Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
234. Mereguk Manisnya Madu Cinta


__ADS_3

Zahrana nampak gerah setelah seharian bersanding di pelaminan, ia ingin membersihkan tubuhnya yang kini terasa lengket di mana keringat mengucur deras membasahi seluruh tubuhnya, menyambut datangnya ribuan tamu undangan yang datang silih berganti, membuat Zahrana ingin segera membuka gaun pengantin yang kini melekat di tubuhnya.


"Hubby, bisakah kau membantuku untuk melepaskan gaun pengantin ku?" ucap Zahrana dengan nafas terengah-engah, pasalnya gaun tersebut sangat berat di tubuh mungilnya.


"Sabar, sayang!" ucap Yusuf dengan nada lembut ia pun membantu istrinya yang kerepotan melepaskan gaun pengantinnya.


Detak jantung Yusuf semakin berdetak tak karuan ketika menarik ujung resleting gaun pengantin milik istrinya.


"Maa syaa Allah ... betapa sempurnanya Engkau ciptakan makhluk yang bernama wanita," bathin Yusuf dengan menahan segala gejolak rasanya melihat kesempurnaan yang terpampang nyata di hadapannya kini.


Sebagai sosok suami, yang telah dua bulan ini merajut kebersamaan dengan istrinya, baru sekali ini Yusuf melihat kesempurnaan dan keindahan yang tersembunyi dari tubuh istrinya. Sebagai laki-laki dewasa, sangat normal bagi Yusuf jika tergoda pada sosok Zahrana yang kini telah sah menjadi istrinya. Namun, lagi-lagi Yusuf harus menahan dirinya, agar jangan sampai gegabah untuk menunaikan nafkah bathinnya sebelum istrinya benar-benar siap untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri. Mengingat trauma sang istri yang sewaktu-waktu bisa kumat.


"Hubby, maafkan aku. Aku mandi dulu ya?" ucap Zahrana tersipu malu ketika menyadari suaminya menatapnya dengan tatapan yang tak biasa.


Zahrana menyadari jika ia belum menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri. Ia berjanji malam ini ia akan menyerahkan mahkota berharganya pada suami tercintanya, bersama-sama mereguk manisnya madu cinta. Nikmatnya surga dunia seperti yang telah dinikmati oleh pasangan pengantin di seantero jagat raya.


***


Malam pun semakin pekat, bintang-bintang nampak bertaburan menghiasi langit malam. Kini sepasang pengantin yang telah selesai menunaikan kewajiban ibadah shalat isya dengan sang suami menjadi imam shalatnya dan ia sebagai makmumnya seolah-olah menjadi kekuatan spiritual tersendiri bagi keduanya.


"Ya Zawjatii, kita tilawah dan merenungi Kalam ilahi dulu ya?" Yusuf menatap sang istri dengan penuh cinta.


"Baiklah Hubby, setelah itu kita kumpul di bawah dulu ya? masih ada Buya Harun dan Bunda Fatimah, mereka menginap di sini. Rencananya besok baru pulang ke Desa, ada Raihan juga. Ummi Yasmin belum mengizinkan mereka pulang, masih ingin bercengkrama katanya."


Yusuf pun meng-iyakan ucapan istrinya, walaupun sebenarnya ia sangat ingin menghabiskan waktu berdua bersama istrinya. Keduanya pun nampak khusu' mendaras Qur'an secara bergantian, ketika yang satu mendaras Qur'an yang satu lagi memperhatikan tanda bacaannya.


"Maa syaa Allah, suara mu sangat merdu sekali yaa Zawjatii!" ucap Yusuf menatap istrinya dengan penuh cinta.


"Terimakasih Hubby, dirimu pun sangat luar biasa sekali. Kau adalah sosok imam yang benar-benar bisa membimbing dan menuntun ku menuju ke ridhoan-Nya!" Zahrana menatap suaminya dengan penuh cinta.


Keduanya pun saling memandangi satu sama lain, "Wahai pencipta jagat raya dan pencipta segala bentuk dan rupa, terima kasih atas nikmat dan karunia mu. Telah kau hadirkan sosok bidadari dalam hidupku. Tulang rusuk kesetiaan ku, sungguh akan selalu ku juga sampai akhir hayat ku!" bathin Yusuf dengan memandangi kecantikan alami istrinya tersebut.


"Wahai zat yang menyelipkan rasa cinta yang bertumbuh dihati, terima kasih atas rasa cinta yang telah Engkau selipkan di hatiku untuknya. Sungguh, atas nama cinta akan ku jaga rasa dihatiku dan pandangan ku hanya untuk suamiku!" bathin Zahrana dengan memandangi wajah suaminya dengan perasaan penuh kasih memenuhi seluruh relung jiwanya.

__ADS_1


Yusuf mengecup lembut kening istrinya, yang sudah menjadi ritualnya selama dua bulan terakhir ini. Hanya bagian tersebut yang berani ia menyentuhnya, selebihnya Yusuf begitu sangat menghargai istrinya sampai istrinya benar-benar sembuh dari traumanya barulah ia akan memberikan nafkah batinnya.


Di tengah tatapan yang penuh cinta, pintu kamar mereka pun diketuk oleh seseorang dari luar.


Tok ... tok ... tok. "Assalamu'alaikum ... kak Zahra, kak Yusuf ditunggu Ayah Bunda, juga Ummi Yasmin dan sanak keluarga lainnya di ruang makan." Suara Raihan terlihat polos dari luar kamar.


Zahrana dan Yusuf pun terkesiap, mereka saling tersenyum satu sama lain. Pikir mereka untung saja mereka berdua belum sempat mereguk manisnya cinta. Jika tidak, bisa di pastikan mereka akan kocar-kacir berbenah diri.


"Iya, Dek. Sebentar, kakak berbenah dulu habis menjalankan ibadah shalat isya!" ucap Zahrana dari balik pintu.


Zahrana segera mengenakan jubah dan cadarnya, begitu pun dengan Yusuf ia tetap mengenakan pakaian sholatnya, ia pun menggandeng tangan istrinya menuju ruang makan.


"Maa syaa Allah, anak menantu Ummi mari duduk di dekat Ummi!" ucap Ummi Yasmin dengan menepuk-nepuk kursi untuk diduduki oleh Zahrana menantu kesayangannya.


"Maa syaa Allah, terimakasih Ummi!" ucap Zahrana dengan di penuhi oleh rasa tersanjung sebab di perlakukan seperti ratu sejak dua bulan terakhir ini oleh keluarga suaminya.


"Ayah, Bunda. Terima kasih atas do'a restu ayah dan bunda! mari kita segera menikmati hidangannya," ucap Zahrana dengan mempersilahkan ayah dan bundanya untuk segera mencicipi hidangan yang telah disajikan di atas meja.


"Terima kasih, Nak. Buya harap kamu betah di sini dan bisa menjadi istri dan menantu yang baik untuk keluarga suami mu!" ucap Buya Harun ketika melihat putri kecilnya dulu kini telah resmi menjadi istri untuk santrinya Yusuf Amri Nufail Syairazy.


"Dan satu lagi, Bunda ingin cepat-cepat menimang cucu!" ucap Bunda Fatimah dengan tiba-tiba. Hingga membuat Ummi Yasmin juga Abi Farhan dan Buya Harun ikut mendukung ucapan Bunda Fatimah sehingga membuat rona wajah Zahrana terlihat bersemu merah nampak tersembunyi dibalik cadarnya.


Raihan yang masih anak bawang tidak begitu menanggapi perihal orang dewasa, ia lebih memilih fokus pada makanannya.


"Alhamdulillah, nikmat Tuhan Mu yang mana lagi yang hendak kau dustakan!" ucap Raihan dengan menyudahi makanannya. Semua orang nampak sumringah melihat tingkah Raihan yang begitu sangat religius di usianya yang baru beranjak 12 tahun.


Zahrana ingin merapikan meja makan, namun Ummi Yasmin tidak mengizinkannya, "Sebaiknya, kalian istirahat dulu! Kalian pasti sangat lelah setelah seharian bersanding di pelaminan. Nak Yusuf bawa istri mu ke kamar, kami para orang tua masih ingin bercengkrama. Ummi juga ingin segera menimang cucu!" timpal Ummi Yasmin yang terus menggoda anak menantunya.


Tak tahan terus di goda, Yusuf pun membawa istrinya ke kamar setelah berpamitan dengan orang tua mereka. Ada rasa malu memenuhi relung hati sepasang suami istri itu. Mereka pun segera beranjak menuju kamar pengantin yang telah tertata dengan bunga-bunga yang bernuansa putih. Di ranjang king size tersebut keduanya saling berhadapan setelah selesai berwudhu dan menunaikan ibadah shalat Sunnah dua rakaat sebelum keduanya memenuhi nafkah batin mereka yang sempat tertunda.


***


"Hubby!" hanya satu kata yang terucap dari bibir Zahrana. Ia nampak gugup pasalnya ini pertama kalinya ia menggunakan gaun tidur yang menampakkan segala keindahan yang tersembunyi dibalik lekuk tubuhnya.

__ADS_1


Lingerie seksi berwarna putih, yang dikenakan oleh istrinya tersebut mampu membangkitkan segala keinginan yang terpendam di balik kesantunan, kelembutan dari sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy.


"Yaa Zawjatii, izinkan aku menunaikan kewajiban ku dan nafkah batin ku untuk mu!" ucap Yusuf dengan menyentuh ubun-ubun istrinya dan memberikan kecupan di kening kekasih halalnya tersebut disertai untaian do'a yang teruntai tulus sebagai awal mula keduanya mereguk manisnya madu cinta sebagaimana yang telah dilakukan oleh pasangan pengantin yang telah halal untuk bisa saling menyalurkan keinginan syahwatnya sebagai bentuk ibadah kepada Rabb-Nya.


Zahrana memejamkan matanya, malam ini ia benar-benar akan menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri. Ia telah merasa siap dan yakin untuk menyerahkan segenap jiwa raga dan kesucian cintanya kepada sang suami yang memang berhak atas dirinya sepenuhnya.


Zahrana pun ikut melafalkan do'a sebelum keduanya benar-benar tenggelam dan menikmati kenikmatan surgawi tersebut.


Bismillahi Allahumma jannibnaa asy-syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa, (Dengan menyebut nama Allah, ya Allah, jauhkan setan dari kami dan jauhkan setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami,').


Kedua anak manusia yang telah sah menjadi pasangan halal tersebut pun melebur menjadi satu dalam pelepasan raga yang bertaburkan harum mewangi bunga-bunga cinta mereguk manisnya madu cinta pada sosok pasangan yang memang sudah halal untuk keduanya untuk saling menyentuh satu sama lain.


Hening malam dan hembusan angin bertiup melalui jendela kamar menjadi saksi penyatuan raga kedua anak manusia tersebut. Tetesan keringat yang mengucur deras menjadi bukti pelepasan keduanya yang sama-sama ikhlas dan ridho menyerahkan segala yang di milikinya dalam kesucian cinta yang diridhoi Rabb-Nya.


"Yaa Zawjatii, terimakasih untuk semuanya. Maaf, jika sekecil zarroh pun aku menyakitimu dalam keadaan sadar ku!" Yusuf mengecup lembut kening istrinya. Noda merah di tempat tidur yang berselimutkan warna putih, menjadi saksi jika keduanya telah menunaikan hak dan kewajibannya masing-masing sebagai bentuk rasa syukur terhadap nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah Subhana wa ta'ala terhadap mereka.


"Hubby, terima kasih dirimu telah setia menunggu ku dalam kurun waktu dua bulan ini. Aku bahagia sebab telah menunaikan kewajiban ku terhadap mu! aku merasa telah menjadi istri yang sempurna untuk mu!" ucap Zahrana dengan meneteskan air matanya. Antara rasa haru dan bahagia. Sebab ia telah menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri.


Rasa sakit yang semula terasa perih ia rasakan kini berganti kenikmatan yang tiada tara setelah dua jam menikmati indahnya mereguk manisnya cinta sebagai bentuk ibadah kepada Rabb-Nya setelah pun ia mengarungi bahtera rumah tangganya.


Malam ini, keduanya pun terlelap bersama setelah mereguk manisnya madu cinta dalam kebeningan hati dan jiwa yang selalu berharap akan keridhoan Rabb-Nya.


Bersama sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy, Zahrana kini telah menjemput hidayah-Nya yang dulu sempat terhempas sebab pernah terjerat cinta buta bersama orang-orang di masa lalunya. Dan kini ia telah menemukan sosok imam yang bisa membimbing dan menuntun langkahnya menuju jalan yang di ridho Allah.


Bersama Yusuf pula, Zahrana kini telah menutup auratnya secara sempurna. Dengan berbalutkan hijab syar'i dan cadar yang menutupi wajahnya. Menjadi saksi bahwa Yusuf telah berhasil menuntun langkahnya menuju jalan kebenaran setelah sebelumnya ia sempat hilang arah dan berkabut noda-noda dosa.


"Hubby, aku mencintaimu karena Allah! Aku berharap cinta kita akan tetap terjaga di dunia hingga akhirat nanti dapat berkumpul kembali diJannah-Nya!" untaian do'a yang Zahrana panjatkan didalam hatinya. Hingga ia pun terlelap dalam pelukan hangat sang suaminya Yusuf Amri Nufail Syairazy. Keduanya nampak terlelap setelah selesai melaksanakan ritual penyatuan raganya, kenikmatan surgawi tersebut akhirnya dapat mereka kecapi setelah melewati proses perjalanan hidup dan ujian yang panjang mewarnai kehidupan mereka.


"Ya Zawjatii, aku bahagia telah memilikimu! kau lah bidadari dunia akhiratku, tulang rusuk kesetiaan ku! Aku akan selalu menjaga mu sampai di batas waktu ku, akan ku jadikan dirimu satu-satunya permaisuri ku dan ratu di hatiku, ibu dari anak-anakku!" bathin Yusuf dengan memandangi wajah istrinya yang sedang terlelap. Di kecupnya kening bidadarinya tersebut, untuk kedua kalinya ia terlelap setelah terbangun dan memandangi wajah ayu sang istri yang telah memberikan kesucian cintanya pada dirinya membuat Yusuf merasakan kenikmatan yang tiada tara yang kini baru ia rasakan setelah dua bulan pernikahannya.💏


🌹🌹🌹


Untaian mutiara hikmah 👉"Pernikahan adalah ibadah, dan setiap ibadah bermuara pada cinta-Nya sebagai tujuan. Sudah sewajarnya setiap upaya meraih cinta-Nya dilakukan dengan sukacita.Pernikahan seperti mosaik yang kita buat dengan pasangan kita, jutaan momen kecil yang menjadi kisah cinta. Dua jiwa namun satu pikiran, dua hati namun satu perasaan."

__ADS_1


...💘💘💘 The End 💘💘💘...


__ADS_2