan luka Zahrana yang cukup dalam dan lebar lukanya sebab lututnya menghempas lantai semen lapangan basket yang masih disemen kasar. Kulit Zahrana terkelupas, setelah diperiksa bukan hanya lututnya yang cidera. Siku tangan Zahrana pun tergores akibat terjungkal di lantai tanpa ada yang menopangnya.
Cinta Kiara Khoirani dan Fadhillah mengoleskan minyak aromatherapy di Indera penciuman Zahrana. Agar Zahrana segera siuman.
"Ra ... bangun dong Ra!" ucap Fadhilah seraya menepuk pelan pipi kanan dan pipi kiri Zahrana. Namun, Zahrana masih terpejam membuat Fadhilah menangis histeris.
"Hiks ... hiks ... hiks ... " Fadhilah menangis. Sehingga Cinta pun ikut menangis.
Kirana Larasati merangkul kedua sahabatnya.
"Dhil, Cin. Sabar ya! insya Allah Zahra akan segera siuman, mungkin Zahra syok sebab tiba-tiba diserang secara mendadak oleh kak Priska Prahara." Kirana terus memberikan support untuk kedua sahabatnya.
"Kalau Zahrana meninggalkan kita semua bagaimana? Aku belum siap untuk kehilangan Zahrana," ucap Fadhilah ngelantur kemana-mana.
"Hiks ... hiks ... hiks," Cinta Kiara Khoirani semakin kencang menangisnya mendengar ocehan Fadhilah. Ia pun khawatir jika Zahrana pergi untuk selama-lamanya dari alam dunia ini.
"Husss ... kita do'akan yang terbaik untuk Zahrana agar dia segera siuman," ucap Kirana Larasati menguatkan Fadhilah dan Cinta agar jangan terlalu larut dalam kesedihan, sehingga tidak memikirkan hal yang macam-macam yang tidak seharusnya di pikirkan.
"Wahai gadis khayal ku, Bidadari kecil ku yang cantik dan mempesona yang dulu pernah mengisi relung hati dan jiwa ku. Bangunlah! Sungguh diri mu sudah 30 menit terbaring di sini. Apa dirimu tak lelah terus terpejam seperti ini wahai gadis nakal!" bisik Rivandra Dinata Admaja dekat dengan daun telinga Zahrana.
__ADS_1
Airmata Zahrana pun tiba-tiba mengalir dari sudut mata Zahrana yang masih terpejam. Ia pun merasakan bisikan suara hati Rivandra Dinata Admaja.
Zahrana mulai menggerakkan jemarinya. Ia pun perlahan membuka netranya, yang pertama ia lihat adalah wajah Rivandra Dinata Admaja yang nampak terpancar indah dan mempesona. Rivandra tersenyum manis dengan lesung pipinya.
Rivandra refleks menggenggam jemari tangan Zahrana dan mengusap air mata Zahrana yang tiba-tiba mengalir di pelupuk matanya.
"Zahra ... dirimu sudah sadar sayang," ucap Rivandra seraya mengusap surai rambut Zahrana.
"Kak ... kak Rivandra ... " ucap Zahrana terbata.
Zahrana pun menangis dengan pilunya. Ia tidak mampu lagi membendung air matanya ketika melihat nanar wajah Rivandra yang begitu dekat dengannya.
"Kak ... Zahra minta maaf karena selama ini sudah menyakiti kakak, maafkan Zahra yang tak sempurna. Maafkan Zahra karena telah mengkhianati kakak dan menduakan cinta kakak," ucap Zahrana di sela Isak tangisnya.
Rivandra menempelkan telunjuknya pada bibir mungil Zahrana. Disaksikan oleh Kirana Larasati, Cinta dan Fadhillah.
"Ra ... jangan berucap apa-apa lagi! dalam hal ini bukan sepenuhnya kesalahan mu. Akan tetapi inilah jalan takdir yang harus kita lalui. Benar aku jatuh hati pada mu, benar kita pernah merajut kebersamaan. Namun, takdir telah menuliskan di antara kita ada dia. Mungkin dia yang terbaik untuk mu. Bukan diriku!"
"Aku ikhlas melepaskan mu untuknya Zahra, asal dirimu bahagia. Namun, satu hal aku tidak pernah rela jika nantinya dirimu menderita. Kau terlalu sempurna untukku Zahra! ku do'akan semoga dirimu bahagia bersamanya," ucap Rivandra.
Rivandra melerai genggamannya pada tangan Zahrana. Ia berusaha menguasai dirinya agar jangan sampai menangis di hadapan Zahrana, lantaran rasa perih yang menderanya. Rivandra benar-benar patah hati dengan Bidadari kecilnya. Tidak ada lagi harapannya untuk bersama Zahrana, sebab kini Zahrana telah termiliki oleh Rivalnya Aslan Abdurrahman Syatir.
***
Melihat sahabatnya terbaring tak sadarkan diri, tanpa di sadari oleh teman-temannya Cinta dan Fadhilah. Nandini mengepalkan tinjunya, ia segera menghampiri Priska Prahara yang sedang di interogasi oleh Wasit utama basket yang bertugas penuh dalam mengatur jalannya pertandingan basket.
"Honey! engkau hendak kemana?" tanya Arjuna Restu Pamungkas. Ia menatap wajah Nandini yang sedang berang. Nandini terus berusaha untuk mengontrol emosinya, namun ia benar-benar kalap.
Ketika melihat Priska Prahara, Nandini langsung menyerang Priska Prahara dengan jurus tapak sucinya. Nandini melumpuhkan Priska Prahara dengan gesitnya, hingga Priska terjungkal ke lantai basket sama seperti yang di lakukan oleh Priska terhadap Zahrana sahabatnya.
Nandini terus melumpuhkan pergerakan Priska Prahara, bertubi-tubi Nandini memberikan bogem mentah di wajah Priska juga perut Priska hingga Priska memuntahkan makanan dan minuman yang telah ia makan, lantaran di hajar oleh Nandini.
Arjuna Restu Pamungkas dan Rangga Sahadewa pun berusaha melerai Nandini agar tidak lagi menyiksa Priska Prahara. Sebab Priska Prahara sudah terlihat lemah dan tak berdaya oleh pukulan Nandini.
Nandini tak dapat dicegah. Arjuna dan Rangga pun terhuyung oleh dorongan Nandini. Mereka hampir terpental sebab Nandini benar-benar seperti orang kesetanan. Ia terus menghajar Priska sampai babak belur.
"Sudah ku peringatkan jangan pernah mengganggu sahabat ku Zahrana! jika tidak mau menanggung akibatnya. Aku tidak akan membiarkan mu terus bernafas lega. Kau harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan mu, terimalah pembalasan dari ku!" ucap Nandini Sukma Dewi seraya ingin melayangkan tinjunya kewajah Priska Prahara.
"Hentikan! Kau sudah melewati batasanmu. Kak Priska bukan tandingan mu," ucap Siswa laki-laki berkacamata hitam yang tidak lain adalah Si Kutu Buku alias Zainal Abidin.
Zainal dengan jurus tapak sucinya segera melumpuhkan pergerakan Nandini, sehingga Nandini hampir terjungkal ke lantai lapangan basket. Namun, Zainal segera menarik pergelangan tangan Nandini Sukma Dewi. Sehingga Nandini pun terjatuh kedalam dekapan Zainal Abidin. Seketika Zainal Abidin dan Nandini beradu pandang.
Zainal terpaksa melumpuhkan pergerakan Nandini agar ia dapat menghentikan pergerakan Nandini Sukma Dewi yang terus menyerang Priska Prahara dengan ba-bi-bu tanpa berniat untuk melepaskan Priska Prahara yang sudah tidak berdaya.
"Deg ... " jantung hati Nandini bergetar hebat ketika beradu pandang dengan Zainal Abidin yang kini masih dalam posisi Zainal menompang tubuh Nandini dengan bertumpu pada kekuatan otot kakinya.
Ilmu bela diri Zainal Abidin setingkat lebih tinggi dari Nandini Sukma Dewi, hingga Zainal dengan mudahnya melumpuhkan kekuatan Nandini.
"Honey!" pekik Arjuna Restu Pamungkas ketika ia melihat kekasih hatinya dalam dekapan Zainal Abidin.
Zainal Abidin dan Nandini Sukma Dewi pun sadar dari keterpanaannya.
Zainal melepaskan dekapannya dari Nandini Sukma Dewi. Ia pun segera menyerahkan Nandini pada Arjuna Restu Pamungkas. Sedangkan Zainal langsung mengambil alih untuk menolong Priska Prahara yang sudah terbaring lemah tak berdaya di lantai lapangan basket oleh ulah Nandini Sukma Dewi.
__ADS_1
Class Meeting hari ini pun segera di bubarkan oleh Organisasi Intra Sekolah, sebab telah berujung pelanggaran dan baku hantam antara Tim Nandini Sukma Dewi dan Tim Priska Prahara.