Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
127 . Apes ( pov Aslan )


__ADS_3

Jadi, itu roti sayap yang Zahrana inginkan!" cicit Aslan di dalam hatinya.


"Repot sekali kebutuhan wanita, pakai roti sayap pula. Bagaimana jika aku menikah dengan Nandini nantinya pasti sangat merepotkan sekali," cicit Arjuna sembari meringis kesakitan oleh sebab memar di wajahnya terasa perih setelah di obati oleh Zahrana.


Zahrana pun melenggang pergi tanpa berpamitan dengan Aslan dan Arjuna. Ia ingin segera membersihkan dirinya dan pakaian yang dikenakannya.


Setelah ini, ia ingin kembali kerumah kakaknya Sabrina di kota S. Selain itu, ia pun akan ikut dengan Aslan untuk membesuk Nandini sahabatnya di Rumah Sakit.


"Zahra, tunggu!" pekik Cinta dan Kirana Larasati.


Zahrana menoleh.


"Ya ampun ... Princesss, buru-buru sekali. Apa kabar Nandini? kita hendak melihat keadaannya," ucap Kirana ia ingin menjenguk Nandini di rumahnya setelah melihat Nandini semalam di larikan ke Rumah Sakit.


Kirana dan Cinta belum mengetahui jika Nandini rawat inap.


"Nandini rawat inap, jika kalian ingin membesuknya nanti bareng aku dan kak Aslan saja. Insya Allah sekitar jam 07.30 wib kita berangkat," ucap Zahrana santai seraya melirik Aslan yang masih berdiri mematung di beranda tokonya.


Zahra merasa senang jika Cinta dan Kirana nanti bareng mereka dalam satu mobil, setidaknya ia tidak berduaan lagi dengan Aslan.


"Oke deh, Ra. Kami ikut!" ucap Cinta dan Kirana mengiyakan.


"Gagal deh berduaan dengan Bidadari Syurga," cicit Aslan.


"Itu kenapa wajah Arjuna bonyok begitu!" ucap Cinta Kiara Khoirani dengan menunjukkan ke arah wajah Arjuna Restu Pamungkas.


"Iya, baru satu malam Nandini menginap di rumah sakit wajahmu sudah babak belur. Memangnya loe berantem sama siapa sich, Jun? pagi-pagi sudah babak belur," pungkas Kirana Larasati.


"Biasa lah, anak muda zaman now jika nggak berantem nggak seru, jika sudah bonyok baru menyesal. Aku balik dulu ya teman-teman? jangan lupa janjian pukul 07.30, kita membesuk Nandini beramai-ramai di RS Medika!" ucap Zahrana pada semua teman-temannya.


Zahrana melirik wajah Aslan dan Arjuna Restu Pamungkas secara bergantian. Namun wajah keduanya nampak saling menekuk. Tidak ada yang berani membuka suara, setelah penyerangan mendadak yang di lakukan oleh Aslan terhadap Arjuna. Sehingga mengakibatkan luka memar diwajah dan bibir Arjuna.


"Ya sudah ... Aku balik dulu, jangan ada yang gontok-gontokan lagi!" ucap Zahrana.


"Oke, Princess. See you!" ucap Cinta di ikuti oleh Kirana Larasati.


Cinta dan Kirana tidak mengetahui jika Arjuna Restu Pamungkas mendapat bogem mentah dari Aslan kakak Nandini Sukma Dewi, lantaran telah menodai kesucian Nandini.


***

__ADS_1


"Ayah-Bunda, Zahra berangkat dulu, ya?" ucap Zahrana seraya mencium punggung tangan kedua orang tuanya, tak lupa pula ia mengucapkan salam pada keramat hidupnya itu.


"Iya, Nak. Hati-hati di jalan, insya Allah Ayah dan Bunda menyusul besok pagi kerumah kakak mu Sabrina sekalian mengambil kelulusan mu," ujar Bunda Fatimah.


Zahrana pun menggangguk pelan. Ia pun melambaikan tangannya pada Ayah dan Bundanya. Begitu pun dengan Aslan ia tidak lupa pamit pada kedua orang tua Zahrana.


"Hai! Cinta, Kirana. Akhirnya kalian ikut juga, aku senang sekali ada teman bercerita."


Zahrana sengaja duduk di belakang bersama Cinta dan Kirana. Ia sengaja tidak ingin duduk di depan. Sebab, ia tahu jika Aslan akan selalu mencari kesempatan dalam kesempitan.


Dan Zahrana tidak ingin Aslan terus mengejar dan berharap lebih padanya.


"Duh, yang lagi happy-nya?" Cinta mencubit pipi Zahrana.


"Oh, ya. Gimana jika kita ajak Fadhillah. Ia pasti tidak tahu jika Nandini di rawat di Rumah Sakit." Kirana Larasati memberikan usulan.


"Boleh, deh. Itu ide yang bagus. Aku pun sudah lama tidak bersua dengannya," timpal Zahrana.


"Sebentar, aku kirim pesan dulu pada Fadhillah. Jika kita ingin menemuinya," pungkas Cinta.


Sementara, Aslan Abdurrahman Syatir menggerutu di dalam hati. Sebab ia gagal mendekati Zahrana hari ini.


"Iya, beritahu saja dimana alamatnya!" titah Aslan.


"Ya Allah ... ni bocah pada heboh semua, seperti emak-emak rempong saja." Aslan membathin di dalam hatinya.


Padahal Aslan sudah merencanakan ingin memberikan suprise pada Zahrana.


Namun, melihat Zahrana membawa semua teman-temannya, Aslan pun urung memberikan suprise itu pada Zahrana. Ia akan mencari waktu luang untuk mengutarakan semuanya pada Zahrana, face to face tanpa ada yang menganggu.


"Fadhillah, i'm coming!" ucap Cinta seraya memeluk sahabatnya itu.


"Dhill, apa kabar mu? Aku sangat merindukanmu," Zahrana memeluk erat Zahrana. Di ikuti pula oleh Kirana ia pun memeluk erat Fadhillah.


"Sebentar, aku minta izin dulu dengan Ummi dan Abi ku."


Fadhillah di ikuti oleh Zahrana, Cinta dan Kirana pun segera minta izin untuk mengajak Fadhillah pergi kerumah sakit untuk membesuk Nandini Sukma Dewi.


"Maa syaa Allah, Ayu sekali kamu, Nak. Siapa nama mu?"

__ADS_1


"Nama ku Tsamirah Zahrana Az Zahra Ummi, teman semasa SMP Fadhillah Ummi." Zahrana memperkenalkan diri pada Ummi Fadhilah.


"Oh, jadi ini gadis cantik yang diceritakan oleh Fadhillah tempo hari?"


"Ia, Ummi. Benar!" ucap Fadhillah.


"Hati-hati kalian, Nak! titip salam pada Nandini, semoga ia cepat sembuh. Jangan lupa nanti belikan buah tangan untuk Nandini!" titah Ummi Fadhillah.


"Siappp, Ummi!"


Fadhillah bersama Zahrana, juga Cinta dan Kirana. Mereka pun bergegas masuk ke dalam mobil Aslan Abdurrahman Syatir.


"Maaf ... menunggu lama, Kak. Nanti tolong mampir ke Toko Buah, Zahra dan teman-teman hendak membawakan buah tangan untuk Nandini."


Aslan mengangguk pelan, ia merasa dikerjai oleh Zahrana dan teman-temannya.


Sudah lah tidak bisa berdekatan dan berduaan dengan Zahrana sang pujaan hati, ia pun harus mengikuti keinginan ke empat anak remaja itu. Yang begitu hebohnya seperti ibu-ibu arisan.


"Apes ... apes ... maksud hati nak peluk gunung apa daya gunung meletus!" gerutu Aslan seraya terus fokus menyetir mobilnya, menuju toko buah yang di tunjukkan oleh Zahrana dan teman-temannya.


Sementara, Arjuna Restu Pamungkas nampak santai mengendarai motor Ninja RR-nya. Mengimbangi teman-temannya dari arah belakang. Ia pun ingin membesuk Nandini kekasihnya.


"Rasain loe kak Aslan, apes loe di kerjain oleh Zahrana dan teman-temannya. Apes mu tidak sebanding dengan ku. Wajah tampan ku sudah bonyok oleh mu, jika tidak memikirkan loe calon kakak ipar gue. Sudah gue balas tonjokan loe!" gerutu Arjuna sembari memainkan gas Motornya.


"Kak, buah jeruk, anggur, lengkeng, pir dan buah apelnya, tolong di buatkan parcel, ya!" titah Zahrana pada penjaga toko buah tersebut.


"Siappp Nona!" ucap pemuda yang merangkap sebagai penjual jeruk tersebut pada Zahrana dan teman-temannya.


"OMG ... imutnya," ucap Fadhillah keceplosan. Sehingga terdengar oleh penjual buah tersebut.


Pemuda itu pun tersenyum manis pada Zahrana dan teman-temannya.


Menyadari siapa yang kini berada di hadapannya, Zahrana pun di buat takjub.


"Kau ... kau ... bukan kah kau hansip yang bersama Mas Wisnu Baskara, kan?" ucap Zahrana gugup.


🌷🌷🌷


...Pencerahan👉 "Aku tahu bahwa kita baru saja bertemu, tetapi bagiku, itu adalah momen paling ajaib yang dapat kuingat. Semoga kau pun merasakan sama seperti yang ku rasakan." ( Muhammad Zaid Arkana )...

__ADS_1


__ADS_2