
Zahrana memijit pelipisnya, "Ya Allah ... kenapa kak Zaid begitu kokoh dengan keyakinannya, aku tidak boleh goyah dihadapannya. Aku tidak boleh sampai terbuai oleh pesona dan caranya yang sewaktu-waktu ia bertekad untuk melakukan hal-hal yang diluar jangkauan!" bathin Zahrana. Ia menghentikan menyirami bunganya, ia melihat ponselnya sudah menunjukkan pukul 06.30.
"Astaghfirullah ... tinggal 30 menit lagi menuju tempat kerja Aisyah boutique colection!" bathin Zahrana dengan setengah berlari masuk ke dalam rumah. Segenap aktivitas nya ia tinggalkan semua.
"Ammah, tunggu!" pekik Yumna, yang dari tadi menjadi pendengar setia antara Zaid, Zahrana dan Shaka.
Zahrana menoleh.
"Yumna!" pekik Zahrana.
"Iya, Ammah. Ammah baik-baik saja, kan?" tanya Yumna dengan menghamburkan diri dalam pelukan Zahrana.
"Ammah baik-baik saja kok, Yumna sejak kapan disini?" tanya Zahrana dengan perasaan tidak enak hati.
"Yumna dari sejak tadi disini Ammah, Yumna hendak menyusul Shaka kemari, tadi Yumna dan Shaka tidak sengaja melihat Ammah Zahra dan Ammi Zaid sedang berduaan!" ucap Yumna dengan wajah polosnya.
Wajah Zahrana nampak bersemu merah, ia malu dengan dua keponakannya tersebut, pasalnya secara tidak langsung ia telah memberikan contoh yang tidak baik untuk Shaka dan Yumna.
"Ya Allah ... maafkan keteledoran hamba dan kak Zaid, hamba benar-benar tidak sengaja dan tidak mengetahui jika si kecil Shaka dan Yumna melihat adegan kami yang tak wajar. Maafkan kami ya Rabb, jika telah menodai kepolosan mereka!" bathin Zahrana.
Zahrana menatap wajah Yumna yang masih terlihat lugu menurutnya, "Yumna, tolong dengarkan Ammah ya? apa yang Yumna dan Shaka lihat tadi hanya sebuah ketidaksengajaan, Ammi Zaid hendak menolong Ammah yang hampir saja terjatuh oleh pijakan batu kerikil. Jadi, tidak ada hal yang mendasar lainnya selain itu!" ucap Zahra berusaha mengatasi kecanggungannya. Ia khawatir menodai kepolosan keponakannya tersebut.
Yumna si gadis kecil, yang baru berusia 8 tahun itu pun nampak mencerna ucapan Zahrana.
"Baik Ammah, Yumna memahami itu semua!" ucap Yumna dengan senyuman polosnya.
"Anak baik, mari kita kedapur sayang! kita sarapan pagi, sebelum Ammah berangkat kerja nantinya."
Zahrana pun menggandeng tangan Yumna menuju dapur, berkumpul bersama anggota keluarga yang lainnya.
***
Di dapur.
__ADS_1
Zaid dan Shaka terlihat kompak dan duduk manis di meja makan, di susul pula oleh Fardhan Arkhan juga Sabrina yang telah selesai menyiapkan semua hidangan yang ada, mereka semua nampak bersiap-siap untuk sarapan pagi.
"Zahra sama Yumna mana, Bi? kok belum kelihatan?" tanya Sabrina celingukan mencari keberadaan Zahrana dan Yumna.
Fardhan mengendikkan bahunya, "Abi tidak melihat mereka dari sejak tadi Umm, mungkin lagi di taman bunga biasanya Umm."
"Iya benal Ummi, kak Yumna sama Ammah Zahra lagi menyilami bunga di halaman depan. Tadi Shaka dan Ammi Zaid juga dali depan, Shaka melihat Ammah Zahra dan Ammi Zaid belduaan ceperti Ummi dan Abi!" celoteh Shaka dengan memperagakan bentuk hati.
Fardhan dan Sabrina melongo mendengar penuturan bocah kecil tersebut, keduanya pun melirik ke arah Zaid dengan tatapan mengintimidasi.
Zaid terlihat canggung, ia sebisa mungkin menghindar dan berpura-pura lugu dihadapan sahabatnya Fardhan Arkhan juga Sabrina.
"Ya Allah ... apa yang harus kujelaskan pada Mas Fardhan dan kak Sabri tentang apa yang di ucapkan oleh Shaka. Jangan sampai Mas Fardhan dan akh Sabri salah paham," bisikan hati Muhammad Zaid Arkana.
Seiring keterhenyakan mereka, Zahrana dan Yumna pun melenggang masuk menuju dapur.
"Ummi, Abi. Maaf menunggu lama, Yumna dan Ammah Zahrah baru selesai melihat dan menyirami tanaman bunga!" ucap Yumna santai.
Zahrana dan Yumna pun mendaratkan bokongnya di kursi. Mereka pun menikmati semua hidangan yang ada, seketika suasana pun menjadi hening. Semuanya nampak menikmati hidangan masing-masing.
Lima belas menit kemudian, semua sudah selesai dengan santapan paginya. Zahrana nampak cekatan merapikan semua perabotan yang sudah kosong.
"Dek, hari sudah menunjukkan pukul 06 . 40 wib. Sebaiknya Zahra bersiap-siap untuk berangkat kerja ya? Yang ini biar kakak yang rapikan!" ucap Sabrina, di angguki pula oleh Zahrana.
"Baiklah, kak. Zahra bersiap-siap dulu!"
"Iya, Dek. Silahkan!"
***
Zaid dan Zahrana pun berpamitan pada Fardhan Arkhan dan Sabrina juga Yumna dan Shaka.
keduanya pun masuk ke mobil tanpa bicara sepatah katapun, membuat suasana di dalam mobil terasa hening. Tidak ada yang berani membuka suara, keduanya pun tenggelam dalam pikiran masing-masing.
__ADS_1
"Zahra, marahkah dirimu pada ku? kenapa dari sejak tadi kau diam?" tanya Zaid. mencoba untuk mencairkan suasana.
"Tidak, kenapa harus marah?" tanya Zahrana balik tanpa menatap lawan bicaranya.
"Hemmm ... kakak kira Zahra marah dengan kejadian tadi."
"Lupakan saja kak, semua itu memang bentuk ketidaksengajaan!" ucap Zahrana.
Zaid pun terus melajukan mobilnya membelah jalan raya, hingga akhirnya sampailah mereka di Aisyah Boutique Colletion.
Zahrana turun dari mobil milik Muhammad Zaid Arkana. Ia memang sengaja menghindar dari Muhammad Zaid Arkana. Ia pun segera membuka pintu toko Aisyah Boutique Collection.
"Bismillah ... " pintu toko pun terbuka, Zahrana nampak antusias membersihkan debu dan kotoran yang menempel pada setiap gantungan baju yang ada.
"Zahra, katakan apa salah ku? mengapa kau dari sejak tadi selalu menghindari ku?"
Zaid pun menghalangi langkah Zahrana yang sejak tadi fokus dengan pekerjaannya.
Zahrana pura-pura lugu, ia masih tetap berbenah ditoko tanpa mengubriskan sosok Muhammad Zaid Arkana yang sejak tadi ngomel-ngomel tidak jelas.
"Tsamirah Zahrana Az Zahra, dengarkan aku!" Zaid refleks menarik pergelangan tangan Zahrana, ia menatap wajah cantik nan ayu itu dengan deru nafas yang bergelora.
Zahrana mundur satu langkah, namun perlahan ia tidak menyadari jika tubuhnya pun sudah bersandar pada dinding toko tersebut.
Zaid semakin mendekati Zahrana, hingga membuat jarak diantara mereka berdua masih tinggal satu inci lagi.
"Tsamirah Zahrana Az Zahra, jangan pernah mencoba untuk menghindari ku seperti ini lagi. Aku tidak bisa menerima jika kau selalu mengacuhkan ku!"
"Zahrana, aku telah jatuh hati pada mu, dari sejak awal kita bertemu, hingga detik ini. Semoga kau pun merasakan sebagaimana yang diriku rasakan!"
"Aku tidak memaksa mu untuk segera menjawab segala rasa ku ini? namun percayalah pada ku. Bahwa di lubuk hati ku yang paling dalam kini hanya tertulis bingkai indah namamu!" ucap Muhammad Zaid Arkan penuh arti.
Zahrana diam tak bergeming ketika mendengar penuturan MZ Arkana, ia terdiam seribu bahasa. Ia tidak menyangka jika Muhammad Zaid Arkana dengan gamblang mengutarakan isi hatinya tanpa bisa untuk ia menghindarinya.
__ADS_1
🌷🌷🌷
Pencerahan 👉 "Takkan datang ridha Allah pada hubungan yang melanggar larangan Allah. Sifat malu adalah jubah emas yang diwajibkan oleh Allah untuk seorang wanita dalam menjaga kehormatannya."